Gusdurian

Surat Terbuka Untuk Politisi Banten

Terkhusus untuk para politisi Banten, yang sedang bersiap,menghadapi Pilkada 2017 nanti, sudahi dulu lah debat kusir tentang siapa cal...

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Kamis, 10 Juli 2008

Perempuan dan kebebasan berpendapat

Sore itu, sekretariat kami di lantai dua gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) IAIN “SMH” Banten menerima kunjungan dua siswi SMA dari Pandeglang, mereka sedang mengikuti bimbingan belajar untuk persiapan masuk Perguruan Tinggi Negeri. Kami yang saat itu baru menyelesaikan proyeksi penerbitan bulletin SiGMA edisi Juni-Juli, yang -rencananya- bertema “Generasi Nyontek” memanfaatkan situasi ini untuk sekaligus mewawancarai keduanya.

Fina dan Dini, demikian nama tokoh kita ini. Fina, berjilbab gaul dan sedikit cuek dan terkesan jutek ketika kami beronondong dengan pertanyan seputar Ujian Nasional, sementara Dini, terlihat lebih kalem dengan kacamata dan jilbab lebarnya. Sejam berlalu, wawancarapun usai. Namun obrolan masih berlanjut dan beralih menjadi kenalan. Dini yang mengaku tak mampu menolak tradisi nyontek yang didukung sistem (guru dan sekolahnya) bertanya tentang fakultas dan jurusan kuliah yang saya ikuti di Kampus IAIN Banten, dengan jujur saya menjawab kuliah di Fakultas Syari’ah, jurusan Jinayah Siyasah (Pidana & Politik Islam).

Tanpa diduga, mereka kemudian bertanya banyak hal, tentang hukum Islam. Seolah ingin membalas dendam atas jebakan wawancara kami, beragam pertanyaan mereka lontarkan, bergantian. Terus terang, saya merasa dites oleh keduanya. Sesaat, pendapat yang saya lontarkan dapat mereka terima. sayangnya, saya lupa sedang berhadapan dengan Fina, yang pernah tinggal di Pesantren dan Dini, yang sedang bersemangat mengikuti kajian di salh-satu harokah Islamiah, ketika berpendapat bahwa Jilbab adalah tradisi, bukan bagian dari Syari’ah.

Berkali mereka menentang dan mencoba mematahkn pendapat saya. Sampai saya harus mengeluarkan refferensi sebuah Tafsir lama (Jalalain) dan sebuah terjemahan Al-Qur’an terbitan Bandung. Sya mencoba mengurai kata jalaba, khumur, dan aurat. Magrib pun menjelang, mereka pamit untuk pulang. Ketika bersalaman, Dini meminta saya untuk meralat pendapat, dan bertaubat. Dengan snyum terkulum (mengingat tingkah mereka, yang kukuh dengan pendapat sendiri), saya menjawab “ ya, Saya akan merubah pandangan saya, jika ada pendapat yang lebih kuat, dan dalil yang lebih sahih”. Fina yang sedari awal terlihat kurang ramah menimpali “nanti fina bawain buku yang bilang berjilbab itu wajib!”. “Saya tunggu” kata Saya singkat, menutup pertemuan kami.

Sebulan berlalu, saya pun hampir lupa dengan kejadian itu. Ujian pengesahan judul skripsi, membuat lelah, dan saya berniat rehat di Sekretariat Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) SiGMA, belum sampai di pintu ‘dapur’ redaksi SiGMA, saya terkagetkan dengan sapaan seorang gadis berkerudung penuh dan berjubah, tangannya yang menggenggam sebuah buku., membuat saya berasumsi bahwa gadis ini adalah mahasiswi baru atau teman sekelas dari salahseorang Crew SiGMA. Sya menjawab sapaanya sekedarnya, dan masuk ke ruang redaksi.

