Gusdurian

Surat Terbuka Untuk Politisi Banten

Terkhusus untuk para politisi Banten, yang sedang bersiap,menghadapi Pilkada 2017 nanti, sudahi dulu lah debat kusir tentang siapa cal...

Sabtu, 29 Maret 2008

Literasi Banten saat ini


Membaca dan menulis (literasi) merupakan cerminan tingginya peradaban. Doktrin keagamaan dengan kitab sucinya, juga menekankan pentingnya tradisi literasi. Bahkan dalam Islam, tugas awal yang diemban Nabi Muhammad adalah perintah untuk membaca. Hal ini diperkuat dengan tradisi penulisan Al-Qur’an dan berbagai perangkat pendukungnya, seperti; hadist, tafsir, fiqh, tauhid dan tasawwuf juga diwariskan dengan jjalan literasi.
Literasi pulalah yang mengantarkan Banten sebagai salah satu pusat peradaban di Nusantara. Keberadaan Syekh Nawawi Al-Bantani yang dikenal produktif dalam menulis telah berjasa memperkuat icon Banten sebagai daerah yang berbasis budaya akademis. Tak heran jika seorang Syekh yusuf Al-Makassari berkenan singgah dan turut serta membangun peradaban Banten pada era Sultan Ageng Tirtayasa. Dalam catatan sejarah, masyarakat Banten telah mengenal beragam bentuk aksara pada kurun waktu 1500 -1800 Masehi. Dari berbagai naskah dan prasasti yang berasal dari kurun waktu yang sama, dapatlah diketahui masyarakat Banten telah menggunakan jenis huruf latin, Jawa dan Pegon, jenis huruf Arab yang disesuaikan dengan budaya jawa dan melayu, (Nina.H. Lubis, 2003; 122).
Sayangnya, keruntuhan Kasultanan Banten seakan turut mengendapkan nama Banten sebagai pusat peradaban, dan kemudian Banten lebih dikenal dengan ‘tradisi jawara’ ketimbang budaya akademis yang dibangun melalui tradisi menulis. Berbalik hampir seratus delapan puluh derajat dari tradisi leluhurnya, masyarakat terpelajar Banten saat ini, tidak sedikit yang masih gagap dalam menulis. Hal ini terbukti dengan selalu sepinya event lomba karya tulis yang diadakan beberapa pihak, juga minimnya wacana tertulis yang ditelurkan para pelajar dan mahasiswa Banten. Padahal sejatinya, teori tekhnis penulisan telah diajarkan sejak di sekolah dasar, lantas mengapa pelajar dan mahasiswa belum banyak yang mampu menelurkan wacananya dalam sebuah karya tulis?
Dua tahun lalu, tradisi literasi juga sempat ramai dibicarakan lagi di media, seiring dengan berjalannya program “Banten Membaca” yang dicanangkan oleh Pemerintah Daerah Banten. Program positif tersebut ditargetkan selesai tahun 2007 lalu. Jika Banten Membaca telah dianggap mencapai target di tahun lalu, bukankah tahun ini sudah saatnya Banten meningkat dalam tahap memasyarakatkan Budaya Menulis?
dewasa ini para penulis lokal berhasil menggambarkan realitas lokal secara jujur, Moammar Emka, Andrea Hirata, dan mungkin akan banyak lagi para penulis yang berteriak tentang multikulturalisme dari sudut lokal. mampukah masyarakat Banten menerima tantangan ini ini? semoga saja!



0 komentar:

luvne.com ayeey.com cicicookies.com mbepp.com kumpulanrumusnya.com.com tipscantiknya.com