Gusdurian

Surat Terbuka Untuk Politisi Banten

Terkhusus untuk para politisi Banten, yang sedang bersiap,menghadapi Pilkada 2017 nanti, sudahi dulu lah debat kusir tentang siapa cal...

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Sabtu, 13 Desember 2008

Mahasiswa, -seharusnya- tak sekedar membaca


leh : A. Malik Mughni*

”Kamu suka baca?”
“Ya saya suka baca, baca SMS, baca diktat ketika ujian berlangsung, baca makalah ketika ada tugas presentasi, baca leaflet ketika ikut demo, dan baca pamphlet yang bertebaran di kantin kampus!”
Dialog imajiner itu mungkin mencerminkan sebagian realitas Mahasiswa saat ini. Membaca bagi Mahasiswa tentu bukan hal yang sulit dilakukan, sebab selain telah tuntas mengikuti program wajib belajar yang dicanangkan pemerintah Indonesia sejak era Orde Baru, predikat Mahasiswa sebagai _ubsta intelektual, juga berkonsekwensi pada pembangunan sikap terpelajar, diantaranya dengan kebiasaan membaca.
Meski terlalu sederhana, asumsi tersebut setidaknya dapat mewakili kesimpulan umum, bahwa membaca telah mengkultur, atau bahkan menjadi semacam social heritage (warisan sosial) di kalangan Mahasiswa. Jika merujuk pada definisi membaca ala Jack.C. Richard, John Plat, dan Heidi Plat, bahwa membaca adalah melihat teks untuk memahami isinya, maka minat baca Mahasiswa sudah tidak perlu dipertanyakan lagi, dengan kata lain peradaban Mahasiswa –secara umum- telah cukup tinggi, dan mencerminkan kebudayaan modern..
Tapi jika proses membaca mensyaratkan repsesifitas, dan penalaran kritis ala Habermas, apakah membaca SMS, dan membaca pamphlet, dapat meninggikan peradaban? Apalagi jika melihat realitas dilapangan, tentang tradisi tawuran dan budaya kekerasan yang menjalar di kalangan Mahasiswa, tentang immoralitas dan hedonisme yang juga mewabah di lingkungan kampus, tentang aksi-aksi anarkhis dengan tuntutan yang kurang _ubstantive dalam beberapa demonstrasi oknum Mahasiswa, adakah cermin tingginya peradaban di sana? Bukankah paradigma kritis –yang identik dengan Mahasiswa- mewajibkan analisa mendalam, cermat, dan dialektis dalam menentukan sikap, dan keputusan?
Ternyata membaca versi Mahasiswa dan membaca versi umum, amatlah berbeda, Mahasiswa, seharusnya dapat berinteraksi dengan bacaan, tidak hanya menggali informasi, dan mudah terpengaruh oleh bacaan. Jika masyarakat umum percaya begitu saja pada gossip, dan berita media, maka Mahasiswa sudah seharusnya menganalisa wacana media, dan menafsirnya. Sebab di Kampus –semestinya- diajarkan tehnik berfikir, dan metoda penafsiran teks yang beragam,sebagai bekal dalam membaca.
Tapi, lagi- lagi kenyataan di lapangan berbeda teori ideal yang ada. Mahasiswa justru diklaim sebagai salah satu komponen masyarakat yang mudah terprovokasi, mahasiswa juga mudah terpengaruh doktrin negatif. Simak saja bermacam berita tawuran, demo anarkhis, sikap immoral, hingga fundamentalisme dan gerakan garis keras yang banyak bermunculan di Kampus-kampus.
Siapa yang bertanggung jawab atas kondisi ini? Apakah Mahasiswa –dalam hal ini- menjadi subyek, sehingga bertanggung jawab atas pilihannya masing-masing, ataukah menjadi obyek yang diperalat dan menjadi korban atas sebuah sistem tertentu? Saya cenderung melihat mahasiswa dalam problem ini, sebagai obyek penderita, yang dikorbankan oleh sistem. Ya setidaknya inilah yang saya rasakan di kampus kami (IAIN ”SMH” Banten).

Bacaan bermutu, barang mewah bagi Mahasiswa
Mahasiswa dan bacaan mestinya menjadi dua kata yang sulit terpisahkan. Beragam tugas perkuliahan menuntut Mahasiswa untuk mencari refferensi, bila ingin gratis, buku referensi perkuliahan –mestinya- bisa didapat di perpustakaan Kampus. Ya, mencari refferensi, itu tujuan utama para pengunjung perpustakaan, sisanya, suasana pepustakaan kampus kami lebih enak digunakan untuk tempat pertemuan rahasia, pacaran misalnya.
Pacaran di perpustakaan, cerita klasik itu masih bisa disaksikan di Kampus kami. Karena perpustakaan di kampus kami ramai dikunjungi pada waktu tertentu saja. Menjelang masa pengajuan skripsi atau tugas akhir perkuliahan, dan pada masa ujian tengah atau akhir semester. Di luar masa itu perpustakaan kampus kembali senyap, hanya beberapa pasangan mahasiswa yang terlihat di sana. Mungkinkah hal yang sama juga terjadi di Kampus lain? Saya tidak terlalu yakin.
Beberapa kawan yang pernah terbilang rajin berkunjung ke perpustakaan, sering mengeluhkan kejenuhan mereka dengan suasana perpustakaan, buku ‘buluk’ yang tidak terrawat, pendingin ruangan yang tidak berfungsi karena kurangnya daya listrik, hingga kurang lengkap dan beragamnya buku referensi yang bisa dipinjam.
Meski ada ruang referensi –pada waktu tertentu itu, ruangan ini paling sering disesaki pengunjung- yang menyediakan keragaman buku dengan agak lengkap, tapi buku di ruangan tersebut tidak dipinjamkan, dan hanya boleh dicopy di ruangan, dengan harga yang tidak biasa. Hak mahasiswa untuk mendapat fasilitaspendidikan yang bermutu di kampus kami, memang agak dikebiri. Mungkin, hal yang sama terjadi dikampus lain? Saya tidak terlalu yakin.
Minimnya bacaan bemutu, sistem, pendidikan tinggi yang hanya mementingkan angka indeks prestasi, dengan metoda ujian konvensional dan cenderung teks book, secara tak sadar membuat kami menjadi pecontek ulung. Verifikasi tugas karya tulis yang rendah, juga memudahkan kami menjadi plagiator dalam menulis makalah, bahkan –mungkin- skripsi. Perkuliahan yang mensyaratkan kehadiran 70%, dengan proses kegiatan belajar-mengajar yang kurang bermutu dan pola ajar ala yayasan (beberapa Dosen seakan mentasbihkan diri sebagai dewa ajar, yang anti kritik), membuat sebagian kami segan di kelas, dan membungkam. Ditambah fasilitas pendidikan (perpustakaan, misalnya) yang kurang layak, bisa jadi menghasilkan mahasiswa yang kurang bermutu pula.
Nah, jika Pola pendidikan yang berlaku semacam ini, jangan heran jika tridarma perguruan tinggi tidak tercapai sepenuhnya. Bagaimana seorang Mahasiswa akan mendapat dan mengamalkan aspek penelitian, jika sikap kritis dibungkam sejak di kelas, bagaimana pengabdian masyarakat akan menghasilkan perubahan yang signifikan ke arah perbaikan kultur, jika tradisi membaca yang ada, hanya sebatas menggali, dan memindahkan informasi, tanpa verifikasi kelengkapan data, analisa wacana, dan dialektika, untuk selanjutnya ditafsir, dan dipraktikkan ditengah masyarakat, dengan penyesuaian kultur dan sosiologi masyarakat. Ketika sikap jujur dalam berkarya sudah hilang, bagaimana lulusan perguruan tinggi dapat mendidik masyarakat?
Sebagai obyek perguruan tinggi, Mahasiswa berhak mendapat pendidikan yang layak dan bermutu, mahasiswa juga berhak atas fasilitas pendidikan, diantaranya perpustakaan, dengan buku-buku berkualitas, dan pelayanan nyaman, dan ramah dari pengelolanya. Karena mahasiswa tak sekedar membaca, maka beri Mahasiswa bekal praktis untuk membaca, proses dialektis, pembelajaran kritis, serta kecermatan dalam menganalisa teks, mestinya ditradisikan, bermula dari pengajar yang berkualitas, dan bahan bacaan yang berkualitas pula.



• Penulis adalah Mahasiswa Jurusan Jinayah Siyasah,
Fakultas syari’ah IAIN ”SMH” Banten,
Pengaji di Umbruch Cercle,
Saat ini bergabung di LAKPESDAM NU Kota Serang.
Tulisannya dapat dilihat di www.malikmughni.co.cc
(http://a-malikmughni.blogspot.com)




Minggu, 23 November 2008

Ampun, gusti...

Ini sudah ke sekian kalinya FPI diberitakan meresahkan warga lain di negeri ini., (baca deh berita terbaru tentang resahnya eros Djarot, tentang filem "lastri"nya yang ditentang.) Terus-terang aku limbung sama sikap mereka dan para pendukungnya. sebagai muslim yang tumbuh di dunia pesantren, aku belum pernah mendengar doktrinan kiai di pesantrenku, sekeras Om Rizeck ini (eh, beliau layak disebut kiai enggak seh?).

Dulu, ketika di Pesantren, aku sempat senang dengan nada keras para penceramah kondang. dari Habib Rizziq, Idrus Jamalullail, Syarifin maloko, hingga Anton medan, kala itu, aku rajin menyambangi sebuah majelis ta'lim di Cirebon kota, yang konon milik seorang muallaf, bernama Yuqeng, meski jaraknya cukup jauh dari pesantrenku, sebulan sekali, di Jum'at sore aku berkunjung ke sana, sambil cuci mata di sebuah mall yang letaknya tepat di depan majelis tersebut.

Para penceramah itu memang dikenal vokal sejak Orde-Baru, mereka rajin mengkritik pemerintah. tapi siapa sangka jika di era reformasi, mereka berubah jadi pimpinan preman?> maaf buat para pengikutnya, aku enggak bermaksud menyinggung kalian (nanti disangka teror psikologis, lagi) aku cuman lelah liat tingkah kalian yang sok jago dan menjadi preman dengan mengatasnamakan agama.

Minggu, 16 November 2008

Kader Nu Opportunistik?

Hmm, jadi prihatin baca postingan tentang keluhan Mbah Muchit (ww.NUOnline, 12 Nov/2008), terus-terang awalnya kupikir para sesepuh dan pejabat Nu saat ini masih disibukkan dengan politik praktis, dan beragam kepentingan di dalamnya.

Harapan mbah muchit sepertinya mudah diwujudkan, seandainya para pejabat struktural NU, dan berbagai departemennya, serta banom (badan otonom)nya, bersikap proaktif, untuk "turba" (turun ke bawah,-meminjam istilah era revolusi, red-). membina dan mengajak kaum muda Nu untuk bergabung dan memberi ruang kontribusi untuk kaum muda.

Sayangnya, tradisi "turba" itu hanya dilakukan menjelang Pemilu (pilkada, maupun Pemilu RI), atau Konferensi, baik tingkat cabang maupun wilayah. "Turba" nya juga dilakukan dengan tambahan embel-embel kepentingan politik.

Kondisi tersebut mungkin hanya asumsiku saja, melihat realitas yang terjadi di tempat tinggalku saat ini (Serang, Banten), para tokoh PBNu ( juga departemen, dan Banomnya, IPNu misalnya). Beberapa waktu lalu, dikabarkan beberapakali berkunjung ke PCNu Serang, kebetulan saat itu menjelang Konferwil NU, kemudian berlanjut dengan Konferwil IPNU Banten. Pembahasan yang dilakukan, ya seputar politik belaka. dan satu lagi, kunjungan pengurus pusat IPNU, -yang, konon- untuk menjaring tim kampanye pencalonan salah satu pengurus IPNU sebagai caleg DPRRI. Kabarnya lagi, yang ditunjuk jadi tim wilayah Banten juga orang Opportunis banget, ( di Banten, ada julukan 'ular' bagi kader NU yang bersikap opprotunis, dan untuk yang satu ini, katanya sih adalah ular berkepala dua, he)

Saya setuju dengan asumsi Mbah Muchit, bahwa banyak kaum muda Nu tidak terberdayakan potensinya. tapi saya kurang setuju jika kaum muda Nu dianggap kurang potensial (semisal, dalam hal kepenulisan, investigasi dan tradisi intelektualitas lainnya). Sebab setahu saya, di berbagai mailist, blogroll, dan media-media internal kampus, maupun media lokal, banyak anakmuda berlatar belakang Nu mampu menulis, tapi mereka -kadang- tak mencantumkan identitas ke-NU-annya.
Apa sebab? Karena hingga saat ini, kaum muda NU yang bepotensi itu kurang dirangkul, dan mereka meretas sendiri jalan intelektualitas masing-masing. Mereka melakukan kajian informal, menulis, dan berkarya, tanpa melabelkan ke-NU-an, meski secara ideologis, mereka tak bisa memungkiri identitas kultural, sebagai anakmuda NU.

Lihat saja, di PMII, setiap kader mengembangkan diri masing-masing, dan secara perlahan melepas identitas ke-PMII-an, dan otomatis, secara kultural, identitas ke-NU-an dilepas juga. Lemahnya administrasi dan data warga Nu, mungkin juga adalah biang dari kenyataan ini. tanggung jawab siapa?

