Gusdurian

Surat Terbuka Untuk Politisi Banten

Terkhusus untuk para politisi Banten, yang sedang bersiap,menghadapi Pilkada 2017 nanti, sudahi dulu lah debat kusir tentang siapa cal...

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Minggu, 30 Maret 2008

Swinger


Tak ada maksud ku tuk duakan engkau

Ku tak pernah berniat selingkuh

Cinta ini murni

Hanya untuk mu


Tentang godaan itu,

Hanya sebuah godaan !

Yang tak tepat untuk di gugat

Aku hanya menggoda tanpa mencinta


Cinta sejatiku hanya untukmu

Walau banyak kumelirik bidadari

Pandangan pertama bukanlah dosa

Walau kadang mengundang hasrat


Jangan berpaling dari Sang Amor

Kalau kau dambakan abadinya cinta

Jangan turuti hawa cemburu

Hanya karena pandangan keliru


Kemesraan itu hanya sesaat

Sekedar petualangan hasrat

Kalaupun ku tidur dengannya

Tak berarti ku mencintainya


Maka percayalah, cinta kita kan abadi

Karena kemesraan tak selalu bermakna cinta

Kasih kita kan selalu bersanding

Meski tanpa komitmen setia


Kau pun boleh mencoba asal saling suka

Rasakan sensasi yang tak terkira

Jangan ragu tuk tebar birahi

Hanya karena takut berdosa



tag



Meninjau ulang perda syariat Islam


tag

Menjelang idul Adha Desember 2006 lalu Ada sebuah pernyataan menarik dan aneh tertera dalam spanduk yang terpancang di pintu gerbang kampus IAIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, “Selamat Idul Adha & Tahun baru Islam 1428 H”. menarik, karena rentang waktu antara perayaan haji dengan tahun baru Islam, selalu terpaut hampir dua bulan lamanya. Aneh, karena antara hari raya Idul Adha 1427 H dengan tahun baru Islam 1428 H juga terdapat hari libur nasional yang diperingati di seluruh dunia. yakni perayaan Tahun Baru 2007 masehi.

Keanehan tersebut -mungkin- dapat dikaitkan dengan seruan pemberlakuan Syariat Islam di provinsi Banten oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) Banten, pasca semiloka persiapan Kongres Umat Islam Banten (KUIB) yang diadakan pertengahan januari lalu. Kebetulan MUI Banten saat ini diketuai oleh Prof. Wahab Afif, salah seorang guru besar di IAIN “SMH” Banten, dengan empat puluh persen anggotanya adalah dosen di perguruan tinggi Islam tersebut. Tidak heran jika pernyataan selamat di spanduk tersebut diasumsikan bernada tendensius dan menyiratkan arogansi kelompok. Seolah ada upaya menganulir adanya tahun baru masehi di sana.

Tulisan ini tidak bermaksud mempertentangkan esensi tahun baru masehi dengan tahun baru hijriah. Sekedar mengaji fenomena politik dan hukum lokal yang cenderung berhiaskan semangat formalisasi ajaran agama, semacam pemberlakuan syariat islam.

Sebelumnya, kontroversi perda anti maksiat yang diberlakukan oleh Pemda Tangerang, Banten. Perda Tangerang no. 7 dan 8 tahun 2005 tersebut, sempat mencuat di media nasional. Di daerah-daerah lain, seperti Di Garut Jawa Barat juga ada Surat Edaran Bupati Tahun 2000 tentang Jilbabisasi bagi Karyawan Pemda. Di Cianjur Jawa Barat ada Surat Edaran Nomor 025/3643/org tentang Anjuran Pemakaian Seragam Kerja (Muslim/Muslimah) pada Hari-hari Kerja; Surat Edaran Bupati Nomor 551/2717/ASSDA.I/9/2001 tentang Gerakan Aparatur Berakhlakul Karimah dan Masyarakat Marhamah. Di Tasikmalaya Jawa Barat ada Surat Edaran Bupati Nomor 451/SE/04/Sos/2001 tentang Peningkatan Kualitas Keimanan dan Ketakwaan yang Berisi Anjuran untuk Memakai Pakaian Seragam Sesuai dengan Ketentuan yang Menutup Aurat bagi Siswi SD, SLTP, SMU/SMK, Lembaga Pendidikan Kursus, dan Perguruan Tinggi yang Beragama.

Belum lagi di Sumatra Barat, beberapa Peda bernuansa syariat juga muncul antara lain : Perda Provinsi Sumatra Barat no 11/2001 tentang pemberantasan dan pencegahan maksiat; Perda Kabupaten Solok no 6/2002 tentang pakaian muslimah; Perda Kabupaten Padang Pariaman, n. 2/2004 tentang pencegahan, penindakan dan pemberantasan maksiat; Perda Kabupaten Solik tentang kewajiban membaca Al-quran bagi siswa dan pengantin; Perda Kabupaten Padang no. 3/2003 tentang kewajiban baca al-quran, dan beragam peraturan daerah lain yang mengarah pada formalisasi tradisi Islam, bertajuk syariat. di manokwari papua mayoritas umat keristen juga mengusung....


Teori pembentukan hukum menjelaskan bahwa peraturan daerah dibuat untuk mendukung pelaksanaan peraturan-peraturan yang lebih tinggi derajatnya, yakni Peraturan pemerintah, UUD 45 dan Pancasila.

Sebagai bagian dari negara kesatuan republik Indonesia, tentunya Banten harus mengikuti peraturan hukum di Indonesia. Meski sistem otonomi yang dianut dalam Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 adalah otonomi yang luas, tetapi otda juga menyiratkan pentingnya pelaksanaan peraturan yang nyata dan bertanggung jawab. Dalam UU tersebut juga jelas tertera bahwa peraturan bidang politik luar negeri, hankam, peradilan, moneter dan fiskal serta agama adalah kewenangan pemerintah pusat. Pemerintah daerah tidak berhak meregulasi peraturan keagamaan apalagi peraturan sepihak, yang menguntungkan kelompok atau komunitas tertentu.

Dinamika Reaktualisasi hukum islam indonesia

Merujuk pada sejarah, Reaktualisasi hukum Islam di Indonesia, telah terjadi sejak awal kemerdekaaan. Tujuh kata dalam piagam Jakarta, yang kemudian gagal dimasukkan ke dalam Mukaddimah Undang-undang dasar 1945, kenyataan ini dapat dijadikan i’tibar (gambaran) betapa pendahulu kita rela menganulir kepentingan kelompoknya demi sebuah kata ‘nasionalisme’.

Tahun 1984, semangat itu kembali menyala. Tanjung priok menjadi saksi sejarah, betapa pemerintah tidak menginginkan perpecahan bangsa demi kepentingan kelompok yang ingin mengubah dasar negara Pancasila. endingnya, setiap organisasi wajib mencantumkan Pancasila sebagai dasar oragnisasi. pemerintah pusat saat itu menjadi resisten terhadap kelompok-kelompok pengajian dan dakwah serta harokah Islamiyah.

Reaktualisasi hukum Islam, juga berkutat di tataran wacana. Mahsun Fuad dalam bukunya hukum Islam Indonesia (Yogyakarta; LKiS, 2005) menuliskan dinamika pemikiran hukum Islam Indonesia. menurutnya, Hasby Asshidiqy adalah cendekiawan pertama yang mendamaikan hukum Islam (baca Fiqih) dengan kepribadian Bangsa Indonesia yang terangkum dalam Pancasila. Hasbi menawarkan “fiqih Indonesia yng ditetapkan sesuai kepribadian Indonesia, sesuai dengan watak kepribadian dan tabi’at bangsa Indonesia”.

Mahsun juga mengutip pernyataan Hazairin bahwa pertentangan antara sistem hukum adat, hukum positif dan hukum agama tidak perlu lagi, jika kita merujuk pada pasal 29 ayat 1 - pernyataan senada dilontarkan Suparman Usman, pakar hukum di Banten, untuk mendukung pemberlakuan Syarit islam-.

Pasca hasbi dan hazairin, muncul ide munawir Sadzali pada tahun 1970an yang mencoba merekonstruksi humum waris dalam Islam di Indonesia. disusul kemudian dengan tawaran Pribumisasi Islam dari Gusdur –awal tahun 1980 an- yang cenderung mengangkat dan membela lokalitas keagamaan.

Cendekiawan muslim lain yang menawarkan konsep keberislaman yang damai dengan tata hukum di Indonesia adalah Masdar F. Masudi, dengan agama keadilan. M.A. Sahal Mahfudz dan Ali Yafie (keduanya mantan ketua MUI) juga mengupayakan transformasi hukum Islam berkepribadian Indonesia dengan konsep Fiqih sosialnya. Dari sekian konsep yang ditawarkan, para cendekiawan muslim tersebut cenderung menginginkan pola keberislaman ala Indonesia, dengan tanpa meregulasi hukum Islam ke dalam hukum Positif. Karena secara substansial, Syariat Islam telah terangkum dalam UUD 45 dan Pancasila.

Tanpa mengutak-atik tata hukum kenegaraan, mereka berupaya menawarkan solusi terhadap permasalahan sosial masyarakat, tentang zakat dan pajak, sistem keluarga dan kewarisan Islam hingga bunga Bank dan hak-hak reproduksi.


