Gusdurian

Surat Terbuka Untuk Politisi Banten

Terkhusus untuk para politisi Banten, yang sedang bersiap,menghadapi Pilkada 2017 nanti, sudahi dulu lah debat kusir tentang siapa cal...

Sabtu, 15 Maret 2008

Jurnalisme Plagiat & Tradisi kritis

Pada penghujung tahun 2007 lalu, crew SiGMA disibukkan dengan hajat tahunan Pelatihan Jurnalistik dan Brodcasting se-Banten disingkat PJB yang sudah mentradisi sejak sepuluh tahunan lalu. Konon telah banyak alumnus PJB yang berkiprah di dunia jurnalistik dan broadcasting. Termasuk penggiat junalistik dan radio di Untirta, diantaranya di fakultas Tekhnik. Yang lain berkiprah di media lokal dan nasional. Dan terakhir, Alumnus PJB SiGMA dari Stikom Wangsa Jaya dan STKIP Rangkas bertekad membuat lembaga pers Mahasiswa di Kampusnya. Beberapa alumnus lainya, ada juga yang menerbitkan bulletin indie seperti Al-Basyar, Demokrasi dan Simak. Idealnya, tradisi menulis di kampus memang terbangun dari berbagai lini, demi tumbuhnya dinamika dan wacana kritis di dunia akademis .

Menulis adalah arena kreatif yang tidak terbatas. Banyak ranah yang dapat dibidik. Karena tidak terbatas aras, maka menulis dapat diapresiasikan dengan ragam bentuk. Tidak hanya berita, cerita dan syair puisi. Essai artikel dan makalah serta skripsi juga dapat menjadi ladang kreasi pena. Tetapi, meski tak terbatas, menulis juga memiliki fatsoen tersendiri. Berita harus mengacu pada kode etik jurnalistik, essai dan artikel harus terstruktur dalam argumentasi yang kuat, begitupun makalah dan skripsi harus mengikuti kaidah penulisan karya ilmiah. Konon hanya puisi dan cerita yang boleh melanggar kaidah bahasa, tetapi sebenarnya, puisi dan cerita juga dituntut memiliki plot, alur dan penokohan yang baik, agar enak dibaca.
Ide kreatif penulis tidak boleh dipasung, tetapi proses menulisnya, tentu harus memenuhi kadiah yang ada. Dan kaidah terpenting yang harus ditaati oleh para penulis adalah dilarang menjiplak karya orang lain! Karena menjiplak karya dapat dikategorikan sebagai Plagiat. Dan Plagiator tentu tidak harus dihargai, karena sang plagiator telah melanggar hak intelektual dan tentu saja Undang-undang hak cipta . Tak heran jika para pemusik sangat geram terhadap pembajak, penulis dan penerbit juga tidak ada yang rela karya terbitan mereka dijiplak. Kata orang pesantren, “enggak rido dunia akherat!”
Kita tentu masih ingat bagaimana sewotnya grup band Mata, ketika lagunya diklaim dan dinyanyikan orang lain tanpa izin. Sebelumnya, kasus Dewa 19 juga mencuat karena album mereka diklaim menjiplak sebuah buku. Bahkan seorang Chairil anwar sang penyair legendaris, pernah dicibir karena karyanya disangka hasil terjemahan dari penyair asing, ia dijuluki plagiator. Beberapa tahun lalu, pengelola majalah Hidayah juga sempat berang terhadap sebuah majalah baru yang isi dan rubrikasinya ternyata bajakan dari majalah Hidayah. Sebagai mahasiswa, saya mendukung perkembangan literasi dengan beberapa terbitan baru yang muncul. Tetapi sebagai pengelola Lembaga Pers Mahasiswa, maka saya mendukung sikap majalah Hidayah. Kejadian serupa terjadi di kampus ini. Sebuah media terbitan teranyar, memiliki kemiripan dengan bulletin Sikap (sarana informasi kampus) yang diterbitkan LPM SiGMA, Jika sekedar layout dan tata letak masih dimaklumi, tetapi ketika penjiplakan dilakukan sampai ke rubrikasi hingga motto media, bukan lagi kewajaran.