Kemudian di Lakpesdam, masing-masing PC bergerak sendiri, seolah tidak ada koordinasi dengan PP Lakpesdam, sebab sebagai departemen, Lakpesdam, LTN, LBM, dan lainnya hanya berkoordinasi dengan PCNU masing-masing.

Bagi lembaga-lembaga atau banom yang ada di lingkungan strategis (secara intelektual dan ekonomi; dalam wilayah kota pendidikan, misalnya), akan mudah melakukan pengembangan, sementara bagi yang ada di lingkungan kurang strategis, mereka meraba sendiri, tertatih dan kebingungan. maka apa peran Lembaga pusat? otonomi menjadi dalih untuk lembaga-lembaga di pusat untuk bertindak sendiri, dan melepas diri dari kewajiban membina lembaga-lembaga di daerah (ini yang terasa di Serang, loh, entah di daerah lain).

Imbasnya, lihat saja, muncul beragam gaya dan ideologi yang diusung lembaga-lembaga tersbut (misal;Lakpesdam), ada yang bernuansa liberal, karena 'difounderi' oleh donatur dari eropa, australi dan USA, ada yang bernuansa konservativ, sebab dapat dananya dari Yaman, ada juga yang lebih memilih kajian politik dan monitoring APBD, sebab di sanalah -mungkin- sumber dana itu ada. (Hmm, ke depan, bisa jadi ada lembaga NU yang bernuansa Wahhabi, karena dapat donor dari Saudi, kali yee?)

Ditambah lagi, para pejabat struktur PCNU -kadang- sibuk berpolitik praktis, atau bahkan sibuk merangkul penguasa daerah, yang ironis bagi saya, kadang alasannya sangat sepele dan pragmatis betul, ( Di Serang, dan Banten, saya menyaksikan ini. beberapa Ulama mendukung calon tertentu, dan atau mencalonkan diri, dengan dalaih demi kompensasi mendapat dana untuk mengontrak atau membangun Kantor PCNU) Pak Hasyim juga, dalam konferwil NU Banten, sempat meminta itu, bahwa "Ketua NU Banten, mendatang, harus bisa mengusahakan Kantor permanen", ironis, ko cuman gedung, yang dipikirkan? pengaruh depelovmentasi-isme Orba, yag hanya mementingkan pembangunan fisik, tampaknya masih kuat.

Maka, jangan heran jika muncul anggapan di kalangan muda NU, bahwa para pengurus struktural NU tak sempat memikirkan ummat dan kadernya, sebab sedang sibuk mikirkan 'BaseCamp'. Dan jangan bingung juga, kalau kemudian, banyak kader potensial Nu menyeberang ke ormas lain, atau membuat LSM sendiri, yang bisanya sekedar batu loncatan menuju hal yang pragmatis, mungkin benar apa yang diriset dalam beberapa buku ke-NU-an yang ditulis oleh orang luar NU, bahwa bahwa NU adalah ormas yang berideologi Opportunistik. (wallahu'alam)

Minggu, 09 November 2008

Nominator Award



Hampir seminggu, aku tak mengecek e-mail dan blogging disamping kurang dana buat bayar warnet, belakangan ini aku dilelahkan oleh beberapa kegiatan. dan malam ini aku dapat kesempatan itu, membuka blog, melihat ragam tulisan baru yang diposting oleh beberapa kawan yang ngelink dengan blog-ku, serasa bertemu kawan lama saja. seolah kerinduan membuncah, ha.ha. Dan tak dinyana, seorang teman dari seberang, -dia konon sedang kuliah di Negeri Fir'aun- Mursalin, namanya, putera Surabaya, yang hingga kini hanya kukenal melalui kritik dan sarannya di kolom 'tetamu', menawarkan nominator award, yang katanya hanya diberikan kepada tujuh orang pilihannya. aku senang, dan berterimakasih buatnya, dan kalian, yang berkunjung ke blog malikmughni ini. Beberapa tulisan isengku, yang kebanyakan tak dimuat media profesional -padahal, beberapa diantaranya, kukirim berkali, ke beragam media cetak Lokal, maupun nasional-, yang kupikir memang tak layak dimuat di media-media beroplah ribuan eksemplar/terbit, dan sempat kukira tak layak dibaca, ternyata ada juga yang suka. ketika masih aktif di pers Kampus, aku sering merasakan bahagia dan kebanggaan yang terperi, ketika tulisanku dibincangkan, dikritik, bahkan dimaki. Aku puas bahwa, menulisku tak sia-sia.
Dan minggu lalu, 'Kang Mursalin menominasikan Award ini kepadaku, dan konon wajib dipasang, kemudian aku harus memilih 7 nominasi penerima Award selanjutnya. Sekaligus menyebarkan pesan penghargaan ini kepada blogger yang terpilih nantinya:


Semangat Ngeblog dan Terus Berkarya

Untuk jelasnya, akan saya tuliskan kewajiban-kewajiban yang diberikan oleh sponsor Award ini yang harus dilakukan oleh para nominator nantinya:

  1. Put the logo on your blog.
  2. Add a link to the person who awarded you.
  3. Nominate at least 7 other blogs.
  4. Add links to those blogs on yours.
  5. Leave a message for your nominees on their blog.
Dan aku memilih beberapa sobat, guru, dan rivalku sebagai nominator blog Award :

1. SiGMA (http://www.lpmsigma.co.cc) blog komunitas yg kerren
2. Kang Wawan (http://www.arwani-syaerozi.blogspot.com) banyak tradisi keislaman yang ditulis dengan ringan, tapi bermutu, dalam empat bahasa yang fushah (Arab, Inggris, Francis & Indonesia)
3. Goen's SiGMA (http://www.elburhan.co.cc) Blog sobat gw yang 'lumayan gaul, menawarkan beberapa fasilitas blogging yang bisa diunduh gratis.
4. Ibnu (http://ibnuadam.multiply.com) Berbagai kritik dan kecaman atas lingkungan, dan kondisi sosial, serta pemerintahan dan pedidikan di Banten, termuat di blog ini.
5.Kang Irwan (http://irwanmasduqi83.blogspot.com), Beragam rujukan cerdas tentang pemikiran ISlam, ada di dalamnya.
6. Thoink (http://gadingtirta.blogspot.com) rivalku yang narsis ini, banyak menulis tentang kesehariannya dengan analisa yang lucu.
7. Joewanda (http://jasmerah1954.blogspot.com). berbagai tulisan di blog ini penuh nada gugatan yang emosinal, tapi gambar-gambar yang ditampilkan, membuat blog ini terlihat manis.

Dan banyak lagi, sebenarnya blog-blog yang menurut saya layak dkunjungi dan mendapat nominasi award ini. diantaranya, mereka yang tertera di link sahabat saya, dan laiinya.

menarik juga, kayaknya jika nominasi award bruntut ini dilestarikan, minimalnya bisa menambah silaturahim, dan selamat Menulis!
Semangat Ngeblog, dan Terus Berkarya!!
terimakasih!



Jumat, 31 Oktober 2008

ISlam Indonesia

Pagi ini, aku meraih lagi setitik kebanggaan terhadap Indonesia. Ya, pagi ini, setelah aku tak jadi menggarap skripsi, dan malah membuka beberapa situs dari para bijak-bestari tradisional, aku melihat Indonesia dari sisi positif. Setelah lama terpengaruh oleh Puisi Taufik Ismail, yang membuatku turut "turut malu menjadi orang Indonesia", setelah bertahun aku sedih melihat bangsa yang selalu bermuara pada anarkhisme dan arogansi para pengklaim kebenaran subjektif, setelah berkali aku dibuat bingung oleh orang-orang yang kukagumi, kini aku -seolah- menemukan pintu keluar dari wabah inferioritas yang lama menjangkit dan mewabah dalam dalam hampir semua diri anak bangsa.

Semalaman, aku membaca essainya Cak Nun (Emha Ainun Nadjib), aku juga menyimak tulisan-tulisan Gus Mus (K.H. Musthofa Bisri), beberapa tulisan Gusdur, dan beberapa artikel lain dari numesir.org, sekumpulan tulisan sekelompok anak muda NU yang kuliah di Mesir. Mereka memandang negeri ini dari persfektif lain. Kultur dan tradisi masyarakat, dibaur dengan anasir sejarah, dana beberapa tafsiran 'khas' atas teks-teks keagamaan.

dari CakNun, aku mendapat terma "Maiiyyah", kebersamaan, sebagai sebuah paradigma sosial. dari GusMus, aku mendapat 'berkah' sufisme yang sedikit mistis, namun menarik meski kadang dibumbui parodi. dari GusDur, aku mendapat kekayaan tradisi, dan dari anak-anak muda Nu di Mesir, aku melihat transformasi keagamaan yang membumi. Beragam wacana tersebut, tidaklah terlalu asing, sebenarnya, tapi membaca lagi karya mereka, menyimak lagi pemikiran mereka dalam membahas fenomena yang menghampiri bangsa ini, memberiku nilai tertentu, seolah tercerahkan setelah lama dihantui kengerian melihat bangsa ini, (ha.ha, aku jadi ingin tertawakan diri. Masa depanku saja belum jelas, aku kok, sempat-sempatnya gelisah melihat bangsa ini? sok penting banget, ya? tapi tak apalah, kadang memikirkan hal di luar diri itu mengasyikkan, dan sesekali merenungkan nasib bangsa juga tak salah, bukan? he.he.)

Cak Nun, yang 'mbeling' ternyata dilirik oleh para pengusung fundamentalisme agama. bahakn pernyataannya dalam sebuah acara komunitas, kemudian dikutip sebuah partai dan organisasi yang selama ini dikenal puritan, dan bukan tidak mungkin, kutipan pernyataannya, dijadikan bahan kampanye, padahal, jika disimak lebih jauh, support Cak Nun terhadap partai dan kelompok tersebut, adalah ekspectasinya agar mereka yang puritan, berubah terbuka, mereka yang fundamental, menjadi moderat, mereka yang sok eksklusif, menjadi inklusif, dan mereka picik terhdap tradisi, menjadi bijak.

"PKS sekarang sedang berada dalam posisi punya presisi mana yang sebaiknya dimaterikan, mana yang sebaiknya digerakkan sebagai energi, dan mana yang mesti frekuensi. Kalau overmateri, bisa-bisa PKS diarani (dibilang) ini itu. Apalagi sekarang Islam sedang dikuyo-kuyo, KS jadilah kertasnya Allah. PKS jadilah mangsi (tinta)-nya Allah...." Pemimpin Kiai Kanjeng ini juga melanjutkan, bahwa "PKS harus menghormati kraton-kraton yang ada.
Pada bagian lain, Caknun juga menasihati pengurus Hizbut Tahrir, yang sowan kepadanya "Dalam politik dan kebudayaan muncul stigma yang sangat sulit, yaitu bahwa Islam itu musuhnya demokrasi. Ini berlaku secara internasional. Kita sering menjadi pelanduk stigma itu. Kalau tidak demokrasi, ya Islam. Atau sebaliknya. Padahal demokrasi itu bagian kecil saja dari demokrasi, kadang-kadang diperlukan, kadang-kadang tidak. Demokrasi dibutuhkan pada proporsi tertentu. Nah, saya tidak mau menjadi korban stigma itu. Saya cairkan semuanya ke dasar-dasar nilai semula...,"(http://padhangmbulan.com/info/4-berita).

Pernyataan awal Cak Nun (tentang PKS) kemudian diklaim sebagai dukungan, dan dijadikan bahan kampanye. Padahal, jika menyimak lebih lanjut, CakNun jelas memberikan harapan yang mustahil, sekaligus sindiran tajam, kepada PKS, "Kalau overmateri, bisa-bisa PKS diarani (dibilang) ini itu" sikap materialistis, memang menjangkit di kalangan mereka, maeterialistis dalam hal politik, juga materialistis dalam hal syari'ah. kemudian, pernyataan PKS harus menghormati kraton-kraton yang ada"
saya pikir adalah hal yang mustahil bagi PKS, sebab, jika mau jujur dan idealis, PKS tentu berseberangan dengan tradisi Indonesia, yang diusung mereka, kan (kalu jujur, dan tidak munafik,) adalah reduksi dari gaya Ikhwanul Muslimin. begitu juga dengan restunya, kepada HT, sebenarnya berisi kritik tajam terhadap nalar mereka yang kacau, tentang khilafah islamiyah, yang ternyata juga berbau demokrasi.

Tapi yang menarik buatku bukanlah sindiran dan kritik terhadap mereka, yang emnarik buatku, adalah bagaimana respon mereka yang dikritik, justru malah -seolah- mendapat restu dan dukungan dari CakNun, kritik, yang membesarkan hati, (kalau tidak dikatakan geer, he)

tokoh selanjutnya, yang membuatku sedikit terhibur, adalah Gusmus (K.H. Musthofa Bisri), yang mengkritik Gusdur, dan kemudian, mengagungkannya. Tiba-tiba saya teringat analisis seorang kawan yang melihat Gus Dur /PKB dari prespektif "kewalian". Dia memulai dengan menceritakan kisah Nabi Musa dan Nabi Khidir. kata GusMus, yang kemudian dialnjutkan dengan analogi Khidir yang membocorkan perahu tumpangannya. Kalau kiai-kiai yang dulu mati-matian mendukung Gus Dur itu paham, mereka tidak akan mendirikan partai baru," katanya. "Mereka mendirikan partai baru karena jengkel dengan kelakuan awur-awuran Gus Dur dalam memimpin PKB. Padahal, Gus Dur memang sengaja membuat mereka jengkel agar mereka benci dan meninggalkan kehidupan kepartaian yang awur-awuran."