Dalam ranah sosial Banten, Alangkah bijaknya MUI berkonsentrasi mendukung penegakkan hukum tanpa tebang pilih dan peningkatan kesejahteraan masyarakat dengan mengeluarkan fatwa yang peka sosial.

Sedangkan untuk Pemerintah Provinsi, sudah seharusnya mempertimbangkan keberadaan warga banten secara keseluruhan. Masyarakat Baduy di wilayah Pandeglang, komunitas Tionghoa di Tangerang juga beragam komunitas lain yang memiliki kesamaan hak untuk mendapat kesejahteraan dan perlindungan hukum. Ini lebih sesuai undang-undang otonomi daerah tahun 2004, yang dalam pasal 22 menyatakan kewajiban Pemda untuk melindungi masyarakat, menjaga persatuan, kesatuan dan kerukunan nasional, serta keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.


Secara terminologis syariah mempunyai dua makna, makna unum dan khusus. Makna umum syariah dama dengan hukum islam (agama islam) yang mencakup agama dan syari’ah. Sedangkan makna khusus, ialah hukum syara’ tidak mencakup masalah akidah. Hukum syara’ adalah khithab asy-syai’ al-muta’alliqu bi af’al al-‘ibad (firman allah yang berkaitan dengan perbuatan hamba-Nya). Syari’ah menurut Muhammad Husain Abdullah (1995) mempunyai tiga cakupan: pertama, yang mengatur hubungan manusia dengan tuhannya (hukum-hukum ibadat); kedua, yang mengatur hubungan manusia dengan dirinya sendiri, yaitu hukum makan, minum, pakaian, dan akhlaq; ketiga, yang mengatur hubungan manusia dengan manusia lainnya, yaitu muamalat dan ‘uqubat (sanksi-sanksi)

Syariat islam secara harfiyah diartikan hukum islam. Artinya, semua hukum yang berasal dari ijtihad para ulama muslim, yang kemudian dikenal juga dengan fiqih, adalah syariat islam. Dan dari definisi inilah, syariat islam banyak diperdebatkan. Karena hukum fiqih selalu berubah di setiap daerah, menyesuaikan dengan situsi dan kondisi. Sebagai contoh saat Imam Malik, ulama masyhur yang fatwa-fatwanya menjadi panutan di beberapa daerah seperti arab saudi, memberikan fatwa yang berbeda di........dengan fatwa yang dikeluarkan sebelumnya saat masih berada di....... maka pertanyaan yang muncul adalah hukum yang mana yang akan diterapkan di indonesia? Akan berpedoman pada ulama siapa nanti? Ini akan menjadi perdebatan yang panjang bagi kalangan umat islam sndiri karena setiap madzhab memiliki argumentasi masing2 dalam membuat hukum.

fenomena politik lokal yang ingin memakai Islam sebagai kekuasaan. Tak heran, Anda bisa lihat di daerah-daerah lain, seperti Di Garut Jawa Barat ada Surat Edaran Bupati Tahun 2000 tentang Jilbabisasi bagi Karyawan Pemda. Di Cianjur Jawa Barat ada Surat Edaran Nomor 025/3643/org tentang Anjuran Pemakaian Seragam Kerja (Muslim/Muslimah) pada Hari-hari Kerja; Surat Edaran Bupati Nomor 551/2717/ASSDA.I/9/2001 tentang Gerakan Aparatur Berakhlakul Karimah dan Masyarakat Marhamah. Di Tasikmalaya Jawa Barat ada Surat Edaran Bupati Nomor 451/SE/04/Sos/2001 tentang Peningkatan Kualitas Keimanan dan Ketakwaan yang Berisi Anjuran untuk Memakai Pakaian Seragam Sesuai dengan Ketentuan yang Menutup Aurat bagi Siswi SD, SLTP, SMU/SMK, Lembaga Pendidikan Kursus, dan Perguruan Tinggi yang Beragama






Antara Islam Maniak dan Islam Phobia




Polemik tentang pemberlakuan syariat Islam kembali mencuat di negri ini. Secara historis, hal ini telah terjadi berabad-abad lalu. Kisah Wali songo, menyiratkan hal ini. Dalam berbagai babad disebutkan, sempat terjadi pertentangan antara Sunan Kudus, Sunan Giri dan beberapa muridnya dengan Sunan kalijaga, Sunan Gunung jati beserta pendukungnya. Pertentangan dipicu oleh pola penyebaran yang dipraktikkan oleh masing-masing kubu. Kubu sunan kudus berprinsip bahwa islam harus disampaikan sama persis dengan islam yang ada di timur tengah sehingga tradisi pribumi jawa harus di rubah. Kubu Sunan Kalijaga lebih akomodatif terhadap tradisi yang ada, mereka berdakwah lewat seni -diantara warisan sunan kalijaga adalah cerita wayang yang bernuansa islam-.

Pertentangan ini ternyata berlanjut hingga sekarang. jika masa pra kemerdekaan hingga tahun 70-an ada Muhammadiyyah dan NU yang berbeda paham. Kini, muncul berbagai organisasi keislaman yang saling berbeda haluan. Berkaca pada sejarah, wacana pemberlakuan Syariat Islam sempat menimbulkan keresahan di awal kemerdekaan. Hasilnya, tujuh kata dalam ‘Piagam Jakarta’ harus rela terhapus dari dasar negara Indonesia. Era otonomi daerah mebuka peluang bagi sebagian muslim yang rindu kejayaan masa lampau. Di pihak lain, merasa trauma terhadap wacana syariat yang dianggap mengancam keutuhan NKRI.

Dua kubu tersebut memiliki dasar yang sama kuat. Kubu pertama merujuk –secara tekstual- pada ayat hegemoni islam (Ali Imran;19) dan hadist tentang keunggulan generasi Nabi Muhammad beserta para sahabat dibanding generasi selanjutnya. Seolah menolak realitas perlsilangan sosial dan budaya global, sehingga harus menggantinya dengan Islam ‘otentik’ -Kaffah?- Kubu ini memungut doktrin,keyakinan dan sikap serta praktik masa lalu yang ‘suci’. Puritanisme menjadi konsekuensi dalam mempertahankan identitas agama dan tatanan sosial yang terancam arus globalisasi.

Kubu kedua lebih luwes terhadap pertukaran budaya selama tak mengikis islam secara substansial. Berpegang pada prinsip kebhinekaan yang diakui dalam Al-Quran (Al-Maidah; 48 dan Al-Haj; 67). Muhammad Abduh dan Jamluddin Al-Afghani bahkan berani berpendapat bahwa mengikuti perintah al-Quran tidak akan mengubah suatu kaum sampai mereka mengubahnya sendiri (13;11), umat Islam memerlukan orientasi normativ baru. Dengan jalan ijtihad tentunya.

Arkoun sejarawan al-jazair, justru mengkritik para pemikir islam kontemporer yang berusaha mensubordinasi akal pada keimanan, dan menggunakanya sebagai alat klarifikasi, konfirmasi dan administrasi keyakinan. Arkoun juga menggugat barat yang telah menggunakan superioritasnya untuk mengkerdilkan umat islam. Sekularisme, rasionalisme dan universalisme yang mengukuhkan sperioritas akal. Ia juga risau terhadap sebagian muslim yang, mengklaim adanya perbedaan antara muslim ‘sejati’ dengan islam ‘gadungan’, islam yang ‘benar’ dan kaffah dengan islam yang ‘sesat’ dan salah.


Mahdiisme dan sikap apatis masyarakat


Selain dua kubu tersebut, terdapat kubu lain yang merupakan sintesa dari keduanya, Mahdiisme, dan apatisme terhadap agama. Mahdiisme berawal dari kerinduan yang sama terhadap kejayaan lampau. Keyakinan akan hadirnya seorang pemimpin yang akan membawa kejayaan baru. Dalam islam, pemimpin tersebut dijanjikan bernama Muhammad Al-Mahdi. Keyakinan ini merujuk pada hadist bahwa diakhir jaman akan muncul pemimpin baru yang akan mengikis ketidak adilan di muka bumi, setelah kemunculan Dajjal. Sedang sikap apatis dari sebagian muslim, lebih diakibatkan oleh pengaruh tantangan globalisasi yang mengeliminir peran agama dalam kehidupan duniawi.

Realitas tersebut memaksa umat islam untuk bergelut mencari solusi. Perebutan wilayah doktrinisasi melalui kendaraan politik kembali terulang. Hasilnya adalah polemik tentang pemberlakuan syariat di tingkat Perda. Ketidakberdayaan sistem yang dijalankan pemerintah, memperkuat wacana ini. Secara psikologis, Ketertinggalan di bidang ekonomi, sosial dan politik menjadi alasan tersendiri untuk berlari kepada Tuhan. Sayangnya, syariat Islam yang diperdakan masih berkutat pada masalah kesusilaan tanpa melihat akar permasalahan tersebut dari sisi sosiologis dan buadaya yang ada di tengha masyarakat. Pemahaman tentang syariat Islam pun masih berkisar pada teori sanksi hukum bagi pelaku maksiat. Bahkan bentuk negara dan perangkatnya pun harus senada dengan istilah dalam Al-Quran (berbentuk khilafah, atau imamah). Syari’at Islam, seolah satu makna dengan Arabisasi.

