Gusdurian

Surat Terbuka Untuk Politisi Banten

Terkhusus untuk para politisi Banten, yang sedang bersiap,menghadapi Pilkada 2017 nanti, sudahi dulu lah debat kusir tentang siapa cal...

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Jumat, 31 Oktober 2008

ISlam Indonesia

Pagi ini, aku meraih lagi setitik kebanggaan terhadap Indonesia. Ya, pagi ini, setelah aku tak jadi menggarap skripsi, dan malah membuka beberapa situs dari para bijak-bestari tradisional, aku melihat Indonesia dari sisi positif. Setelah lama terpengaruh oleh Puisi Taufik Ismail, yang membuatku turut "turut malu menjadi orang Indonesia", setelah bertahun aku sedih melihat bangsa yang selalu bermuara pada anarkhisme dan arogansi para pengklaim kebenaran subjektif, setelah berkali aku dibuat bingung oleh orang-orang yang kukagumi, kini aku -seolah- menemukan pintu keluar dari wabah inferioritas yang lama menjangkit dan mewabah dalam dalam hampir semua diri anak bangsa.

Semalaman, aku membaca essainya Cak Nun (Emha Ainun Nadjib), aku juga menyimak tulisan-tulisan Gus Mus (K.H. Musthofa Bisri), beberapa tulisan Gusdur, dan beberapa artikel lain dari numesir.org, sekumpulan tulisan sekelompok anak muda NU yang kuliah di Mesir. Mereka memandang negeri ini dari persfektif lain. Kultur dan tradisi masyarakat, dibaur dengan anasir sejarah, dana beberapa tafsiran 'khas' atas teks-teks keagamaan.

dari CakNun, aku mendapat terma "Maiiyyah", kebersamaan, sebagai sebuah paradigma sosial. dari GusMus, aku mendapat 'berkah' sufisme yang sedikit mistis, namun menarik meski kadang dibumbui parodi. dari GusDur, aku mendapat kekayaan tradisi, dan dari anak-anak muda Nu di Mesir, aku melihat transformasi keagamaan yang membumi. Beragam wacana tersebut, tidaklah terlalu asing, sebenarnya, tapi membaca lagi karya mereka, menyimak lagi pemikiran mereka dalam membahas fenomena yang menghampiri bangsa ini, memberiku nilai tertentu, seolah tercerahkan setelah lama dihantui kengerian melihat bangsa ini, (ha.ha, aku jadi ingin tertawakan diri. Masa depanku saja belum jelas, aku kok, sempat-sempatnya gelisah melihat bangsa ini? sok penting banget, ya? tapi tak apalah, kadang memikirkan hal di luar diri itu mengasyikkan, dan sesekali merenungkan nasib bangsa juga tak salah, bukan? he.he.)

Cak Nun, yang 'mbeling' ternyata dilirik oleh para pengusung fundamentalisme agama. bahakn pernyataannya dalam sebuah acara komunitas, kemudian dikutip sebuah partai dan organisasi yang selama ini dikenal puritan, dan bukan tidak mungkin, kutipan pernyataannya, dijadikan bahan kampanye, padahal, jika disimak lebih jauh, support Cak Nun terhadap partai dan kelompok tersebut, adalah ekspectasinya agar mereka yang puritan, berubah terbuka, mereka yang fundamental, menjadi moderat, mereka yang sok eksklusif, menjadi inklusif, dan mereka picik terhdap tradisi, menjadi bijak.

"PKS sekarang sedang berada dalam posisi punya presisi mana yang sebaiknya dimaterikan, mana yang sebaiknya digerakkan sebagai energi, dan mana yang mesti frekuensi. Kalau overmateri, bisa-bisa PKS diarani (dibilang) ini itu. Apalagi sekarang Islam sedang dikuyo-kuyo, KS jadilah kertasnya Allah. PKS jadilah mangsi (tinta)-nya Allah...." Pemimpin Kiai Kanjeng ini juga melanjutkan, bahwa "PKS harus menghormati kraton-kraton yang ada.
Pada bagian lain, Caknun juga menasihati pengurus Hizbut Tahrir, yang sowan kepadanya "Dalam politik dan kebudayaan muncul stigma yang sangat sulit, yaitu bahwa Islam itu musuhnya demokrasi. Ini berlaku secara internasional. Kita sering menjadi pelanduk stigma itu. Kalau tidak demokrasi, ya Islam. Atau sebaliknya. Padahal demokrasi itu bagian kecil saja dari demokrasi, kadang-kadang diperlukan, kadang-kadang tidak. Demokrasi dibutuhkan pada proporsi tertentu. Nah, saya tidak mau menjadi korban stigma itu. Saya cairkan semuanya ke dasar-dasar nilai semula...,"(http://padhangmbulan.com/info/4-berita).

