Gusdurian

Surat Terbuka Untuk Politisi Banten

Terkhusus untuk para politisi Banten, yang sedang bersiap,menghadapi Pilkada 2017 nanti, sudahi dulu lah debat kusir tentang siapa cal...

Jumat, 05 September 2008

Hedonisme, Kekuasaan dan Senioritas

Diri rapuh, meluluh
Tengok realita mewarna
Hati bergemuruh, misuh
Dijerat fatamorgana
Bersimpuh pada sepuh yang merusuh
Mestikah?

Sepuh, sering jadi tameng bagi mereka yang beranjak tua untuk menginisiasi kaum muda dengan beragam doktrin berbau kepentingan pribadi dan kelompok kekuasaan. Jeremy Bentham, salah seorang filsuf pengusung hedonisme, berasumsi bahwa setiap hukum yang diberlakukan dalam kelompok masyrakat, berjalin-kelindan dengan pemuasan keinginan dan kesenangan yang disepakati—dan atau dipaksakan—para penguasa.

Asumsi Bentham tampaknya telah menyata dalam keseharian elit masyrakat saat ini. Simak saja realita yang banyak terjadi belakangan ini; kapitalisme global, telah lama menggurita dan mengancam kehidupan negara-begara dunia ketiga seolah menjadi hukum tidak tertulis bagi masyarkatdunia. Represifitas pemerintahan Junta Myanmar terhadap para bikhsu dan mahasiswa di Burma mengingatkan kita pada sejarah penjajahan kopeni dan penindasan rezim Soeharto.

Kekerasan atas nama agama, menguapnya tangisan para korban sumur Lapindo hingga kekerasan dalam rumah tangga dan tindakan sadistis para majikan terhadap pembantunya—tidak hanya terjadi di tanah Arab dan Malaysia di Indonesia pun kejamnya perbudakan masih kerap terjadi—serta beragam kisah dramatis lainnya yang ternyata kurang mendapat respons serius dari mayarakat dunia, bisa menjadi membuktikan membudayakan sikap hedonis.

Dalam ranah lokal, semangat primordialisme yang menyubur dengan bumbu formalisasi tradisi agama dan keyakinan tertentu, memperkuat pembuktian asumsi Bentham. Hedonisme telah menjadi rujukan bersama, mengutamakan kepuasan, kesengan, dan kenikmatan sebagai tujuan bersama. Upaya pemuasan ego primordial begitu kentara dalam beragam manuver para elit di tingkat lokal. Maraknya sparatisme, pengagungan berlebih terhadap simbol-simbol keyaikinan lokal—termasuk agama dan adat lokal—mencerminkan kehausan eksisitensi diri dan kelompok.

Eksisitensi kedaerahan yang gencar diusung, sebenarnya dapat dijadikan amunisi dalam persaingan global, upaya meningkatkan citra daerah di mata nasional dan internasional. Tapi globalisasi mensyaratkan tingginya kualitas, yang natinya akan menumbuhkan ‘brand image’ simbol yang diagungkan. Bukan sebaliknya, mengusung simbol, tanpa memperhatikan kualias produk.

Tradisi pengagungan simbol mewajarkan pengabaian terhadap hak-hak masyarkat. Tidak mampu menjalankan good governance dan membentuk masyarakat madani, maka beragam event bertajuk agama pun digelar, dengan segala pengagungan terhadap simbol-simbol keagamaan, seperti menutup luka dengan kain sutra. Agar terlihat bertaqwa, simbol-simbol keagamaan mesti dimegahkan, kesejahteraan masyarakat tidak lagi menjadi tujuan. Meski melarat, masyarakat dapat dipuaskan dengan doktrin keagamaaan dengan pengagungan simbol, meski kualitas pendidikannya payah, asalkan masjidnya megah.

Hal serupa terjadi juga di lingkungan akademis, senioritas begitu kental dan berpengaruh terhadap kebijakan para pemimpin kelompok akademis. Karena terbilang tua, maka segala polahnya yang minus dimaklumi, cacat dan kekurangannya harus ditutup rapat, meski dengan jalan yang kurang elegan, segala cara dihalalkan untuk meningkatkan pamor.
Berbahagialah para sesepuh dan pemimpin masyarakat di daerah kesultanan ini, jawaraisme mengukuhkan, mewajarkan rezim otoritarian dan hedonitas senioriti, karena yang tua tak pernah salah, jikapun salah, pini sepuh dan penguasa selalu—ingin—benar
.

0 komentar:

luvne.com ayeey.com cicicookies.com mbepp.com kumpulanrumusnya.com.com tipscantiknya.com