Tak lama kemudian, Nining, salah satu Crew SiGMA yang konon satu kosan dengannya, meminta saya keluar dan menemui gadis itu, kemudian mengenalkan -lagi-, bahwa gadis itu bernama Fina, “Siswi yang dulu berdebat tentang Jilbab, dengan Kaka” ungkap Nining.

Saya yang baru ngeh kemudian mencoba berramah-tamah dengannya, dan menyatakan permohonan maaf, atas kepanglingan saya yang sempat lupa karena perubahan penampilannya. “Makasih, Ka, udah ngebangkitin keberanian Fina buat lebih Syar’I” kata Fina, membuat saya sedikit limbung dengan segala kejutan yag terjadi.

Setelah berbincang dan mengingat lagi perdebatan kami tempo lalu, Fina menyerahkan lembaran kertas yang ia keluarkan dari ransel. “ini saya tuliskan dalil-dalil tntang wajibnya berjilbab, tapi dibacanya nanti, kalau Fina udah pulang” ungkap Fina, lagi. Ending dialog bulan lalu, terngiang dalam benak saya. Belum saya terima lembaran kertas itu, fina menariknya lagi. Kelucuan khas gadis tanggung, pikir saya. Agak lama kami berbincang, dan mungkin akan lebih lama lagi, jika saja seorang teman tak mengingatkan saya untuk segera mencari data di Warnet. Saya pun pamit.

Sepulang dari Warnet, Tohir, Pemred kami menyerahkan lembaran kertas bergulung, “Nih, titipan dari Fina” kata Tohir, “Apaan seh isinya, Gue kok gak boleh liat?” kata Tohir lagi. Saya membuka lembar pertama, dan menyerahkan lembaran lainnya untuk dibaca Tohir. Saya terhenyak, seorang Siswi menganggap perbincangan singkat tentang jilbab, sebagai hal yang begitu serius, sampai haru mengunmpulkan puluhan dalil dan seperangkat logika untuk menerangkan wajibnya berjilbab, bagi muslimah. Kubaca sekilas lembaran kertas itu dan kuhitung, -jika tak salah hitung, lembaran kertas itu kini hilang- tujuh halaman folio tulisan berspasi satu setengah, dengan font 12, dan tipe huruf Times news roman. Dibuka dengan pernyataan maaf atas tindakan –yang menurutnya, lancang- “saya tidak bermaksud menggurui, sekedar mengungkap kebenaran yang saya dapat dan kemudian saya yakini” paparnya setelah salam dan ungkapan say hello, khas remaja. Lima halaman setelahnya berisi kutipan ayat Qur’an dan hadist tentang aurat perempuan, serta logika “buah yang -steril- ditutup plastik, dibandingkan dengan buah tanpa kemasan, banyak disentuh, dan kadang dikerubung lalat.” Logika semacam ini pernah aku baca dalam salahsatu tulisannya Habiburrahman Eshirazy. Satu halaman terakhir, berisi doa dan harapan agar saya menemukan jalan yang benar, juga sedikit nasihat tentang pernikahan (dia bermaksud melucu, mungkin. Karena setelah nasihat ditutup dengan “he.he.”). Haru dan kagum sempat terbenak, dia meluangkan waktu untuk mencari dalil, meyakininya, kemudian menerapkannya. Siang itu, dia memang berubah, sikapnya tidak lagi lenje, dan agak dewasa. Pandangannya pun menunduk ketika berbincang, tidak menantang, seperti bulan lalu.