Pernyataan awal Cak Nun (tentang PKS) kemudian diklaim sebagai dukungan, dan dijadikan bahan kampanye. Padahal, jika menyimak lebih lanjut, CakNun jelas memberikan harapan yang mustahil, sekaligus sindiran tajam, kepada PKS, "Kalau overmateri, bisa-bisa PKS diarani (dibilang) ini itu" sikap materialistis, memang menjangkit di kalangan mereka, maeterialistis dalam hal politik, juga materialistis dalam hal syari'ah. kemudian, pernyataan PKS harus menghormati kraton-kraton yang ada"
saya pikir adalah hal yang mustahil bagi PKS, sebab, jika mau jujur dan idealis, PKS tentu berseberangan dengan tradisi Indonesia, yang diusung mereka, kan (kalu jujur, dan tidak munafik,) adalah reduksi dari gaya Ikhwanul Muslimin. begitu juga dengan restunya, kepada HT, sebenarnya berisi kritik tajam terhadap nalar mereka yang kacau, tentang khilafah islamiyah, yang ternyata juga berbau demokrasi.

Tapi yang menarik buatku bukanlah sindiran dan kritik terhadap mereka, yang emnarik buatku, adalah bagaimana respon mereka yang dikritik, justru malah -seolah- mendapat restu dan dukungan dari CakNun, kritik, yang membesarkan hati, (kalau tidak dikatakan geer, he)

tokoh selanjutnya, yang membuatku sedikit terhibur, adalah Gusmus (K.H. Musthofa Bisri), yang mengkritik Gusdur, dan kemudian, mengagungkannya. Tiba-tiba saya teringat analisis seorang kawan yang melihat Gus Dur /PKB dari prespektif "kewalian". Dia memulai dengan menceritakan kisah Nabi Musa dan Nabi Khidir. kata GusMus, yang kemudian dialnjutkan dengan analogi Khidir yang membocorkan perahu tumpangannya. Kalau kiai-kiai yang dulu mati-matian mendukung Gus Dur itu paham, mereka tidak akan mendirikan partai baru," katanya. "Mereka mendirikan partai baru karena jengkel dengan kelakuan awur-awuran Gus Dur dalam memimpin PKB. Padahal, Gus Dur memang sengaja membuat mereka jengkel agar mereka benci dan meninggalkan kehidupan kepartaian yang awur-awuran."

"Sekarang ini," kata si kawan melanjutkan "analisis"-nya, "justru menjelang Pemilu 2009 Gus Dur seperti sengaja membunuhi anak-anaknya sendiri dan merusak perahunya yang bernama PKB. Karena "perahu" itu milik orang-orang miskin; jangan sampai dirampas dan dipakai oleh orang-orang yang hanya ingin memperkaya diri, termasuk anak-anaknya sendiri. (celaka 13/www.gusmus.net)" meski mengaku jengkel, namanya sering dicatatut sebagai deklarator PKB, dan kesal terhadap sikap Gusdur, tapi Gusmus masih melihat itu semua sebagai hal positif yang tersembunyi.

yah, uniknya orang NU, memang melihat sesuatu tidak dalam perspektif tunggal, karenaya, selalu aa sisi positif yang dianggap sebagai salahsatu hasil dari sesuatu. begitulah tradisi yang masih dipelihara sekelompok anak muda Nu yang sedang tinggal di Timur tengah. sementara Gusdur, tak henti berkontroversi, dengan gaya 'pendekar mabuk'a nya, dalam membela beberapa kelompok yang justru dibenci sebagah dari bangsa beradat ketimuran ini.
, Islam Indonesia itu memang majemuk, dan ini harus disyukuri, dengan tidak bertindak arogans, dan terlelu percaya diri, atau bahkan ge-er!