"Sekarang ini," kata si kawan melanjutkan "analisis"-nya, "justru menjelang Pemilu 2009 Gus Dur seperti sengaja membunuhi anak-anaknya sendiri dan merusak perahunya yang bernama PKB. Karena "perahu" itu milik orang-orang miskin; jangan sampai dirampas dan dipakai oleh orang-orang yang hanya ingin memperkaya diri, termasuk anak-anaknya sendiri. (celaka 13/www.gusmus.net)" meski mengaku jengkel, namanya sering dicatatut sebagai deklarator PKB, dan kesal terhadap sikap Gusdur, tapi Gusmus masih melihat itu semua sebagai hal positif yang tersembunyi.

yah, uniknya orang NU, memang melihat sesuatu tidak dalam perspektif tunggal, karenaya, selalu aa sisi positif yang dianggap sebagai salahsatu hasil dari sesuatu. begitulah tradisi yang masih dipelihara sekelompok anak muda Nu yang sedang tinggal di Timur tengah. sementara Gusdur, tak henti berkontroversi, dengan gaya 'pendekar mabuk'a nya, dalam membela beberapa kelompok yang justru dibenci sebagah dari bangsa beradat ketimuran ini.
, Islam Indonesia itu memang majemuk, dan ini harus disyukuri, dengan tidak bertindak arogans, dan terlelu percaya diri, atau bahkan ge-er!

Kamis, 30 Oktober 2008

Dagang -in- Kecap Obama

Majalah Gatra bulan ini memprediksi Obama akan menang mutlak dalam pemilu Amerika Serikat (AS), November ini. Laporan itu disampaikn wartawannya langsung dari negeri paman Sam. Media-media lain di AS juga sama, meramalkan kemenangan Obama, sebab ia dianggap tokoh transformasional. Demam Obama dimanfaatkan juga oleh partai-partai di Indonsia, saatnya tokoh muda memimpin! Begitu jargon yang diusung. Konon, Obamaisme memang merasuk ke hampir seluruh dunia.


Tapi di negeri ini, Obamaisme tak lebih dari tradisi ‘jualan kecap’. Para tokoh yang mengaku masih muda, ramai mempromosikan diri, tanpa diminta. Beberapa partai juga memanfaatkan gejala obamaisme untuk merangkul kaum muda, dengan mengiklankan tokoh muda yang dimilikinya.

Bagiku mereka tak lebih baik dari para salesman. Ramai-ramai berpromosi diri, padahal kualitas dirinya dipertanyakan. Ada yang pamer kekayaan, ada juga yang pamer ilmu dan idealisme, padahal hamper semua kalangan intelektual tahu, dia yang pamer kekayaan, menjadi pimpinan partai karena uang. Hampir semua juga tahu, dia yang pamer ilmu dan idealisme, ternyata adalah actor penjualan asset Negara kepada komprador asing. Dan semua juga tahu, tokoh yang diklaim muda dan layak memimpin oleh sebuah partai, bahkan tak mampu berbuat apa-apa ketika dia memimpin parlemen. Hanya berita pernikahannya saja yang sempat membuat heboh, lainnya? Tak lebih dari dagang kecap!


Obama, memang menginspirasi kaum muda. Termasuk mengisnpirasi segenap kaum muda yang tak pandai berkaca diri, dengan tiba-tiba mengklaim diri layak menjadi pemimpin, padahal track reccordnya, seperi kaset kusut yang diputar dengan tape yang berusia satu abad.


Banyak orang Indonesia pandai mengambil momentum. Untuk kepentingan diri dan kelompoknya. Hal yang wajar, dan baik, ketika kepentingan itu ditransformasikan dengan kerja keras dan semangat membara. Tapi yang kurang ajar, momentum itu dicuri untuk kepentingan diri, dan kelompok, atas nama Bangsa Indonesia.


Maka, jangan heran bila nanti para pedagang kecap itu yang jadi, asset Negara mungkin akan habis dijual, dan atau, para pejabat yang akan dating, lebih pandai lagi berteater, dengan pameran senyum kharismatik, dan elegant, hasil kursus kepribadian. Para pejabat itu nantinya akan lebih banyak menghadiri undangan dari beragam kalangan dan organisasi, termasuk undangan nonton bareng, tanpa mampu menyelesaikan problem serius bangsa ini. Mereka berlomba meniru gaya Obama, tapi tak mampu meniru kharisma, kecerdasan, idealisme, semangat, dan track record Obama yang fenomenal.

Lulus Pada Waktunya!

Judul tulisan ini mungkin mirip sebuah filosofi atau kalimat-kalimat bijak yang terdapat dalam syair atau puisi; Indah pada waktunya.


Aku mendengar kalimat “Lulus pada Waktunya” dari teman sekelasku, Ita Nurul Masyitoh namanya. Dia mahasiswi biasa, yang –dalam pantauanku- menikmati kelajangannya. Akrab dengan kosmetik, kadang ngerumpi, dan bergenit ria. Kuliah baginya dalah bagian dari siklus kehidupan yang taat dijalani. Tapi nilai tak begitu penting baginya, tugas-tugas kuliah, hingga pilihan skripsi yang ia garap tidak neko-neko, yang penting lulus pada waktunya! Begitu katanya dari ujung telepon. Ya, siang tadi aku menghubungnya, skedar bertukar kabar dan informasi. Kabar terbaru darinya, adalah sidang skripsi yang akan ia jalani esok hari, dan pencalonan legislatif dari sebuah partai baru yang ia ikuti. Dari gadis biasa, kini Ia –akan- menjelma salah seorang yang luar biasa. Beberapa kalimat bijak lainnya juga kerap keluar dari mulutnya kini.

Jangan mikirin yang lain dulu, fokuslah pada skripsi, agar kamu segera lulus. Percuma rasanya, dikenal sebagai aktifis, dianggap cerdas dan kritis, tapi lulus tidak tepat waktu. Ita aja yang cewe, bisa focus! Begitu kira-kira, kalimat bijak yang terurai darinya.

Selain Ita, ada beberapa gadis lain yang awalnya kuanggap biasa, ternyata luar biasa. Lia misalnya, dia gadis kecil berumur enam belas tahun, dan kini sedang bekerja sebagai pelayan toko baju, di kampungku. Hidupnya bagiku terkesan getir. Ayah-ibunya bercerai, dan kini Lia tinggal dengan nenek, dan Bibinya, yang menurutnya super cerewet, sehingga membuatnya tak betah tinggal di rumah. Dari tampang, pakaian dan sikapnya, aku mengira dia dari kalangan menengah ‘agak’ ke atas. Dia sering bercerita tentang masa SMP yang ia lalui dengan hura-hura dengan Ganknya. Sesekali ia juga berkelahi dengan Gank lain atau sesame peempuan lainnya,. Aku jadi teringat cerita Gank Nero. Ia menikmati betul masa indah di sekolah, tapi kemudian, ia tak berhasil mencapai target nilai Ujian Nasional, “aku enggak lulus UN” ungkapnya, masih dengan bibir yang terkembang, “ bodoh banget, ya ?” hi.hi. tawanya getir. Tapi kenapa temanku yang lebih nakal, males, dan lebih oon ko malah lulus? Gak adil, khan? Keluhnya lagi. Kini ia sedang menunggu hasil ujian paket B yang ia ikuti setelah gagal lulus UN, “kayaknya sih bakal lulus, sebab hampir semua soal dikasih tahu jawabannya, he.he”.

Tak ada sedih di raut wajahnya, Meski ia mengaku sempat menangis tanpa henti selama hampir seminggu, kelugasan ceita dan senyum getirnya, menandakan Ia mampu menerima kenyataan dengan lapang hati, walau usianya belum juga dewasa. Bagiku ini cukup luar biasa.

Beberapa temanku yang lain, juga mengalami dilema kelulusan. Tak mampu mencapai target lulus empat tahun, karena memilih belajar tetang hal lain, ada yang sengaja kursus bahasa asing, (sesuai jurusan kuliah yang ditekuninya), ada juga yang terlena oleh kursus jurnalistik di Bali, beberapa lainnya, sengaja tak lulus tahun ini, karena menjabat posisi tertentu di organisasi. Mereka berani memilih, dan konsisten dengan pilihannya.

Sedang aku, masih kalut oleh berita pelaksanaan wisuda pada 03 desember mendatang, dan puluhan orang yang menanyakan kelulusanku, hm.. aku bersyukur banyak yang berharap, aku segera lulus. meski hati kecil, kadang limbung, sebab satu nilai mata kuliah menghambatku untuk lulus, belum lagi skripsi yang tak emangat lagi kugarap karena nilai yang tak keluar itu.

Organisasi yang kupimpin, belum juga jalan, sebab bingung menari dana. Lamaran kerja ku di beberapa media juga belum direspon, dan kini aku malah ikut proyek riset kependidikan, yang sesungguhnya tak sejalan dengan jurusan politik Islam yang ku ikuti, atau dunia jurnalistik yang kugeluti. Ah,, nanti juga akan lulus pada waktunya..


Sakit Jiwa

Oleh Abdul Malik Mughni,
20 persen warga Indonesia atau satu dari empat orang di negeri ini menderita sakit jiwa (koran Sindo, edisi minggu-minngu lalu). Asumsi yang dilontarkan oleh parapsikolog, beberapa waktu lalu itu mungkin benar adanya. Satu minggu ini saja aku mengalami kejadian lucu, aneh, sekaligus menyedihkan. Dua hari lalu, sebuah surat dari "Jibril ruhul kudus" lengkap dengan tandatangan Jibril (berupa inisial LE2) mampir ke kantor kami di PCNu Kota Serang. memberitahukan kebangkrutan Presiden Francis, Nicholas Sarkozy, sebagai peringatan Allah atas bangsa Indonesia, agar bertaubat, dan mengakui kerasulan Lia Eden.
Beberapa hari sebelumnya, surat yang sama juga datang dan memberi peringatan yang sama. pada surat yang lalu itu, Sang Jibril bahkan mengancam akan membuat Indonesia menderita krisis seperti Amerika, jika tidak mengeluarkan Lia dan Abdurrahman, sang nabi kerajaan eden. ancaman yang sama juga disampaikan oleh Imam Samudera, teroris Bom Bali 2. ia mengancam atas nama Allah, bahwa jika ia, Amrozi, dan terpidanamatiBom bali lainnya, jadi di hukum mati, maka Indonesia akan dibei Azab oleh-Nya. yang lebih lucu, buatku, adalah pernyataan Amrozi yang ingin menikah dua kali lagi,sebelum mati. lucu bukan? para prajurit Tuhan itu ternyata tidak betah dipenjara, mereka juga enggan menemui Tuhannya, sebagai konsekwensi jihad. gilanya lagi, masih ada juga yang berpikir tentang menikah lagi ketika ajal diujung mata.
pagi tadi juga aku diberitahu tentang tingkah Syekh Pujono Cahyo. P, yang dengan banggamengumumkan rencana pernikahannya dengan gadis usia 11, 9, dan 7 tahun. dia mentahbiskan sikapnya pada kisah Nabi Muhammad, yang menikahi Aisyah (liat Video di link ini: http://xmaro.multiply.com/reviews/item/64/APA_PENDAPAT_ANDA). ah, benar-benar gila.

Kamis, 16 Oktober 2008

Dirham & Dinar, mencari celah dalam Krisis Global


Krisis global tengah terjadi, banyak pihak -elit- yang kemudian panik dan berlomba mencari penyelematan asetnya. para pemegang saham, pengelola bursa efek, dan para eksportir serta importir (baca; pengusaha). para pejabat pemerintah juga resah menghadapi hal ini. dan hampir semua melirik Amerika sebagai biang keladi atas krisis ini. U$ Dolar, kini dibenci tapi juga dibutuhkan. ada fenomena menarik yang ditunjukkan para ekonom dunia. mereka yang berbasis sosialis, menuding kapitalisme sebagai sumber krisis, mereka yang fundamentalis, juga sama, bahkan, ekonom syari'ah mengklaim inilah saatnya dinar & dirham kembali berjaya. sebab U$ Dolar -saat ini- dan lembaran kertas berharga lain, yang selama ini menjadi alat tukar, tak sesuai dengan aturan Al-Qur'an?
beberapa hari yang lalu, misalnya, seorang penceramah ekonomi syari'ah, dengan lantang menawarkan Dirham dan dinar sebagai solusi atas krisis global, bahwa mata uang yang berjalan harus terbuat dari emas dan perak, tidak sekedar kertas. agar nilai tukarnya, bertahan, bahkan hingga 1400 tahun sekalipun.
saya tak terlalu mengerti teori ekonomi, tapi pikiran sederhana saya kemudian bertanya, apakah mata uang berlapis emas/perak itu efisien, efekstif dan praktis dalam produksi dan digunakan?
mengapa tidak kembali pada tradisi barter saja sekalian?

Malam Jum'at di Pesantren babakan.

