Gusdurian

Surat Terbuka Untuk Politisi Banten

Terkhusus untuk para politisi Banten, yang sedang bersiap,menghadapi Pilkada 2017 nanti, sudahi dulu lah debat kusir tentang siapa cal...

Selasa, 12 Agustus 2008

Dari politisi genit, hingga oposan yang provokatif

Oleh : Abdel Malik Mughni*

Pemilu 2009 mendatang, memang memberi ruang yang cukup luas bagi kaum muda dan mahasiswa. Semangat kaum muda yang menggebu, kini banyak dipertontonkan oleh banyak tokoh, yang tiba-tiba bermunculan di media, dengan jargon yang hampir seragam; “perlunya kaum muda memimpin!”

‘Kegenitan’ berpolitik yang mereka tampilkan dalam iklan yang menghabiskan dana tak sedikit itu, bagi saya, adalah euphoria demokrasi yang terlambat. Seperti telatnya pubertas, yang dialami remaja tua. Semangat yang mereka tunjukkan, tak sejalan dengan sikap masyarakat umum, yang kini terlihat jenuh dengan hingarnya dunia politik (lihat saja besarnya persentase golongan putih, dalam setiap pemilihan kepala daerah).

Munculnya beberapa partai baru yang menargetkan kaum muda sebagai konstituen, juga membuat kelompok intelektual muda –baca: Mahasiswa- tergoda untuk terjun dalam pesta demokrasi, tak cuma sebagai tim sukses, apalagi hanya tim penggembira, kini mahasiswa punya kesempatan menjadi calon legislatif di usia muda.

Seorang teman perempuan saya yang berniat mencalonkan diri sebagai anggota legislatif daerah misalnya, teman sekelas saya itu, kini menjadi pengurus salah satu partai baru, bentukan seorang Jendral. Teman saya yang lain, juga perempuan, kini menjadi fungsionaris sebuah partai yang selalu didera konflik internal, Adik kelas saya ini juga punya niat yang sama, mencalonkan diri sebagai anggota legislatif pada pemilu mendatang. Satu lagi teman saya –satu angkatan- yang hendak maju dalam pemilu mendatang, dia dicalonkan oleh salahsatu partai berbasis organisasi mahasiswa kegamaan.

Keberanian tiga teman sekampus saya itu, tentu dialami dan dilakukan oleh sebagian mahasiswa di kampus lain. Salahkah? Tidak juga. Semua berhak dipilih dan berhak memilih. Meski kemampuan, kematangan dan komitmen mereka pada masyarakat pemilihnya belum teruji, tapi kesempatan terlibat langsung dalam pemilu legislative, memberi peluang bagi mahasiswa untuk memberikan pencerahan langsung ke tengah masyarakat. Politic education yang efektif, dapat dilakukan sambil mengampanyekan diri.

Dan jika terpilih, kemudian mampu bertahan dan memperjuangkan idealisme kemahasiswaanya, mereka tentu akan eksis sebagai kelompok muda progressif di gedung dewan nanti. Namun jika setelah terpilih, dan -seperti yang biasa terjadi- mereka terjebak dalam system yang korup, kekhawatiran akan hadirnya kaum birokrat muda yang prematur dan karbitan, juga terulangnya tragedi angkatan ‘66’ yang dikenal opportunis, bisa jadi terulang kembali. Mahasiswa yang seharusnya bersikap sebagai agent of control, yang bersikap kritis terhadap sebuah rezim, kini berebut tampil menjadi legislator.

Bagi saya, sikap terbaik bagi mahasiswa saat ini, adalah mengkaji lagi format good government yang tepat bagi bangsa ini. Besaran golput yang tidak sedikit, otonomi daerah, yang menyisakan sengketa dan perebutan wewenang antara pusat dan daerah, bermunculannya sparatisme lokal dan upaya deidiologisasi pancasila, dan membesarnya ketidakpercayaan masyarakat terhadap sistem demokrasi, adalah tugas berat yang mesti dituntaskan, dicarikan solusi, baik dalam tataran wacana, maupun tataran praktis.

Mahasiswa juga dapat memilih untuk menjadi oposan sejati dengan konsisten mengkritik sekaligus menawarkan solusi bagi pemerintah, kemudian konsentrasi dalam memberdayakan masyarakat sekitarnya, melalui berbagai program yang progressif. Dan sesekali, memprovokasi masyarakat untuk bergerak menetang kebijakan yang korup, juga boleh..

0 komentar:

luvne.com ayeey.com cicicookies.com mbepp.com kumpulanrumusnya.com.com tipscantiknya.com