Kamis, 30 Oktober 2008

Dagang -in- Kecap Obama

Majalah Gatra bulan ini memprediksi Obama akan menang mutlak dalam pemilu Amerika Serikat (AS), November ini. Laporan itu disampaikn wartawannya langsung dari negeri paman Sam. Media-media lain di AS juga sama, meramalkan kemenangan Obama, sebab ia dianggap tokoh transformasional. Demam Obama dimanfaatkan juga oleh partai-partai di Indonsia, saatnya tokoh muda memimpin! Begitu jargon yang diusung. Konon, Obamaisme memang merasuk ke hampir seluruh dunia.


Tapi di negeri ini, Obamaisme tak lebih dari tradisi ‘jualan kecap’. Para tokoh yang mengaku masih muda, ramai mempromosikan diri, tanpa diminta. Beberapa partai juga memanfaatkan gejala obamaisme untuk merangkul kaum muda, dengan mengiklankan tokoh muda yang dimilikinya.

Bagiku mereka tak lebih baik dari para salesman. Ramai-ramai berpromosi diri, padahal kualitas dirinya dipertanyakan. Ada yang pamer kekayaan, ada juga yang pamer ilmu dan idealisme, padahal hamper semua kalangan intelektual tahu, dia yang pamer kekayaan, menjadi pimpinan partai karena uang. Hampir semua juga tahu, dia yang pamer ilmu dan idealisme, ternyata adalah actor penjualan asset Negara kepada komprador asing. Dan semua juga tahu, tokoh yang diklaim muda dan layak memimpin oleh sebuah partai, bahkan tak mampu berbuat apa-apa ketika dia memimpin parlemen. Hanya berita pernikahannya saja yang sempat membuat heboh, lainnya? Tak lebih dari dagang kecap!


Obama, memang menginspirasi kaum muda. Termasuk mengisnpirasi segenap kaum muda yang tak pandai berkaca diri, dengan tiba-tiba mengklaim diri layak menjadi pemimpin, padahal track reccordnya, seperi kaset kusut yang diputar dengan tape yang berusia satu abad.


Banyak orang Indonesia pandai mengambil momentum. Untuk kepentingan diri dan kelompoknya. Hal yang wajar, dan baik, ketika kepentingan itu ditransformasikan dengan kerja keras dan semangat membara. Tapi yang kurang ajar, momentum itu dicuri untuk kepentingan diri, dan kelompok, atas nama Bangsa Indonesia.


Maka, jangan heran bila nanti para pedagang kecap itu yang jadi, asset Negara mungkin akan habis dijual, dan atau, para pejabat yang akan dating, lebih pandai lagi berteater, dengan pameran senyum kharismatik, dan elegant, hasil kursus kepribadian. Para pejabat itu nantinya akan lebih banyak menghadiri undangan dari beragam kalangan dan organisasi, termasuk undangan nonton bareng, tanpa mampu menyelesaikan problem serius bangsa ini. Mereka berlomba meniru gaya Obama, tapi tak mampu meniru kharisma, kecerdasan, idealisme, semangat, dan track record Obama yang fenomenal.

Lulus Pada Waktunya!

Judul tulisan ini mungkin mirip sebuah filosofi atau kalimat-kalimat bijak yang terdapat dalam syair atau puisi; Indah pada waktunya.


Aku mendengar kalimat “Lulus pada Waktunya” dari teman sekelasku, Ita Nurul Masyitoh namanya. Dia mahasiswi biasa, yang –dalam pantauanku- menikmati kelajangannya. Akrab dengan kosmetik, kadang ngerumpi, dan bergenit ria. Kuliah baginya dalah bagian dari siklus kehidupan yang taat dijalani. Tapi nilai tak begitu penting baginya, tugas-tugas kuliah, hingga pilihan skripsi yang ia garap tidak neko-neko, yang penting lulus pada waktunya! Begitu katanya dari ujung telepon. Ya, siang tadi aku menghubungnya, skedar bertukar kabar dan informasi. Kabar terbaru darinya, adalah sidang skripsi yang akan ia jalani esok hari, dan pencalonan legislatif dari sebuah partai baru yang ia ikuti. Dari gadis biasa, kini Ia –akan- menjelma salah seorang yang luar biasa. Beberapa kalimat bijak lainnya juga kerap keluar dari mulutnya kini.