Saya melihat ada semangat menggebu dalam tulisan teman baru saya itu. Ternyata seorang perempuan bias begitu menggebu dalam merespon perbedaan pendapat, apalgi menyangkut keyakinan. Ini mengingatkan saya pada kisah pertentangan Aisyah dengan Ali Bin Abi Thalib, yang sempat menuai perang bertajuk perang Unta. Ya, sepeninggal nabi, Aisyah adalah salahsatu rujukan utama ummat Islam, bahkan ia dikabarkan pernah menjadi hakim pada tiga masa kekhalifahan (Abu Bakar, Umar, dan Ustman). Sementara Ali Bin Abu Thalib, sejak muda dikenal sebagai intelektual sejati yang menjunjung tinggi idealisme. Mereka pernah berbeda pendapat, dandalam sebuah pertemuan yang diketahui khalayak, Aisyah berkata, “Wahai anakku, hendaknya kalian tidak saling bermusuhan. Demi Allah, antara aku dan Ali tidak pernah ada permusuhan, hanya pertengkaran antara seorang Ibu dan anak asuhnya, dalam pandanganku, Ali adalah orang yang baik”.

Ali menyambut pernyataan itu dengan berkata, “demi Allah tidak ada apa-apa antara aku dengannya, kecuali hanya itu. Sungguh dia adalah Istri Nabi kalian di dunia dan akhirat.”

Kesetaraan Berpendapat Dalam Musyawarah

“Adikku melanggar hukum, Aku yang menjadi saksi, Paman penuntut umum, Ayah yang menghakimi, walau Ibu terus membela, yang salah diputus salah.”

Begitu kira-kira penggalan lagu kasidah yang populer di tahun 90-an, bercerita tentang proses musyawarah di tingkat keluarga, yang menempatkan Ibu sebagai pembela. Syair tersebut menjadi cermin realitas tradisi masyarakat kita kala itu. Ayah menjadi pemimpin keluarga, dan dituntut bertindak logis. Sementara Ibu menjadi pendamping Ayah yang memberi pertimbangan dalam memutuskan sesuatu, pertimbangan Ibu dianggap selalu mengutamakan perasaan.

Tradisi Islam mengenal musyawarah sebagai sarana berembuk untuk mengurai dan memecahkan persoalan bersama. Konsep musyawarah dalam Al-Qur’an terdapat dalam dua ayat popular; “Dan urusan mereka diputuskan secara musyawarah dintara mereka” (Q.S: As-Syura, 38) dan “Bermusyawarahlah (Ya Muhammad) dalam segala urusan” (Q.S: Ali Imran, 159).

Kedua ayat tersebut, dengan terang mengungkap musyawarah sebagai media komunikasi verbal antar komponen masyarakat dalam segala urusan. Rasulullah SAW sangat menjunjung musyawarah, beliau menghargai pendapat siapapun tanpa membedakan jenis kelamin, agama, dan suku. Pada masa awal kenabian misalnya, beliau mendiskusikan wahyu pertama yang diterimanya kepada Khadijah.

Dijumpainya Khadijah sambil ia berkata: “selimuti aku!” ia segera diselimuti…

“Khadijah, kenapa aku?” katanya. Kemudian diceritakannya apa yang telah dilihatnya, dan dinyatakannya rasa kekuatirannya akan terperdaya oleh kata hatinya atau akan jadi seperti juru nujum saja.

…Khadijah, tanpa kuatir atau curiga berupaya menentramkan hati Muhammad, dengan pandangan penuh hormat khadijah berkata: “Wahai putra pamanku, bergembira dan tabahkanlah hatimu, demi Dia Yang memegang hidup Khadijah, aku berharap kiranya engkau akan menjadi Nabi atas umat ini. Sama sekali Allah takkan mencemoohkan kau…” (Muhammad Hussain Haikal, dalam buku: Sejarah hidup Muhammad).

Musyawarah dalam keluarga tercermin dalam konspesi pernikahan dalam Islam, yang dipandang sebagai sesuatu yang luhur dan suci. Selain bertujuan untuk melanggengkan kehidupan manusia (melalui proses reproduksi) pernikahan juga menjadi sarana penyatuan dua orang dewasa yang didasari oleh kemauan bersama, demi mencapai keharmonisan spiritual dan emosional. Dengan menikah, dua keluarga menjadi satu dan dua kaum yang berbeda menjadi saling kenal.