Selepas maghrib, ribuan santri Assalafie babakan Ciwaringin, Cirebon, sibuk dengan alamnya masing-masing. Ada yang termenung, ada yang tepekur dengan tasbih di tangan, ada yang masih sibuk menghafal, ada pula yang hilir mudik ke kantin, masjid besar, maupun ke maqbaroh (komplek pemakaman para kiai), berziarah, sambil cuci-mata. Maklum, malam itu adalah malam istimewa, di mana para santri, baik putra, maupun putri, diliburkan dari kegiatan, sejak ba'da magharib, hingga waktu jamaah isya dimulai. liburan yang singkat, sebenarnya. tapi inilah libur yang ditunggu-tunggu.
Ya, malam Jum'at, bagi para santri adalah malam istimewa. bagi mereka yang taat, inilah malam terbaik untuk berdzikir, dan melakukan ritus-ritus sunnah sebagai ajang mendekatkan diri pada Tuhannya. malam ini juga konon penuh keramat, karenanya, mereka yang gemar dengan kejadugan, malam jum'at menjadi ajang lelakon yang pas. Bagi mereka yang rajin, waktu libur yang sempit pun digunakan untuk menghafal, muthola'ah, dan diskusi (tapi ini jarang terjadi, kecuali jika menjelang ujian, atau setoran hafalan).
Tapi tak semua santri berbuat bajik. adapula yang 'nyantai' (hampir senada dengan malas), sedikit selon, bahkan badung. Bagi mereka yang senang santai, malam ini jadi malam yang indah untuk mencari tempat menyepi, dan tidur sepuasnya, setelah sebelumnya, menitip agar dihadirkan dalam absensi acara marhaba dan khitobah, kepada ketua kamar.
sedang yang selon, memanfaatkannya untuk berjalan-jalan, mencari tempat ngopi, atau jajanan-jajanan yang biasanya dijajakan di area maqbaroh, dan jika 'titip absen marhaba' telah dilakukan, maka jalan-jalan bisa dilanjutkan ke rumah atau kosan kawan yang tinggal di dekat pesantren. kadang juga sekalian pulang ke rumah, dan baru kembali pada Jumat sore.
Dan bagi mereka yang badung, malam jum'at adalah malam yang aman untuk ke bioskop, atau sekedar berkencan di kosan kawan (di lingkungan Pesantren babakan, terdapat kost-kostan dan kontrakan, yang disediakan penduduk lokal, bagi pelajar yang tak betah tinggal di pesantren). ini kisah nyata delapan tahunan lalu, entah saat ini.


Cinta itu..

Di Syawal ini, aku mendapat beragam pelajaran berharga tentang Cinta. Aku kembali menikmati benih-benih cinta yang bersemai di hati. banyak hal yang ingin kuceritakan, sebenarnya. Tapi, ko sulit? yang jelas, mencintai adalah anugerah terindah yang -mungkin- dirasakan oleh setiap insan.

bersambung..

Kamis, 02 Oktober 2008

melawan provokasi dengan Teror?

Mendengar berita bentrok AKKB dan FPi yang kesekian kalinya, berontakku terhadap para tokoh agama,dan pendukungnya yang merasa benar sendiri muncul kembali.
kebenaran subjektif, kadang mematikan rasa kemanusiaan seseorang. ketika rasa kebenaran telah digenggam dalam ego, maka tak ada tempat belas kasih bagi mereka yang bersebrangan. sungguh kenyataan ironis bagi peradaban islam. aku jengah dengan doktrin-doktrin yang ditafsirkan dengan tanpa upaya rasionalisasi dan konstektualisasi, hanya menjadi virus ganas yang menyeramkan, dia menjadi seperti zombie dan drakula yang haus darah, dan bergentayangan mencari mangsa.
Sebuah ajaran sesuci, semulia, dan sekeren apapun akan berubah menjadi bara api yang membakar jiwa penganutnya, untuk bertindak irrasional, jika ditafsirkan dan dipraktikkan dengan egosentris dan mental diri yang picik dan penuh kebencian.
Maka aku setuju jika tulisan Anick HT, berjudul Provokasi berikut ini, perlu direnungkan oleh segenap kaum muslimin di negeri ini.


Provokasi
Oleh Anick HT


Jika provokasi adalah keberanian berkata tidak terhadap kezaliman di depan mata, saya harus menyatakan rasa salut saya kepada para provokator.



Ketika saya melangkahkan kaki saya melewati kerumunan massa FPI menuju kursi saksi persidangan, beberapa orang dalam kerumunan itu berteriak tertahan “majnun, majnun†. Saya meragu. Dalam sekian detik, di kepala saya sudah terumuskan dua jawaban “La ya’rifu majnun illa majnun†, dan “Laisa al-majnun illa biidznillah†. Tapi rumusan itu tak kunjung keluar dari mulut saya.



Jika provokasi adalah menyuarakan yang haq tanpa kekerasan di tengah kesemenaan yang haus darah, sebutlah kami provokator.


Ketika Istiqomah didesak, diusir dari tempat duduknya di ruang pengunjung sidang, ditarik, dihentakkan, lalu dijambak rambutnya oleh sekelompok orang yang merasa benar sendiri dan berkuasa melakukan apa saja. Ketika Nong Darol Mahmada memprotes kepada polisi yang bertugas betapa para tersangka berkeliaran dengan bebasnya di luar ruang sidang, sementara seharusnya mereka ada dalam kawalan petugas. Ketika Guntur berteriak kepada Ketua Majlis Sidang bahwa dia ditendang kakinya dan dipukul oleh
salah seorang tersangka. Ketika Ibu Musdah Mulia tetap duduk tepekur sementara dengan suara membahana kelompok mayoritas di ruang sidang berteriak-teriak “Yang tidak berdiri berarti bukan muslim†. Maka sebutlah mereka provokator.


Jika provokasi adalah menyuarakan aspirasi damai di tengah ancaman tirani intoleran yang tak terkendali, saya bangga menjadi bagian dari provokator itu.



Ketika ribuan warga Ahmadiyah terancam di kampungnya sendiri, ditutup rumah ibadahnya, diberangus haknya beraktivitas, dicerabutpaksa dari keyakinan yang menuntunnya seumur hidupnya. Ketika jutaan kelompok beragama lokal dan minoritas distempel dengan label “sesat†, tak bisa mencantumkan agama yang diyakininya dalam KTP-nya sendiri, bahkan tak diakui perkawinan dan sistem kepercayaannya. Ketika seluruh yang berbeda disebut “kafir†dan “sesat†, dan karena itu statusnya adalah warga kelas dua. Maka saya malu menjadi bagian dari “mayoritas†itu.



Ternyata provokasi hanya milik kami.



Ketika setiap saksi di persidangan diteriaki “kafir†, “sesat†, “bunuh†, “berangus†. Ketika koor “Allahu akbar†dan kegaduhan selalu mewarnai ruang sidang. Ketika seoang warga NU yang lahir besar sebagai santri, bahkan kyai, dibentak “jangan bawa-bawa NU†, “kyai palsu†. Ketika seorang ulama besar yang mantan presiden diteriaki “gila†dan “bodoh†. Ketika jaksa dan polisi bahkan dibentak-bentak ketika melaksanakan tugas negara yang mereka emban. Maka jika itu kasusebut sebagai jihad, keluarkan saya dari barisan jihadmu.


Ternyata provokasi lebih buruk daripada kekerasan.



Ketika karena alasan telah melakukan provokasi orang menjadi sah untuk dipukul. Ketika anggapan sebagai provokator memposisikan seseorang sebagai “layak dihajar†. Ketika darah yang keluar dari seorang provokator adalah sah dan memang sudah seharusnya, di negara hukum ini. Ketika tongkat pemukul dan kelewang menjadi kata jawab dari sebuah syarat bernama provokasi itu. Maka disebut negara apa sesungguhnya Indonesia?



Betapa inginnya saya menjadi provokator. Betapa inginnya saya diberi keberanian oleh Tuhan seru sekalian alam untuk mengatakan sesuatu yang sudah terumuskan di kepala saya. Betapa inginnya saya mendapatkan energi untuk berkata “tidak†di depan tirani. Betapa inginnya saya menunjukkan bahwa kuasa kekerasan harus dilawan agar tak benar-benar melahirkan Hitler-Hitler baru.



Ah, saya terlalu takut dipukul. Terlalu takut disakiti kedirian saya. Saya memang pengecut, pecundang. Saya hanya mampu berterima kasih kepada para provokator itu.

Jumat, 26 September 2008

Kebanaran Subjektif, doktrin picik yang menyeramkan

Kini aku mencoba menulis lagi, setelah dua minggu lebih aku terpuruk dalam sesal yang tidak produktif. setelah mendengar berita bentrok AKKB dan FPi yang kesekian kalinya, berontakku terhadap para tokoh agama,dan pendukungnya yang merasa benar sendiri muncul kembali.
kebenaran subjektif, kadang mematikan rasa kemanusiaan seseorang. ketika rasa kebenaran telah digenggam dalam ego, maka tak ada tempat belas kasih bagi mereka yang bersebrangan. sungguh kenyataan ironis bagi peradaban islam. aku jengah dengan doktrin-doktrin yang ditafsirkan dengan tanpa upaya rasionalisasi dan konstektualisasi, hanya menjadi virus ganas yang menyeramkan, dia menjadi seperti zombie dan drakula yang haus darah, dan bergentayangan mencari mangsa.
Sebuah ajaran sesuci, semulia, dan sekeren apapun akan berubah menjadi bara api yang membakar jiwa penganutnya, untuk bertindak irrasional, jika ditafsirkan dan dipraktikkan dengan egosentris dan mental diri yang picik dan penuh kebencian.
Maka aku setuju jika tulisan Anick HT, berjudul Provokasi berikut ini, perlu direnungkan oleh segenap kaum muslimin di negeri ini.


Provokasi
Oleh Anick HT


Jika provokasi adalah keberanian berkata tidak terhadap kezaliman di depan mata, saya harus menyatakan rasa salut saya kepada para provokator.



Ketika saya melangkahkan kaki saya melewati kerumunan massa FPI menuju kursi saksi persidangan, beberapa orang dalam kerumunan itu berteriak tertahan “majnun, majnun”. Saya meragu. Dalam sekian detik, di kepala saya sudah terumuskan dua jawaban “La ya’rifu majnun illa majnun”, dan “Laisa al-majnun illa biidznillah”. Tapi rumusan itu tak kunjung keluar dari mulut saya.



Jika provokasi adalah menyuarakan yang haq tanpa kekerasan di tengah kesemenaan yang haus darah, sebutlah kami provokator.


Ketika Istiqomah didesak, diusir dari tempat duduknya di ruang pengunjung sidang, ditarik, dihentakkan, lalu dijambak rambutnya oleh sekelompok orang yang merasa benar sendiri dan berkuasa melakukan apa saja. Ketika Nong Darol Mahmada memprotes kepada polisi yang bertugas betapa para tersangka berkeliaran dengan bebasnya di luar ruang sidang, sementara seharusnya mereka ada dalam kawalan petugas. Ketika Guntur berteriak kepada Ketua Majlis Sidang bahwa dia ditendang kakinya dan dipukul oleh
salah seorang tersangka. Ketika Ibu Musdah Mulia tetap duduk tepekur sementara dengan suara membahana kelompok mayoritas di ruang sidang berteriak-teriak “Yang tidak berdiri berarti bukan muslim”. Maka sebutlah mereka provokator.


Jika provokasi adalah menyuarakan aspirasi damai di tengah ancaman tirani intoleran yang tak terkendali, saya bangga menjadi bagian dari provokator itu.



Ketika ribuan warga Ahmadiyah terancam di kampungnya sendiri, ditutup rumah ibadahnya, diberangus haknya beraktivitas, dicerabutpaksa dari keyakinan yang menuntunnya seumur hidupnya. Ketika jutaan kelompok beragama lokal dan minoritas distempel dengan label “sesat”, tak bisa mencantumkan agama yang diyakininya dalam KTP-nya sendiri, bahkan tak diakui perkawinan dan sistem kepercayaannya. Ketika seluruh yang berbeda disebut “kafir” dan “sesat”, dan karena itu statusnya adalah warga kelas dua. Maka saya malu menjadi bagian dari “mayoritas” itu.



Ternyata provokasi hanya milik kami.



Ketika setiap saksi di persidangan diteriaki “kafir”, “sesat”, “bunuh”, “berangus”. Ketika koor “Allahu akbar” dan kegaduhan selalu mewarnai ruang sidang. Ketika seoang warga NU yang lahir besar sebagai santri, bahkan kyai, dibentak “jangan bawa-bawa NU”, “kyai palsu”. Ketika seorang ulama besar yang mantan presiden diteriaki “gila” dan “bodoh”. Ketika jaksa dan polisi bahkan dibentak-bentak ketika melaksanakan tugas negara yang mereka emban. Maka jika itu kasusebut sebagai jihad, keluarkan saya dari barisan jihadmu.


Ternyata provokasi lebih buruk daripada kekerasan.



Ketika karena alasan telah melakukan provokasi orang menjadi sah untuk dipukul. Ketika anggapan sebagai provokator memposisikan seseorang sebagai “layak dihajar”. Ketika darah yang keluar dari seorang provokator adalah sah dan memang sudah seharusnya, di negara hukum ini. Ketika tongkat pemukul dan kelewang menjadi kata jawab dari sebuah syarat bernama provokasi itu. Maka disebut negara apa sesungguhnya Indonesia?



