Gusdurian

Surat Terbuka Untuk Politisi Banten

Terkhusus untuk para politisi Banten, yang sedang bersiap,menghadapi Pilkada 2017 nanti, sudahi dulu lah debat kusir tentang siapa cal...

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Jumat, 05 Agustus 2016

*Nusron Tandjung*









Lagi rame soal Nusron Wahid (NW) yang memang bukan keluarga sedarahnya Gus Dur. Tentang NW, ini ada cerita kocak soal nama Wahid di belakangnya. 
Pasca pelengseran Presiden RI Ke IV, NW yang kala itu menjabat Ketum PB PMII, dinilai tidak tegas membela Gus Dur, bahkan terkesan berselingkuh dengan Ketua DPR RI dari Golkar, Akbar Tandjung.
Saat itu, tersiar kabar bahwa Gus Dur marah besar pada NW. Tetapi NW tetap nekad sowan ke Gus Dur. Kedatangan NW di Ciganjur, disambut bisik-bisik dan prediksi, bahwa NW kali itu bakal mati kutu dimarahi Gus Dur.
"Saya Nusron Gus," kata NW mencium tangan Gus Dur.
Dengan gaya acuhnya, Gus Dur menjawab, "Kamu itu sampah sron." 
NW yang dikenal cerdik, segera menyahut, "Sampah juga kan bisa didaur ulang Gus," kata NW. 
Gus Dur diam, kemudian NW kembali berujar, "Gus, saya ini memang gak pantas menyandang nama besar keluarga Kyai Wahid Hasyim. Makanya besok saya mau ganti nama jadi Nusron Tandjung." 
Gus Dur pun terbahak dan semua tetamu yang hadir di Ciganjur saat ikut tertawa. Tawa Gus Dur kemudian dimaknai NW sebagai restu baginya buat berkiprah di Golkar. 
Cerita tersebut masyhur dan kerap jadi bahan lelucon di PMII. Jadi kesimpulannya, sampahnya PMII saja, ketika didaur ulang bisa jadi tokoh macam NW. Apalagi Intan Sabilul Khoerot nya .. Ha.Ha

Lagi-Lagi ToA

Ini ke sekian kalinya saya menyimak keluhan tentang ToA. Dulu saya sering bertanya, apakah iman ini menghilang atau hati ini terlampau keras, ketika gema ToA terdengar bising dan bikin jengah?
Pernah juga minder, apa yang salah dengan rasa dan pendengaran saya? Kok bisa suara yang datang dari rumah ibadah; musholla, majelis atau bahkan masjid, terasa tak nyaman.
Tapi resah itu sirna, ketika mendengar lantunan merdu nan fasih dari ToA di kampung Bapak, di Cirebon. Menurut paman, di musholla kampung itu, memang ditradisikan, pelantun adzan harus terlatih. Volume ToA pun diatur sedemikian rupa, sehingga tidak bikin pekak telinga.
Alhamdulillah, rupanya imanku masih utuh! Lantas yang bikin jengah itu apa?
Ternyata benar kata Gus Roy Murtadho, volume ToA yang disetting tanpa mengindahkan kenyamanan pendengar, ditambah lantunan adzan, solawat atau ayat suci yang dibaca sembarangan dan mengabaikan kaidah tajwid lah yang bikin hati mangkel mendengarnya.
Sekali waktu, saya berbincang dengan seorang kawan yang non muslim. Tentang metode dakwah dengan lagu rohani dan tradisi beragama yang bising. Saat itu, kami sepakat, tradisi pembacaan ayat suci atau lagu rohani (kadang) berimbas pada karier seseorang yang (terkean) religius untuk jadi biduan.
Sebut saja Mel Shandy, Nanag Qosim, Maria Ulfah, Gita KDI yang bermula dari Qori-Qori-ah lantas menjadi biduan terkenal di jalur Pop, Rock atau Kasidah. Ada juga Melly Goeslaw, Celline Dion sampai Katty Perry yang memulai bakat sebagai penyanyi gereja.
Sohib sekampus atau seprofesi saya, seperti Rizal Fauzi, Yuliawati Saripudin dan lainnya juga kerap mengungkapkan kerisihannya membaca keluhan seputar ToA. Sahabat Che Kopites, atasnama Lembaga PMII, bahkan pernah mengajukan petisi kepada Majelis Ulama Indonesia terkait pengaturan ToA masjid dan kemudian direspon oleh Dewan Fatwa MUI serta Dewan Masjid Indonesia, dengan himbauan agar pengurus masjid mengatur suara ToA-nya senyaman mungkin di pendengaran warga.
Ironisnya, protes terhadap ToA kerap ditafsirkan sebagai perlawanan terhadap tradisi beragama. Kemudian muncul dalih seputar mayoritas-minoritas. Hai, saya dan kawan-kawan lain yang senada, juga muslim. Mengimani betapa sakralnya Adzan, Solawat dan lantunan Al-Qur'an. Tapi menag harus tepo seliro, mengaji rasa. Jika tak paham soal tajwid, makharijul huruf, ya gak usah mengatasnamakan ritual buat bermain-main dengan ToA. ‪#‎eh‬

Mamah Punya Strategi


Ada fenomena baru di kalangan pecinta dangdut. Dalam berbagai event Organ tunggal, Koplo atau Pongdut (Jaipong Dangdut) hingga Rockdut (Rock Dangdut), tak lagi didominasi bapak-bapak yang 'nyawer' bersama penari panggung.

Kini kaum ibu, terutama kalangan mamah-mamah muda, yang berjilbab sekalipun, mulai merangsek, turut bergoyang bersama para penyanyi seksi. Mulanya, saya mengira ini fenomena degradasi sakralitas jilbab.
Dari diskusi ringan sore ini, ada simpulan sementara, bahwa akuisisi panggung dangdut oleh kalangan Mamah berjilbab, bukan lantaran hobi semata. Tapi merupakan strategi para ibu buat menetralisir hasrat kaum bapak buat bersenggolan dengan para biduan seksi.
K.H. Abdurrahman Wahid dalam ceramahnya (dokumentasi pojok Gus Dur) pernah mengkritisi maraknya kursus tari balet di negeri ini. "Balet itu, butuh kaki yang kecil. Kenapa orang Indonesia tak mengembangkan kursus goyang dangdut?"
Kini terjawab, kaum ibu pun butuh kursus goyang dangdut buat mencegah kegenitan para suami. Video berikut menunjukkan betapa betenya kaum bapak melihat bininya manggung. Maksud hati menonton dan nyawer (sambil njawil) pedangdut, apadaya, istri sendiri menghalangi.. Ha.Ha

Minggu, 13 Maret 2016

Pokemon dan Kehampaan Massal

Pernah jengah dengan hari-harimu? Semacam kehilangan semangat dan tujuan hidup gitu. Disorientasi, semi depresi, kata psikilog.
Aku sering merasakannya. Tapi biasanya gak berkelanjutan. Hanya terasa hampa sesaat.

Hampa tak melulu dipicu kasmaran. Mereka yang punya banyak kekasih pun kerap ditimpa kekosongan jiwa. Belakangan, aku sering melihat kaum urban didera galau, yang mereka bilang sulit dipahami penyebabnya.

Sebagian, mengurai galau itu pada pencarian spiritualitas, merajinkan diri menyimak berbagai kajian keagamaan,  menekuni ibadah, tepekur, sampai ada yang nekad meninggalkan kariernya buat penuhi dahaga spiritualitas.

