Gusdurian

Surat Terbuka Untuk Politisi Banten

Terkhusus untuk para politisi Banten, yang sedang bersiap,menghadapi Pilkada 2017 nanti, sudahi dulu lah debat kusir tentang siapa cal...

Rabu, 18 Juni 2008

Laporan dari Diskusi Publik tentang “Tinjauan Sejarah Al-Quran -Upaya Membumikan Al-Quran dalam kehidupan sehari-hari-”






Prof. Quraish: “Otentitas Al-Quran bagian dari kausalitas”

Laporan dari Diskusi Publik tentang “Tinjauan Sejarah Al-Quran -Upaya Membumikan Al-Quran dalam kehidupan sehari-hari-”


tag


Kamis (19/06) Ruang paripurna Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Banten berubah fungsi menjadi tempat diskusi Publik tentang “Tinjauan Sejarah Al-Quran -Upaya Membumikan Al-Quran dalam kehidupan sehari-hari-”. Diskusi yang dipandu oleh Meutia Hafidz (Reporter Metro TV) itu menghadirkan Prof.Dr. M. Quraish Syihab, MA, Direktur Jendral Bimbingan Masyarakat Islam (Dirjend Bimas Islam) Departemen Agama RI, Prof. Dr. Nasaruddin Umar,MA, dan Prof. Dr. Rif’at Syauqi Nawawi, MA, Gubernur Banten, Hj. Ratu Atut Chosiyah tut hadir untuk membuka acara diskusi, sekaligus mencanangkan Gerakan Wakaf Al-Quran untuk Pondok Pesantren di Provinsi Banten. Dalam kesempatan itu, telah terkumpul 2661 Mushaf, seratus diantaranya disumbangkan oleh Ketua DPRD Banten, Adi Surya Dharma.

Sekitar 700 peserta, begitu antusias mendengar uraian dari ketiga penceramah. Peserta terdiri dari pelajar Madrasah Aliyah (MAN Insan Cendikia, MAN 1 & 2 Serang serta lainnya), Mahasiswa dan perwakilan dari 33 Kafilah peserta MTQN ke-22.

Prof.Dr. M. Quraish Syihab, yang menjadi penceramah pembuka mengungkapkan tentang Sejarah pengkodifikasian Al-Quran sebagai bagian dari kausalitas yang dikehendaki Allah. Bermula dari pemilihan tokoh yang menyampaikan wahyu (malaikat Jibril) tokoh yang mengemban amanat untuk menyampaikan wahyu (Nabi Muhammad saw), tempat dan waktu penyampaian, hingga redaksi yang dipilih, merupakan bagian dari seba-sebab yang dipersiapkan-Nya untuk tujuan terpeliharanya Al-Quran.

Lebih jauh, penulis Tafsir Al-Mishbah dan buku fenomenal “membumikan Al-Quran’ itu juga memastikan bahwa Al-Quran yang dibaca pada saat ini adalah sama dengan Al-Quran yang dibaca oleh Nabi Muhammad Saw.

Pernyataan ini ditegaskan oleh Rif’at Syauqi dengan mengungkapkan bahwa orisinalitas Al-Quran semestinya mendorong umat Islam untuk mengamalkan dalam hidup keseharian. Rif’at sebagai salah satu putra daerah Banten, mempertanyakan kemampuan home industri dan wisata kuliner Banten, untuk bersaing dengan produk daerah lain, sebagai bagian dari pengamalan essensi Al-Quran. “di Medan ada mika Ambon, sebagai makanan khas daerah, bagaimana di Banten, seharusnya Banten mampu mengembangkan home industri?” menurutnya, serius mengembangkan industri juga bagian dari perintah Al-Quran.

Sementara Prof.Dr. Nasaruddin Umar, lebih membahas tentang pentingnya perumusan ulang tafsir yang disesuaikan dngan kebutuhan jaman. “Saat ini, Tim penafsir Al-Quran perlu melibatkan ekonom, ahli kesehatan hingga ahli kimia dan fisika” tuturnya.

Pada sesi pertanyaan, sempat terjadi kericuhan. Beberapa peserta sempat berebut untuk bertanya, beruntung, Meutia dapat menenangkan kericuhan sesaat itu. Seorang peserta sempat muncul pertanyaan bernada menggugat, surat keputusan bersama 3 menteri berkaitan dengan Ahmadiyah di Indonesia . menanggapi pertanyaan tersebut, semua pembicara mengaskan bahwa keyakinan Ahmadiyyah Qadiyan yang tergabung dalam Jaringan Ahmadiyah Indonesia (JAI) adalah sesat, tetapi sebagai warga Negara, mereka tetap berhak untuk mendapat perlindungan Negara (** Malik/SiGMA IAIN Banten)





0 komentar:

luvne.com ayeey.com cicicookies.com mbepp.com kumpulanrumusnya.com.com tipscantiknya.com