Padahal, syariat islam dapat diberlakukan dalam bentuk peraturan ala Indonesia. Tanpa harus berkiblat pada negara-negara Timur tengah. Karena pada kenyataanya, Arab Saudi terkenal dengan otoritarianisme monarkinya, Iran terjebak dalam kepentingan satu kelompok muslim saja. Begitupun Irak yang harus hancur karena perang saudara.

Dan secara substansial, syariat islam telah berlaku di Indonesia sejak awal kemerdekaan, adanya sila Ketuhanan yang Maha Esa, UU perkawinan, UU KDRT, UU Perlindungan anak dan UU anti korupsi secara substansial selaras dengan syari’at Islam.

Mengenai teori kepemimpinan Islam, Khilafah, Imamah dan sejenisnya, secara essensial telah terbentuk dalam system politik di Indonesia. Presiden adalah khalifah, peran Wazir telah dipegang oleh menteri, Amirul Jihad adalah tentara, dan 17 kewenangan lainnya yang terdapat dalam sistim khilafah (versi Al-Mawardi dalam Al-ahkam assulthaniyyah), telah terrealisir meski dalam bentuk negara republik.

Lantas mengapa syari’at dianggap menimbulkan polemik?

Dalam tingkatan wacana, polemik yang ada berimbas pada pencerdasan masyarakat. Tapi ketika polemik tersebut beralih pada orientasi politik dan kekuasaan, maka pertarungan yang terjadi tak hanya perang ideology dan pemikiran, tapi akan mengimbas pada pertentangan horizontal secara fisik. Tindakan anarkisme oleh segelintir umat atas nama islam tak dapat dibiarkan berlanjut.

Seharusnya, masing-masing kubu berupaya mengarahkan masyarakat pada peraduan wacana dulu, tanpa sikap doktriner yang menafikan kubu lain. Islam sebagai ideology yang diyakini kebenarannya oleh setiap muslim aalah niscaya. Tapi sikap berislam terbenar, tak ada yang dapat mebuktikannya. Nabi Muhammad sendiri telah meramalkan tentang perbedaan antara ummat islam. Perbedaan ini akan menjadi rahmat manakala masing-masing kubu legowo bahwa ada kebenaran lain disamping kebenaran subjektif yang diyakininya. Karena kebenaran sesungguhnya adalah milik Allah.


Obsesi dan pandangan*


Saya kini mampu menembus ruang di luar diri, menatap waktu yang mengalir tanpa henti, perempuan tanpa busana, lelaki bertopi buaya, mobil berlumur darah, hilir mudik mengacak benak.

Semenit lalu, saya melihat tas gendong penuh peluh, dijinjing penjaja koran berwajah cahaya, Mungkin keningnya penuh susuk, batin saya menelisik, “tidak, ia pelaku wudu yang konsisten, setiap lima kali sehari ia membasuh mukanya, ditambah pembersih muka, mungkin” saya mencoba rasional dan religius.

Di depan sana, seorang perempuan setengah telanjang tengah berdiri, kini ia terlihat tanpa busana, ah, apa gerangan yang merusak pandangan ini, semua perempuan tiba-tiba terlihat telanjang!

Andai parmenides masih ada, mungkin ia akan menertawakan rivalnya, heraclius, yang begitu percaya pada pandangan mata. Betapa tidak? Saat ini banyak pandangan yang tertipu, bahkan sekelas ketua Dewan Perwakilan Rakyat, Pentolan Pers nasional, hingga pakar hukum pun, terlena oleh kepingan koin yang dipandang berharga.

Jika para tokoh nasional mudah tertipu pandangan, apakah rasionalitas bangsa ini kemudian diragukan? Mungkin benar apa yang dikatakan Permadi, S.H, saat berbincang tentang Indonesia, bangsa Klenik? Di sebuah stasiun televisi swasta nasional, bahwa kita sebagai bangsa Indonesia sudah harus kembali ke tradisi klenik, karena ternyata, para presiden Indonesia sejak awal merdeka hingga kini, masih percaya terhadap pandangan mistik.

Naif memang, jika kita mengingkari pandangan ketimuran yang mendasari tradisi bangsa ini, lebih naif lagi kalau kita menentang globalisasi dengan menolak segala yang berbau barat.

Padahal, kalau mau dipertanyakan, sebenarnya paradoksial barat dan timur, berawal dari pandangan siapa ? kaum fundamentalis muslim, yang leterlek dalam menafsirkan kitab suci, akan dengan mudah menjawab pertanyaan tersebut, barat dan timur telah ditetapkan oleh Tuhan! Masyriq wal Maghrib, kata al-Qur’an, tapi apakah pandangan kita tentang posisi timur dan barat sudah benar sekali ?

Tulisan ini tidak bermaksud menggugat persepsi indra, karena sebagai manusia, kita berhak mengambil manfaat dari keberadaan diri dan alam, sebagai wujud syukur -bagi yang percaya akan anugerah sang pencipta-, juga sebagai bukti eksistensi diri –bagi yang keukeuh dengan kemandirian alam-.

Sayangnya, pandangan yang membumbung kadang dianggap mengganggu stabilitas, karena norma yang berlaku, memang sering memaksa penganutnya untuk membatasi pandangan. Simak saja penuturan sejarah tentang para tokoh yang terasing atau diasingkan, karena pandanganyamelampaui yang lain.


Padahal, Tuhan telah menganugrahkan mata untuk menatap indahnya dunia, Tuhan juga telah memilih mata hati sebagai cermin pembenar.

Masalahnya, kadang sekelompok orang begitu percaya dengan kebenaran pandanganya, yang sering diklaim mewakili pandangan Tuhan.


*ulisan ini pernah dimuat di bulletin fresh!!



Aku harus mencari

mencari dan

mencari

Hingga lelah

Meski tak tahu

ku mencari

apa yang harus dicari


Aku tertekan ragu

Menikmati ragu

Menangisi ragu


Aku harus percaya sesuatu

Percaya seseorang

Meski sulit..


Aku mencoba mengerti

Mencari pengertian


Tapi sering ku paksakan


Harus dimengerti

Sok pengertian

Mencari perhatian


topeng batu

melekat erat

sampai sulit kupastikan

manakah wajah nurani



topeng –topeng bergentayang

menadah darah

menjilat ulat

tengadah pongah

bersilat pantat





Aku harus mencari

mencari dan

mencari

Hingga lelah

Meski tak tahu

ku mencari

apa yang harus dicari


Aku tertekan ragu

Menikmati ragu

Menangisi ragu


Aku harus percaya sesuatu

Percaya seseorang

Meski sulit..


Aku mencoba mengerti

Mencari pengertian


Tapi sering ku paksakan


Harus dimengerti

Sok pengertian

Mencari perhatian


topeng batu

melekat erat

sampai sulit kupastikan

manakah wajah nurani



topeng –topeng bergentayang

menadah darah

menjilat ulat

tengadah pongah

bersilat pantat





Ahh..