Sebagian lain, memilih hiburan malam, berkecimpung di komunitas-komunitas petualangan, tenggelam dalam game-game arcade, playstation atau MROPG, seperti Pokemon, Ingress,  hingga permainan judi yang kini mudah diunduh di Ponsel pintar.

Tak heran, jika setiap tahun, ada saja game atau aplikasi Ponsel yang booming dan bikin kecanduan masyarakat dunia. (bersambung..)

Sabtu, 27 Februari 2016

Godaan Cinta di Pesantren

Ini cerita lama tentang Film Ada Apa Dengan Cinta (AADC) yang dibintangi Nicholas Saputra dan Dian Sastro Wardoyo yang ngetrend di awal abad 21 lalu. Mengingat film AADC itu, ane terkenang sama cerita cinta yang kandas di pesantren.
Jadi ceritanya, sejak SMP, berkat buku diary yang dihadiahkan seorang abang tercinta, santri kecil ini kemudian jadi doyan curhat lewat tulisan. Dari hal terindah, isi pidato kiai, sampai keluh kesah dan kebenciannya pada sejumlah kawan ditumpahkan di buku diary merah. Sampai kemudian seorang kawan yang menjadi obyek curhatannya itu tak sengaja membaca buku diary si santri. Di buku itu, diceritakan sang kawan dituduh nyolong oleh kepala kamar. Maka sewotlah sang kawan tersebut.
“Kamu kok ikut-ikutan nuduh aku nyolong sih?”
“Loh, aku gak tau kok. Aku Cuma denger kata kawan-kawan aja,” jawabku.
“Itu yang kamu tulis di buku merah. Kamu bilang besar kemungkinan akulah si pencuri itu. Terus kamu juga ternyata kamu juga benci sama si anu ya. Sampe kamu bilang dia kampret,” ujarnya suatu ketika.
Aku kesulitan menjawab fakta tersebut. “Ya aku kan Cuma denger doang. Terus aku tuliskan. Kalau tentang si anu, ya aku memang kesel. Tapi jangan dibilangin ya. Gak enak, umpatanku di buku itu kasar sekali,” kataku memohon.
Sejak itu, curhatan di buku diary merah kububuhi tip-ek. Dan sejak kelas 3 SMP itu, aku merubah gaya curhatan. Dari narasi deskriptif, menjadi puisi implementatif. *Jiahh, gayanya kaya ngerti aja anak SMP soal begituan. Yang jelas, waktu itu aku menyembuyikan kebencian dan umpatan kasarku dalam puisi yang maknanya bisa diselewengkan,*
Menginjak SMA, kecintaan pada puisi meningkat karena di Perpustakaan sekolah tersedia banyak buku sastra, dan Majalah Horison. Saat SMA juga aku pindah ke pesantren yang lebih sedikit santrinya. Di sana aku kemudian ngefans sama prestasi salah satu putera kiai, yang hafal Al-Qur’an 30 juz, sejak usia 9 tahun. Kuncinya, kata dia, sampai ia menginjak dewasa selalu menjaga kesucian, dan tak mempedulikan soal cinta dan perempuan.
Aku pun meniru gaya hidupnya. Menyepi dan bergaya sufi (suka film, he.he). Tahun ke dua di pesantren baru itu, para santri tingkat SMA, membentuk Jamiyah Athulabah (semacam organisasi santri, meniru OSIS).Aku didaulat menjadi ketua, Istilahnya Lurah Pesantren. Jamiyah ini membawahi santri putera dan puteri. Yah seperti layaknya Abege, para santri puteri itu kadang bertingkah genit. Ada beberapa yang dekat denganku saat itu. Modusnya, ya koordinasi pengurus. Ha.Ha.
Nah, dalam setiap rapat, aku sering berceramah ala putera kiai, tentang pentingnya menjaga sikap.
“Sebagai pengurus, kita harus jadi contoh bagi santri lain. Kalau bisa kita juga jangan sampai terjebak cinta di antara sesama pengurus.” Rangkaian kalimat itu sering kuucapkan, sampai teman-teman kadang merasa kesal.
Tapi di luar rapat, kami para pengurus putera sering membicarakan sejumlah santri puteri yang diidamkan. Kecantikan mereka, keanggunannya, dan sebagainya. Awalnya aku bergeming tak tergoda.
Bahkan, saat mendapat surat cinta dari santri puteri, aku bakar surat itu, sambil dengan pongah berkata. “Lihat komitmenku untuk tak pacaran di pesantren”.

Seribu Puisi Cinta buat  Dia gak nyampe seribu sih, cuma ratusan lembar lah isinya)

Meskipun anti pacaran, aku tetap suka berpuisi. Setiap malam jumat, di sela acara marhabanan, dan belajar ceramah, puisiku sering dibacakan oleh para santri. Beberapa santri puteri juga kadang memesan puisi untuk mereka baca. Kami juga kadang berteater. Isi teaternya tentu seputar kehidupan pesantren.
Dari sejumlah pengurus santri puteri itu, ternyata ada yang membuatku terpikat.Pertahananku jebol saudara. Ketika dia meminta puisi buat dibaca para santri puteri. Aku lupa, bahwa ia yang mebuatku kesengsem itu adalah sahabat dekat dari santri puteri yang pernah kubakar suratnya. Aku lupa kalau solidaritas perempuan lebih kuat dari solidaritas laki-laki. Yang kupikirkan saat itu, aku harus menyatakan cintaku padanya.

‘Kesempatan itu datang. Dia minta puisi, maka buatkan ia seribu puisi sebagai pernyataan cintamu,” bisik nafsuku.
Sejak saat itu, aku lebih rajin menulis puisi. Gaya tulisanku pun berubah seketika. Yang tadinya berisi kritik kehidupan, berubah jadi setumpuk rayuan buat dia. Yah, cinta memang datang tak kenal waktu.
Akhirnya, tiga pekan setelah permintaannya itu, aku menyerahkan Sinar Dunia, Buku Tulis Sang Juara, berisi (kalau tak salah) sekitar 250 lembar yang penuh dengan puisiku tentangnya.
Di dalamnya, kuselipkan sebuah surat berisi pernyataan cintaku buatnya.
“Hai, ini puisi buatmu. Nanti dibalas ya,” kataku diam-diam, ketika hendak berangkat sekolah. (Dia juga sekolah di luar pesantren).
Hatiku semakin gundah gulana menanti jawaban dia. Malam harinya aku berdoa lebih khusyuk, agar cintaku diterima. Hayalanku saat itu, aku seperti Rangga yang menyatakan cinta dengan sebait puisi. Ha.Ha..
Esok paginya, kami berpapasan lagi. Ia menyelipkan buku pelajaran berisi surat. “Nanti aja, pulang sekolah dibacanya,” pesannya sebelum naik angkot.

Karena penasaran, aku membaca surat itu sambil menunggu angkot. “Aku heran sama kamu. Katanya gak mau pacaran. Katanya sebagai pengurus, kita harus jadi contoh buat adik-adik kita. Ini kok kamu malah mengajakku jadi contoh yang gak baik,” begitu kira-kira ringkasan isi suratnya.
Remuk hatiku saat itu juga. Aku membolos sekolah, kembali ke pesantren dan mengunci diri di kamar. Selama sepekan, aku berdiam diri di kamar. Tak mengaji, tak sekolah. Sakit jadi alasanku saat itu.
Ha.Ha. Mungkin itu yang dinamakan karma. Untungnya waktu itu tak ada yang tahu kalau aku sakit karena ditolak cinta..
Aih, ko isinya jadi curhat yaa.. semoga menghibur. He,he.

