Gusdurian

Surat Terbuka Untuk Politisi Banten

Terkhusus untuk para politisi Banten, yang sedang bersiap,menghadapi Pilkada 2017 nanti, sudahi dulu lah debat kusir tentang siapa cal...

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Jumat, 26 September 2008

Kebanaran Subjektif, doktrin picik yang menyeramkan

Kini aku mencoba menulis lagi, setelah dua minggu lebih aku terpuruk dalam sesal yang tidak produktif. setelah mendengar berita bentrok AKKB dan FPi yang kesekian kalinya, berontakku terhadap para tokoh agama,dan pendukungnya yang merasa benar sendiri muncul kembali.
kebenaran subjektif, kadang mematikan rasa kemanusiaan seseorang. ketika rasa kebenaran telah digenggam dalam ego, maka tak ada tempat belas kasih bagi mereka yang bersebrangan. sungguh kenyataan ironis bagi peradaban islam. aku jengah dengan doktrin-doktrin yang ditafsirkan dengan tanpa upaya rasionalisasi dan konstektualisasi, hanya menjadi virus ganas yang menyeramkan, dia menjadi seperti zombie dan drakula yang haus darah, dan bergentayangan mencari mangsa.
Sebuah ajaran sesuci, semulia, dan sekeren apapun akan berubah menjadi bara api yang membakar jiwa penganutnya, untuk bertindak irrasional, jika ditafsirkan dan dipraktikkan dengan egosentris dan mental diri yang picik dan penuh kebencian.
Maka aku setuju jika tulisan Anick HT, berjudul Provokasi berikut ini, perlu direnungkan oleh segenap kaum muslimin di negeri ini.


Provokasi
Oleh Anick HT


Jika provokasi adalah keberanian berkata tidak terhadap kezaliman di depan mata, saya harus menyatakan rasa salut saya kepada para provokator.



Ketika saya melangkahkan kaki saya melewati kerumunan massa FPI menuju kursi saksi persidangan, beberapa orang dalam kerumunan itu berteriak tertahan “majnun, majnun”. Saya meragu. Dalam sekian detik, di kepala saya sudah terumuskan dua jawaban “La ya’rifu majnun illa majnun”, dan “Laisa al-majnun illa biidznillah”. Tapi rumusan itu tak kunjung keluar dari mulut saya.



Jika provokasi adalah menyuarakan yang haq tanpa kekerasan di tengah kesemenaan yang haus darah, sebutlah kami provokator.


Ketika Istiqomah didesak, diusir dari tempat duduknya di ruang pengunjung sidang, ditarik, dihentakkan, lalu dijambak rambutnya oleh sekelompok orang yang merasa benar sendiri dan berkuasa melakukan apa saja. Ketika Nong Darol Mahmada memprotes kepada polisi yang bertugas betapa para tersangka berkeliaran dengan bebasnya di luar ruang sidang, sementara seharusnya mereka ada dalam kawalan petugas. Ketika Guntur berteriak kepada Ketua Majlis Sidang bahwa dia ditendang kakinya dan dipukul oleh
salah seorang tersangka. Ketika Ibu Musdah Mulia tetap duduk tepekur sementara dengan suara membahana kelompok mayoritas di ruang sidang berteriak-teriak “Yang tidak berdiri berarti bukan muslim”. Maka sebutlah mereka provokator.


Jika provokasi adalah menyuarakan aspirasi damai di tengah ancaman tirani intoleran yang tak terkendali, saya bangga menjadi bagian dari provokator itu.



Ketika ribuan warga Ahmadiyah terancam di kampungnya sendiri, ditutup rumah ibadahnya, diberangus haknya beraktivitas, dicerabutpaksa dari keyakinan yang menuntunnya seumur hidupnya. Ketika jutaan kelompok beragama lokal dan minoritas distempel dengan label “sesat”, tak bisa mencantumkan agama yang diyakininya dalam KTP-nya sendiri, bahkan tak diakui perkawinan dan sistem kepercayaannya. Ketika seluruh yang berbeda disebut “kafir” dan “sesat”, dan karena itu statusnya adalah warga kelas dua. Maka saya malu menjadi bagian dari “mayoritas” itu.



Ternyata provokasi hanya milik kami.



