Gusdurian

Surat Terbuka Untuk Politisi Banten

Terkhusus untuk para politisi Banten, yang sedang bersiap,menghadapi Pilkada 2017 nanti, sudahi dulu lah debat kusir tentang siapa cal...

Minggu, 30 Maret 2008

Obsesi dan pandangan*


Saya kini mampu menembus ruang di luar diri, menatap waktu yang mengalir tanpa henti, perempuan tanpa busana, lelaki bertopi buaya, mobil berlumur darah, hilir mudik mengacak benak.

Semenit lalu, saya melihat tas gendong penuh peluh, dijinjing penjaja koran berwajah cahaya, Mungkin keningnya penuh susuk, batin saya menelisik, “tidak, ia pelaku wudu yang konsisten, setiap lima kali sehari ia membasuh mukanya, ditambah pembersih muka, mungkin” saya mencoba rasional dan religius.

Di depan sana, seorang perempuan setengah telanjang tengah berdiri, kini ia terlihat tanpa busana, ah, apa gerangan yang merusak pandangan ini, semua perempuan tiba-tiba terlihat telanjang!

Andai parmenides masih ada, mungkin ia akan menertawakan rivalnya, heraclius, yang begitu percaya pada pandangan mata. Betapa tidak? Saat ini banyak pandangan yang tertipu, bahkan sekelas ketua Dewan Perwakilan Rakyat, Pentolan Pers nasional, hingga pakar hukum pun, terlena oleh kepingan koin yang dipandang berharga.

Jika para tokoh nasional mudah tertipu pandangan, apakah rasionalitas bangsa ini kemudian diragukan? Mungkin benar apa yang dikatakan Permadi, S.H, saat berbincang tentang Indonesia, bangsa Klenik? Di sebuah stasiun televisi swasta nasional, bahwa kita sebagai bangsa Indonesia sudah harus kembali ke tradisi klenik, karena ternyata, para presiden Indonesia sejak awal merdeka hingga kini, masih percaya terhadap pandangan mistik.

Naif memang, jika kita mengingkari pandangan ketimuran yang mendasari tradisi bangsa ini, lebih naif lagi kalau kita menentang globalisasi dengan menolak segala yang berbau barat.

Padahal, kalau mau dipertanyakan, sebenarnya paradoksial barat dan timur, berawal dari pandangan siapa ? kaum fundamentalis muslim, yang leterlek dalam menafsirkan kitab suci, akan dengan mudah menjawab pertanyaan tersebut, barat dan timur telah ditetapkan oleh Tuhan! Masyriq wal Maghrib, kata al-Qur’an, tapi apakah pandangan kita tentang posisi timur dan barat sudah benar sekali ?

Tulisan ini tidak bermaksud menggugat persepsi indra, karena sebagai manusia, kita berhak mengambil manfaat dari keberadaan diri dan alam, sebagai wujud syukur -bagi yang percaya akan anugerah sang pencipta-, juga sebagai bukti eksistensi diri –bagi yang keukeuh dengan kemandirian alam-.

Sayangnya, pandangan yang membumbung kadang dianggap mengganggu stabilitas, karena norma yang berlaku, memang sering memaksa penganutnya untuk membatasi pandangan. Simak saja penuturan sejarah tentang para tokoh yang terasing atau diasingkan, karena pandanganyamelampaui yang lain.


Padahal, Tuhan telah menganugrahkan mata untuk menatap indahnya dunia, Tuhan juga telah memilih mata hati sebagai cermin pembenar.

Masalahnya, kadang sekelompok orang begitu percaya dengan kebenaran pandanganya, yang sering diklaim mewakili pandangan Tuhan.


*ulisan ini pernah dimuat di bulletin fresh!!


0 komentar:

luvne.com ayeey.com cicicookies.com mbepp.com kumpulanrumusnya.com.com tipscantiknya.com