Para ulama fiqih merumuskan khitbah sebagai bagian dari prosesi pranikah. Khitbah dalam tradisi masyarakat kita dikenal dengan istilah pertunangan. Sebelum bertunangan, dua insan berlainan jenis dihadapkan pada proses ta’aruf atau perkenalan. Dalam ta’aruf dan pertunangan inilah, proses musyawarah terjadi. Musyawarah yang menghargai kebebasan berpendapat bagi masing-masing pasangan. Seorang perempuan boleh memilih sendiri calon suaminya, begitupun sebaliknya.

Dan hal yang paling agung dalam etika musyawarah –dalam keluarga islami- tersirat pada larangan berkata “ah”, larangan bertindak kasar dan tidak sopan kepada Ibu dan kemudian Bapak. Nabi pernah bersabda, bahwa kebaikan utama yang pertama adalah menghormati Ibu, kedua juga Ibu, dan ketiga pun Ibu, baru selanjutnya menghormati Ayah. Meski demikian, orang tua tidak diperkenankan memaksakan pendapatnya dalam urusan nikah.

Nabi pernah mendobrak tradisi kawin paksa yang biasa terjadi di tanah Arab kala itu. Ibnu Abbas pernah menceritakan bagaimana nabi bereaksi ketika mendengar pengaduan dari seorang gadis yang dipaksa untuk menikah dengan seorang lelaki yang tidak dikehendaki oleh sang gadis yang bernama Khansa itu. Nabi menghargai keinginan Khansa untuk menikah dengan lelaki pilihannya sendiri. (cerita ini dimuat dalam berbagai kitab hadist yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Abu Daud, Daruquthni, dan Ibnu Majah). “Seorang gadis tanpa ditanyai persetujuannya terlebih dahulu, dan tanda persetujuannya adalah diamnya.” Hadist lain mengungkap hal ini secara eksplisit, bahwa “Jangan dinikahkan perempuan janda tanpa diajak bermusyawarah, dan perawan tanpa dimintai izinnya” (Hadist Riwayat Jama’ah ahli Hadist, dari Abu Hurairah. R.A.).

Dalam pergaulan rumah tangga, seorang suami dituntut menghargai istrinya dengan sebaik-baiknya. Al-Qur’an mengajarkan hak suami-istri dengan perimbangan yang setara. Keduanya dituntut untuk saling melayani. Jika istri solehah ditandai dengan baktinya kepada suami, maka lelaki yang baik dalam sabda Nabi adalah “Suami yang paling baik terhadap istrinya” (H.R Tirmidzi).

Dalam konteks yang lebih luas, sejarah Islam banyak bercerita tentang kesetaraan perempuan dan lelaki dalam bermusyawarah. Sepeninggal nabi, Aisyah adalah salahsatu rujukan utama ummat Islam, bahkan ia dikabarkan pernah menjadi hakim pada tiga masa kekhalifahan (Abu Bakar, Umar, dan Ustman). Ali Bin Abu Thalib pernah berbeda pendapat dengan Aisyah, dalam sebuah pertemuan yang dilketahui khalayak, Aisyah berkata, “Wahai anakku, hendaknya kalian tidak saling bermusuhan. Demi Allah, antara aku dan Ali tidak pernah ada permusuhan, hanya pertengkaran antara seorang Ibu dan anak asuhnya, dalam pandanganku, Ali adalah orang yang baik”.

Ali menyambut pernyataan itu dengan berkata, “demi Allah tidak ada apa-apa antara aku dengannya, kecuali hanya itu. Sungguh dia adalah Istri Nabi kalian di dunia dan akhirat.”

Sirah nabawiyah juga menceritakan, bagaimana nabi mengikuti pendapat Umar bin Khattab untuk berdakwah secara dzahir. Ketika Khandaq terjadi, Nabi juga menerapkan saran Salman Al-Farisi untuk menggali parit di sekitar madinah, kota tempat nabi dan para sahabatnya bertahan. Dalam berpolitik, Piagam madinah menjadi saksi sejarah bagaimana nabi bersikap toleran dan partisipatif dalam membangun masarakat madani bersama umat Yahudi dan Nasrani. Kala itu, sejarah berkata, bahwa tiga ummat berdampingan dengan damai dalam satu kota.