Ketika setiap saksi di persidangan diteriaki “kafir”, “sesat”, “bunuh”, “berangus”. Ketika koor “Allahu akbar” dan kegaduhan selalu mewarnai ruang sidang. Ketika seoang warga NU yang lahir besar sebagai santri, bahkan kyai, dibentak “jangan bawa-bawa NU”, “kyai palsu”. Ketika seorang ulama besar yang mantan presiden diteriaki “gila” dan “bodoh”. Ketika jaksa dan polisi bahkan dibentak-bentak ketika melaksanakan tugas negara yang mereka emban. Maka jika itu kasusebut sebagai jihad, keluarkan saya dari barisan jihadmu.


Ternyata provokasi lebih buruk daripada kekerasan.



Ketika karena alasan telah melakukan provokasi orang menjadi sah untuk dipukul. Ketika anggapan sebagai provokator memposisikan seseorang sebagai “layak dihajar”. Ketika darah yang keluar dari seorang provokator adalah sah dan memang sudah seharusnya, di negara hukum ini. Ketika tongkat pemukul dan kelewang menjadi kata jawab dari sebuah syarat bernama provokasi itu. Maka disebut negara apa sesungguhnya Indonesia?



Betapa inginnya saya menjadi provokator. Betapa inginnya saya diberi keberanian oleh Tuhan seru sekalian alam untuk mengatakan sesuatu yang sudah terumuskan di kepala saya. Betapa inginnya saya mendapatkan energi untuk berkata “tidak” di depan tirani. Betapa inginnya saya menunjukkan bahwa kuasa kekerasan harus dilawan agar tak benar-benar melahirkan Hitler-Hitler baru.



Ah, saya terlalu takut dipukul. Terlalu takut disakiti kedirian saya. Saya memang pengecut, pecundang. Saya hanya mampu berterima kasih kepada para provokator itu.

Apa makna Ramadhan bagiku?

Ramadhan tahun ini terasa kering bagiku. berbagai moment tak berhasil kumanfaatkan dengan baik. berawal dari keinginan untuk segera menyelesaikan tanggung jawab di LPM SiGMA, kekalutan terhadap penyelesaian skripsi dan beberapa nilai yang terbengkalai, mimpi untuk segera bekerja sebagai pelaku media profesional (aku membuat puluhan lamaran kerja, dan hanya dua yang kukirim), tekanan untuk mengajukan proposal program Lakpesdam NU Kota Serang, dan ambisi untuk mengikuti Ahmad Wahib Award, minggu pertama ramadhan aku disudutkan dalam ketergesaan dan kelelahan yang sangat.
Nyatanya, tak semua mampu kuraih semudah konsep yang merajang di kepala. aku berhasil melepas tanggung jawab di SiGMA, tapi rangkaian acara Musyawarah Besar yang memang direncanakan 'besar', malah berlangsung dengan amat sederhana, dan di bawah standar prosedur sebuah rangkaian acara 'besar'! skripsi, laporan akhir kuliah kerja nyata, dan upaya penyeleaian nilai, berkahir berantakan. beruntung satu nilai bisa keluar, berkat bijaknya sang Dosen. satu nilai lain masih tertahan. proposal program juga berhasil digarap, dengan konsekwensi yang sangat menyedihkan, aku gagal ikut Ahmad Wahib Award, yang sempat diperpanjang jadwal pengirimannya itu. sebab aku atk bisa membagi waktu, dan aku tak pandai dalam menetapkan prioritas. aku juga ternyata bermasalah dalam hal konsentrasi terhadap fokus yang ditargetkan.

AKu merasa kalah, dan menjadi pecundang!

Minggu ke dua ramadhan, aku terlena dalam kecewa yang mendalam. hari-hariku idhempaskan dalam tidur panjang di siang hari, berinternet ria, dan terbenam dalam Game 'Age Of Empire II' (AOE II) dan 'Red Alert'(RA). Hmm, ada kepuasan tersendiri ketika aku berhasil menytelesaikan level Hard dengan membabat 7 negara musuh dalam 'AOE II' aku juga dibuai penasaran untuk menuntaskan RA. Tarawih dan Tadarrus, menjadi tradisi asing bagiku di Ramadhan kali ini. Shaumkupun rasanya tak berarti, karena dilewati dalam tidur nan pulas. dan di minggu ini, aku tergoda oleh bujukan kawan untuk beriftar sebelum maghrib, hanya karena perjalan dari Pandeglang-Serang. semoga Dia memaklumi kelemahanku ini.