Perempuan Bertopeng

Sejak bulan lalu, gue punya temen baru. Kami kenalan ketika makan siang bareng di sebuah kantin yang tak jauh dari tempat kerja gue saat ini. Awalnya cuma basa-basi karena duduk satu meja tanpa sengaja. Lama-kelamaan, kami sering makan siang bareng, atau terkadang pulang bersama dengan KRL atau busway. Sebut saja namanya, Tari. Tulisan ini mulanya mau dibuat semacam cerpen fiksi, tapi malah jadi kaya artikel.
Tulisan sudah dapat izin dari si empunya cerita. Tentu dengan syarat identitas yang disamarkan. Tapi anggap saja cerita ini fiktif belaka. 
Tri bekerja sebagai konsultan teknik di sebuah perusahaan elektronik. Keahliannya dalam menganalisis kerusakan mesin, terbilang sebagai keahlian yang mahal. Kemampuan berbahasa asingnya juga membuat Tari dibayar mahal dalam setiap project yang digarapnya. Belum lagi jaringan alumni kampus yang kini banyak bertengger di berbagai lembaga konsultan ternama, siap membantunya untuk bekerja di sektor apapun.
Kebutuhan finansialnya bisa terpenuhi dengan keahliannya itu. Tapi Tari yang tomboy, punya hasrat lain yang lebih besar. Bukan hanya kekayaan yang ia kejar, tetapi juga kepuasan batiniah, melampiaskan dendam pada mantan pacar, yang menelantarkan cintanya.
“Gue ditinggalin pacar, karena disangka selingkuh. Padahal, dia yang kemudian milih berpacaran dengan selingkuhannya,” kata Tari suatu siang.
Mengingat perselingkuhan sang pacar selalu membuatnya sakit hati. Karena itu, ia bertekad membalas perselingkuhan itu, dengan memacari lelaki yang dituduh berselingkuh dengannya. “Pria ini kupilih buat melampiaskan dendam sama mantan Gue. Dia memang selalu ngejar-ngejar Gue sejak pertama jumpa di kampus. Awalnya Gue jijik, tapi lama-lama Gue nyaman,” curhatnya lagi.
Disamping pandai membuat nyaman, sang pria, menurut Tari juga memberi kebebasan penuh untuk berhubungan dengan siapapun. Dengan lelaki mana pun. Kesibukan kantor, membuatnya jarang berjumpa dengan sang lelaki yang kini menjadi kekasih itu.
“Gue mau berhenti kerja. Mau sekolah lagi sambil bikin usaha bareng si Om,” kata Tari dalam perjumpaan kami berikutnya.
Kini Tari tinggal bersama kekasih barunya, di sebuah kos-kosan yang tak jauh dari kampus tempat mereka kuliah dulu. Sementara sang pria, yang kini kerap disebutnya sebagai suami, meski mereka tak pernah menikah secara resmi, juga tak lagi bekerja sebagai supir pribadi seorang politisi. “Hidup begini lebih nyaman,” imbuhnya.
Sampai beberapa bulan kemudian, kebutuhan hidup yang semakin tinggi rupanya kurang tercukupi dari usaha kuliner mereka. Terlebih, hobi Tari buat nongkrong di cafe ternama, belanja dan sesekali menikmati dunia gemerlap (dugem) malam, juga butuh biaya yang tak sedikit. Selama ini Tari mengandalkan traktiran kawan-kawannya. “Lama-lama Gue malu juga. Mau balik kerja di kantoran udah males, untung Gue punya kenalan bos-bos yang goblok, dan mau membayar perempuan buat sekedar nongkrong, atau bermalam di hotel. Laki Gue juga easy going aja,” tuturnya.
Meski terkesan badung, Tari yang tomboy ini punya bacaan filsafat dan pengetahuan agama yang lumayan. Sesekali ia menyitir syair Rumi, ibnu arabi atau pernyataan Derrida, Nietzche dan Plato. Ia juga ikut sejumlah kursus Yoga, Tantra, sufisme dan tarikat. “Bacaan-bacaan kaya gini, bikin kita semakin mahal,”  cetusnya.
Lantas mengapa Tari terjun di dunia prostitusi, menurut pengakuan perempuan yang sehari-harinya berjilbab ini, bukan melulu soal materi yang ia kejar. Tetapi juga sebuah seni membalas dendam pada masa lalu yang kelam. “Gak banyak yang tau profesi sampingan ini. Tetangga dan teman-teman, nyangkanya gue ini ya religius. Di sini gue menemukan keasikan tersendiri, bagaimana mengelabui orang-orang dekat menjaga citra diri sambil tetap menikmati kehidupan lain yang mengasikkan,” tandasnya.
Saat ditanya tentang dosa dan kemungkinan terbukanya profesi sampingan itu. Tari hanya tertawa. “Pada dasarnya semua orang menjual diri, kok. Buruh menjual diri pada majikannya. Politisi menjual diri pada kekuasaan. Gue juga punya banyak alibi buat nutupin profesi ini. Pernah ketemu temen di suatu hotel, Gue bilang lagi ketemu klien yang konsultasi soal elektro. Beres perkara.”
Meski begitu, Tari juga tak berhenti mengejar mimpinya buat bisa kuliah dan kerja di luar negeri. Kini, bersama sang kekasih yang berjualan gorengan, ia sibuk kursus sejumlah bahasa asing. “Target gue, kalo gak ke Inggris, ya ke Prancis. Di sana peradabannya lebih terbuka. Gak munafik macam di sini.”
Tari juga rajin berolahraga untuk menjaga kemolekan tubuhnya. Selain ikut fitness, ia juga ikut taekwondo buat menjaga diri dari kemungkinan yang menakutkan. “Laki gue juga sakti, buktinya dia bisa meluluhkan hati gue, dengan lelaku tirakat ala jawa. Gue baru tau setelah lama tinggal bareng dia. Mau gue tinggalin juga udah kadung merasa nyaman. Selain jago di ranjang, dia juga gak bawel saat gue ketemu klien,” imbuhnya.
Ditanya tentang tarif kencan, Tari pun terbahak. “Yang jelas, lu mesti ngumpulin gaji enam bulan, buat kencan semalam sama gue.”


Minggu, 14 Februari 2016

Berbukalah dengan yang Sinis



Suatu senja saat menanti waktu berbuka, dua pemuda terlibat obrolan panas tentang sosok flamboyan mas @kokokdirgantoro pengusaha muda nan sukses yang ramai digosipkan aktivis linimasa sebagai kolektor Alphard. Diselingi seruputan kopi ucapan istighfar, seorang kawan menghujat tulisan @Armanddhani dan @WinduJusuf di portal Mojok.co, sebagai sarana propaganda pemurtadan yang terbit untuk mendukung perpindahan keyakinan Lukman Sardi.

“Ini konspirasi Bung. Lihatlah, setelah terbit tulisan Rabun Dekat dan Dua Juta Orang Murtad, sepekan kemudian publik digegerkan pengakuan Lukman Sardi disusul oleh pembelaan @Armanddhani yang seolah disetting untuk menggiring opini tentang lumrahnya gonta-ganti agama,” kata @Sarmud, Baladewa dan fans berat GIGI yang pernah kecele, salah follow akun @Armanddhani karena dikira band baru, gabungan @armandmaulana dan @AHMADDHANIPRAST.