T uhan, berkali ku menyebutmu

Berkali ku berpaling

Di ramai canda

Aku sepi

Di bising suasana

Aku

Sendiri


Merana




Sabtu, 29 Maret 2008

sutra di kampung penuh luka



Hampir empat tahun aku tinggal di daerah yang penuh warna, dengan masyarakatnya yang penuh kebanggaan atas leluhur dan martabat daerahnya. Dengan kultur yang agak keras, fanatis, primordialis dan menghargai keagungan individu. Kalau anda berkunjung ke sini, akan mudah menemukan seorang yang selalu berkata dalam persfektif aku, keluargaku, dan masyarakatku.
Untuk menjadi selebritis lokal di daerah ini, cukup bermodalkan keberanian menujukkan realitas masyarakat dalam subjektifitas objektif. Ribed?
Tidak juga, anda cukup mengoarkan asumsi-asumsi pribadi atas realitas objektif di daerah tersbut. Apa pasal?
Bersikap realistis di daerah ini bak menjadi pangeran di belantara. Untuk hidup di sini, anda tak perlu repot. Dekati penguasa, atau mereka yang punya uang, lantas jilatlah ia dari pantat hingga ujung kaki. Menjilat pantat adalah bentuk kesantunan di sini. Jangan banyak berkomentar tentang borok yang biasanya diderita para pembesar dan petinggi negeri ini. Sebab bau amis dari tubuh mereka sudah tak asing bagi sesama mereka. ”sebusuk apapun luka yang kau lihat, hiraukanlah, jangan kau berniat untuk mengobatinya!”
”menutup borok adalah etika tertinggi di kampung ni!” begitu biasanya para tetua memperingatkan mereka yang terperangah atau termualkan oleh bau amis yang ada.
Untuk membayar bau amis yang kau hirup, mereka kadang memberi lintingan tembakau atau sebutir permen loli.
”Jangan kau tolak peberian ini meski murah, setidaknya dapat mengobati mualmu”
aku pernah ditawari, beruntung aku membawa rokok di ransel, karena konon, menurut kawan-kawan yang pernah menyicip tembakau lintingan mereka, ”sekali hisap saja berkunanglah mata mu!” sedangkan lintingan tembakau itu tak cepat habis dalam sepuluh hisapan, maka dapat dibayangkan kau tak hanya akan berkunang-kunang kawan. kau akan berkunang berkunang dan berkunang sebanyak sepuluh kali.
Permen lolinya pun punya aroma yang khas, dengan menghisapnya, kau akan ketagihan untuk menjulurkan lidah, menjilati bibir tebalmu sendiri. Hei... jangan salah kawan, permen loli ini konon berefek pada penebalan bibir, tak percaya?> kau pandanglah bibir penduduk sini, sebagian tebal sebagian lainnya menghitam dengan gigi kekuningan, tentu akibat tembakau yang membuat berkunang itu.
para tetua, pembesar dan petinggi kampung ini berkantor di sebuah tenda besar berwarna jingga, dengan sekat lembaran-lembaran kain berbau amis diantara masing-masing ruangnya. Aku pernah bertanya mengapa sekat ruangan kantor ini berbau amis, tapi lagi-lagi juluran lidah dan pelototan mata yang kudapat, seorang kawan yang tak tega melihat ketakutanku berkata, ”pssst... jangan hiraukan bau amis yang ada!”
”tapi ini mengganggu, kawan” bantahku, setengah berbisik.
” kain-kain ini telah berjasa menutupi luka para tetua!”
”so’?!” tanyaku menggantung, betapa bingung aku! Mereka menyebut borok yang membusuk sebagai luka kecil yang perlu ditutupi?
”ya kain-kain itu bekas pembalut luka para pembesar kampung, artistik kan? ” tanya kawanku,
Seriuskah atau bercanda kau?” aku belum terlalu percaya padanya.
”aku serius, kami adalah masyarakat yang menghargai sejarah!”
Aku terhenyak. Penat dan mual melebur dalam senyum kecutku. Ya, getir,ketakutan, rasa jijik dan kelucuan membaur dalam benak.
**
Terik surya memperpengap suasana dalam tenda yang ”artistik” ini. Kali ini kata artistik itu bukan sebuah eupimisme belaka. Dari luar, tenda ini memang betul-betul artistik. Dengan warna jingga berhiaskan totolan merah, sebagian menyerupai batik, sebagian lain mirip kaligrafi, di bagian dalam, totolan merah itu bercorak abstrak..
Aku dipertemukan dengan tetua kampung, ”Kau yang berdagang sutra di tetajug1 kemarin?”
” yupz, father!” jawabku penuh percaya diri, aku tahu sutra yang kubawa banyak diminati kaum muda di kampung ini, bukan tak mungkin pak tua ini juga tertarik.
” kau tahu,, kampung ini bukanlah menara gading?!” tanyanya seperti berseru, dengan pelototan khas gaya kampung ini.
” panggil dia bebaya!” bisik kawanku ditengahi cubitan halus.
”maaf bebaya, bukankah kain sutra layak dipakai, saya hanya menawarkan”
” Di kampung lain mungkin iya tapi kampung ini terbiasa dengan kesederhanaan, dan lagi kita dikelilingi kaum kumuh, kau lihat banyak pemulung di sekitar kampung?”
Aku ingin melanjutkan peerdebatan, tapi bau amis dari mulutnya membuatku menyingkir dengan nyinyir.
”baik, bebaya akan kusimpan kain sutra untuk sendiri saja”
” ya dan jangan kau kenakan, sutra itu haram untuk para lelaki!”
Ku lilirik lipatan sarungnya, cerah dan tampak halus.
Tetua itu bergegas meninggalkanku, sibuk benar ruapanya ia.
Sepeninggalnya, anyir tak menghilang dari hidungku, menahan mual, ku ludahi lantai bekasnya berdiri, ada ceceran darah di sana.
Keluar dari tenda termegah di kampung itu, ku temui pimpinan pemuda kampung.
Kanoman, demikian nama jabatan pemipin kaum muda di sana.
Ia tidak bersarung, tapi celananya menggantung di atas mata kaki.
Aku di bawa ke tenda berukuran sedang, putih kainnya seakan berpadu dengan warna kuning kecoklatan yang membias. ”warna putih tenda itu hampir pudar oleh nikotin dan tetesan permen loli yang mencair karna panas, kau lihatlah di bawah tikar, dibalik kain dan di belakang tenda ini!” temanku kembali menerangkan.
Aku terdiam belum menvgerti. Sampai saat sang kanoman mempersilakanku memasuki tenda, kulihat lelinting tembakau dan puluhan loli di bawah tikar, ”silakan dicicipi!” sang kanoman sodorkan loli dan lintingan tembakau yang diambilnya dari dinding tenda bagian dalam. Ya tenda kain ini ternyata menyimpan loli dan tembakau!. ”tuan muda, kami senang dengan kehadiranmu, tetapi kelancanganmu menjual sutra, membuat sebagian kami muak”, sang kanoman membuka forum tanpa basa-basi.
Aku terhenyak mendengar sapaan tak ramah darinya. ”apa salah nanda, ketika ingin turut meringankan beban sesama di kampung ini? Bukankah sutra dapat mengobati luka, atau setidaknya menutupi bau menyengat dari tubuh penuh borok itu?” paparku menunduk lesu.
” ah.. tau apa kau tuan muda?” uajr sang kanoman. ” kampung lami harum mewangi! Usah kau lihat borok yang ada, tapi lihat betapa indah kami menikmatinya. lebih baik, kau nikmati cerutu ini tuk hilangkan rasa mual yang mungkin kau rasa”. Teriaknya sambil sodorkan sebatang cerutu berisi tembakau khas kampung jingga.
Ternyata, kampung ini memilih racun sebagai obat, kalian mual menghirup bau luka, tapi enggan mengakui borok yang ada.. malang nian saudaraku!

Literasi Banten saat ini


Membaca dan menulis (literasi) merupakan cerminan tingginya peradaban. Doktrin keagamaan dengan kitab sucinya, juga menekankan pentingnya tradisi literasi. Bahkan dalam Islam, tugas awal yang diemban Nabi Muhammad adalah perintah untuk membaca. Hal ini diperkuat dengan tradisi penulisan Al-Qur’an dan berbagai perangkat pendukungnya, seperti; hadist, tafsir, fiqh, tauhid dan tasawwuf juga diwariskan dengan jjalan literasi.
Literasi pulalah yang mengantarkan Banten sebagai salah satu pusat peradaban di Nusantara. Keberadaan Syekh Nawawi Al-Bantani yang dikenal produktif dalam menulis telah berjasa memperkuat icon Banten sebagai daerah yang berbasis budaya akademis. Tak heran jika seorang Syekh yusuf Al-Makassari berkenan singgah dan turut serta membangun peradaban Banten pada era Sultan Ageng Tirtayasa. Dalam catatan sejarah, masyarakat Banten telah mengenal beragam bentuk aksara pada kurun waktu 1500 -1800 Masehi. Dari berbagai naskah dan prasasti yang berasal dari kurun waktu yang sama, dapatlah diketahui masyarakat Banten telah menggunakan jenis huruf latin, Jawa dan Pegon, jenis huruf Arab yang disesuaikan dengan budaya jawa dan melayu, (Nina.H. Lubis, 2003; 122).
Sayangnya, keruntuhan Kasultanan Banten seakan turut mengendapkan nama Banten sebagai pusat peradaban, dan kemudian Banten lebih dikenal dengan ‘tradisi jawara’ ketimbang budaya akademis yang dibangun melalui tradisi menulis. Berbalik hampir seratus delapan puluh derajat dari tradisi leluhurnya, masyarakat terpelajar Banten saat ini, tidak sedikit yang masih gagap dalam menulis. Hal ini terbukti dengan selalu sepinya event lomba karya tulis yang diadakan beberapa pihak, juga minimnya wacana tertulis yang ditelurkan para pelajar dan mahasiswa Banten. Padahal sejatinya, teori tekhnis penulisan telah diajarkan sejak di sekolah dasar, lantas mengapa pelajar dan mahasiswa belum banyak yang mampu menelurkan wacananya dalam sebuah karya tulis?
Dua tahun lalu, tradisi literasi juga sempat ramai dibicarakan lagi di media, seiring dengan berjalannya program “Banten Membaca” yang dicanangkan oleh Pemerintah Daerah Banten. Program positif tersebut ditargetkan selesai tahun 2007 lalu. Jika Banten Membaca telah dianggap mencapai target di tahun lalu, bukankah tahun ini sudah saatnya Banten meningkat dalam tahap memasyarakatkan Budaya Menulis?
dewasa ini para penulis lokal berhasil menggambarkan realitas lokal secara jujur, Moammar Emka, Andrea Hirata, dan mungkin akan banyak lagi para penulis yang berteriak tentang multikulturalisme dari sudut lokal. mampukah masyarakat Banten menerima tantangan ini ini? semoga saja!