Minggu ke tiga ramadhan, aku jalani dengan sedikiti refresh, Ke Bandung, Cilegon, Tangerang, dan Berakhir di Kampunghalamanku, Karawang. dan aku kalah lagi, ketika harus bergelut menjajakan pakaian dagangan orang tuaku di sebuah toko kecil, di pasar Johar. puluhan gadis cantik berpakaian seksi yang berseliweran di pasar, membuatku kepayang, sebenarnya ini anugerah yang tak merisaukan, dan hal yang normal, bukan? yang membuatku gelisah dan merasa tak normal, adalah ketika kutergoda mengutip uang dagangan yang dipercayakan padaku, untuk membeli sebungkus rokok, sebatang coklat, dan sebotol minuman suplemen. aku menjadi tambah merasa tertekan, ketika beriftar lagi, karena lelah dan panasnya berjum'atan setelah seharian berdagang.
Maafkan aku Tuhan, brlum msmpu tunsiksn amanat dengan tepat. lebaran nanti, sanbil sungkem, aku akan meminta maaf dan keihlasan Ibu dan ayah, atas tindakanku yang tak jujur ini.
Aku malu, tak bisa menghindar dari korupsi. dan aku ragu tentang hikmah Ramadhan bagiku. tapi aku yakin Dia maha pemaaf. semoga IA ampuni dosa-dosaku.

Rabu, 10 September 2008

Tasyakkur apa Takabbur


Tasyakkur, sering dilakukan oleh mereka yg mendapat anugerah, berhasil menang dalam sebuah kompetisi, meraih prestasi atau rezeki lain yang memang diharapkan. menjelang ramadhan, banyak orang menggelar tasyakkuran, dari sekedar kirim sms, hingga menggelar pesta kecil dan mengundang para kerabat dan tetangga.

Hari lahir juga sering menjadi momentum untuk bertasyakkur. dan lihat saja beberapa waktu ke depan, menjelang pemilihan umum, saya yakin akan banyak menggelar pesta dengan dalih tasyakkur. partai-partai dan para kandidat legislatif maupun eksekutifnya akan rajin menunjukkan tasyakuran.

Minggu, 07 September 2008

rindu senja

bertahun ku ditakuti masa
bertahun ku dihantu peristiwa
bertahun ku berjaga
menantimu senja

meski tak cukup bekalku
meski ku belum puas nikmati hari
meski langit biru cerah
aku merindu mu senja

bukan asaku menghilang
tak pula cita kuterbungkam

aku jengah dengan terik surya nan pongah
aku juga takut dengan mendung membumbung

ah..
pokoknya, aku ingin segera bersua dengan mu
senja


Jumat, 05 September 2008

Hedonisme, Kekuasaan dan Senioritas

Diri rapuh, meluluh
Tengok realita mewarna
Hati bergemuruh, misuh
Dijerat fatamorgana
Bersimpuh pada sepuh yang merusuh
Mestikah?

Sepuh, sering jadi tameng bagi mereka yang beranjak tua untuk menginisiasi kaum muda dengan beragam doktrin berbau kepentingan pribadi dan kelompok kekuasaan. Jeremy Bentham, salah seorang filsuf pengusung hedonisme, berasumsi bahwa setiap hukum yang diberlakukan dalam kelompok masyrakat, berjalin-kelindan dengan pemuasan keinginan dan kesenangan yang disepakati—dan atau dipaksakan—para penguasa.

Asumsi Bentham tampaknya telah menyata dalam keseharian elit masyrakat saat ini. Simak saja realita yang banyak terjadi belakangan ini; kapitalisme global, telah lama menggurita dan mengancam kehidupan negara-begara dunia ketiga seolah menjadi hukum tidak tertulis bagi masyarkatdunia. Represifitas pemerintahan Junta Myanmar terhadap para bikhsu dan mahasiswa di Burma mengingatkan kita pada sejarah penjajahan kopeni dan penindasan rezim Soeharto.

Kekerasan atas nama agama, menguapnya tangisan para korban sumur Lapindo hingga kekerasan dalam rumah tangga dan tindakan sadistis para majikan terhadap pembantunya—tidak hanya terjadi di tanah Arab dan Malaysia di Indonesia pun kejamnya perbudakan masih kerap terjadi—serta beragam kisah dramatis lainnya yang ternyata kurang mendapat respons serius dari mayarakat dunia, bisa menjadi membuktikan membudayakan sikap hedonis.

Dalam ranah lokal, semangat primordialisme yang menyubur dengan bumbu formalisasi tradisi agama dan keyakinan tertentu, memperkuat pembuktian asumsi Bentham. Hedonisme telah menjadi rujukan bersama, mengutamakan kepuasan, kesengan, dan kenikmatan sebagai tujuan bersama. Upaya pemuasan ego primordial begitu kentara dalam beragam manuver para elit di tingkat lokal. Maraknya sparatisme, pengagungan berlebih terhadap simbol-simbol keyaikinan lokal—termasuk agama dan adat lokal—mencerminkan kehausan eksisitensi diri dan kelompok.