Enggaklah Bro. Itu kebetulan saja. Kebetulan yang membawa hoki buat Mojok.co karena opini-opini yang diterbitkannya jadi hangat terus, gak pernah basi,” kata Sarjana Gomez, sambil stalking akun mantan-mantannya.

Perdebatan sengit itu terputus oleh Adzan Maghrib dari masjid sebelah. Di tengah santapan takjil buka puasa, Gomez membuka obrolan baru, tentang puasa. Menurut dia, berpuasa di negeri tropis yang dihuni para penggemar isu politis seperti Indonesia, memiliki tantangan tersendiri. “Kalau di Eropa waktu siangnya lebih panjang, loh. Sampai-sampai Ulama setempat harus berimprovisasi berijtihad memperpendek waktu puasa di musim panas. 

Tanpa mengikuti aturan umum syariat, yang mewajibkan puasa dari mulai terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari,” paparnya bak membuka seminar. Jadi, kalau mau puasa setengah hari, bisa ikut fatwa Ulama Kutub Utara, kata Gomez lagi.

Sarmud yang kurang puas dengan obrolan menjelang buka puasa menimpali, “Gak gitu lah Bro. Kalau ada fatwa serupa di Indonesia, bisa dituding sesat, liberal, kafir dan murtad, lho, ” timpal Sarmud.

“ Iya, dan kemudian Temlen dan Beranda Fesbuk juga pasti ramai dengan hujatan, ” ujar Gomez, seraya menyebut tokoh-tokoh Islam Indonesia, korban pengkafiran dan pemurtadan oleh para jamaah Jonru dan FelixSiaw.

“Eh tadi, Kau bilang puasa di negeri ini berat sangat, ketimbang di tempat lain. Padahal di Eropa puasanya lebih dari 17 Jam, kan” kali ini Sarmud tak mau obrolan beralih dari topik utama.
“Ya itu tadi, Puasa di Indonesia, kita harus belajar menahan diri dari godaan amarah saat membaca broadcast gak cerdas, kicauan sinis atau berita-berita hoax bernada fitnah yang disebar beruntun via fesbuk. Ghibah apalagi Fitnah kan dilarang di waktu normal, apalagi ketika puasa,” Gomez kembali berceramah.

Sarmud yang baru dapat gelar Sarjana Sosiologi pun langsung teringat teori Robert Agger tentang Sinisme Politik, yang mengurai skala kecurigaan dan prasangka seseorang terhadap politisi. “Sinisme di negeri kita memang parah. Gak cuma urusan politik, tapi juga sering dikaitkan sama isu SARA. Ironisnya isu semacam itu yang digemari masyarakat dan dikapitalisasi Politisi atau media tertentu untuk membangun kebencian masyarakat,” celoteh Sarmud.

Buat Sarmud, trend sinisme di negeri ini adalah degradasi terhadap ajaran Diogenes Laertius dari Sinope yang konsisten dalam sikap anti kemapanan dan mengkritik penguasa agar bersikap bijaksana dan peduli pada keadilan dan hak-hak rakyat jelata. “Diogenes imam kaum sinisme itu tawadhu’ sampai berkata, Aku tak tahu apapun kecuali ketidak tahuanku. Tapi kaum sinis di negeri ini selalu merasa paling tahu bahkan merasa lebih tahu dari para pakar yang belajar bertahun-tahun,” imbuh Sarmud sambil mencontohkan kak HafidzAry dan portal Piyungan, voaislam dan sejenisnya beberapa pentolan kaum Sinik yang selalu punya celah buat berkilah.

“Kalau kak HafidzAry atau Mas Piyungan pernah baca ujaran Diogenes, harusnya dia nyufi, gak hedonis dan gak gila kuasa dong. Bukan malah mengkapitalisasi fitnah berita hoax dan kebencian umat buat nyari iklan atau nambah follower,” sela Gomez.

Obrolan seru itu terjeda adzan Isya dan mereka bergegas ke masjid sebelah basecamp. Di perjalanan menuju Masjid, Sarmud bergumam, “Obrolan tadi masuk ghibah gak ya. Ngomongin Hafidz Ari, @Armanddhani, Jonru, Felixsiaw, Mas Piyungan, sampe kita terbawa gossip Alphardnya mas @kokokdirgantoro. Parahnya, kita ikutan trend berbuka dengan obrolan sinis.”
  

Sampah Pemuda

Refleksi Sumpah Pemuda



Menjelang pemilu lalu banyak politisi masuk kampus, mengajak anak-anak muda untuk peduli politik. Apatisme terhadap politik di kalangan muda saat itu memuncak. Kekecewaan terhadap pemerintah daerah menjadi pemicunya. Sejumlah kasus di pusat menambah kekecewaan pada dunia politik. Apatisme itu terbukti dengan tingginya angka golput dalam pemilu2014 yang mencapai 24, 89 persen, sedikit menurun dari angka golput Pemilu 2009 yang mencapai  29, 0059 persen.

Kehadiran para politisi ke kampus juga didukung komentar para pengamat tentang perlunya anak-anak muda terjun ke dunia politik. Membenahi dari dalam sistem, begitu dalil yang sering didengungkan.  Partai-partai membuka pintu selebar-lebarnya bagi para politisi muda. Hasilnya, banyak juga aktivis mahasiswa yang tergiur untuk mencalonkan diri dalam pemilihan legislatif.  Tahun-tahun berikutnya, wacana pemberdayaan pemuda di ranah politik kian kencang. Partai baru (pecahan dari partai-partai besar dan menengah) dan Pemilukada memperlebar peluang bagi anak muda untuk berkiprah di wilayah politik.

Belakangan, kiprah politisi muda kemudian disorot. Lembaga Survei Indonesia bahkan pernah merilis bahwa korupsi dalam lima tahun ini di dominasi oleh anak-anak muda. Hampir semua institusi politik, birokrasi dan pemerintahan, di pusat maupun di daerah diwarnai korupsi yang -diberitakan- banyak dilakukan kaum muda.

Di kalangan aktivis mahasiswa, fenomena korupsi juga sangat dipahami dan mungkin telah dipraktikkan bersama meskipun dalam skala kecil. Dalam gelaran orientasi pengenalan kampus (Ospek), atau bahkan dalam pelaksanaan seminar-seminar pun banyak terjadi. Dalam kegiatan skala nasional, korupsi bisa jadi terjadi lebih massif. Berita seputar korupsi telah menjadi sarapan sehari-hari di Koran maupun di televisi.  Suap dan korupsi terjadi hampir di semua ranah kehidupan di negeri ini. Bahkan masuk di wilayah sakral keagamaan. Dunia akademis yang seharusnya idealis juga tak luput dari isu korupsi.

Negeri Sampah

Buanglah sampah pada tempatnya. Kalimat itu tertera di mana-mana, namun faktanya sampah pun bertumpuk di mana-mana. Bahkan Joko Widodo, Gubernur DKI Jakarta yang fenomenal dan digandrungi para pembaharu itu pun dibuat termenung dengan tumpukan sampah di Kali Ciliwung.

Soal sampah ini saya teringat  obrolan dengan salah satu pejabat eselon tiga di Banten, sekian tahun lalu, ketika saya masih bertugas sebagai reporter di sebuah media di Banten. 