"Rindu Rasul", membuatku merindu


Kemarin aku membaca salah satu bukunya Kang Jalal, berjudul 'Rindu rasul'. isinya sungguh mengahrukan dan Luarr Biasa..
meski banyak muatan ideologi Syi'i didalamnya, tapi tak urung aku turut terhanyut untuk kembali mengagumi dan beranjak mencintai Sang Nabi, sungguh aku sampai menangis membacanya. betapa seorang Jalaluddin Rahmat yang -dari tulisan dan beberapa cerita tentang ceramahnya- dulu begitu gigih berjuang menolak tahayyul Bid'ah dan Churofat (TBC), kini malah berbalik 'membelanya'. aku teringat pamanku yang telah wafat, beliau juga seorang aktifiz pemud amuhammadiyah dan ikut tarekat, aku sempat bingung menyaksikan ini. tapi ternyata tak lama setelah bertarekat beliau meninggal.
dan buku kang jalal ini nestinya dibaca oleh mereka yang 'pandai' dan terlalu berani menganggap pihak lain sesat..
andai aku tiggal di Bandung, ingin ku berguru pada kang Jalal, sayang aku hanya sempat bertemu beliau ketika berceramah di kampusku..
semoga beliau dipanjangkan usia dan aku sempat berguru kepadanya, kemudian, aku dapat mengikuti produktivitasya dalam menulis.. amin



Ragam pola Islam Indonesia

Islam, bagi banyak orang Indonesia bukanlah hal yang asing di telinga. Meski lahir di tanah Arab (abad ke -6 sampai 7 lalu), Islam Indonesia memiliki identitas tersendiri. Bahkan, dalam berbagai catatan riset dan sejarah, islam yang baru dating di Nusantara1 pad abad ke -14, populasi Ummat Islam Indonesia mencapai mayoritas tunggal. Lantas apakah identitas ‘khas’ Islam Indonesia?


Dahlia Mogahed, periset dari Gallup, menilai Islam Indonesia adalah islam percontohan bagi kaum muslim di seluruh Dunia. Kemajemukan yang bertahan diwariskan berabad-abad di Nusantara, berhasil dipertahankan dan tidak punah, meski Islam menjadi single majority di Nusantara. Budaya toleransi terhadap kemajmeukan, demokrasi yang terbangun dengan baik (2007 lalu, Presiden SBY meraih penghargaan khusus dari PBB atas keberhasilan demokratisasi di Indonesia), dan akulturasi budaya yang terbangun di Nusantara, adalah bukti ramahnya Islam Indonesia. Inilah identitas yang membanggakan dari Islam Nusantara.


Sayang, kebanggaan itu sempat tercoreng dengan kampanye terorisme yang didengungkan Amerika dan Negara-negara Eropa, berhasil menurunkan derajat Indonesia di mata Dunia. Tapi, benarkah krisis yang terjadi merupakan skenario global, apakah terorisme di Indonesia bagian dari agenda global untuk menghancurkan karakter Indonesia?


Perlu pembahasan yang luas menjawab beragam pertanyaan tersebut. Dan akan muncul lebih banyak lagi pertanyaan ketika membahas Islam Indonesia. Baiknya, kita runut persoalan ini dari segi bahasa dan kontekstual.

  1. Apakah Islam itu?

Konon, Islam berasal dari kata sallama-yusallimu tasliman yang bermakna perahu keselamatan, adapula yang berpendapat Islam berasal dari kata aslama yang bermakna ketundukan, pakar lain berpendapat, Islam bermakna tangga, dan bergam pendapat lain tentang Islam dari segi bahasa, lantas pendapat mana yang benar?

Ya! Keragaman pendapat itu ternyata telah ada sejak munculnya kata Islam. Belum lagi, jika kita membahas elemen lain dalam Islam; Tauhid, Tafsir, Fiqh; ubudiyyah, muammalah, jinayah, siyasah, dan lainya. Jika membahas lebih jauh, ternyata Al-Quran yang diagungkan pun penuh kontroversi didalamnya, realitas semacam ini kemudian memunculkan pertanyaan baru, apakah Islam merupakan kebenaran yang Mutlak? Saya pikir, tidak!


  1. Indonesia dan percaturan politik global

Indonesia sejak masa perjuangan kemerdekaan, tidak pernah sepi dari perang kepentingan antar sesama yang ditunggangi korporasi negara-negara asing. Jika menleaah sejarah, pertarungan politik global telah menelikung para pemimpin nusantara sejak abad 17 an (jika menghitung lamanya penjajahan Inggris, Poortugis, Belanda & Jepang).


Bahkan –bisa jadi sejak abad ke 14- jika masuknya Islam dan Nasrani dapat dikategorikan sebagai bagian dari agenda Asing dalam menguasai kerjaan-kerajaan di Nusantara. Merujuk pada analisa Tan Malaka, kehadiran agama-agama asing (Islam & Nasrani juga Budha) dianggap sebagai bagian dari kepentingan asing dalam meraup hasil bumi di Nusantara. Asumsi ini didasarkan pada sejarah pembentukan kerajaan-kerajaan Islam Nusaanntara (utamanya Demak,) yang mengambil alih kekuasaan Raja-raja Hindu dan Budha, juga prinsip penguasa-penguasa nasrani yakni Vini,vidi,vici.


Kerajaan Islam Nusantara pada abad ke -14 sampai -16, konon meminta legitimasi dari kasultanan Turki Utsmani dan pada abad selanjutnya, legitimasi tersebut beralih ke Saudi Arabia.


Abad selanjutnya, (awal abad -19 hingga sekarang) beberapa penggerak Islam di negeri ini juga tak henti-hentinya memanfaatkan kepentingan Asing untuk mendukung gerakannya di Indonesia. Sebagai sampel, saya akan coba runutkan peta politik global yang berselimutkan ideologi dan agama;

  • Dibentuknya Muhammadiyah pada masa-masa awal, sering dituding sebagai bagian dari kepentingan Arab Saudi dalam menyebarkan faham Wahhabi.

  • Sarekat Islam pada masa awal kemerdekaan, sempat pula disusupi Ideologi Komunis yang merujuk ke Unisovyet dan China. Bahkan Indonesia, pada masa awal kemerdekaan, dikenal dekat dengan Unisovyet. Hal ini terbukti dengan ideologi Nasakom (nasionalis, agama dan Komunis) yang menyokong Pemrintahan Indnoesia hingga tahun 1965, agenda anti Amerika dan Inggris raya dengan agitasi terkenal; ”Amerika diseterika, Inggris dilinggis!”

  • Penggulingan Orde Lama oleh Soeharto, yang kemudian membentuk rezim bernama Orde Baru, sering dituding mendapat sokongan dari CIA ( intelijen Amerika serikat), hal ini kemudian dikuatkan dengan banyaknya agenda amerika yang masuk pada masa Orba.

  • Pasca reformasi, kepentingan politik asing di Indonesia semakin melebar, tidak hanya didominasi Amerika Serikat, beberapa negara Islam juga seakan merangsek ke indonesia. Munculnya berbagai faham keislaman disinyalir bagian dari perterungan kepentingn asing di negeri ini. Sampel; Jamaah tablig dari India, PKS dan kelompok tarbiyah juga sering dituding beragenda sama dengan Ikhwanul Muslimin, Mesir. Begitupun HTI yang diusir dari tempat asalnya, yakni Yordania, dan kini berpusat di London. Juga MMI, FPI dan beberapa organisasi muslim radikal juga konon mendapat kucuran dana dari Osamah bin laden dan donatur asing lain dari tanah Arab.

  • Yang unik, NU-Muhammadiyah yang biasanya berseberangan, saat ini terlihat mesra, mengapa hal itu terjadi ? selain kessadaran akan pentingnya kerukunan, kedua organisasi Islam terbeesar itu juga saat ini sedang memanfaatkan dana dari TAF, sebuah lembaga donor besar dari Amerika, satu kepentingan yang diusung; menggali Islam yang ramah, toleran dan mengerti arti pembauran dan kepentingan global.

Dari anaslisa tersbut, saya melihat bahwa perang saudara antar sesama warga Indonesia akan selalu terjadi. Perang tersebut dapat berbentuk apapun; fisik maupun ideologi.

Penutup

Perang ini akan Usai pada saatnya, nanti!


Ketika pertama kali mengetahui realitas tersebut, sempat terbersit rasa ngeri yang tak terperi, betapa tidak? Saya bingung memilih kebenaran! Tapi kita mesti memilih, dan –mungkin- Tuhan berikan petunjuknya melalui realitas yang terjadi selanjutnya, PKS, partai yang dikenal puritan,, ternyata juga memilih langkah yang sama dengan NU, mendeklasarasikan diri terbuka terhadap perbedaan!

Realitas membuktikan, sikap eksklusif dan puritan tidak akan bertahan lama di negeri ini2, karena –mungkin- Tuhan menghendaki Indonesia sebagai negara yang majemuk dan penuh toleransi, maka agama yang disusung mestilah moderat, tiada lain itu terdapat dalam konsep Islam yang rahmatan lil’alamin.


Wallahu A’lam bi Shawabb, wal muwaffieq ilaa aqwamitthariq.

1 Penulis menggunakan dua istilah serupa tapi berbeda makna, yakni 1). Indonesia, sebagai negara-bangsa republik yang diproklamasikan 17-08-1945, dan 2). Nusantara, sebagai embrio dari negara Indonesia, yang saat itu masih terpecah dalam berbagai kerajaan. Tapi keduanya berada dalam satu wilayah yang saat ini dikenal sebagai Negara kesatuan Republik Indonesia.

2 Saya jadi teringat salahsatu pernyataaan Gusdur, tentang hal itu “ mereka (islam puritan, tidak akan bertahan di Indonesia”. Gusdur juga menyumbang konsep pribumisasi Islam, yang selaykanya dikaji oleh kader PMII.

3 Saya jadi teringat salahsatu pernyataaan Gusdur, tentang hal itu “ mereka (islam puritan, tidak akan bertahan di Indonesia”. Gusdur juga menyumbang konsep pribumisasi Islam, yang selaykanya dikaji oleh kader PMII.