Jangan mikirin yang lain dulu, fokuslah pada skripsi, agar kamu segera lulus. Percuma rasanya, dikenal sebagai aktifis, dianggap cerdas dan kritis, tapi lulus tidak tepat waktu. Ita aja yang cewe, bisa focus! Begitu kira-kira, kalimat bijak yang terurai darinya.

Selain Ita, ada beberapa gadis lain yang awalnya kuanggap biasa, ternyata luar biasa. Lia misalnya, dia gadis kecil berumur enam belas tahun, dan kini sedang bekerja sebagai pelayan toko baju, di kampungku. Hidupnya bagiku terkesan getir. Ayah-ibunya bercerai, dan kini Lia tinggal dengan nenek, dan Bibinya, yang menurutnya super cerewet, sehingga membuatnya tak betah tinggal di rumah. Dari tampang, pakaian dan sikapnya, aku mengira dia dari kalangan menengah ‘agak’ ke atas. Dia sering bercerita tentang masa SMP yang ia lalui dengan hura-hura dengan Ganknya. Sesekali ia juga berkelahi dengan Gank lain atau sesame peempuan lainnya,. Aku jadi teringat cerita Gank Nero. Ia menikmati betul masa indah di sekolah, tapi kemudian, ia tak berhasil mencapai target nilai Ujian Nasional, “aku enggak lulus UN” ungkapnya, masih dengan bibir yang terkembang, “ bodoh banget, ya ?” hi.hi. tawanya getir. Tapi kenapa temanku yang lebih nakal, males, dan lebih oon ko malah lulus? Gak adil, khan? Keluhnya lagi. Kini ia sedang menunggu hasil ujian paket B yang ia ikuti setelah gagal lulus UN, “kayaknya sih bakal lulus, sebab hampir semua soal dikasih tahu jawabannya, he.he”.

Tak ada sedih di raut wajahnya, Meski ia mengaku sempat menangis tanpa henti selama hampir seminggu, kelugasan ceita dan senyum getirnya, menandakan Ia mampu menerima kenyataan dengan lapang hati, walau usianya belum juga dewasa. Bagiku ini cukup luar biasa.

Beberapa temanku yang lain, juga mengalami dilema kelulusan. Tak mampu mencapai target lulus empat tahun, karena memilih belajar tetang hal lain, ada yang sengaja kursus bahasa asing, (sesuai jurusan kuliah yang ditekuninya), ada juga yang terlena oleh kursus jurnalistik di Bali, beberapa lainnya, sengaja tak lulus tahun ini, karena menjabat posisi tertentu di organisasi. Mereka berani memilih, dan konsisten dengan pilihannya.

Sedang aku, masih kalut oleh berita pelaksanaan wisuda pada 03 desember mendatang, dan puluhan orang yang menanyakan kelulusanku, hm.. aku bersyukur banyak yang berharap, aku segera lulus. meski hati kecil, kadang limbung, sebab satu nilai mata kuliah menghambatku untuk lulus, belum lagi skripsi yang tak emangat lagi kugarap karena nilai yang tak keluar itu.

Organisasi yang kupimpin, belum juga jalan, sebab bingung menari dana. Lamaran kerja ku di beberapa media juga belum direspon, dan kini aku malah ikut proyek riset kependidikan, yang sesungguhnya tak sejalan dengan jurusan politik Islam yang ku ikuti, atau dunia jurnalistik yang kugeluti. Ah,, nanti juga akan lulus pada waktunya..