“Tahukah kamu, banyak orang terutama para pejabat menilai wartawan itu bak sampah!” katanya  mengungkap kegelisahannya terhadap negeri ini, terhadap profesi jurnalis yang telah melenceng dari jalur yang diidamkan.

Perbincangan ringan malam itu, memunculkan beban seberat gunung.  Sebenarnya saya tak heran dengan pernyataan itu. Kaget pun tidak. Sebab stigma negatif terhadap wartawan telah lama tersemat. Terpatri sejak media, seperti kata Goenawan Mohammad,  berubah menjadi industri kata-kata. Sejak  para penulis, seperti kata Rendra, menjadi penyair salon. Meski masih ada puluhan jurnalis yang jengah dan prihatin atas kondisi itu, tapi fakta di lapangan berkata lain.

Sialnya, banyak jurnalis muda terjebak untuk memperkuat stigma negatif itu. Sialnya lagi,  cerita sampah itu terucap dari pegawai pemerintahan, yang juga kerap dinilai sampah. Kalimat itu keluar dari warga negara yang digaji dari uang rakyat, menikmati berbagai subsidi yang diperoleh dari pajak.  Saya bertambah jengah, ketika dia mengajak berkolaborasi dalam memanipulasi program yang didanai APBD.  Ah, kau pun sampah juga ternyata. Begitu, ketus saya dalam hati.
 Soal sampah, Gus Dur saat menjabat sebagai Presiden RI juga pernah membuat lelucon tentang fenomena aktivis sampah. Lelucon itu kemudian dijawab oleh sang aktivis, bahwa sampah juga masih bisa didaur ulang. Masalahnya, ternyata negeri ini tak hanya kumuh oleh sampah organik dan non organik yang mudah didaur ulang. Banyak sampah yang lebih mengerikan di negeri ini. Sampah manusia.  Aparat sampah, pejabat sampah, tokoh agama sampah, pejuang LSM sampah, wartawan sampah, penulis sampah, hingga pelajar dan mahasiswa sampah.
Kunjungan Jokowi ke kali Ciliwung beberapa waktu lalu, menyadarkan kita pada pentingnya peran pemulung sebagai pahlawan pengurai sampah. Dibutuhkan banyak super hero yang mampu mendaur ulang sampah yang mengerikan itu. Mungkin para ahli terapi hipnotis bisa melakukannya. Mencuci pikiran-pikiran penuh sampah, lalu mengisinya dengan ide-ide kreatif, bergizi, dan penuh semangat untuk bersama membenahi negeri yang tengah dirundung bencana sampah.

Jalan Lain, Pasukan Bubur

Keresahan pada sampah di negeri ini ternyata dirasakan oleh banyak kalangan.  Simak  topik dan status di media sosial, yang sering dijadikan tempat sampah para penggalau. Di sana kita akan melihat betapa indah takdir Tuhan, menjadikan negeri ini sebagai tempat sampah. Sebab banyak hikmah yang lahir di negeri sampah ini.
Motivator, penceramah dan presenter muda membawa suara optimisme yang walaupun semu, tapi memberi aura positif bagi para pemuda labil. Entrepreneur, pengusaha muda juga lahir dari kerapuhan bangsa ini. Semangat perbaikan semakin kental ketika banyak aktivis muda yang rela mengabdikan diri hingga ke pelosok. Mengajar, menebar buku pengetahuan hingga memberikan terapi medis dan psikologis bagi para korban bencana.
Bencana alam yang menimpa negeri ini secara bertubi juga ternyata membuat kita sadar akan perlunya perbaikan negeri dari banyak sisi. Kemudian industri media, yang tujuh puluh persen dihidupkan oleh para jurnalis muda membuat masyarakat umum dan pemerintah melek untuk saling mendukung, berjibaku membenahi negeri. Masyarakat sipil sadar semakin sadar pada hak dan kekuatannya untuk menekan aparat. Pemerintah, walau dengan sedikit tergagap, juga kemudian mafhum, jika perlu ada system yang mendukung semangat perubahan itu. Pejabatnya jadi takut membuat kesalahan, dan memilih jalan populer demi membangun citra.
Seperti kata Ketua KPK, Abraham Samad, pembenahan negeri -pendaur ulangan sampah itu-bisa dilakukan seperti makan bubur. Dimulai dari gerakan kelompok pinggiran lalu merangsek ke tengah hingga ke jantung pemerintahan, yakni Istana Negara.  Jadi, sesampah-sampahnya kaum muda masih bisa didaur ulang untuk direkatkan kembali sebagai elemen yang meperbaiki dan menjaga keutuhan NKRI.   


Feminis Sufistik, Mendobrak Patriarki Pesantren


Telaah Novel Auto Biografi Ny. Masriyah Amva
“Bangkit Dari Terpuruk: Kisah Sejati Seorang Perempuan tentang Keagungan Tuhan


 


Perkembangan gerakan feminisme di Indonesia telah berlangsung sejak abad 18-19 ditandai dengan lahirnya semangat kesetaraan pendidikan yang digerakkan oleh sejumlah tokoh, diantaranya Raden Dewi Sartika yang mebuka Sekolah Istri pada tahun 1904 di Jawa Barat; K.H Bisyri Syansuri yang mengawali pendirian Pondok Pesantren khusus putri di tahun 1917, serta heroisme yang ditampilkan sejumlah tokoh dari abad ke-18, seperti Cut Nyak Dien (1848-1908) dari Aceh dan Raden Ajeng Kartini (1879-1904) dari Jepara yang tercatat sebagai pemantik dan pejuang gerakan perempuan di Indonesia.

Hingga abad ke-21, perkembangan gerakan perempuan dengan semangat feminism yang beragam, semakin massif di Indonesia hingga melahirkan tindakan affirmative action yang muncul menjelang pemilu 2004 melalui Undang-undang Nomor 12 Tahun 2003 tentang Pemilihan Umum, yang memberi ruang lebih bagi kaum perempuan untuk terjun di dunia politik praktis.

Merujuk pada Wiyatmi (2012; 12-13) gerakan perempuan yang terus berevolusi di Indonesia sejak abad ke-18 tersebut merupakan pertanda suksesnya pengaruh feminisme di Indonesia. Dengan mengutip David Hume (2007:157-158), Wiyatmi menguraikan bahwa feminisme adalah doktrin-doktrin tentang persamaan hak bagi kaum perempuan  yang kemudian berevolusi menjadi gerakan massif dan terorganisir.

Feminisme ala Hume di Indonesia mengalami sejumlah benturan kultural, sosial hingga spiritual. Belum lagi benturan di kalangan sesama penganut dan pejuang feminism yang terkotak-kotak dalam perbedaan antara feminis liberal, feminis radikal, feminis moderat dan feminis marxis.  Menariknya, feminisme di Indonesia yang berkultur religius, dengan didominasi oleh agama Islam melahirkan model feminism baru yang bercorak Islami.

Dinamika feminism islam di kalangan pesantren di Indonesia,  ditandai dengan semakin meningkatnya jumlah pesantren puteri pada masa pra kemerdekaan hingga pasca reformasi. Hal serupa terjadi dalam semangat berkumpul dan berorganisasi hingga semangat kajian keilmuan yang menggugat kemapanan kultur patriarkal pada teks-teks keagamaan.