Sabtu, 15 Maret 2008

Jurnalisme Plagiat & Tradisi kritis

Pada penghujung tahun 2007 lalu, crew SiGMA disibukkan dengan hajat tahunan Pelatihan Jurnalistik dan Brodcasting se-Banten disingkat PJB yang sudah mentradisi sejak sepuluh tahunan lalu. Konon telah banyak alumnus PJB yang berkiprah di dunia jurnalistik dan broadcasting. Termasuk penggiat junalistik dan radio di Untirta, diantaranya di fakultas Tekhnik. Yang lain berkiprah di media lokal dan nasional. Dan terakhir, Alumnus PJB SiGMA dari Stikom Wangsa Jaya dan STKIP Rangkas bertekad membuat lembaga pers Mahasiswa di Kampusnya. Beberapa alumnus lainya, ada juga yang menerbitkan bulletin indie seperti Al-Basyar, Demokrasi dan Simak. Idealnya, tradisi menulis di kampus memang terbangun dari berbagai lini, demi tumbuhnya dinamika dan wacana kritis di dunia akademis .

Menulis adalah arena kreatif yang tidak terbatas. Banyak ranah yang dapat dibidik. Karena tidak terbatas aras, maka menulis dapat diapresiasikan dengan ragam bentuk. Tidak hanya berita, cerita dan syair puisi. Essai artikel dan makalah serta skripsi juga dapat menjadi ladang kreasi pena. Tetapi, meski tak terbatas, menulis juga memiliki fatsoen tersendiri. Berita harus mengacu pada kode etik jurnalistik, essai dan artikel harus terstruktur dalam argumentasi yang kuat, begitupun makalah dan skripsi harus mengikuti kaidah penulisan karya ilmiah. Konon hanya puisi dan cerita yang boleh melanggar kaidah bahasa, tetapi sebenarnya, puisi dan cerita juga dituntut memiliki plot, alur dan penokohan yang baik, agar enak dibaca.
Ide kreatif penulis tidak boleh dipasung, tetapi proses menulisnya, tentu harus memenuhi kadiah yang ada. Dan kaidah terpenting yang harus ditaati oleh para penulis adalah dilarang menjiplak karya orang lain! Karena menjiplak karya dapat dikategorikan sebagai Plagiat. Dan Plagiator tentu tidak harus dihargai, karena sang plagiator telah melanggar hak intelektual dan tentu saja Undang-undang hak cipta . Tak heran jika para pemusik sangat geram terhadap pembajak, penulis dan penerbit juga tidak ada yang rela karya terbitan mereka dijiplak. Kata orang pesantren, “enggak rido dunia akherat!”
Kita tentu masih ingat bagaimana sewotnya grup band Mata, ketika lagunya diklaim dan dinyanyikan orang lain tanpa izin. Sebelumnya, kasus Dewa 19 juga mencuat karena album mereka diklaim menjiplak sebuah buku. Bahkan seorang Chairil anwar sang penyair legendaris, pernah dicibir karena karyanya disangka hasil terjemahan dari penyair asing, ia dijuluki plagiator. Beberapa tahun lalu, pengelola majalah Hidayah juga sempat berang terhadap sebuah majalah baru yang isi dan rubrikasinya ternyata bajakan dari majalah Hidayah. Sebagai mahasiswa, saya mendukung perkembangan literasi dengan beberapa terbitan baru yang muncul. Tetapi sebagai pengelola Lembaga Pers Mahasiswa, maka saya mendukung sikap majalah Hidayah. Kejadian serupa terjadi di kampus ini. Sebuah media terbitan teranyar, memiliki kemiripan dengan bulletin Sikap (sarana informasi kampus) yang diterbitkan LPM SiGMA, Jika sekedar layout dan tata letak masih dimaklumi, tetapi ketika penjiplakan dilakukan sampai ke rubrikasi hingga motto media, bukan lagi kewajaran.

Runtuhnya tradisi kritis

Dinamika kampus harus dibangun dengan wacana kritis maka pengembangan daya kritis sangat penting bagi perkembangan akademis. Dari asumsi tersebut, kritik dan oto kritik menjadi poin tersendiri bagi para penulis termasuk mereka yang bergelut di dunia jurnalistik apalagi jika melihat fungsi pers sebagai media kontrol sosial dan peranannya sebagai pilar demokrasi ke empat setelah trias politik.
Socrates mengibaratkan kritiknya sebagai lalat kecil bagi “kerbau” negara besar Yunani. Lalat memang membuat kerbau terganggu karena gelitiknya, tapi tanpa lalat, kerbau akan selalu tertidur. Karena lalatlah kerbau malas bangun dan membersihkan dirinya di sungai. Jadi lalat memang perlu menggelitik kerbau agar bangkit dari kemalasan!( Kisah tentang kritik Socrates ini pernah ditulis oleh Goenawan Mohammad dalam catatan pinggir berjudul “Si Lalat Pengganggu”). Adakah kerbau berkeinginan membasmi lalat? Rasanya tidak! Seperti bunga yang rela disengat lebah demi terjadinya pembuahan, meski sakit dan direnggut madunya, tetapi bunga membutuhkan sengatan lebah
Agaknya hubungan Pers dengan pembaca dan atau pemirsanya serupa dengan simbiosa yang terjadi antara lalat dan kerbau, juga antara lebah dan bunga. Mereka tidak saling bunuh, meski kadang salah-satunya merasa terganggu. Begitu semestinya hubungan Pers dan masyarakat, sebagai media informasi dan komunikasi yang tidak tabu terhadap kritik dan otokritik atas realitas yang terjadi.
Namun bagaimana jika seseorang, lembaga atau komunitas tertentu merasa tersentil atas sesuatu yang disiarkan media? Haruskah media tersebut dibasmi? Wajarkah jika kritik tertulis dilawan dengan ancaman, tindakan anarkhi atau dengan sedikit intimidasi di ruang kuliah? Bagaimana pula dengan tradisi plagiat yang terjadi dalam komunitas intelektual? Sedemikian parahkah kondisi sosiologis masyarakat saat ini, sehingga kultur massif dihalalkan untuk membalas kritik dan pemikiran atau pemberitaan yang mengaduk perasaan?
Saya pikir masyarakat jahiliyah pun tidak senaif itu, kaum semit yang dikenal sejarah sebagai penikmat syair, bukan tidak mungkin untuk saling kritik lewat syairnya, meski dikenal jahil (bodoh), sejarah mencatat mereka kerap mengadakan festival para penyair di depan ka’bah. Rumah ibadah yang saat itu dipenuhi berhala. Ada proses pencerdasan di sana. Dalam sirah nabawi juga tercatat bagaimana Musailamah Al-Kadzab dipermalukan karena terbukti gagal mencontek salah satu surat dalam Al-Qur’an. Sang nabi palsu yang melakukan plagiat terhadap surat Al-fil itu diperangi atas perintah Abu Bakar Shiddiq.
Bandingkan dengan realitas yang ada sekarang ini, sebuah media nasional yang memberitakan kasus di salah-satu pasar besar di Jakarta, harus mendapat serangan massif dari preman pasar tersebut. Media lain yang memberitakan seorang pengusaha di balik kebakaran, juga mesti diintimidasi kemudian redakturnya digelandang ke penjara dengan kasus pidana. Di daerah, tindakan anarkis dan ancaman terhadap media juga kerap terjadi. Yang lebih gila, sebuah media parodi bertajuk News dot Com, sempat akan digugat atas pencemaran nama baik. Dan baru-baru ini, salah-satu crew nya dikejar polisi atas kasus yang (menurut analisa beberapa pakar ) mengada-ada. Pembajakan dan tradisi plagiat juga sering terjadi, meski banyak kalangan yang membenci.
Agaknya, kata ironis harus menjadi dzikiran utama di kampus ini, serupa istighfar yang selalu dibaca dan dilafalkan untuk tenangkan diri dari dosa yang kelam. Ironis, jika sebuah komunitas intelektual, menghalalkan plagiat dalam sebuah karya yang diterbitkan. Lebih ironis ketika ternyata akademisi bersikap anti kritik. Yah ironis, ternyata budaya akademis yang didengungkan selama ini, hanya untuk membungkam kritik mahasiswa atas lembaga yang menaunginya. Ironis, khan? Jika kritik dianggap sebagai budaya politis. Ironisnya lagi, beberapa pejabat kampus juga enggan membaca kritik dari mahasiswanya, kritik telah menjadi tabu. Karena seorang murid (baca; mahasiswa) tak layak mengkritik gurunya (dosen dan pejabat kampus). Bahwa murid harus selalu taat atas segala kebijakan yang tidak aspiratif sekalipun.
Padahal jika merujuk pada tradisi Islam (kampus tempat ini bernaung berlabel kampus islam), kritik dianjurkan oleh Tuhan, bahwa tawaasau bilhaq wa tawaasaw bis shabr (Al-Ashr; penggalan ayat terakhir) saling mengingatkan dalam kebenaran dan saling ingatkan dengan sabar adalah doktrin Ilahiyyah.
Kadang kritik memang memerahkan telinga, kritik pedas yang menohok tak jarang membuat hati kecut. Tapi layaknya komunitas intelektual, kritik mestinya dibalas kritik. Sesuatu yang disiarkan media juga tidaklah anti kritik. Karenanya, pemirsa, pembaca dan masyarakat penikmat media memiliki hak jawab dan hak koreksi yang dilindungi oleh undang-undang yang sama, yakni UU Pers (Pasal 5 ayat2) “Pers Indonesia Wajib memberikan hak jawab” dan Kode Etik Jurnalistik (pasal 11) “wartawan Indonesia melayani hak jawab dan hak koreksi secara proporsional”.
Apa jadinya peradaban kita, jika komunitas intelektual saja bersikap anti kritik? Apa jadinya bangsa ini, jika kemerdekaan berpendapat dan berekspresi masih dikebiri? akankah budaya akademis berkembang, jika karya plagiat lebih dihargai dari sebuah kritik? Ternyata saya, anda dan kita semua masih perlu mengikuti banyak proses pembelajaran.