Runtuhnya tradisi kritis

Dinamika kampus harus dibangun dengan wacana kritis maka pengembangan daya kritis sangat penting bagi perkembangan akademis. Dari asumsi tersebut, kritik dan oto kritik menjadi poin tersendiri bagi para penulis termasuk mereka yang bergelut di dunia jurnalistik apalagi jika melihat fungsi pers sebagai media kontrol sosial dan peranannya sebagai pilar demokrasi ke empat setelah trias politik.
Socrates mengibaratkan kritiknya sebagai lalat kecil bagi “kerbau” negara besar Yunani. Lalat memang membuat kerbau terganggu karena gelitiknya, tapi tanpa lalat, kerbau akan selalu tertidur. Karena lalatlah kerbau malas bangun dan membersihkan dirinya di sungai. Jadi lalat memang perlu menggelitik kerbau agar bangkit dari kemalasan!( Kisah tentang kritik Socrates ini pernah ditulis oleh Goenawan Mohammad dalam catatan pinggir berjudul “Si Lalat Pengganggu”). Adakah kerbau berkeinginan membasmi lalat? Rasanya tidak! Seperti bunga yang rela disengat lebah demi terjadinya pembuahan, meski sakit dan direnggut madunya, tetapi bunga membutuhkan sengatan lebah
Agaknya hubungan Pers dengan pembaca dan atau pemirsanya serupa dengan simbiosa yang terjadi antara lalat dan kerbau, juga antara lebah dan bunga. Mereka tidak saling bunuh, meski kadang salah-satunya merasa terganggu. Begitu semestinya hubungan Pers dan masyarakat, sebagai media informasi dan komunikasi yang tidak tabu terhadap kritik dan otokritik atas realitas yang terjadi.
Namun bagaimana jika seseorang, lembaga atau komunitas tertentu merasa tersentil atas sesuatu yang disiarkan media? Haruskah media tersebut dibasmi? Wajarkah jika kritik tertulis dilawan dengan ancaman, tindakan anarkhi atau dengan sedikit intimidasi di ruang kuliah? Bagaimana pula dengan tradisi plagiat yang terjadi dalam komunitas intelektual? Sedemikian parahkah kondisi sosiologis masyarakat saat ini, sehingga kultur massif dihalalkan untuk membalas kritik dan pemikiran atau pemberitaan yang mengaduk perasaan?
Saya pikir masyarakat jahiliyah pun tidak senaif itu, kaum semit yang dikenal sejarah sebagai penikmat syair, bukan tidak mungkin untuk saling kritik lewat syairnya, meski dikenal jahil (bodoh), sejarah mencatat mereka kerap mengadakan festival para penyair di depan ka’bah. Rumah ibadah yang saat itu dipenuhi berhala. Ada proses pencerdasan di sana. Dalam sirah nabawi juga tercatat bagaimana Musailamah Al-Kadzab dipermalukan karena terbukti gagal mencontek salah satu surat dalam Al-Qur’an. Sang nabi palsu yang melakukan plagiat terhadap surat Al-fil itu diperangi atas perintah Abu Bakar Shiddiq.
Bandingkan dengan realitas yang ada sekarang ini, sebuah media nasional yang memberitakan kasus di salah-satu pasar besar di Jakarta, harus mendapat serangan massif dari preman pasar tersebut. Media lain yang memberitakan seorang pengusaha di balik kebakaran, juga mesti diintimidasi kemudian redakturnya digelandang ke penjara dengan kasus pidana. Di daerah, tindakan anarkis dan ancaman terhadap media juga kerap terjadi. Yang lebih gila, sebuah media parodi bertajuk News dot Com, sempat akan digugat atas pencemaran nama baik. Dan baru-baru ini, salah-satu crew nya dikejar polisi atas kasus yang (menurut analisa beberapa pakar ) mengada-ada. Pembajakan dan tradisi plagiat juga sering terjadi, meski banyak kalangan yang membenci.
