Gusdurian

Surat Terbuka Untuk Politisi Banten

Terkhusus untuk para politisi Banten, yang sedang bersiap,menghadapi Pilkada 2017 nanti, sudahi dulu lah debat kusir tentang siapa cal...

Selasa, 03 Juni 2008

Political Violence dan Fundamentalisme Islam (Oleh Abdul Malik)


Pada penghujung Mei 2008 kemarin, masyarakat Indonesia dikejutkan dengan berbagai kabar yang kurang nyaman. Dari rencana kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM) yang tak mempan ditentang, bentrokan polisi dan Mahasiswa demonstran yang menolak kenaikan BBM, hingga penyerangan Front Pembela Islam (FPI) terhadap aktivis Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama (AKKBB) yang sedang memperingati hari kesaktian Pancasila, 1 Juni kemarin. Serangan FPI telah mengakibatkan puluhan orang terluka, satu diantaanya anak-anak dan beberapa orang Kiai Pimpinan Pondok Pesantren dari Jawa Barat. Mengapa berbagai kekerasan ini berulang -dan seakan dibiarkan- terjadi?

Banyak asumsi yang bermunculan ketika bangsa ini dihantui berbagai kekerasan dengan tiada henti. Dan dari sekian asumsi yang ada, penulis mencoba menyoroti dari sisi political violence (konflik politik dengan cara kekerasan) dan sudut pandang ideologis kegamaan.

Political violence dapat terjadi pada pelbagai institusi dan organisasi –negara termasuk diantaranya- yang menurut Ramlan Surbakti (Memahami Ilmu Politik, 1992: 150) pada umumnya terjadi pada masyarakat-negara yang belum memiliki konsensus dasar mengenai dasar dan tujuan Negara dan mekanisme penyelesaian konflik yang melembaga.

tag


Semestinya berbagai kekerasan tidak lagi –selalu- terjadi di negeri ini. Karena Negara Indonesia, sejak lama telah memiliki consensus dasar mengenai dasar dan tujuan Negara, Indonesia juga telah sejak lama memiliki lembaga yang berkewenangan menangani konflik di tengah masyarakatnya, yang dikenal dengan Catur Wangsa: Kepolisian, Kejaksaan, Pengacara dan Kehakiman, yang kesemuanya berujung pada lembaga pengadilan. Tetapi fenomena yang ada mengatakan sebaliknya. Political Violence justru sering terjadi dan kadang malah dilakukan dan diamini oleh lembaga Negara, diantaranya kepolisian (lihat tragedy penyerangan Polisi terhadap kampus Universitas nadional dan berbagai penyerangan lain yang dilakukan masyarakat atas nama agama). Fenomena ini setidaknya menunjukkan telah melemahnya pemahaman terhadap con

sensus bersama mengenai dasar dan tujuan Negara yang telah disusun oleh para pendiri Negara ini. Fenomena ini juga menunju7kkan lemahnya lembaga pengaturan dan penyelesaian konflik yang ada.

Padahal menurut Ziegenhagen, pemerintah dapat melakukan tiga kebijakan intervensi dalam upaya mengendalikan konflik yang ada, yakni; 1. kemampuan pemaksaan secara fisik (coercive capacity) dan ancaman penggunaanya -anehnya, ini justru dilakukan hanya untuk meredam para demonstran yang mengkritik kebijakan pemerintah saja- 2. penggunaan sanksi negative atas salah satu atau kedua pihak yang berkonflik , dengan kewenangan semacam ini, pemerintah tentu dapat menghukum bahkan membubarkan organisasi yang dianggap menebar keresahan, - sayangnya, kewenangan ini kemudian hanya diberlakukan jika ada tekanan dari pihak yang mendominasi Negara-



Kekerasan yang selalu dibiarkan terjadi ini juga bisa jadi merupakan strategi politik dalam rangka pengalihan isu kenaikan BBM, satu diantara pihak yang beronflik, entah FPI ataupun AKKBB, bisa jadi berkonspirasi dengan pemerintah, untuk tujuan pengalihan issu tersebut.

Dari sudut pandang ideologis keagamaan, fenomena kekerasan ini merupakan bagian dari doktrin ideologis fundamental yang menghalalkan penggunaan kekerasan fisik (baca: Jihad) untuk menegakkan doktrin ideologis yang diyakininya. (bersambung)

1 komentar:

San mengatakan...

Pengalihan isu sepertinya memang selalu jadi pilihan untuk meredam gejolak. Cermin dari kesadaran cetek petinggi negara. Terkait kasus 1 Juni, bisa jadi pemerintah mengayuh sekali untuk melampaui 2-3 pulau.

Ngomong2, upaya mengendalikan konflik yang ketiga menurut Ziegenhagen apa, Om? Kok baru dua.

luvne.com ayeey.com cicicookies.com mbepp.com kumpulanrumusnya.com.com tipscantiknya.com