Selain secara kelembagaan dan organisasi, para tokoh pesantren juga tampil secara personal dengan karya tulis yang menggugat kemapanan  lelaki dalam kajian fiqh klasik.  Mereka menawarkan alternatif pembaruan fiqh pro perempuan, seperti yang dilakukan oleh K.H  Masdar Farid Mas’udi, melalui bukunya berjudul Islam & Hak-hak Reproduksi Perempuan, Dialog Fiqh Pemberdayaan (1997); KH. Husein Muhammad, Fiqh Perempuan, Refleksi Kiai atas Wacana Agama dan Gender (2001); Syafiq Hasyim, Hal-hal yang Tak Terpikirkan dalam Fikih Perempuan (2001); Siti Musdah Mulia, Islam Menggugat Poligami (2004); Maria Ulfah Anshor, Fiqih Aborsi, Wacana Penguatan Hak Reproduksi Perempuan, (2006);

Di luar wacana kritis terhadap teks-teks keagamaan, sebagian tokoh pesantren melakukan pembelaan terhadap hak-hak perempuan melalui karya sastra seperti yang dilakukan Ny. Hj Masriyah Amva yang mendobrak kemapanan kultur patriarkal di Pesantren Babakan Ciwaringin Cirebon, melalui kemampuannya memimpin dan memenej Pondok Pesantren Kebon Jambu, Babakan Ciwaringin Cirebon, sepeninggal suaminya, K.H Muhammad. Masriyah juga mengkritisi dominasi kultur patriarkal melalui sejumlah kumpulan puisi serta novel sufistiknya ; Ketika Aku Gila Cinta (2007), Setumpuk Surat Cinta (2008), Ingin Dimabuk Asmara (2009), Cara Mudah Menggapai Impian (2008) dan Si Miskin Pergi ke Baitullah (2010), Bangkit dari Terpuruk (2010), Matematika Allah (2012) dan Umrah Tiap Tahun (2012).

Selain Masriyah, sastrawati Pesantren yang cukup fenomenal adalah Abiedah El-Khalieqy yang menulis Novel  Ibuku Laut Berkobar (1987),  Menari di Atas Gunting (2001),  Atas Singgasana (2002), Genijora (2004), Mahabbah Rindu (2007), Perempuan Berkalung Sorban (2009) dan Saya Cinta Kyai dan Pesantren (2009).  Novel Perempuan Berkalung Sorban karya Abiedah ini menjadi fenomenal setelah diadaptasi dalam layar lebar dan dianggap cukup keras mengkritik pesantren.

Dua sosok sastrawati Pesantren ini memiliki persfektif masing-masing dalam membela hak-hak perempuan di lingkungan Pesantren. Menariknya, ke dua sosok ini berasal dari kultur yang berbeda. Masriyah berasal dari kultur Nahdliyin yang dikenal tradisional, Abiedah (dari latar belakang pendidikannya) berasal dari kalangan Persis yang dikenal modernis dan cenderung puritan.




‘Melawan’ Dengan Sastra

Sastra sebagai sebuah karya fiksi kerap diidealkan sebagai refleksi dari sebuah realitas sosial masyarakat, yang merepresentasikan kehidupan yang dilihat, dirasakan dan diimajinasikan penulisnya. Perlawanan perempuan terhadap budaya patriarkal sangat terasa dalam Novel Abiedah El-Khalieqy berjudul Perempuan Berkalung Sorban. Tokoh Anisa yang berperan sebagai puteri seorang Kyai yang terkungkung oleh norma dan citra diri sebagai ‘perempuan baik-baik’ dalam persfektif pesantren di akhir tahun 80’an. Anisa terjebak dalam gejolak pemberontakan batin sehingga melakukan perlawanan terhadap subordinasi kakak dan pamannya yang merupakan pemimpin di pesantren.

Keberanian Anisa membawa wacana baru ke Pesantren menimbulkan konflik dan kesedihan mendalam dalam diri Ibu, Ayah maupun dalam diri Anisa sendiri.  Abiedah menggulirkan fakta dunia pesantren yang terkesan memaklumi ‘kenakalan’ putera kyai, namun sangat mengecam terhadap ‘kenakalan’ puteri Kyai. Meskipun, ‘kenakalan’ Anisa sejatinya berimbas positif jika didukung dan dikelola gejolak pemberontakannya untuk kemajuan pesantren. Anisa mendobrak kemapanan kaum lelaki di Pesantren, sehingga harus rela terbuang dari lingkungannya.

Konflik serupa dengan latar belakang dan setting berbeda digambarkan Masriyah Amva dalam Bangkit Dari Terpuruk (2010).  Sebagai puteri Kyai yang mendapatkan pendidikan pesantren klasik lalu mengikuti pendidikan formal (sekolah dan perguruan tinggi) Masriyah merasakan betul dilemma dan tekanan lingkungan terhadap dirinya. Tekanan terhadap Masriyah digambarkan semakin meningkat ketika ia menikah dengan seorang pelaku sufi yang mengalami ‘jadzab’ atau ekstase kecintaan tertinggi kepada Ilahi, sehingga ‘mengabaikan’ kebutuhan keluarganya.

 Dalam kondisi tersebut, Masriyah sebagai puteri kyai yang sangat dihormati oleh lingkungannya harus rela ‘turun kelas’ berjualan krupuk demi memenuhi hajat hidupnya.
Konflik batin yang dialami Masriyah semakin meningkat ketika harus bercerai dari sang sufi. Ia semakin terasing dari lingkungannya. Uniknya, Masriyah justru memuji sang sufi sebagai sosok yang mengajarkan kemandirian bagi dirinya. Masriyah merasa dicintai sekaligus dijadikan murid oleh sang suami yang secara kasat mata terkesan abai pada kebutuhannya.

 Dari paparan kedua novel tersebut, terungkap begitu kuatnya dominasi patriarkal di lingkungan Pesantren yang didobrak oleh tokoh Anisa maupun Masriyah. Namun ada perbedaan ending dan klimaks yang disuguhkan  dua novel tersebut.

Anisa melakukan pemberontakan frontal dan terkesan kecewa berat terhadap kultur pesantren yang menghimpit kebebasan kehendaknya, sehingga ia keluar dari lingkungannya.
 Sedangkan Masriyah, meskipun melakukan pemberontakan serupa di lingkungannya tetapi ia tetap bertahan dan berhasil menaklukkan dominasi patriarkal, dengan menunjukkan kesuksesannya memimpin pesantren tanpa didampingi suami, namun tetap menjunjung citra kepesantrenan melalui sufisme yang dilakoni dan ditunjukkannya dalam karya sastra.

Masriyah tampil sebagai pemenang dan membalik dominasi patriarkal. Sehingga mampu ‘berkuasa’ di atas para lelaki (santri dan pengurus pesantren) yang tetap taat dan hormat kepada sang nyai.



----**---
Abdul Malik Mughni adalah Pengaji di Wisdom Institute, Sekretaris Lembaga Kajian Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PWNU Banten, Ketua Lembaga Penerbitan, Pers & Kajian Strategis (LPPKS) PB PMII.

Jurnalisme Aswaja

Derasnya arus informasi saat ini merupakan kelanjutan dari evolusi budaya komunikasi massa yang berlangsung sejak berabad-abad lalu. Jika sebelumnya media (baca Kitab Suci) merupakan hal sakral yang menerjemahkan ‘titah’ dan ‘firman’ Tuhan yang disampaikan melalui orang-orang terpercaya (Nabi dan Rasul), saat ini media menjadi alat propaganda, agitasi bahkan terkadang menjadi fitnah bagi orang atau kelompok tertentu.