Eksisitensi kedaerahan yang gencar diusung, sebenarnya dapat dijadikan amunisi dalam persaingan global, upaya meningkatkan citra daerah di mata nasional dan internasional. Tapi globalisasi mensyaratkan tingginya kualitas, yang natinya akan menumbuhkan ‘brand image’ simbol yang diagungkan. Bukan sebaliknya, mengusung simbol, tanpa memperhatikan kualias produk.

Tradisi pengagungan simbol mewajarkan pengabaian terhadap hak-hak masyarkat. Tidak mampu menjalankan good governance dan membentuk masyarakat madani, maka beragam event bertajuk agama pun digelar, dengan segala pengagungan terhadap simbol-simbol keagamaan, seperti menutup luka dengan kain sutra. Agar terlihat bertaqwa, simbol-simbol keagamaan mesti dimegahkan, kesejahteraan masyarakat tidak lagi menjadi tujuan. Meski melarat, masyarakat dapat dipuaskan dengan doktrin keagamaaan dengan pengagungan simbol, meski kualitas pendidikannya payah, asalkan masjidnya megah.

Hal serupa terjadi juga di lingkungan akademis, senioritas begitu kental dan berpengaruh terhadap kebijakan para pemimpin kelompok akademis. Karena terbilang tua, maka segala polahnya yang minus dimaklumi, cacat dan kekurangannya harus ditutup rapat, meski dengan jalan yang kurang elegan, segala cara dihalalkan untuk meningkatkan pamor.
Berbahagialah para sesepuh dan pemimpin masyarakat di daerah kesultanan ini, jawaraisme mengukuhkan, mewajarkan rezim otoritarian dan hedonitas senioriti, karena yang tua tak pernah salah, jikapun salah, pini sepuh dan penguasa selalu—ingin—benar
.