Maka tidaklah mengherankan, jika Abu hurairah beriwayat, bahwa “Tidak ada seorangpun yang lebih rajin bermusyawarah, selain Rasulullah sendiri.”

(Wallahul muwaafiq ila aqwamittharieq).

Selasa, 08 Juli 2008

Ziarah Pesantren


Kemarin lalu (24/06), aku bareng beberapa teman di SiGMA berziarah ke makam Abuya Dimyati, salah seorang Ulama legendaris Banten, beliau dikenal mengamalkan nilai sufisme dalam hidupnya. Banyak tokoh, pejabat, santri, kiai dan masyarakat umum yang berguru kepadanya. Hingga beliau wafat pada tahun 2003 lalu, kami yang berangkat saat itu, tak satupun yang sempat bertatapmuka dengan ulama ternama itu.
Rabu malam itu kami beranjak dari rumah Diki yang letaknya tak terlalu jauh dengan kompleks pesantren Cidahu (tempat tinggal dan peristirahatan terakhir Abuya Dimyati). Cidahu yang merupakan daerah pegunungan, membuat kami betah menikmati hamparan sawah yang berundak. 'Drainase' dan sistem pengairan yang tradisional, ditambah deretan gubug pesantren yang berjajar di sepanjang jalan beraspal (hotmix,bro!) semakin menyejukkan pandangan. Tidak ada gerbang atau lawang sketeng yang bertuliskan "selamat datang di komplek pesantren Cidahu", banner, plang dan papan nama pesantren pun tidak terlihat. Yang tampak hanya kibaran empat pasang bendera jumbo ukuran sekitar 1x2m, dengan warna biru dongker, terpancang di atap lantai tiga sebuah rumah, yang sedang dibangun. Rumah itu tampak anggun, dengan posisinya yang tertinggi diantara rumah lainnya, tapi tidak tampak mewah dan glamour. "itu rumah Abah Mur (K.H. Murtadlo) putra ke dua Abuya Dimyati" ujar Diki bertingkah selayak 'guide'. Rumah tingkat tiga ini agak kontras dengan majelis di seberangnya. kontras, karena majelis tersebut justru lebih layak di sebut villa.
Suasana nyaman langsung menyergap kala ku masuki area majelis bertingkat dua itu. Keramik putih nan licin, dihampari karpet berpola kubah, menguatkan kesan bahwa rumah ini adalah tempat 'ibadah' bukan villa tempat berlibur!
Interior di dalamnya membuatku terhenyak, sebuah globe dan kitab kuning tertata di atas meja setengah kaki. Lemari kayu berukir rajawali penuh kitab, menyambut kami ketika melewati ruang tengah, yang bagiku lebih mirip ruang keluarga. Lukisan Abuya Dimyati yang sedang bersarung dan menggenggam tasbih, ditambah sebuah Photo pemilik majelis yang sedang menuntun Abuya, seakan ingin memperkuat genealogi pesantren penghuni tempat ini.
Tak ada gorden yang menghalangi pandangan kami ke luar villa ini, hijaunya sawah mengitari rumah ini. Sunyi, senyap dan sepoinya angin membuatku betah untuk berlama-lama di lantai dua bangunan ini. Rangkaian kaligrafi 'ayat kursi' melengkapi ornamen yang ada di sana. Sejenak, anganku melayang, andai ku berkesempatan lebih, andai ku berdana lebih, andai ku tak dibebani tanggung jawab lebih, andai ku dapat menikmati indahnya menjadi santri, di tempat ini...





luvne.com ayeey.com cicicookies.com mbepp.com kumpulanrumusnya.com.com tipscantiknya.com