Agaknya, kata ironis harus menjadi dzikiran utama di kampus ini, serupa istighfar yang selalu dibaca dan dilafalkan untuk tenangkan diri dari dosa yang kelam. Ironis, jika sebuah komunitas intelektual, menghalalkan plagiat dalam sebuah karya yang diterbitkan. Lebih ironis ketika ternyata akademisi bersikap anti kritik. Yah ironis, ternyata budaya akademis yang didengungkan selama ini, hanya untuk membungkam kritik mahasiswa atas lembaga yang menaunginya. Ironis, khan? Jika kritik dianggap sebagai budaya politis. Ironisnya lagi, beberapa pejabat kampus juga enggan membaca kritik dari mahasiswanya, kritik telah menjadi tabu. Karena seorang murid (baca; mahasiswa) tak layak mengkritik gurunya (dosen dan pejabat kampus). Bahwa murid harus selalu taat atas segala kebijakan yang tidak aspiratif sekalipun.
Padahal jika merujuk pada tradisi Islam (kampus tempat ini bernaung berlabel kampus islam), kritik dianjurkan oleh Tuhan, bahwa tawaasau bilhaq wa tawaasaw bis shabr (Al-Ashr; penggalan ayat terakhir) saling mengingatkan dalam kebenaran dan saling ingatkan dengan sabar adalah doktrin Ilahiyyah.
Kadang kritik memang memerahkan telinga, kritik pedas yang menohok tak jarang membuat hati kecut. Tapi layaknya komunitas intelektual, kritik mestinya dibalas kritik. Sesuatu yang disiarkan media juga tidaklah anti kritik. Karenanya, pemirsa, pembaca dan masyarakat penikmat media memiliki hak jawab dan hak koreksi yang dilindungi oleh undang-undang yang sama, yakni UU Pers (Pasal 5 ayat2) “Pers Indonesia Wajib memberikan hak jawab” dan Kode Etik Jurnalistik (pasal 11) “wartawan Indonesia melayani hak jawab dan hak koreksi secara proporsional”.
Apa jadinya peradaban kita, jika komunitas intelektual saja bersikap anti kritik? Apa jadinya bangsa ini, jika kemerdekaan berpendapat dan berekspresi masih dikebiri? akankah budaya akademis berkembang, jika karya plagiat lebih dihargai dari sebuah kritik? Ternyata saya, anda dan kita semua masih perlu mengikuti banyak proses pembelajaran.


[1] Penulis adalah mahasiswa IAIN Banten, Fakultas Syariah, jurusan Jinayah Siyasah. Pengaji di Umbruch Cercle, dan pengurus LPM SiGMA.

[1] Dari arsip SiGMA yang ada, tahun 1997 hingga saat ini, Pelatihan Jurnalistik rutin diselenggarakan SiGMA setiap tahunnya.(bisa jadi Pelatihan Jurnalistik SiGMA telah berlangsung sejak tahun 1990 ketika SiGMA edisi pertama terbit)
[1] Undang-undang Hak Cipta selalu diperbaharui, dari UU no 6 tahun 1982, ke UU nomor 7 tahun 1987, hingga UU nomor 19 tahun 2002 tentang Hak Cipta. Dalam pasal 2 disebutkan : Hak Cipta merupakan hak eksklusif bagi pencipta atau pemegang Hak Cipta untuk mengumumkan atau memperbanyak ciptaanya, yang timbul secara otomatis setelah satu ciptan dilahirkan … dst.

0 komentar:

luvne.com ayeey.com cicicookies.com mbepp.com kumpulanrumusnya.com.com tipscantiknya.com