Betapa inginnya saya menjadi provokator. Betapa inginnya saya diberi keberanian oleh Tuhan seru sekalian alam untuk mengatakan sesuatu yang sudah terumuskan di kepala saya. Betapa inginnya saya mendapatkan energi untuk berkata “tidak” di depan tirani. Betapa inginnya saya menunjukkan bahwa kuasa kekerasan harus dilawan agar tak benar-benar melahirkan Hitler-Hitler baru.



Ah, saya terlalu takut dipukul. Terlalu takut disakiti kedirian saya. Saya memang pengecut, pecundang. Saya hanya mampu berterima kasih kepada para provokator itu.

Apa makna Ramadhan bagiku?

Ramadhan tahun ini terasa kering bagiku. berbagai moment tak berhasil kumanfaatkan dengan baik. berawal dari keinginan untuk segera menyelesaikan tanggung jawab di LPM SiGMA, kekalutan terhadap penyelesaian skripsi dan beberapa nilai yang terbengkalai, mimpi untuk segera bekerja sebagai pelaku media profesional (aku membuat puluhan lamaran kerja, dan hanya dua yang kukirim), tekanan untuk mengajukan proposal program Lakpesdam NU Kota Serang, dan ambisi untuk mengikuti Ahmad Wahib Award, minggu pertama ramadhan aku disudutkan dalam ketergesaan dan kelelahan yang sangat.
Nyatanya, tak semua mampu kuraih semudah konsep yang merajang di kepala. aku berhasil melepas tanggung jawab di SiGMA, tapi rangkaian acara Musyawarah Besar yang memang direncanakan 'besar', malah berlangsung dengan amat sederhana, dan di bawah standar prosedur sebuah rangkaian acara 'besar'! skripsi, laporan akhir kuliah kerja nyata, dan upaya penyeleaian nilai, berkahir berantakan. beruntung satu nilai bisa keluar, berkat bijaknya sang Dosen. satu nilai lain masih tertahan. proposal program juga berhasil digarap, dengan konsekwensi yang sangat menyedihkan, aku gagal ikut Ahmad Wahib Award, yang sempat diperpanjang jadwal pengirimannya itu. sebab aku atk bisa membagi waktu, dan aku tak pandai dalam menetapkan prioritas. aku juga ternyata bermasalah dalam hal konsentrasi terhadap fokus yang ditargetkan.

AKu merasa kalah, dan menjadi pecundang!

Minggu ke dua ramadhan, aku terlena dalam kecewa yang mendalam. hari-hariku idhempaskan dalam tidur panjang di siang hari, berinternet ria, dan terbenam dalam Game 'Age Of Empire II' (AOE II) dan 'Red Alert'(RA). Hmm, ada kepuasan tersendiri ketika aku berhasil menytelesaikan level Hard dengan membabat 7 negara musuh dalam 'AOE II' aku juga dibuai penasaran untuk menuntaskan RA. Tarawih dan Tadarrus, menjadi tradisi asing bagiku di Ramadhan kali ini. Shaumkupun rasanya tak berarti, karena dilewati dalam tidur nan pulas. dan di minggu ini, aku tergoda oleh bujukan kawan untuk beriftar sebelum maghrib, hanya karena perjalan dari Pandeglang-Serang. semoga Dia memaklumi kelemahanku ini.

Minggu ke tiga ramadhan, aku jalani dengan sedikiti refresh, Ke Bandung, Cilegon, Tangerang, dan Berakhir di Kampunghalamanku, Karawang. dan aku kalah lagi, ketika harus bergelut menjajakan pakaian dagangan orang tuaku di sebuah toko kecil, di pasar Johar. puluhan gadis cantik berpakaian seksi yang berseliweran di pasar, membuatku kepayang, sebenarnya ini anugerah yang tak merisaukan, dan hal yang normal, bukan? yang membuatku gelisah dan merasa tak normal, adalah ketika kutergoda mengutip uang dagangan yang dipercayakan padaku, untuk membeli sebungkus rokok, sebatang coklat, dan sebotol minuman suplemen. aku menjadi tambah merasa tertekan, ketika beriftar lagi, karena lelah dan panasnya berjum'atan setelah seharian berdagang.
Maafkan aku Tuhan, brlum msmpu tunsiksn amanat dengan tepat. lebaran nanti, sanbil sungkem, aku akan meminta maaf dan keihlasan Ibu dan ayah, atas tindakanku yang tak jujur ini.
Aku malu, tak bisa menghindar dari korupsi. dan aku ragu tentang hikmah Ramadhan bagiku. tapi aku yakin Dia maha pemaaf. semoga IA ampuni dosa-dosaku.

Rabu, 10 September 2008

Tasyakkur apa Takabbur


Tasyakkur, sering dilakukan oleh mereka yg mendapat anugerah, berhasil menang dalam sebuah kompetisi, meraih prestasi atau rezeki lain yang memang diharapkan. menjelang ramadhan, banyak orang menggelar tasyakkuran, dari sekedar kirim sms, hingga menggelar pesta kecil dan mengundang para kerabat dan tetangga.

Hari lahir juga sering menjadi momentum untuk bertasyakkur. dan lihat saja beberapa waktu ke depan, menjelang pemilihan umum, saya yakin akan banyak menggelar pesta dengan dalih tasyakkur. partai-partai dan para kandidat legislatif maupun eksekutifnya akan rajin menunjukkan tasyakuran.

Minggu, 07 September 2008

rindu senja

bertahun ku ditakuti masa
bertahun ku dihantu peristiwa
bertahun ku berjaga
menantimu senja

meski tak cukup bekalku
meski ku belum puas nikmati hari
meski langit biru cerah
aku merindu mu senja

bukan asaku menghilang
tak pula cita kuterbungkam

aku jengah dengan terik surya nan pongah
aku juga takut dengan mendung membumbung

ah..
pokoknya, aku ingin segera bersua dengan mu
senja


Jumat, 05 September 2008

Hedonisme, Kekuasaan dan Senioritas

Diri rapuh, meluluh
Tengok realita mewarna
Hati bergemuruh, misuh
Dijerat fatamorgana
Bersimpuh pada sepuh yang merusuh
Mestikah?

Sepuh, sering jadi tameng bagi mereka yang beranjak tua untuk menginisiasi kaum muda dengan beragam doktrin berbau kepentingan pribadi dan kelompok kekuasaan. Jeremy Bentham, salah seorang filsuf pengusung hedonisme, berasumsi bahwa setiap hukum yang diberlakukan dalam kelompok masyrakat, berjalin-kelindan dengan pemuasan keinginan dan kesenangan yang disepakati—dan atau dipaksakan—para penguasa.

Asumsi Bentham tampaknya telah menyata dalam keseharian elit masyrakat saat ini. Simak saja realita yang banyak terjadi belakangan ini; kapitalisme global, telah lama menggurita dan mengancam kehidupan negara-begara dunia ketiga seolah menjadi hukum tidak tertulis bagi masyarkatdunia. Represifitas pemerintahan Junta Myanmar terhadap para bikhsu dan mahasiswa di Burma mengingatkan kita pada sejarah penjajahan kopeni dan penindasan rezim Soeharto.

Kekerasan atas nama agama, menguapnya tangisan para korban sumur Lapindo hingga kekerasan dalam rumah tangga dan tindakan sadistis para majikan terhadap pembantunya—tidak hanya terjadi di tanah Arab dan Malaysia di Indonesia pun kejamnya perbudakan masih kerap terjadi—serta beragam kisah dramatis lainnya yang ternyata kurang mendapat respons serius dari mayarakat dunia, bisa menjadi membuktikan membudayakan sikap hedonis.

Dalam ranah lokal, semangat primordialisme yang menyubur dengan bumbu formalisasi tradisi agama dan keyakinan tertentu, memperkuat pembuktian asumsi Bentham. Hedonisme telah menjadi rujukan bersama, mengutamakan kepuasan, kesengan, dan kenikmatan sebagai tujuan bersama. Upaya pemuasan ego primordial begitu kentara dalam beragam manuver para elit di tingkat lokal. Maraknya sparatisme, pengagungan berlebih terhadap simbol-simbol keyaikinan lokal—termasuk agama dan adat lokal—mencerminkan kehausan eksisitensi diri dan kelompok.

Eksisitensi kedaerahan yang gencar diusung, sebenarnya dapat dijadikan amunisi dalam persaingan global, upaya meningkatkan citra daerah di mata nasional dan internasional. Tapi globalisasi mensyaratkan tingginya kualitas, yang natinya akan menumbuhkan ‘brand image’ simbol yang diagungkan. Bukan sebaliknya, mengusung simbol, tanpa memperhatikan kualias produk.

Tradisi pengagungan simbol mewajarkan pengabaian terhadap hak-hak masyarkat. Tidak mampu menjalankan good governance dan membentuk masyarakat madani, maka beragam event bertajuk agama pun digelar, dengan segala pengagungan terhadap simbol-simbol keagamaan, seperti menutup luka dengan kain sutra. Agar terlihat bertaqwa, simbol-simbol keagamaan mesti dimegahkan, kesejahteraan masyarakat tidak lagi menjadi tujuan. Meski melarat, masyarakat dapat dipuaskan dengan doktrin keagamaaan dengan pengagungan simbol, meski kualitas pendidikannya payah, asalkan masjidnya megah.

Hal serupa terjadi juga di lingkungan akademis, senioritas begitu kental dan berpengaruh terhadap kebijakan para pemimpin kelompok akademis. Karena terbilang tua, maka segala polahnya yang minus dimaklumi, cacat dan kekurangannya harus ditutup rapat, meski dengan jalan yang kurang elegan, segala cara dihalalkan untuk meningkatkan pamor.
Berbahagialah para sesepuh dan pemimpin masyarakat di daerah kesultanan ini, jawaraisme mengukuhkan, mewajarkan rezim otoritarian dan hedonitas senioriti, karena yang tua tak pernah salah, jikapun salah, pini sepuh dan penguasa selalu—ingin—benar
.

Mencintai Cinta

Cinta, kata yang tak pernah usai dibicarakan banyak orang. Bahkan Tuhan menamakan dirinya sebagai Ar-Rahman, Sang Pengasih, juga Ar-Rahim, Sang Penyayang. Kasih-sayang-Nya itu disandingkan dan dianjurkan untuk selalu diucapkan, ketika seorang yang beriman, memulai sebuah kebaikan. Maka kasih-sayang, dan kebaikan semesetinya mendarah-daging dalam diri setiap mu’min. Inikah cinta? Sebuah kebaikan yang didasarkan pada kasih sayang? Entahlah. Saya tak terlalu yakin dengan itu. Sebab Plato yang jenius pun tak sanggup mendefinisikan cinta.
Tapi, dulu seorang ulama bernama Ibnu Jauzy, mengklasifikasikan cinta dalam empat kategori. Saya sempat membaca klasifikasi cinta ala Ibnu Jauzy itu dalam sebuah buku terjemahan, yang saya sendiri lupa judulnya. Kono, cinta itu ada yang sekedar dating, kemudian pergi, itulah cinta yang hanya menempel di sisi kalbu. Ada pula cinta yang agak sulit dilupakan, itulah cinta pertama. Ia hampiri kalbu yang resah, kemudian menetap lama di sanubari. Tapi cinta pertama masih dapat dilupakan, seiring dinamika kalbu.
Yang ketiga adalah cinta yang menusuk kalbu. Cinta buta yang sulit disirnakan. Ketika dipaksa untuk dicabut, niscaya kalbu itu akan merasakan sakit yang sangat, bisa jadi menimbulkan kematian. Terkahir, -kalau tidak salah- adalah cinta yang menggores kalbu. Inilah tempat pecinta yang tersakiti. Kategorisasi ini belum tentu benar adanya, sebab buku sumbernya pun aku telah lama tak membacanya lagi.
Dulu aku pernah mengalami rasa suka yang rumit. Sophisticated, kata orang filsafat. Mungkin itulah cinta yang pernah kurasakan, begitu kuat menancap di benak. Sulit dilupakan. Dan yang mengherankan, aku suka dan sayang dia dengan tanpa alasan yang logis. Tak ada yang begitu istimewa darinya. Cerdas, tidak seberapa. Sifat dan sikapnya pun bukanlah tipe yang kuidamkan. Cantik? Mungkin iya, bagiku. Tapi bukankah cantik itu relatif? Aku menyayanginya, hanya karena aku merasa berarti dihadapnya.
Gadis lugu yang manja, dan sering menangis di depanku. Aku suka dia, karena dia jadikan aku luapan hatinya. Setiap ada masalah, dia hampir selalu menangis di hadapku. Padahal, aku tak penah memberinya solusi atas masalah yang didapatnya. Aku pun tak pernah mendiskusikan masalahku dengannya. Sebab aku tau, dia takkan mengerti masalah yang kuhadapi.
Bekali kucoba tepiskan keinginan untuk memilikinya, berkali pula aku gagal. Dan, saat itu, aku hanya ingin memiliki, tanpa nilai guna yang kumengerti. Ya, saat itu, aku tak inginkan tubuh seksinya. Aku juga tak perduli wajah cantiknya. Dia tak pernah membantuku selesaikan persoalan, dan tak jarang, justru ia yang membawa persoalannya kepadaku. Artinya, saat itu, dia malah menjadi bebanku. Tapi kenapa aku justru menyukainya? Hingga bertahun lalu aku masih sulit melupakannya. Padahal, kami sudah jarang berkomunikasi, apalagi bertemu muka. Sebab kini kami berjauhan tempat dan hati.
Baru dua tahun lalu aku bertekad melupakannya, sebab ia tak pernah memberi jawaban pasti atas keinginanku untuk meminangnya, nanti. Aku bosan dengan jawabnya yang tak menentu, “mengenai tunangan, bagaimana nanti saja”. Aku merasa sangat bodoh, jika mengingat penantian panjangku terhadapnya. Ya, aku memang tak pernah ungkapkan rasa cinta kepadanya, tapi keinginanku yang serius untuk memilikinya secara sah, melalui pertunangan, dan kemudian menikah. Bukankah itu lebih dari kata cinta? Memang saat itu, kami belum layak menikah, sebab kami masih sama-sama sekolah, tapi merencanakan masa depan, adalah sah, bukan?
Ha.ha, aku jadi malu dengan gaya tulisanku yang terlalu emosional ini. Ya, itu dulu, ketika ku masih mengaggap sakral, kata cinta. Kini, cinta tak lebih dari sebuah transaksi bagiku. Harus ada take and give dan komitmen yang disepakati bersama. Cinta tak lebih dari permainan. Aku akan memberikan kasih-sayangku, secara utuh, ketika ku mendapatkan rasa nyaman, aku akan memebrikan’cinta’ku, jika aku measa puas dengan pelayanan yang didapat. Maaf, bukan pelayanan fisik, seperti seks dan sejenisnya, tapi pelayanan hati, yang kucari. Ketika aku merasa terbantu, maka aku akan membantu. Ketika diberi sebuah kebaikan, kubalas kebaikan itu semaksimal mungkin, semampuku. Tapi ketika merasa sakit, aku akan sulit menghapusnya dari ingatan. Ketika kepercayaanku telah ternodai, maka tak ingin lagi kupercayakan sesuatu, seutuhnya, kepada mereka yang telah berkhianat. Kecuali mereka bertobat, hmm.
Arogan, kah? Tidak, juga, bukankah hidup ini pilihan? Dan aku memilih untuk tidak bertindak jahat kepada siapapun, tapi ketika aku dijahati, maka aku akan bebuat baik sesuka hatiku.
Aku sadar, sikap tersebut kurang bijak, sebenarnya aku ingin meniru kasih-sayang Tuhan, yang tidak pandang bulu, tapi hal yang amat baik itu, belum mampu kulakukan secara tulus. Tapi aku akan berusaha sepenuh hati, untuk bisa mencintai cinta dengan tulus. Menyayangi semua orang, tanpa syarat, bisa kah? Semoga saja.
*(Tulisan ini spontan kutuangkan,
ketika membaca pertanyaan Thoink, tentang cinta.)
.