Dalam sejarah Islam, kita mengenal hadist sohih dan dhaif, mungkin ini lah era bertebarannya hadist-hadist dha’if. Bill Kovach menyebutnya dengan istilah tsunami informasi. Di mana informasi begitu mudah tersebar, tanpa saringan yang jelas, sebab media telah menjadi alat politik.  Pertarungan ideologis juga berlangsung panas di ranah media. Masyarakat disuguhi beragam informasi yang datang dari berbagai arah.

Satu sisi, kondisi ini membuat masyarakat bebas memilih informasi yang diinginkan. Masyarakat juga leluasa menafsirkan dan menyebarkan sebuah kabar yang terkadang diragukan validitasnya. Masyarakat yang cerdas mungkin bisa menyaring dan memilah informasi yang tepat. Masyarakat yang paham dengan kondisi juga mengalami krisis kepercayaan terhadap media. Politisasi media memperbesar krisis kepercayaan tersebut.

Di sisi lain, maraknya berita yang tak disaring secara serius bisa jadi membuat masyarakat terbodohi, atau bahkan menjadi acuan masyarakat kelas bawah untuk melakukan imitasi kriminalitas dan tindakan asusila yang banyak disuguhkan media.

Kurangnya kepekaan dan niat baik para pemilik media dalam menyejahterakan para jurnalis, juga turut berperan melahirkan berita yang kurang mendidik, valid dan layak baca. Tak jarang hal itu membuat para jurnalis menggadaikan idealismenya, melanggar kode etik demi memenuhi kebutuhan hidup yang semakin meningkat.

Siapkah Pesantren Bertarung di Media?

Pesantren sebagai salah satu basis intelektual muslim di negeri ini  tak bisa menghindari perang informasi ini. Dengan jutaan santri yang ada, pesantren juga menjadi pasar utama bagi para pelaku media. Minimnya santri yang bergelut di dunia jurnalistik, membuat kaum santri kemudian menjadi mudah diprovokasi, dan selalu dijadikan obyek penderita. Pesantren juga telah sejak lama menjadi magnet media, politik dan penelitian. Namun terkadang, berita tentang pesantren kerap ditulis secara serampangan oleh para penulis yang tak mengerti dunia pesantren.

Salah siapa jika beberapa waktu lalu, ada Majalah terkenal yang dengan gagahnya mengungkapkan bahwa kalangan pesantren paling bertanggungjawab terhadap peristiwa penumpasan Partai Komunis Indonesia. Salah siapa jika sejumlah koruptor di negeri ini diberi label politisi santri? Salah siapa jika ruang dakwah di media kini kian terbatas atau bahkan kadang harus dikombinasikan dengan ruang hiburan.

Beberapa waktu lalu, Wakil Ketua PBNU As’ad Sa’id Ali mengungkapkan prediksi terjadinya perang terbuka antara kalangan pesantren, dalam hal ini kaum Nahdliyin, dengan kelompok lain yang kini disinyalir sedang mencari titik lemah pesantren. Awalnya saya menilai ungkapan mantan Wakil Ketua Badan Intelejen Negara itu sebagai pernyataan emosional menyikapi sejumlah serangan terhadap NU. Atau sebuah sikap phobia, yang bermula dari kepercayaan pada teori konspirasi.

Tetapi setelah dikaji lebih lanjut, ternyata prediksi Pak As’ad itu bisa jadi benar adanya. Dilihat dari sejumlah berita yang menyudutkan pesantren, karya sastra atau sejumlah film yang seakan menguliti pesantren. Sebut saja misalnya berita tentang penjualan santri puteri di Karawang dan Garut kepada Bupati Garut, Aceng FIkri.  Atau berita tentang Peristiwa 30 September PKI, yang dimuat Tempo secara eksklusif, dan isinya menjustifikasi bahwa kalangan pesantren bertanggung jawab pada pelanggaran Hak Asasi Manusia di era 60-an.

Sejumlah novel juga ada yang mengulas tentang cerita meiril, homoseksualitas dan lesbianism pesantren. Pun dengan sejumlah film, sebut saja misalnya Perempuan berkalung sorban, yang menempatkan puteri kiai sebagai pemberontak, atau sinetron pesantren Rock N Roll yang isinya justru jauh dari nilai pesantren. Satu sisi sejumlah berita, karya sastra dan film tersebut berhasil menggaungkan pesantren di khalayak masyarakat. Namun di sisi lain, tafsir kehidupan pesantren yang disuguhkan itu justru menyudutkan pesantren.

Mengapa hal ini terjadi, saya melihat karena kalangan pesantren abai terhadap perlunya penguasaan media. Media tak melulu Koran, Majalah atau Televisi, tetapi juga penguasaan media popular, semacam film, novel, atau bahkan media virtual dan media sosial, semacam Facebook dan Twitter.

Disadari atau tidak, media di negeri ini masih banyak dikuasai oleh pemodal yang minim kepedulian terhadap nilai moral dan agama. Kalau pun agama disuguhkan, biasanya dalam bentuk hiburan tontonan, bukan bersifat tuntunan.  

Padahal sejatinya, kalangan pesantren memiliki sumberdaya mumpuni untuk ikut menyumbangkan ide dan gagasan demi melahirkan jurnalis handal, beretika dan berintegritas. Semangat pesantren yang terangkum dalam manhaj Ahlu Sunnah Wal Jamaah, adalah benteng terakhir bagi perbaikan bangsa ini, juga perbaikan arus informasi yang beredar.

Jurnalisme Persfektif Aswaja?    

Jurnalis berpersfektif Ahlu Sunnah Wal Jamaah (Aswaja) tak berarti jurnalis hanya memberitakan seputar keislaman dan keaswajaan. Tetapi bagaimana seorang jurnalis dalam melakukan proses reportase dan pemberitaan berpegang teguh pada asas jurnalistik dan prinsip keaswajaan.
Aswaja berarti metodologi berfikirnya (Manhaj Al-fikr) nya berpegang pada prinsip Tawasuth (moderat), Tawazun(keseimbangan), dan Ta’adul (keadilan). Setidaknya prinsip ini bisa mengantarkan pada sikap keberagaman yang nontatharruf atau ekstrim kiri dan kanan.
Salah satu karakter Aswaja adalah selalu bisa beradaptasi dengan segala situasi dan kondisi. Maka mereka yang bermanhaj Aswaja selalu dinamis menghadapi setiap perkembangan zaman. Sikap Tawasuth Pesantren sering dimaknai sebagai prilaku oportunis, pragmatis, atau bahkan plin-plan oleh mereka yang tak mengerti pesantren. Simak saja  Clifford Gertz dalam teori politik jawa terkenalnya, tentang Kaum Santri  Abangan dan Priayi.

Padahal, sikap adaptif tak selalu berujung pada pragmatisme dan oportunisme. Sebab di internal pesantren, sikap Tawasuth bermakna fleksibel, tak jumud, tak kaku, tak eksklusif, dan juga tidak elitis, apa lagi ekstrim.

Jurnalis berpersfektif  Aswaja ini dalam impian saya mungkin bisa menjadi alternatif solusi bagi carut-marut media yang kini lebih banyak berpihak pada pemilik modal, politisi atau kelompok ideologis tertentu.