[1] Penulis adalah mahasiswa IAIN Banten, Fakultas Syariah, jurusan Jinayah Siyasah. Pengaji di Umbruch Cercle, dan pengurus LPM SiGMA.

[1] Dari arsip SiGMA yang ada, tahun 1997 hingga saat ini, Pelatihan Jurnalistik rutin diselenggarakan SiGMA setiap tahunnya.(bisa jadi Pelatihan Jurnalistik SiGMA telah berlangsung sejak tahun 1990 ketika SiGMA edisi pertama terbit)
[1] Undang-undang Hak Cipta selalu diperbaharui, dari UU no 6 tahun 1982, ke UU nomor 7 tahun 1987, hingga UU nomor 19 tahun 2002 tentang Hak Cipta. Dalam pasal 2 disebutkan : Hak Cipta merupakan hak eksklusif bagi pencipta atau pemegang Hak Cipta untuk mengumumkan atau memperbanyak ciptaanya, yang timbul secara otomatis setelah satu ciptan dilahirkan … dst.

Minggu, 09 Maret 2008

mengenang CakNur mengaji GusDur

Doktrin Cak Nur

Membaca pemikiran Nurcholis Madjid, (Cak Nur), kita akan disuguhi dengan beragam teori prilaku keagamaan kontemporer, pendiri universitas Paramadina ini mengandaikan integrasi prilaku seorang muslim, menjadi warganegara yang ‘menguasai’ alam –dalam hal ini Negara-. Teori khalifah Allah fil Alrd yang selama ini didengungkan para pengagum dan pengikutnya, kemudian mengarah pada penguasaan negara opleh kader Islam.
Hal ini dapat dipahami dari kondisi sosiokultural bangsa Indonesia saat itu (tahun70-80 an), yang terhegemoni oleh tirani orde baru yang cenderung meminggirkan kekuatan oposisi, dan opsisi atas orde saat itu adalah Islam. Karenanya, kemudian muncul jargon Islam yes, partai Islam No! terlepas dari prasangka tentang wacana titipan, upaya Cak Nur menerjemahkan Pancasila sebagai ideology Islami “isi masing-masing sila itu mempunyai nilai keislaman” karenanya, wawasan keislaman menyatu dengan wawasan pancasila (Nurcholis Madjid, Islam, doktrin dan peradaban), terbukti manjur mengekalkan Pancasila sebagai ideology bangsa.
Tahun 1990, ketika Islam mulai didekati peguasa, Cak Nur kemudian menebar wacana toleransi, Pluralisme, egalitarianisme dan toleransi, yang menurut Ahmad Baso, dalam buku NU Studies, masih memimpikan kejayaan Islam lampau, dengan mengenang imperium Islam klasik di Spanyol. Baso menilai Cak Nur sebagai cendekiawan yang mengandaikan kembalinya kekuasaan Islam, dengan bersikap negasi afirmatif kepada agama lain yang sebangsa.
Merujuk pada asumsi tersebut, maka patut dimaklumi, jika kemudian kader-kader Cak Nur di Himpunan Mahasiswa Islam, berupaya betul dengan segala potensi dan kesempatan yang ada, untuk duduk di bangku kekuasaan, karena dalam Nilai Dasar Perjuangan yang digagas Cak Nur, tersimpan ide untuk menjadi penguasa (khalifah Fil Ard).

Mengenang Cak Nur, maka akan bersentuhan dengan ide Pribumisasi Islam nya Gus Dur Cak Nur mengupayakan Islamisasi melalui jalur kekuasaan, sedangkan Gusdur mengandaikan Islam tumbuh subur sebagai kultur masyarakat Indonesia, tanpa paksaan tangan penguasa.

Gusdur dan pencarian kekuasaan

Jika Cak Nur menginginkan integrasi muslim menjadi penguasa, maka Gusdur mengusung integrasi muslim sebagai warga negara yang bajik, dengan bersikap toleran ewuh pakewuh dan saling menghargai. Seorang muslim harus senantiasa memperhatikan dan memperjuangkan keadilan, persamaan derajat dan melindungi kaum tertindas. Bagi Gusdur, Islam sebagai agama pembebasan, harus menginspirasi ummatnya agar mauy berbuat untuk sesama tanpa melihat latar belakang. Semangatnya dalam memperjuangkan Islam, tidak lantas membuatnya sepakat dengan Islamisasi.
Dalam beragam tulisannya, Gusdur cenderung mengangkat dan membela lokalitas keagamaan. Maka ia menolak upaya arabisasi, baginya kata selamat pagi tak mesti di islamkan dengan ‘assalamualikum’, sapaan terhadap rekan, saudara atau sahabat tak harus berbau arab dengan sapan Ikhwan, Baginya, ketaatan beragama tak sepadan dengan pengagungan simbol Arabian. Karenanya, dia lebih suka mengusung Islam ala Indonesia bukan Indonesia ala Islam, kata lain, Islam harus membumi, bukan berarti simbolisasi islam harus terjadi, tetapi bagaimana tradisi lokal diakui sebagai salahsatu kekayaan budaya dalam Islam.
Gaya berpikir Gusdur, mungkin terpengaruh oleh kultur kekuasaan pesantren, yang membaur dengan teori pergerakan Ikhwanul Muslimin, di messir dan kaum sunni di Irak (partai Bath, yang dimotori oleh saddam Hussein), sebagai pembesar di kalangan pesantren, Gusdur dituntut bersikap bijak dalam mengangani keragaman masalah di internal organisasi yang dipimpinnya (Nahdlatul Ulama), sebagai pemikir, yang pernah bersentuhan dengan beragam ide pembaharuan Islam, dari Hassan El-Banna yang fundamentalis, hingga Arkoun yang liberal, akhir-akhir ini, Gusdur kemudian cenderung mengarah pada yang ‘liberal’.
Sayangnya, Gusdur berpikir dengan gaya meloncat-loncat, tidak seperti Cak Nur yang sistematis, sehingga pengagum dan pengikut Gusdur, kemudian kerepotan dalam menerjemahkan pemikirannnya, tapi dibalik kerepotan tersebut, pengikut Gusdur kemudian muncul dengan gaya berpikir yang berbeda dari gurunya, merkea kemudian menjadi pemikir Mandiri, kadang juga berlawanan teori Gusdurian dengan beragam kritiknya, sebut saja Masdar. F. Mas’udi, dengan agama keadilannnya, Said Aqil Siradj, yang melegalkan Mut’ah, padahal Gusdur sendiri, cenderung anti poligami demi kesetaraan gender. Dalam bidang politik, Gusdur juga sering menuai perlawanan dari muridnya, semisal Alwi Sihab, chairul Anam dan Hasyim Muzadi.
Selain gaya berpikir yang meloncat sehingga tampak kurang sistematis, Gusdur juga kemudian terjebak dalam euphoria wacana saat dia menduduki jabatan politis, kemudian Gusdur lebih betah menjadi politisi, meski tak meninggalkan perannya sebagai cendekiawan. Maka hadirlah prasangka, bahwa wacana Gusdur pasca lengser keprabon tak lebih dari upaya merebut lagi kekuasaan yang pernah digenggamnya.
Namun begitu, diakui, bahwa Gusdur cukup berhasil mendidik kadernya, hingga saat ini, banyak bermunculan para pemikir muda NU. Meski tak jarang kemudian, Gusdur dilawan muridnya sendiri, hal ini tercermin dalam praktik politis, baik di tubuh NU maupun di tubuh partai yang didirikannya.

Menolak Rezim, berpikir mandiri, mampukah?

Pasca Caknur & Gusdur, banyak pengaji keislaman yang meniru keduanya. Penerjemahan pemikiran Gusdur , di kalangan Pesantren, menjadi lumrah ketika dilihat dari tradisi Pensyarahan yang dilakukan para Ulama terhadap Matan (Kitab kecil karangan Ulama terdahulu). Tapi mensyarah, menerjemahkan pemikiran dari prilaku sang tokoh, dianggap sebagai apologi untuk membenarkan dan mempertahankan keagungan sang tokoh.
Demikian juga mengulang- ulang wacana seorang tokoh, tanpa upaya kritis untuk memperbaharuinya, sementara sang tokoh telah lama tiada, konon adalah sebuah kemunduran intelektual, lantas dapatkah kita berpikir kreatif, jika dalam wacana keagamaan kita harus selalu merujuk pada teks dan wacana terdahulu?



