Gusdurian

Surat Terbuka Untuk Politisi Banten

Terkhusus untuk para politisi Banten, yang sedang bersiap,menghadapi Pilkada 2017 nanti, sudahi dulu lah debat kusir tentang siapa cal...

Selasa, 08 Juli 2008

Ziarah Pesantren


Kemarin lalu (24/06), aku bareng beberapa teman di SiGMA berziarah ke makam Abuya Dimyati, salah seorang Ulama legendaris Banten, beliau dikenal mengamalkan nilai sufisme dalam hidupnya. Banyak tokoh, pejabat, santri, kiai dan masyarakat umum yang berguru kepadanya. Hingga beliau wafat pada tahun 2003 lalu, kami yang berangkat saat itu, tak satupun yang sempat bertatapmuka dengan ulama ternama itu.
Rabu malam itu kami beranjak dari rumah Diki yang letaknya tak terlalu jauh dengan kompleks pesantren Cidahu (tempat tinggal dan peristirahatan terakhir Abuya Dimyati). Cidahu yang merupakan daerah pegunungan, membuat kami betah menikmati hamparan sawah yang berundak. 'Drainase' dan sistem pengairan yang tradisional, ditambah deretan gubug pesantren yang berjajar di sepanjang jalan beraspal (hotmix,bro!) semakin menyejukkan pandangan. Tidak ada gerbang atau lawang sketeng yang bertuliskan "selamat datang di komplek pesantren Cidahu", banner, plang dan papan nama pesantren pun tidak terlihat. Yang tampak hanya kibaran empat pasang bendera jumbo ukuran sekitar 1x2m, dengan warna biru dongker, terpancang di atap lantai tiga sebuah rumah, yang sedang dibangun. Rumah itu tampak anggun, dengan posisinya yang tertinggi diantara rumah lainnya, tapi tidak tampak mewah dan glamour. "itu rumah Abah Mur (K.H. Murtadlo) putra ke dua Abuya Dimyati" ujar Diki bertingkah selayak 'guide'. Rumah tingkat tiga ini agak kontras dengan majelis di seberangnya. kontras, karena majelis tersebut justru lebih layak di sebut villa.
Suasana nyaman langsung menyergap kala ku masuki area majelis bertingkat dua itu. Keramik putih nan licin, dihampari karpet berpola kubah, menguatkan kesan bahwa rumah ini adalah tempat 'ibadah' bukan villa tempat berlibur!
Interior di dalamnya membuatku terhenyak, sebuah globe dan kitab kuning tertata di atas meja setengah kaki. Lemari kayu berukir rajawali penuh kitab, menyambut kami ketika melewati ruang tengah, yang bagiku lebih mirip ruang keluarga. Lukisan Abuya Dimyati yang sedang bersarung dan menggenggam tasbih, ditambah sebuah Photo pemilik majelis yang sedang menuntun Abuya, seakan ingin memperkuat genealogi pesantren penghuni tempat ini.
Tak ada gorden yang menghalangi pandangan kami ke luar villa ini, hijaunya sawah mengitari rumah ini. Sunyi, senyap dan sepoinya angin membuatku betah untuk berlama-lama di lantai dua bangunan ini. Rangkaian kaligrafi 'ayat kursi' melengkapi ornamen yang ada di sana. Sejenak, anganku melayang, andai ku berkesempatan lebih, andai ku berdana lebih, andai ku tak dibebani tanggung jawab lebih, andai ku dapat menikmati indahnya menjadi santri, di tempat ini...





0 komentar:

luvne.com ayeey.com cicicookies.com mbepp.com kumpulanrumusnya.com.com tipscantiknya.com