Selasa, 02 September 2008

Menunggu itu..

menunggu itu jenuh
ketika kita berharap datangnya masa

penantian

menunggu itu lelah
ketika kita tak punya pilihan


menunggu itu menegangkan
kala kita bingung akan sebuah kejutan yang menghadang

menunggu itu asyik
ketika kita tak perduli

menunggu itu anugerah
ketika kita perlu persiapan

menunggu tak sekedar menghitung waktu
menunggu tak cuma melatih sabar
penantian adalah harapan dan realita
yang tersekat -mungkin- hanya sedepa.


.

Rabu, 27 Agustus 2008

Kisruhnya Orientasi Mahasiswa Baru

Beberapa waktu lalu, sempat terjadi perselisihan di internal panitia Orientasi Pengenalan Akademik (OPAK) IAIN Banten. Sebuah aral yang bisa jadi akan memicu sengketa serius antar Organisasi Kemahasiswaan Intra Kampus (OKIK) itu adalah tradisi tender yang lumrah terjadi dalam hajat tahunan pasca penerimaan Mahasiswa baru.

Tender, alokasi dana kegiatan, dan insentif panitia adalah remah-remah kecil yang sering menimbulkan kecemburuan, dan perselisihan, bahkan mewariskan dendam diantara anggota OKIK. Muaranya adalah pemanfaatan dana sisa Orientasi, yang kadang mengabaikan kesejahteraan dan kepuasan peserta Orientasi.

Ironi yang muncul setelah fase kecemburuan dan ketidakpuasan panitia, biasanya adalah dua sikap dekonstruktif. Yakni sikap apatis, baik secara personal maupun kolektif, dan atau tradisi saling hujat yang berujung pada provokasi kepada peserta agar melakukan konfrontasi terhadap panitia inti orientasi. yang tentu keduanya tentu saja merisaukan bagi para panitia inti dan pejabat eksekutif mahasiswa.

Kenyataan inilah yang terjadi dalam setiap pelaksanaan orientasi mahasiswa baru, dari tahun ke tahun. Mengapa ini terjadi? Baiknya kita diskusikan bersama. Dan saya ingin coba membahasnya dari beberapa sudut; historis, psikologi, ideology pasar dan politik yang kesemuanya –mungkin- berandil besar dalam kondisi tersebut.

Pertama, kita melihat pelaksanaan orientasi tahun lalu misalnya, beberapa perwakilan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) dan Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ), secara kolektif, sempat mengundurkan diri dari kepanitiaan Orientasi. Mundur karena melihat ada ketimpangan peran dan kinerja antara panitia dari BEMI dengan panitia dari UKM. Kisuh internal itu diperparah dengan ketidakstabilan emosi seorang panitia bagian Orlap, yang kebetulan aktif di UKM. Kelelahan yang sangat, -menurut, pengakuannya- membuatnya bersikap tidak strategis, dengan membawa benda tajam ke area orientasi. Berbulan kemudian, setelah orientasi usai, panitia inti orientasi didemo mahasiswa baru, yang menuntut laporan pertanggung jawaban panitia, dan pemenuhan fasilitas orientasi, berupa sertifikat. BEMI menjadi bulan-bulanan, lima mahasiswa baru saat itu, membakar ban bekas di depan kantor BEMI, dan ruangan BEMi yang baru dicat, menjadi korban coretan jorok bernada ejekan dari mahasiswa angkatan 2007.

Setahun sebelumnya, kisruh internal juga terjadi. Dipicu oleh pelanggaran terhadap tata tertib orientasi, mengenai keharusan mengenakan celana panjang bagi seluruh peserta. Beberapa peserta perempuan, karena alasan ideologis menentang dan melanggar peraturan tersebut. Sebagain panitia bersikukuh mengnginkan peraturan ditegakkan, dan beberapa panitia lain, dari tataran panitia pengarah, justru melihat sisi lain dari pelanggaran tersebut, yakni sikap kritis peserta dan toleransi serta perlindungan atas keyakinan yang dianut setiap mahasiswa. Kisruh itu berimbas pada keributan kecil antar peserta dengan panitia, dan lagi-lagi berujung pada demonstrasi. Memang tidak ada problem tender dalam kasus ini, karena tender dilakukan terbuka. Tetapi sikap provokatif beberapa panitia terhadap peserta, untuk menentang aturan yang berlaku saat itu, disinyalir menjadi biangnya.

Yang lucu justru terjadi pada tahun 2005, orientasi mahasiswa baru diboikot oleh beberapa kalangan UKM, alasannya sepele, porsi keterwakilan UKM dalam kepanitiaan diperkecil oleh BEMI. Al-hasil, UKM menggelar Orientasi tandingan dengan nama 'Kelakar'. Orientasi resmi yang diadakan BEMI pun menjadi sepi, karena sudah menjadi rahasia umum, bahwa orientasi menjadi meriah ketika semua UKM berkompetisi menampilkan kreasi terbaiknya.

Dan di tahun 2004, kekisruhan juga dilakukan peserta. Arogansi panitia ditambah sedikit bisikan dari beberapa mahasiswa lama, yang tidak terlibat dalam kepanitiaan, rupanya cukup efektif memprovokasi mahasiswa peserta orientasi saat itu. Dan kali itu tak cuma BEMI yang menjadi korban, Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) pun harus rella kantornya diacak-acak oleh sepasukan mahasiswa yang menamakan diri GSM. Saat itu, sempat tersiar kabar, bahwa keterlambatan pembagian sertifikat memang disengaja, untuk menguji daya kritis mahasiswa baru.

Jika demikian, bukan tidak mungkin, tradisi demonstrasi mahasiswa baru terhadap panitia orientasi juga terjadi di tahun-tahun sebelumnya. Sebab –dari sudut psikis- beberapa mahasiswa lama, baik yang terlibat sebagai panitia maupun tidak, cenderung senang membakar emosi mahasiswa baru, dan mahasiswa baru, yang dipenuhi rasa penasaran, tentu juga ingin mencoba asiknya berdemonstrasi.

Apabila dikaitkan dengan ideologi politik, kita dapat meminjam teori sosialisme dalam melihat kasus-kasus yang ada. Bahwa pertentangan kelas dalam prilaku sosial, akan selalu terjadi ketika terjadi ketimpangan relasi dalam sebuah lingkungan sosial. Ya, hampir dalam setiap acara orientasi anggota baru dalam sebuah komunitas, yang cenderung mengedepankan strata dan relasi yang struktualis. Selalu ada sekat antara yang lama dengan yang baru, sekat yang masyhur disebut senioritas!

Relasi senior-junior yang timpang, biasanya memunculkan korban. Dan yang dikorbankan, biasanya sang junior. Maka jangan heran jika dalam sebuah pengkaderan, muncul jargon, bahwa "panitia tidak pernah salah, jikapun salah, panitia selalu benar!" kondisi tersebut seakan dilestarikan. Sehingga dalam beberapa kasus, penerimaan anggota baru, selalu identik dengan perpeloncoan yang dibumbui kekerasan fisik maupun psikis.

Dari segi ekonomi, orientasi pengenalan mahasiswa yang melibatkan ratusan peserta, tentu menjadi daya tarik tersendiri bagi para homo economicus, yang melihat sesama manusia dari kacamata pasar. Ya, orientasi dan event-event lain yang mensyaratkan pesertanya untuk membiayai pelaksanaan acara, memang tak sepi dari 'kepentingan pasar' sang pengelola acara. Banyaknya panitia, sebanding dengan banyaknya pendapatan! Dan pendapatan pengelola, bergantung pada seberapa mampu ia mengolah event. Jika dikaitkan dengan ideologi pasar yang berkembang saat ini, maka ada dua teori yang sedapat mungkin dianut oleh para pelaku ekonomi dunia saat ini. Yakni kapitalisme, dan sosialisme.

Penganut kapitalisme, memandang pasar sebagai media pencari keuntungan belaka. Setiap pribadi dan isntitusi berhak mencari keuntungan sebanyak-banyaknya. Dan kapitalisme, biasanya memandang konsumen (dalam hal ini, peserta) sebagai obyek belaka. Kepuasan konsumen, disesuaikan dengan daya belinya. Dan sang pengelola pasar, dengan segala cara, harus berkeuntungan lebih besar. Seperti, kata Lenin, "Kapitalisme menghasilkan Kolonialisme baru", maka penganut kapitalisme lebih mirip penjajah, yang memandang konsumen dan pesaing pasar sebagai obyek pemerasan.

Sosialisme menawarkan teori lain. Bagi seorang sosialis, pasar ada untuk pemerataan pendapatan. Maka sedapat mungkin kebijakan dibuat untuk kepentingan bersama. Bahwa jaminan sosial yang maksimal, lebih penting dari sekedar mengeruk keuntungan. Dan kadang, sosialisme tidak memberi pilihan yang banyak bagi pelaku pasar. Semua kebijakan dibuat untuk kepentingan Negara (dalam hal ini, keluaga besar mahasiswa). Para pelaku pasar, baik produsen/pengelola, maupun konsumen, kadang dibiarkan merugi.

Lantas bagaimana dengan pelaksanaan Orientasi Pengenalan Akademik (OPAK) tahun ini? Mekanisme apa yang diberlakukan pengelolanya? kondisi psikis mana yang dimiliki para pengelola maupun pesertanya? Relasi sosial apa yang terjadi? Dan prilaku pasar mana yang dipilih?

Perlu analisa dan waktu lebih lanjut mengurai lima pertanyaan singkat itu. Sedikit rumit memang, tapi itu semua akan terjawab seiring waktu pelaksanaan OPAK, hingga LPJ dan pembagian sertifikat nanti. Dan yang lebih menarik adalah sebuah pertanyaan kecil; besarkah manfaat Opak untuk para pesertanya? Sampai-sampai pada saat pendaftaran lalu, ada beberapa calon peserta yang seolah menyesal betul, tidak diperkenankan mengikuti Opak, karena para pengelola menerapkan quota 800 peserta saja. Tidak lebih..

Senin, 25 Agustus 2008

Nusantara Yang Selalu Terjajah (kado untuk Hari Kemerdekaan Ri ke 63)

Konon, jauh sebelum munculnya peradaban Yunani, dunia mengenal sebuah negeri adidaya yang mengutamakan keadilan dan kesejahteraan rakyatnya. Negeri panutan bernama “Atlantis” itu, menurut beberapa ahli sejarah, berada di semenanjung Asia lama, yang kemudian dikenal dengan kawasan Nusantara.

Mitos kejayaan nusantara lama itu, pernah diungkapkan oleh Ketua Mahkamah Konstitusi, Jimly Asshidiqie, dalam peringatan “Hari kebangkitan Nasional” beberapa waktu lalu. Nusantara memang kaya dengan kegenda, yang bercerita tentang majunya peradaban sebuah Negeri yang tersebar di seantero wilayah yang subur dengan ekonomi agrarian, kelautan dan perdagangan. Tarumanagara, Samudera Pasai, Padjajaran, Majapahit, Demak Bintoro, Mataram, Banten, dan Cirebon, adalah sebagian dari ribuan kerajaan yang tercatat dalam tinta emas sejarah, pada rentang waktu sekitar 700-1700 Masehi.