Idealisme jurnalis yang diidamkan Bill Kovach atau  yang dirumuskan Dewan Pers dalam Kode Etik Jurnalistik, rasanya hanya akan menjadi hafalan belaka. Sebab pada praktiknya, kini tak sedikit media mengabaikan nilai keberimbangan berita, Idealisme jurnalis terpasung oleh kepentingan politik atau kepentingan ekonomi pemilik media. Kini integritas jurnalis pun banyak dipertanyakan oleh masyarakat.

Jurnalisme Aswaja, atau jurnalisme yang digeluti para alumni pesantren diharapkan bisa menjadi jawaban atas kegalauan sejumlah kalangan terhadap dekadensi integritas jurnalis. Sebab kalangan santri, khususnya mereka yang menjiwai semangat keaswajaan, tentu akan bertindak sesuai doktrin pesantren, yang mengutamakan prinsip keadilan, kesetaraan, membela kaum lemah, dan sikap moderat.

Lebih menjanjikan lagi, ketika karakter santri yang rela sengsara demi meneguhkan prinsip kesantrian, serta terbiasa diajarkan untuk bertindak ikhlas lillahi ta’ala itu dimiliki oleh para jurnalis. Sebab di tengah godaan yang tinggi, para jurnalis saat ini sulit mempertahankan independensi dan idealismenya. Wallahu A’lam.  
·      *Disampaikan dalam Seminar bertajuk Peran Media dalam Dakwah Islamiah, yang digelar dalam rangkaian Haul pendiri Pondok Pesantren Assalafie, Babakan Ciwaringin, Cirebon, dan Pelatihan Jurnalistik di PC PMII Sukabumi.
*Tulisan ini dimuat di NUOnline dan Harian Duta Masyarakat


Jeroan

efenerr.com

Bapak Menteri Perdagangan yang terhormat, bolehkah saya curhat? Boleh dong, masa rakyat curhat aja dilarang? Pak Rachmat Gobel, yang dipuja wartawati-wartawati ekonomi sungguh saya galau mendengar wacana Bapak menghentikan impor jeroan. Sebagai penikmat tradisi kuliner Nusantara, saya jadi meragukan kemampuan lidah Bapak dalam menyicipi lezatnya citarasa masakan ibu saya khas Indonesia.
Jangan sampai hal ini mendowngrade penilaian saya pada keharuman wajah nama Bapak yang sering diceritakan gadis inceran saya yang semangat menulis berita soal Bapak. Tapi tenang, saya tidak akan sampai hati memberi rapor merah seperti yang dilakukan para pakar dan pemerhati kinerja khilafah pemerintah. Sebab saya gak mau dibenci sama wartawati cantik itu.

Pak Gobel, tolong pikirkan ulang deh rencana konyol itu. Kenapa saya bilang konyol? Karena alasan Bapak menghapus impor jeroan itu sangat lucu. Masa, lantaran perbedaan tradisi kuliner antar bangsa? Kenapa sih harus malu pada tradisi bangsa sendiri dan menganggap negara lain lebih bergengsi? Jangan-jangan Bapak terprovokasi para pengusaha daging giling kemasan dan daging kaleng yang pernah diiklankan pejabat daerah itu? Setelah disuguhi wedang jahe bergelas-gelas oleh pedagang angkringan, terus-terang, saya merasa terusik dengan rencana itu.
Mungkin Bapak perlu sering-sering sidak ke tempat hiburanpasar malam, nongkrong berjam-jam sambil makan nasi kucing Jogja, nyicipin bubur ayam Cirebon, Garut atau Sukabumi. Ribuan bahkan puluhan ribu pedagang nasi kucing dan bubur dari empat daerah itu mengandalkan jeroan untuk mengalirkan pundi-pundi receh ke laci gerobak mereka.

Jeroan bahkan bisa melahirkan efek multiplier. Para pedagang, yang membuka lapak di pasar atau tanah negara, tentu membayar retribusi buat pemerintah. Kalau pun tidak, pasti ada aparat pemerintah yang bertindak sebagai makelar yang meminta jatah keamanan dan sejenisnya ke para pedagang itu. Retribusi kebersihan minimal dua ribu, keamanan duaribu,belum lagi tagihan parkir dua ribu per pengunjung.
Para pengamen juga diuntungkan dengan tingginya tingkat penikmat jeroan di Indonesia. Gak percaya? Makanya Bapak kudu mau saya ajak kongkow, semalaman aja. Di warung-warung angkringan itu, bisa dihitung tiap lima menit ada pengamen yang menyumbangkan lagunya kemudian minta jatah kepada para pengunjung.

Dari sisi kesehatan, jeroan juga menyumbang ketahanan gizi nasional. Bagi rakyat jelata macam saya, membeli daging rendang atau ayam dan bebek agak membosankan. Sebab menunya cuma disayur, dibakar atau digoreng ditambah lagi, kantong kami bisa jebol kalau tiap kali makan harus pakai menu ‘manusia-manusia’ Australia itu.

Pak, sejak SD kami diajari makan harus empat sehat lima sempurna. Nah, protein hewani yang cocok buat kantong kami yang belum setebal kantong Bapak itu ya jeroan. Harga sepotong daging rendang di Rumah Makan Nasi Padang Sederhana itu sama dengan dua bungkus nasi kucing isi teri atau tongkol, dua potong gorengan tempe tahu, dua tusuk jeroan usus plus ati-ampela dan segelas jahe susu.

Bayangkan betapa berjasanya jeroan membantu rakyat jelata buat mengikuti doktrin pemerintah soal gizi makanan empat sehat lima sempurna itu. Kalau Bapak memaksa kami makan daging impor tusuk dan kalengan seperti salat lima waktu secara istiqomah, Bapak harus bisa mengganti seluruh isi ajaran di sekolah dasar dan menengah.

Menurut sejumlah riset, meski jeroan bisa meningkatkan kadar kolesterol dan berbahaya bagi penderita obesitas dan asam urat, tetapi jeroan juga mengandung berbagai protein yang mencegah anemia serta baik untuk perkembangan otak. Jeroan, terutama hati, jantung, dan ginjal, konon banyak mengandung vitamin B yang sangat bermanfaat untuk mencegah kepikunan (dimentia) bahkan untuk gangguan mental parah.
Gizi jeroan juga baik buat ibu hamil dalam mencegah kekurangan zat besi. Jeroan juga baik buat kekebalan tubuh karena kaya akan vitamin A. Jeroan sangat berguna bagi kesehatan bangsa. Dan yang lebih penting, kuliner khas Nusantara tidak bisa lepas dari berbagai variasi olahan jeroan yang wajib dilestarikan.
Lantas, kenapa orang Australia dan Mesir memberikan jeroan buat makanan anjing? Karena mereka gak kreatif seperti orang Indonesia. Coba mereka suruh nyicipin empal gentong, nasi tangkar atau coto makassar, pasti mereka ketagihan.
Kalau pengacara BG,  mengancam dengan mogok kerja ribuan polisi gegara tuan besarnya diperkarakan KPK, saya juga mampu belum bisa mengajak para pedagang angkringan, bubur ayam, empal gentong, coto makassar, tangkar Bogor, nasi Jamblang buat berdemonstrasi dan mogok dagang. Tapi ingat, Pak, di DKI saja ada ribuan pedagang kuliner berbasis jeroan, belum lagi jutaan fans kuliner Nusantara yang siap menentang kebijakan serampangan terkait jeroan.


*tulisan ini dimuat di mojok.co. 25 Maret 2015
luvne.com ayeey.com cicicookies.com mbepp.com kumpulanrumusnya.com.com tipscantiknya.com