Sakit Jiwa

Oleh Abdul Malik Mughni,
20 persen warga Indonesia atau satu dari empat orang di negeri ini menderita sakit jiwa (koran Sindo, edisi minggu-minngu lalu). Asumsi yang dilontarkan oleh parapsikolog, beberapa waktu lalu itu mungkin benar adanya. Satu minggu ini saja aku mengalami kejadian lucu, aneh, sekaligus menyedihkan. Dua hari lalu, sebuah surat dari "Jibril ruhul kudus" lengkap dengan tandatangan Jibril (berupa inisial LE2) mampir ke kantor kami di PCNu Kota Serang. memberitahukan kebangkrutan Presiden Francis, Nicholas Sarkozy, sebagai peringatan Allah atas bangsa Indonesia, agar bertaubat, dan mengakui kerasulan Lia Eden.
Beberapa hari sebelumnya, surat yang sama juga datang dan memberi peringatan yang sama. pada surat yang lalu itu, Sang Jibril bahkan mengancam akan membuat Indonesia menderita krisis seperti Amerika, jika tidak mengeluarkan Lia dan Abdurrahman, sang nabi kerajaan eden. ancaman yang sama juga disampaikan oleh Imam Samudera, teroris Bom Bali 2. ia mengancam atas nama Allah, bahwa jika ia, Amrozi, dan terpidanamatiBom bali lainnya, jadi di hukum mati, maka Indonesia akan dibei Azab oleh-Nya. yang lebih lucu, buatku, adalah pernyataan Amrozi yang ingin menikah dua kali lagi,sebelum mati. lucu bukan? para prajurit Tuhan itu ternyata tidak betah dipenjara, mereka juga enggan menemui Tuhannya, sebagai konsekwensi jihad. gilanya lagi, masih ada juga yang berpikir tentang menikah lagi ketika ajal diujung mata.
pagi tadi juga aku diberitahu tentang tingkah Syekh Pujono Cahyo. P, yang dengan banggamengumumkan rencana pernikahannya dengan gadis usia 11, 9, dan 7 tahun. dia mentahbiskan sikapnya pada kisah Nabi Muhammad, yang menikahi Aisyah (liat Video di link ini: http://xmaro.multiply.com/reviews/item/64/APA_PENDAPAT_ANDA). ah, benar-benar gila.

Kamis, 16 Oktober 2008

Dirham & Dinar, mencari celah dalam Krisis Global


Krisis global tengah terjadi, banyak pihak -elit- yang kemudian panik dan berlomba mencari penyelematan asetnya. para pemegang saham, pengelola bursa efek, dan para eksportir serta importir (baca; pengusaha). para pejabat pemerintah juga resah menghadapi hal ini. dan hampir semua melirik Amerika sebagai biang keladi atas krisis ini. U$ Dolar, kini dibenci tapi juga dibutuhkan. ada fenomena menarik yang ditunjukkan para ekonom dunia. mereka yang berbasis sosialis, menuding kapitalisme sebagai sumber krisis, mereka yang fundamentalis, juga sama, bahkan, ekonom syari'ah mengklaim inilah saatnya dinar & dirham kembali berjaya. sebab U$ Dolar -saat ini- dan lembaran kertas berharga lain, yang selama ini menjadi alat tukar, tak sesuai dengan aturan Al-Qur'an?
beberapa hari yang lalu, misalnya, seorang penceramah ekonomi syari'ah, dengan lantang menawarkan Dirham dan dinar sebagai solusi atas krisis global, bahwa mata uang yang berjalan harus terbuat dari emas dan perak, tidak sekedar kertas. agar nilai tukarnya, bertahan, bahkan hingga 1400 tahun sekalipun.
saya tak terlalu mengerti teori ekonomi, tapi pikiran sederhana saya kemudian bertanya, apakah mata uang berlapis emas/perak itu efisien, efekstif dan praktis dalam produksi dan digunakan?
mengapa tidak kembali pada tradisi barter saja sekalian?

Malam Jum'at di Pesantren babakan.