Tiga abad lebih setelahnya, kejayaan negeri yang dikenal gemah-ripah loh jinawi itu kemudian sirna, karena perang saudara dan rakusnya penjajahan. Setelah melepas diri dari penjajahan, dan membentuk Negara Republik, bernama Indonesia, sejak 63 tahun lalu, bangsa ini tak kunjung beranjak dari penrjajah.

Kerdilnya jiwa bangsa ini tercermin dalam pertentangan ideologis yang terjadi di negeri ini, sejak awal kemerdekaan. Dan pertentangan ideologis itu, ternyata tak pernah sepi dari kepentingan pihak asing. Dulu, Soekarno merangkul Komunisme, sebagai strategi pendekatan terhadap Uni Sovyet dan China. Pahlawan Proklamasi itu, kemudian mengusung Nasionalisme,Agama dan Komunis (Nasakom), sebagai ideology cultural. Sebuah Ambivalensi yang berbuah perpecahan bangsa. Soeharto, juga mengadopsi ideologi pembangunan Amerika, dengan wacana Developmentasi yang kemudian kandas sebelum tinggal landas. Kebijakan ekonomi yang diambil Soeharto, tak terhindar pula dari intervensi asing, yang menghasilkan setumpuk hutang kepada IMF dan Bank Dunia.

Kini, setelah hampir sepuluh tahun rezim orde baru terguling, pemerintah Indonesia tak pernah sampai hati menepis intervensi asing. Terlepasnya Timor-Timor, penguasaan blok Cepu, hingga direbutnya Sipadan dan Ligitan oleh negeri jiran, dan pembangunan pangkalan udara Malaysia di wilayah perbatasan yang mestinya dinetralkan, sampai surat dari Senat Amerika terhadap Presiden, yang meminta dilepasnya para sparatis Papua, menjadi bukti betapa lemahnya kita di mata negara-negara lain.

Ironisnya, tak hanya pemerintah yang kini dikuasai Bangsa Asing. Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), organisasi keagmaan, hingga partai politik, juga terjerat untuk memperjuangkan kepentingan pihak asing. Neo Liberalisme, sparatisme serta Terorisme dan Fundamentalisme agama yang semakin marak, konon dibiayai berbagai perusahaan dan organisasi transnasional yang memilih budaya dan ideology sebagai jalur penjajahan untuk kemudian mengeruk keuntungan kelompoknya. Yang lebih mengerikan, cengkerman kapitalisme juga tak mampu ditepis oleh pemerintah, memilih berpihak pada pengusaha, ketimbang kepada rakyat jelata.

Globalisasi, memang sulit dihindari, tetapi seharusnya bangsa ini sadar, bahwa kita memiliki akar kebudayaan dan ideologis serta tradisi ekonomi yang telah merakyat sejak berbad lalu. padahal sesungguhnya, para pendiri republik ini sadar akan hal tersebut, mereka merangkumnya dalam Pancasila. Jika saja Pancasila diterapkan dalam setiap aspek kebijakan pemerintah, maka bangsa ini dapat berkompetisi dengan peradaban dunia lainnya. Ya, globalisasi tak perlu dihindari, kita tinggal menggali kearifan lokal yang terdapat dalam ribuan tradisi dan budya yang terdapat di negeri ini, untuk kemudian dikembangkan sebagai kekayaan pariwisata yang akan menarik minat wisatawan asing. Kekayaan alam yang tersisa juga akan bermanfaat untuk kemakmuran rakyat, jika manajemen ekonomi kerakyatan yang terkonsep dalam koperasi dan prinsip ekonomi pancasila dijalnkan dengan baik. Perpecahan bangsa karena beragam ideology juga tentu akan dihindari dengan falsafah yang sama.

Sayangnya, para pemimpin negeri ini, hanya pandai bicara tentang tingginya nilai-nilai pancasila, tanpa mau mengimplementasikan dalam praktik yang nyata. Jika kedaan ini terus berlangsung, maka sampai kapanpun, bangsa ini selalu terjajah! .

Jumat, 22 Agustus 2008

Marhaban Ya, Ramadhan

Do'a malaikat Jibril menjelang Ramadhan " "Ya Allah tolong abaikan puasa ummat Muhammad, apabila sebelum memasuki bulan Ramadhan dia tidak melakukan hal-hal yang berikut: * Tidak memohon maaf terlebih dahulu kepada kedua orang tuanya (jika masih ada); * Tidak berma'afan terlebih dahulu antara suami isteri; * Tidak bermaafan terlebih dahulu dengan orang-orang sekitarnya. Maka Rasulullah pun mengatakan Amiin sebanyak 3 kali. Dapatkah kita bayangkan, yang berdo'a adalah Malaikat dan yang meng-amiinkan adalah Rasullullah dan para sahabat , dan dilakukan pada hari Jumaat. Oleh itu SAYA TERLEBIH DAHULU MEMOHON MAAF jika saya ada berbuat kesalahan, baik yang tidak di sengaja maupun yang di sengaja , semoga kita dapat menjalani ibadah puasa .. SELAMAT BERPUASA..

Sabtu, 16 Agustus 2008

Nusantara Yang Selalu Terjajah (kado untuk Hari Kemerdekaan Ri ke 63)

Konon, jauh sebelum munculnya peradaban Yunani, dunia mengenal sebuah negeri adidaya yang mengutamakan keadilan dan kesejahteraan rakyatnya. Negeri panutan bernama “Atlantis” itu, menurut beberapa ahli sejarah, berada di semenanjung Asia lama, yang kemudian dikenal dengan kawasan Nusantara.

Mitos kejayaan nusantara lama itu, pernah diungkapkan oleh Ketua Mahkamah Konstitusi, Jimly Asshidiqie, dalam peringatan “Hari kebangkitan Nasional” beberapa waktu lalu. Nusantara memang kaya dengan kegenda, yang bercerita tentang majunya peradaban sebuah Negeri yang tersebar di seantero wilayah yang subur dengan ekonomi agrarian, kelautan dan perdagangan. Tarumanagara, Samudera Pasai, Padjajaran, Majapahit, Demak Bintoro, Mataram, Banten, dan Cirebon, adalah sebagian dari ribuan kerajaan yang tercatat dalam tinta emas sejarah, pada rentang waktu sekitar 700-1700 Masehi.

Tiga abad lebih setelahnya, kejayaan negeri yang dikenal gemah-ripah loh jinawi itu kemudian sirna, karena perang saudara dan rakusnya penjajahan. Setelah melepas diri dari penjajahan, dan membentuk Negara Republik, bernama Indonesia, sejak 63 tahun lalu, bangsa ini tak kunjung beranjak dari penrjajah.

Kerdilnya jiwa bangsa ini tercermin dalam pertentangan ideologis yang terjadi di negeri ini, sejak awal kemerdekaan. Dan pertentangan ideologis itu, ternyata tak pernah sepi dari kepentingan pihak asing. Dulu, Soekarno merangkul Komunisme, sebagai strategi pendekatan terhadap Uni Sovyet dan China. Pahlawan Proklamasi itu, kemudian mengusung Nasionalisme,Agama dan Komunis (Nasakom), sebagai ideology cultural. Sebuah Ambivalensi yang berbuah perpecahan bangsa. Soeharto, juga mengadopsi ideologi pembangunan Amerika, dengan wacana Developmentasi yang kemudian kandas sebelum tinggal landas. Kebijakan ekonomi yang diambil Soeharto, tak terhindar pula dari intervensi asing, yang menghasilkan setumpuk hutang kepada IMF dan Bank Dunia.

Kini, setelah hampir sepuluh tahun rezim orde baru terguling, pemerintah Indonesia tak pernah sampai hati menepis intervensi asing. Terlepasnya Timor-Timor, penguasaan blok Cepu, hingga direbutnya Sipadan dan Ligitan oleh negeri jiran, dan pembangunan pangkalan udara Malaysia di wilayah perbatasan yang mestinya dinetralkan, sampai surat dari Senat Amerika terhadap Presiden, yang meminta dilepasnya para sparatis Papua, menjadi bukti betapa lemahnya kita di mata negara-negara lain.

Ironisnya, tak hanya pemerintah yang kini dikuasai Bangsa Asing. Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), organisasi keagmaan, hingga partai politik, juga terjerat untuk memperjuangkan kepentingan pihak asing. Neo Liberalisme, sparatisme serta Terorisme dan Fundamentalisme agama yang semakin marak, konon dibiayai berbagai perusahaan dan organisasi transnasional yang memilih budaya dan ideology sebagai jalur penjajahan untuk kemudian mengeruk keuntungan kelompoknya. Yang lebih mengerikan, cengkerman kapitalisme juga tak mampu ditepis oleh pemerintah, memilih berpihak pada pengusaha, ketimbang kepada rakyat jelata.

Globalisasi, memang sulit dihindari, tetapi seharusnya bangsa ini sadar, bahwa kita memiliki akar kebudayaan dan ideologis serta tradisi ekonomi yang telah merakyat sejak berbad lalu. padahal sesungguhnya, para pendiri republik ini sadar akan hal tersebut, mereka merangkumnya dalam Pancasila. Jika saja Pancasila diterapkan dalam setiap aspek kebijakan pemerintah, maka bangsa ini dapat berkompetisi dengan peradaban dunia lainnya. Ya, globalisasi tak perlu dihindari, kita tinggal menggali kearifan lokal yang terdapat dalam ribuan tradisi dan budya yang terdapat di negeri ini, untuk kemudian dikembangkan sebagai kekayaan pariwisata yang akan menarik minat wisatawan asing. Kekayaan alam yang tersisa juga akan bermanfaat untuk kemakmuran rakyat, jika manajemen ekonomi kerakyatan yang terkonsep dalam koperasi dan prinsip ekonomi pancasila dijalnkan dengan baik. Perpecahan bangsa karena beragam ideology juga tentu akan dihindari dengan falsafah yang sama.

Sayangnya, para pemimpin negeri ini, hanya pandai bicara tentang tingginya nilai-nilai pancasila, tanpa mau mengimplementasikan dalam praktik yang nyata. Jika kedaan ini terus berlangsung, maka sampai kapanpun, bangsa ini selalu terjajah!

Selasa, 12 Agustus 2008

Narsisme dan Gerakan Mahasiswa Yang Kehilangan Orientasi.

oleh : Abdul Malik


“Sebagai bagian dari strategi aksi, sedikit huru-hara kadang diperbolehkan, demi didengarnya issu yang diusung!”

Begitu kira-kira doktrin yang pernah saya dapatkan dalam materi strategi dan aksi, yang biasa disingkat stratak, di sebuah organisasi kemahasiswaan (ormawa) ekstra kampus. Ketika issu yang diangkat dihiraukan, seolah tak memiliki selling point, maka aksi radikal menjadi solusi praktis yang super instant , sebagai sarana potong kompas, agar issu dilirik dan aksipun terpublikasikan.

Demonstrasi, makar dan pemberontakan terhadap rezim, seakan identik dengan gerakan mahasiswa. Padahal, terlepas dari represifitas aparat, huru-hara dan anarkhisme hampir selalu dianulir dalam setiap agenda rapat tekhnik lapangan (kajian & rapat persiapan demonstrasi). Setiap koordinator lapangan sebuah aksi, pasti mewanti-wanti timnya untuk tidak bertindak anarkhis. Dalam hal ini, setiap aksi mahasiswa, biasanya mengusung moral sebagai basis ideologi gerakan.

Namun sayang, dengan hadirnya berbagai organisasi berlabel kemahasiswaan –baik resmi, maupun taktis,- saat ini, demonstrasi kadang hanya menjadi arena pengukuhan eksistensi ormawa. Lihat saja dalam beragam aksi yang diberitakan, kibaran bendera dan panji-panji keorganisasian seakan berebut mencari tempat, agar disorot kamera. Fenomena tersebut, memunculkan asumsi tentang disorientasi gerakan ormawa saat ini.

Meningkatnya jumlah ormawa di era reformasi, menandakan adanya keragaman ideologi, pola dan orientasi gerakan mahasiswa saat ini. Ditambah lagi dengan kebijakan otonomi daerah, yang menyebabkan semakin terpecahnya fokus kontrol mahasiswa terhadap sebuah rezim pemerintahan. Ini saya buktikan ketika mengikuti sebuah forum yang mempertemukan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) secara nasional. Berkali forum hampir pecah, karena ketidak sepahaman agenda dan issu yang diusung. Hampir semua BEM berkeinginan agar issu di daerahnya diangkat bersama, menjadi issu nasional.

Di level daerah, egosentris masing-masing ormawa juga tak bisa dihindari. Dalam sebuah aksi, kadang ada saja ormawa yang enggan untuk bergabung dengan ormawa lain, meski issu yang diusung seragam, dan obyek yang menjadi target juga sama. Kbesaran bendera dan panji ormawa kadang membuat seorang dan sekelompok aktivis besar kepala, dan mengindahkan peningnya kebersamaan.