Mencintai Cinta

Cinta, kata yang tak pernah usai dibicarakan banyak orang. Bahkan Tuhan menamakan dirinya sebagai Ar-Rahman, Sang Pengasih, juga Ar-Rahim, Sang Penyayang. Kasih-sayang-Nya itu disandingkan dan dianjurkan untuk selalu diucapkan, ketika seorang yang beriman, memulai sebuah kebaikan. Maka kasih-sayang, dan kebaikan semesetinya mendarah-daging dalam diri setiap mu’min. Inikah cinta? Sebuah kebaikan yang didasarkan pada kasih sayang? Entahlah. Saya tak terlalu yakin dengan itu. Sebab Plato yang jenius pun tak sanggup mendefinisikan cinta.
Tapi, dulu seorang ulama bernama Ibnu Jauzy, mengklasifikasikan cinta dalam empat kategori. Saya sempat membaca klasifikasi cinta ala Ibnu Jauzy itu dalam sebuah buku terjemahan, yang saya sendiri lupa judulnya. Kono, cinta itu ada yang sekedar dating, kemudian pergi, itulah cinta yang hanya menempel di sisi kalbu. Ada pula cinta yang agak sulit dilupakan, itulah cinta pertama. Ia hampiri kalbu yang resah, kemudian menetap lama di sanubari. Tapi cinta pertama masih dapat dilupakan, seiring dinamika kalbu.
Yang ketiga adalah cinta yang menusuk kalbu. Cinta buta yang sulit disirnakan. Ketika dipaksa untuk dicabut, niscaya kalbu itu akan merasakan sakit yang sangat, bisa jadi menimbulkan kematian. Terkahir, -kalau tidak salah- adalah cinta yang menggores kalbu. Inilah tempat pecinta yang tersakiti. Kategorisasi ini belum tentu benar adanya, sebab buku sumbernya pun aku telah lama tak membacanya lagi.
Dulu aku pernah mengalami rasa suka yang rumit. Sophisticated, kata orang filsafat. Mungkin itulah cinta yang pernah kurasakan, begitu kuat menancap di benak. Sulit dilupakan. Dan yang mengherankan, aku suka dan sayang dia dengan tanpa alasan yang logis. Tak ada yang begitu istimewa darinya. Cerdas, tidak seberapa. Sifat dan sikapnya pun bukanlah tipe yang kuidamkan. Cantik? Mungkin iya, bagiku. Tapi bukankah cantik itu relatif? Aku menyayanginya, hanya karena aku merasa berarti dihadapnya.
Gadis lugu yang manja, dan sering menangis di depanku. Aku suka dia, karena dia jadikan aku luapan hatinya. Setiap ada masalah, dia hampir selalu menangis di hadapku. Padahal, aku tak penah memberinya solusi atas masalah yang didapatnya. Aku pun tak pernah mendiskusikan masalahku dengannya. Sebab aku tau, dia takkan mengerti masalah yang kuhadapi.
Bekali kucoba tepiskan keinginan untuk memilikinya, berkali pula aku gagal. Dan, saat itu, aku hanya ingin memiliki, tanpa nilai guna yang kumengerti. Ya, saat itu, aku tak inginkan tubuh seksinya. Aku juga tak perduli wajah cantiknya. Dia tak pernah membantuku selesaikan persoalan, dan tak jarang, justru ia yang membawa persoalannya kepadaku. Artinya, saat itu, dia malah menjadi bebanku. Tapi kenapa aku justru menyukainya? Hingga bertahun lalu aku masih sulit melupakannya. Padahal, kami sudah jarang berkomunikasi, apalagi bertemu muka. Sebab kini kami berjauhan tempat dan hati.
Baru dua tahun lalu aku bertekad melupakannya, sebab ia tak pernah memberi jawaban pasti atas keinginanku untuk meminangnya, nanti. Aku bosan dengan jawabnya yang tak menentu, “mengenai tunangan, bagaimana nanti saja”. Aku merasa sangat bodoh, jika mengingat penantian panjangku terhadapnya. Ya, aku memang tak pernah ungkapkan rasa cinta kepadanya, tapi keinginanku yang serius untuk memilikinya secara sah, melalui pertunangan, dan kemudian menikah. Bukankah itu lebih dari kata cinta? Memang saat itu, kami belum layak menikah, sebab kami masih sama-sama sekolah, tapi merencanakan masa depan, adalah sah, bukan?
Ha.ha, aku jadi malu dengan gaya tulisanku yang terlalu emosional ini. Ya, itu dulu, ketika ku masih mengaggap sakral, kata cinta. Kini, cinta tak lebih dari sebuah transaksi bagiku. Harus ada take and give dan komitmen yang disepakati bersama. Cinta tak lebih dari permainan. Aku akan memberikan kasih-sayangku, secara utuh, ketika ku mendapatkan rasa nyaman, aku akan memebrikan’cinta’ku, jika aku measa puas dengan pelayanan yang didapat. Maaf, bukan pelayanan fisik, seperti seks dan sejenisnya, tapi pelayanan hati, yang kucari. Ketika aku merasa terbantu, maka aku akan membantu. Ketika diberi sebuah kebaikan, kubalas kebaikan itu semaksimal mungkin, semampuku. Tapi ketika merasa sakit, aku akan sulit menghapusnya dari ingatan. Ketika kepercayaanku telah ternodai, maka tak ingin lagi kupercayakan sesuatu, seutuhnya, kepada mereka yang telah berkhianat. Kecuali mereka bertobat, hmm.
Arogan, kah? Tidak, juga, bukankah hidup ini pilihan? Dan aku memilih untuk tidak bertindak jahat kepada siapapun, tapi ketika aku dijahati, maka aku akan bebuat baik sesuka hatiku.
Aku sadar, sikap tersebut kurang bijak, sebenarnya aku ingin meniru kasih-sayang Tuhan, yang tidak pandang bulu, tapi hal yang amat baik itu, belum mampu kulakukan secara tulus. Tapi aku akan berusaha sepenuh hati, untuk bisa mencintai cinta dengan tulus. Menyayangi semua orang, tanpa syarat, bisa kah? Semoga saja.
*(Tulisan ini spontan kutuangkan,
ketika membaca pertanyaan Thoink, tentang cinta.)
.


Selasa, 02 September 2008

Menunggu itu..

menunggu itu jenuh
ketika kita berharap datangnya masa

penantian

menunggu itu lelah
ketika kita tak punya pilihan


menunggu itu menegangkan
kala kita bingung akan sebuah kejutan yang menghadang

menunggu itu asyik
ketika kita tak perduli

menunggu itu anugerah
ketika kita perlu persiapan

menunggu tak sekedar menghitung waktu
menunggu tak cuma melatih sabar
penantian adalah harapan dan realita
yang tersekat -mungkin- hanya sedepa.


.
luvne.com ayeey.com cicicookies.com mbepp.com kumpulanrumusnya.com.com tipscantiknya.com