Tuesday December 12, 2006 - 05:51am (EST)

Ramadhan yang Humanis bagi Rakyat Miskin

Oleh Abdul Malik


Sebuah acara humor di salah satu stasiun TV swasta mengangkat tema “penertiban maksiat menjelang ramadhan”. Dalam acara menjelang sahur tersebut diceritakan, keresahan seorang penyanyi dangdut akan larangan berjoget di bulan puasa. Acara ini mencerminkan realitas masyarakat kita yang plural, karenanya bukanlah hal yang aneh kalau sebagian golongan merasa resah menjelang ramadhan.
Banyak umat Islam berharap sepinya ramadhan dari bentuk maksiat. Sementara itu, para pelaku maksiat seolah memandang ramadhan sebagai bulan yang seram, pekerja dan penikmat seks komersil serta pengelola tempat hiburan mesti rela menahan diri di bulan yang suci ini. Seseram itukah ramadhan?
Jika kita membuka kembali firman Allah Swt. dalam Al-Qur’an, maka kita akan menemukan hal yang sebaliknya. Ternyata ramadhan menyiratkan humanisme mendalam yang semestinya menginspirasi prilaku keberagamaan umat Islam.
Ayat 183-187 dalam surat Al-Baqarah dikenal sebagai dalil wajibnya berpuasa ramadhan. Padahal, lima ayat tersebut tak sekadar berisi tentang puasa. Di dalamnya terkandung nilai luhur yang humanis. Dalam ayat 183, Allah Swt. menyapa manusia beriman - hanya mereka yang beriman - tentang ditetapkannya puasa ramadhan. Ritual puasa konon telah sejak lama ada, namun prosesinya berbeda-beda. Misalnya, Nabi Musa as berpuasa “dengan berdiam diri” selama 40 hari. Begitu pun, Nabi Daud as yang berpuasa dua hari sekali. Dalam adat kejawen terdapat ritus pertapaan atau tirakatan (bagi Islam abangan), puasa patigeni atau mutih biasanya menjadi syarat ritus tersebut. Maka benarlah apa yang dinyatakan Allah Swt. bahwa ketetapan puasa telah berlaku sejak umat terdahulu, umat Islam hanya meneruskan serta meluruskan tradisi tersebut.
Puasa dalam Islam, seperti dicontohkan Nabi Muhammad Saw, sangat memerhatikan nilai-nilai kemanusiaan. Umat Islam tidak dianjurkan berpuasa sehari semalam. Ramadhan juga tidak mensyaratkan sikap diam dalam berpuasa. Maka meski meneruskan tradisi lama, puasa versi Islam lebih manusiawi.
Demi menahan lapar dahaga di siang hari, kita dianjurkan bersahur. Selain menjaga stamina, sahur pun mengajarkan kita untuk mengatur pola makan serta memerhatikan kebutuhan mekanisme tubuh. Allah Swt. begitu mengerti akan kelemahan manusia, karenanya setelah berbuka, di malam hari kita diperkenankan makan, minum dan bersetubuh (Q.S. Al-Baqarah: 187).
Ciri khas ramadhan selain puasa adalah shalat tarawih. Di perkampungan, dalam sela-sela tarawih biasanya dibacakan shalawat Nabi. Shalat ini terasa asik, ketika dilakukan berjama’ah. Maka, tak heran jika di awal ramadhan, masjid dan mushala akan sesak oleh para jama’ah. Semangat ini sebenarnya dapat memupuk silaturrahim dan mempererat cinta kasih sesama manusia. Selesai shalat tarawih, biasanya tradisi tadarrus dilaksanakan, seorang membaca Al-Qur’an, jama’ah lainnya menyimak dan menegur kesalahan membaca untuk segera diralat agar sesuai tajwid. Pentingnya tegur sapa dan tradisi kritik transformatif tersirat di sana.
Yang terpenting, hakikat puasa adalah menahan nafsu syahwat, esensi tersebut mesti terserap dalam diri dan prilaku kita. Salah satu hadits menjanjikan adanya ampunan Allah Swt. bagi mereka yang berpuasa ramadhan dengan dasar keimanan disertai praktik esensial tersebut. Allah Swt. juga menunjukkan kebijaksanaanya, dengan memberi dispensasi kepada mereka yang tak mampu berpuasa, musafir, dan orang sakit untuk diperkenankan membatalkan puasanya. Bagi perempuan yang sedang haid, nifas dan melahirkan bahkan dilarang berpuasa. Karena, Allah Swt. tahu mereka membutuhkan suplai makanan yang lebih guna menjaga stamina.
Ketika Allah Swt. menyapa kita dengan penuh kelembutan, lantas mengapa harus ada nada keras dan sikap anarkis terhadap mereka yang tak sepaham? Padahal sungguh jelas bahwa Allah Swt. hanya menyuruh mereka yang beriman. Sehingga, mereka yang tidak mampu melakukan pengagungan ramadhan tak mesti disikapi dengan kekerasan. Syukurnya, para penganut Islam radikal kini tak lagi melakukan aksi anarkis seperti tahun-tahun lalu. Kesigapan aparat pamong praja dalam penertiban maksiat serta kesadaran akan pentingnya menampilkan sikap Islam nan damai mungkin melatar belakangi hal ini.

Ramadhan bagi Rakyat Miskin
Selain menahan lapar dahaga dan nafsu syahwat, puasa juga mengajarkan kita untuk menghargai dan menyantuni sesama. Perihnya lapar dan lelahnya dahaga dapat membuat seseorang sadar akan penderitaan orang lain. Budaya ini pula tampaknya yang membuat masyarakat Indonesia memaklumi banyaknya pengemis, pengamen, anak jalanan serta peminta sumbangan atas nama pembangunan rumah ibadah dan lembaga pendidikan.
Padahal, Islam mempunyai aturan tentang zakat infak dan shadaqah. Di akhir ramadhan, pemuka agama biasanya ramai ditemui masyarakat yang hendak menunaikan zakat. Kalau saja sirkulasi zakat ini berjalan lancar dan sebagaimana mestinya, umat Islam Indonesia dapat merasakan kemakmuran hidup. Apalagi jika, zakat harta, tanaman dan dagang yang jumlah nominalnya tidak sedikit, telah berjalan teratur.
Sayangnya, keberadaan Badan Amil Zakat Infak dan Shadaqoh (Bazis) belum terasa benar manfaatnya. Mestinya, dana Bazis diperuntukkan bagi mereka yang benar-benar membutuhkan (kaum faqir). Jika ingin lebih efektif, zakat yang ada dapat diberikan dalam bentuk bantuan modal, bukan pinjaman, kepada pengusaha kecil yang perlu tambahan modal.
Dapat dibayangkan, jika dalam satu kampung terdapat 3 orang kaya yang rela menunaikan zakat harta dan usahanya dengan menanam atau modal – sesuai ketentuan zakat, 2,5% dari nishobnya - pada tetangga yang butuh suntikan modal usaha, kemudian usaha sang tetangga kemudian tumbuh dan menunaikan zakatnya kepada yang lain, maka dalam satu tahun kampung tersebut dapat mengangkat kesejahteraan 3 anggota masyarakatnya, hitungan ini kemudian berlipat jika setiap suntikan modal yang diberikan berdampak positif.
Sayangnya, zakat mal lebih sering diprioritaskan pada pembangunan fisik, seperti pembangunan masjid, mushalla dan majlis ta’lim. Sikap ini memang lebih baik daripada tidak menunaikan zakat sama sekali. Namun, dampak dari budaya rehabilitasi dan pembangunan fisik, membuat kita lupa akan pentingnya membangun semangat ekonomi masyarakat muslim yang hingga saat ini masih berkubang di bawah standar kesejahteraan.
Para pengelola Bazis pun seolah tidak peka terhadap peliknya permasalahan ini, konon pengusaha kecil yang mengajukan bantuan modal pada Bazis, tidak diberikan cuma-cuma, tapi berbentuk pinjaman. Padahal, seharusnya dana zakat bukan untuk dipinjamkan, tapi dialokasikan bagi mereka yang berhak. Dalam hal ini, pelaku usaha kecil dapat dikategorikan kaum dhu’afa atau masakin yang berhak memperbaiki taraf hidupnya dengan bantuan zakat.
Kita pun tentu tahu bahwa Bazis bukanlah lembaga peminjaman, pegadaian apalagi Bank, yang memberikan sesuatu dengan mengharap imbalan jasa. Amil memang berhak mendapat santunan zakat, tetapi tidak lantas semua harta zakat yang ada di Bazis kemudian dikomersilkan, demi kesejahteraan pengelolanya. Dengan pengelolaan yang baik, maka zakat akan terasa benar manfaatnya, tidak hanya bagi pengelola zakat, tapi bagi umat Islam dan bangsa Indonesia.
Indahnya Ramadhan akan tampak jika semua elemen muslimin sadar akan hal ini. Aparat pemerintah dapat menunjukkan kewibawaannya dengan bersikap tegas dalam penegakan hukum. Para ulama membimbing kaumnya kepada sikap bijak dalam beragama. Kaum dhuafa terangkat kesejahteraanya. Dan, mereka yang dermawan pun semakin semangat berderma, jika melihat manfaat dermanya bagi kesejahteraan bersama.
Penulis adalah pengaji sosial-keagamaan di Umbruch Cercle IAIN “SMH’
luvne.com ayeey.com cicicookies.com mbepp.com kumpulanrumusnya.com.com tipscantiknya.com