Di internal kampus, egosentris ormawa seakan bermuara. Lihat saja dalam setiap perhelatan Pemilu Raya Mahasiswa, sebuah agenda tahunan untuk suksesi kepemimpinan BEM dan setingkatnya, semua ormawa –ekstra maupun intra kampus- berebut tempat di hati mahasiswa, agar dipilih menjadi presiden mahasiswa, senat, maupun anggota Badan Perwakilan Mahasiswa. Lucunya, dalam agenda yang biasanya berlangsug hanya sebulan itu, teman satu kosan bisa menjadi musuh yang paling gila.

Padahal, jika menilik sejarah Pergerakan Nasional, dinamika peolitikan Indonesia tak pernah lepas dari cerita heroik tentang idealisme anak-anak muda yang turun ke jalan sambil membawa panji-panji kebesaran Kampus atau organisasi kemahasiswaan dan kepemudaan. Keragaman itu telah ada sejak lahirnya Boedi Otomo (1902), dan hanya dengan ghirah persatuan serta kesadaran moral untuk melawan segala bentuk penindasan, kesewenangan dan penyimpangan saja, yang mampu menorehkan sejarah, itu pun hanya bisa dilakukan bersama.

secara di tanah pertiwi, hingga bermunculannya tuntutan pengusutan korupsi dan penolakan atas kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM) di berbagai daerah di Nusantara.



Dari politisi genit, hingga oposan yang provokatif,

Oleh : Abdul Malik

Pemilu 2009 mendatang, memang memberi ruang yang cukup luas bagi kaum muda dan mahasiswa. Semangat kaum muda yang menggebu, kini banyak dipertontonkan oleh banyak tokoh, yang tiba-tiba bermunculan di media, dengan jargon yang hampir seragam; “perlunya kaum muda memimpin!”

‘Kegenitan’ berpolitik yang mereka tampilkan dalam iklan yang menghabiskan dana tak sedikit itu, bagi saya, adalah euphoria demokrasi yang terlambat. Seperti telatnya pubertas, yang dialami remaja tua. Semangat yang mereka tunjukkan, tak sejalan dengan sikap masyarakat umum, yang kini terlihat jenuh dengan hingarnya dunia politik (lihat saja besarnya persentase golongan putih, dalam setiap pemilihan kepala daerah).

Munculnya beberapa partai baru yang menargetkan kaum muda sebagai konstituen, juga membuat kelompok intelektual muda –baca: Mahasiswa- tergoda untuk terjun dalam pesta demokrasi, tak cuma sebagai tim sukses, apalagi hanya tim penggembira, kini mahasiswa punya kesempatan menjadi calon legislatif di usia muda.

Seorang teman perempuan saya yang berniat mencalonkan diri sebagai anggota legislatif daerah misalnya, teman sekelas saya itu, kini menjadi pengurus salah satu partai baru, bentukan seorang Jendral. Teman saya yang lain, juga perempuan, kini menjadi fungsionaris sebuah partai yang selalu didera konflik internal, Adik kelas saya ini juga punya niat yang sama, mencalonkan diri sebagai anggota legislatif pada pemilu mendatang. Satu lagi teman saya –satu angkatan- yang hendak maju dalam pemilu mendatang, dia dicalonkan oleh salahsatu partai berbasis organisasi mahasiswa kegamaan.

eberanian tiga teman sekampus saya itu, tentu dialami dan dilakukan oleh sebagian mahasiswa di kampus lain. Salahkah? Tidak juga. Semua berhak dipilih dan berhak memilih. Meski emampuan, kematangan dan komitmen mereka pada masyarakat pemilihnya belum teruji, tapi kesempatan terlibat langsung dalam pemilu legislative, memberi peluang bagi mahasiswa untuk memberikan pencerahan langsung ke tengah masyarakat. Politic education yang efektif, dapat dilakukan sambil mengampanyekan diri.

Dan jika terpilih, kemudian mampu bertahan dan memperjuangkan idealisme kemahasiswaanya, mereka tentu akan eksis sebagai kelompok muda progressif di gedung dewan nanti. Namun jika setelah terpilih, dan -seperti yang biasa terjadi- mereka terjebak dalam system yang korup, kekhawatiran akan hadirnya kaum birokrat muda yang prematur dan karbitan, juga terulangnya tragedi angkatan ‘66’ yang dikenal opportunis, bisa jadi terulang kembali. Mahasiswa yang seharusnya bersikap sebagai agent of control, yang bersikap kritis terhadap sebuah rezim, kini berebut tampil menjadi legislator.

Bagi saya, sikap terbaik bagi mahasiswa saat ini, adalah mengkaji lagi format good government yang tepat bagi bangsa ini. Besaran golput yang tidak sedikit, otonomi daerah, yang menyisakan sengketa dan perebutan wewenang antara pusat dan daerah, bermunculannya sparatisme lokal dan upaya deidiologisasi pancasila, dan membesarnya ketidakpercayaan masyarakat terhadap sistem demokrasi, adalah tugas berat yang mesti dituntaskan, dicarikan solusi, baik dalam tataran wacana, maupun tataran praktis.

Mahasiswa juga dapat memilih untuk menjadi oposan sejati dengan konsisten mengkritik sekaligus menawarkan solusi bagi pemerintah, kemudian konsentrasi dalam memberdayakan masyarakat sekitarnya, melalui berbagai program yang progressif. Dan sesekali, memprovokasi masyarakat untuk bergerak menetang kebijakan yang korup, juga boleh..

Dari politisi genit, hingga oposan yang provokatif,

Oleh : Abdul Malik

Pemilu 2009 mendatang, memang memberi ruang yang cukup luas bagi kaum muda dan mahasiswa. Semangat kaum muda yang menggebu, kini banyak dipertontonkan oleh banyak tokoh, yang tiba-tiba bermunculan di media, dengan jargon yang hampir seragam; “perlunya kaum muda memimpin!”

‘Kegenitan’ berpolitik yang mereka tampilkan dalam iklan yang menghabiskan dana tak sedikit itu, bagi saya, adalah euphoria demokrasi yang terlambat. Seperti telatnya pubertas, yang dialami remaja tua. Semangat yang mereka tunjukkan, tak sejalan dengan sikap masyarakat umum, yang kini terlihat jenuh dengan hingarnya dunia politik (lihat saja besarnya persentase golongan putih, dalam setiap pemilihan kepala daerah).

Munculnya beberapa partai baru yang menargetkan kaum muda sebagai konstituen, juga membuat kelompok intelektual muda –baca: Mahasiswa- tergoda untuk terjun dalam pesta demokrasi, tak cuma sebagai tim sukses, apalagi hanya tim penggembira, kini mahasiswa punya kesempatan menjadi calon legislatif di usia muda.

Seorang teman perempuan saya yang berniat mencalonkan diri sebagai anggota legislatif daerah misalnya, teman sekelas saya itu, kini menjadi pengurus salah satu partai baru, bentukan seorang Jendral. Teman saya yang lain, juga perempuan, kini menjadi fungsionaris sebuah partai yang selalu didera konflik internal, Adik kelas saya ini juga punya niat yang sama, mencalonkan diri sebagai anggota legislatif pada pemilu mendatang. Satu lagi teman saya –satu angkatan- yang hendak maju dalam pemilu mendatang, dia dicalonkan oleh salahsatu partai berbasis organisasi mahasiswa kegamaan.

Keberanian tiga teman sekampus saya itu, tentu dialami dan dilakukan oleh sebagian mahasiswa di kampus lain. Salahkah? Tidak juga. Semua berhak dipilih dan berhak memilih. Meski kemampuan, kematangan dan komitmen mereka pada masyarakat pemilihnya belum teruji, tapi kesempatan terlibat langsung dalam pemilu legislative, memberi peluang bagi mahasiswa untuk memberikan pencerahan langsung ke tengah masyarakat. Politic education yang efektif, dapat dilakukan sambil mengampanyekan diri.

Dan jika terpilih, kemudian mampu bertahan dan memperjuangkan idealisme kemahasiswaanya, mereka tentu akan eksis sebagai kelompok muda progressif di gedung dewan nanti. Namun jika setelah terpilih, dan -seperti yang biasa terjadi- mereka terjebak dalam system yang korup, kekhawatiran akan hadirnya kaum birokrat muda yang prematur dan karbitan, juga terulangnya tragedi angkatan ‘66’ yang dikenal opportunis, bisa jadi terulang kembali. Mahasiswa yang seharusnya bersikap sebagai agent of control, yang bersikap kritis terhadap sebuah rezim, kini berebut tampil menjadi legislator.

Bagi saya, sikap terbaik bagi mahasiswa saat ini, adalah mengkaji lagi format good government yang tepat bagi bangsa ini. Besaran golput yang tidak sedikit, otonomi daerah, yang menyisakan sengketa dan perebutan wewenang antara pusat dan daerah, bermunculannya sparatisme lokal dan upaya deidiologisasi pancasila, dan membesarnya ketidakpercayaan masyarakat terhadap sistem demokrasi, adalah tugas berat yang mesti dituntaskan, dicarikan solusi, baik dalam tataran wacana, maupun tataran praktis.

Mahasiswa juga dapat memilih untuk menjadi oposan sejati dengan konsisten mengkritik sekaligus menawarkan solusi bagi pemerintah, kemudian konsentrasi dalam memberdayakan masyarakat sekitarnya, melalui berbagai program yang progressif. Dan sesekali, memprovokasi masyarakat untuk bergerak menetang kebijakan yang korup, juga boleh..



Narsisme dan Gerakan Mahasiswa Yang Kehilangan Orientasi.

oleh : Abdul Malik


“Sebagai bagian dari strategi aksi, sedikit huru-hara kadang diperbolehkan, demi didengarnya issu yang diusung!”

Begitu kira-kira doktrin yang pernah saya dapatkan dalam materi strategi dan aksi, yang biasa disingkat stratak, di sebuah organisasi kemahasiswaan (ormawa) ekstra kampus. Ketika issu yang diangkat dihiraukan, seolah tak memiliki selling point, maka aksi radikal menjadi solusi praktis yang super instant , sebagai sarana potong kompas, agar issu dilirik dan aksipun terpublikasikan.

Demonstrasi, makar dan pemberontakan terhadap rezim, seakan identik dengan gerakan mahasiswa. Padahal, terlepas dari represifitas aparat, huru-hara dan anarkhisme hampir selalu dianulir dalam setiap agenda rapat tekhnik lapangan (kajian & rapat persiapan demonstrasi). Setiap koordinator lapangan sebuah aksi, pasti mewanti-wanti timnya untuk tidak bertindak anarkhis. Dalam hal ini, setiap aksi mahasiswa, biasanya mengusung moral sebagai basis ideologi gerakan.

Namun sayang, dengan hadirnya berbagai organisasi berlabel kemahasiswaan –baik resmi, maupun taktis,- saat ini, demonstrasi kadang hanya menjadi arena pengukuhan eksistensi ormawa. Lihat saja dalam beragam aksi yang diberitakan, kibaran bendera dan panji-panji keorganisasian seakan berebut mencari tempat, agar disorot kamera. Fenomena tersebut, memunculkan asumsi tentang disorientasi gerakan ormawa saat ini.

Meningkatnya jumlah ormawa di era reformasi, menandakan adanya keragaman ideologi, pola dan orientasi gerakan mahasiswa saat ini. Ditambah lagi dengan kebijakan otonomi daerah, yang menyebabkan semakin terpecahnya fokus kontrol mahasiswa terhadap sebuah rezim pemerintahan. Ini saya buktikan ketika mengikuti sebuah forum yang mempertemukan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) secara nasional. Berkali forum hampir pecah, karena ketidak sepahaman agenda dan issu yang diusung. Hampir semua BEM berkeinginan agar issu di daerahnya diangkat bersama, menjadi issu nasional.

Di level daerah, egosentris masing-masing ormawa juga tak bisa dihindari. Dalam sebuah aksi, kadang ada saja ormawa yang enggan untuk bergabung dengan ormawa lain, meski issu yang diusung seragam, dan obyek yang menjadi target juga sama. Kbesaran bendera dan panji ormawa kadang membuat seorang dan sekelompok aktivis besar kepala, dan mengindahkan peningnya kebersamaan.

Di internal kampus, egosentris ormawa seakan bermuara. Lihat saja dalam setiap perhelatan Pemilu Raya Mahasiswa, sebuah agenda tahunan untuk suksesi kepemimpinan BEM dan setingkatnya, semua ormawa –ekstra maupun intra kampus- berebut tempat di hati mahasiswa, agar dipilih menjadi presiden mahasiswa, senat, maupun anggota Badan Perwakilan Mahasiswa. Lucunya, dalam agenda yang biasanya berlangsug hanya sebulan itu, teman satu kosan bisa menjadi musuh yang paling gila.

Padahal, jika menilik sejarah Pergerakan Nasional, dinamika peolitikan Indonesia tak pernah lepas dari cerita heroik tentang idealisme anak-anak muda yang turun ke jalan sambil membawa panji-panji kebesaran Kampus atau organisasi kemahasiswaan dan kepemudaan. Keragaman itu telah ada sejak lahirnya Boedi Otomo (1902), dan hanya dengan ghirah persatuan serta kesadaran moral untuk melawan segala bentuk penindasan, kesewenangan dan penyimpangan saja, yang mampu menorehkan sejarah, itu pun hanya bisa dilakukan bersama.

secara di tanah pertiwi, hingga bermunculannya tuntutan pengusutan korupsi dan penolakan atas kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM) di berbagai daerah di Nusantara.





luvne.com ayeey.com cicicookies.com mbepp.com kumpulanrumusnya.com.com tipscantiknya.com