Selepas maghrib, ribuan santri Assalafie babakan Ciwaringin, Cirebon, sibuk dengan alamnya masing-masing. Ada yang termenung, ada yang tepekur dengan tasbih di tangan, ada yang masih sibuk menghafal, ada pula yang hilir mudik ke kantin, masjid besar, maupun ke maqbaroh (komplek pemakaman para kiai), berziarah, sambil cuci-mata. Maklum, malam itu adalah malam istimewa, di mana para santri, baik putra, maupun putri, diliburkan dari kegiatan, sejak ba'da magharib, hingga waktu jamaah isya dimulai. liburan yang singkat, sebenarnya. tapi inilah libur yang ditunggu-tunggu.
Ya, malam Jum'at, bagi para santri adalah malam istimewa. bagi mereka yang taat, inilah malam terbaik untuk berdzikir, dan melakukan ritus-ritus sunnah sebagai ajang mendekatkan diri pada Tuhannya. malam ini juga konon penuh keramat, karenanya, mereka yang gemar dengan kejadugan, malam jum'at menjadi ajang lelakon yang pas. Bagi mereka yang rajin, waktu libur yang sempit pun digunakan untuk menghafal, muthola'ah, dan diskusi (tapi ini jarang terjadi, kecuali jika menjelang ujian, atau setoran hafalan).
Tapi tak semua santri berbuat bajik. adapula yang 'nyantai' (hampir senada dengan malas), sedikit selon, bahkan badung. Bagi mereka yang senang santai, malam ini jadi malam yang indah untuk mencari tempat menyepi, dan tidur sepuasnya, setelah sebelumnya, menitip agar dihadirkan dalam absensi acara marhaba dan khitobah, kepada ketua kamar.
sedang yang selon, memanfaatkannya untuk berjalan-jalan, mencari tempat ngopi, atau jajanan-jajanan yang biasanya dijajakan di area maqbaroh, dan jika 'titip absen marhaba' telah dilakukan, maka jalan-jalan bisa dilanjutkan ke rumah atau kosan kawan yang tinggal di dekat pesantren. kadang juga sekalian pulang ke rumah, dan baru kembali pada Jumat sore.
Dan bagi mereka yang badung, malam jum'at adalah malam yang aman untuk ke bioskop, atau sekedar berkencan di kosan kawan (di lingkungan Pesantren babakan, terdapat kost-kostan dan kontrakan, yang disediakan penduduk lokal, bagi pelajar yang tak betah tinggal di pesantren). ini kisah nyata delapan tahunan lalu, entah saat ini.


Cinta itu..

Di Syawal ini, aku mendapat beragam pelajaran berharga tentang Cinta. Aku kembali menikmati benih-benih cinta yang bersemai di hati. banyak hal yang ingin kuceritakan, sebenarnya. Tapi, ko sulit? yang jelas, mencintai adalah anugerah terindah yang -mungkin- dirasakan oleh setiap insan.

bersambung..

Kamis, 02 Oktober 2008

melawan provokasi dengan Teror?

Mendengar berita bentrok AKKB dan FPi yang kesekian kalinya, berontakku terhadap para tokoh agama,dan pendukungnya yang merasa benar sendiri muncul kembali.
kebenaran subjektif, kadang mematikan rasa kemanusiaan seseorang. ketika rasa kebenaran telah digenggam dalam ego, maka tak ada tempat belas kasih bagi mereka yang bersebrangan. sungguh kenyataan ironis bagi peradaban islam. aku jengah dengan doktrin-doktrin yang ditafsirkan dengan tanpa upaya rasionalisasi dan konstektualisasi, hanya menjadi virus ganas yang menyeramkan, dia menjadi seperti zombie dan drakula yang haus darah, dan bergentayangan mencari mangsa.
Sebuah ajaran sesuci, semulia, dan sekeren apapun akan berubah menjadi bara api yang membakar jiwa penganutnya, untuk bertindak irrasional, jika ditafsirkan dan dipraktikkan dengan egosentris dan mental diri yang picik dan penuh kebencian.
Maka aku setuju jika tulisan Anick HT, berjudul Provokasi berikut ini, perlu direnungkan oleh segenap kaum muslimin di negeri ini.


Provokasi
Oleh Anick HT


Jika provokasi adalah keberanian berkata tidak terhadap kezaliman di depan mata, saya harus menyatakan rasa salut saya kepada para provokator.



Ketika saya melangkahkan kaki saya melewati kerumunan massa FPI menuju kursi saksi persidangan, beberapa orang dalam kerumunan itu berteriak tertahan “majnun, majnun†. Saya meragu. Dalam sekian detik, di kepala saya sudah terumuskan dua jawaban “La ya’rifu majnun illa majnun†, dan “Laisa al-majnun illa biidznillah†. Tapi rumusan itu tak kunjung keluar dari mulut saya.



Jika provokasi adalah menyuarakan yang haq tanpa kekerasan di tengah kesemenaan yang haus darah, sebutlah kami provokator.


Ketika Istiqomah didesak, diusir dari tempat duduknya di ruang pengunjung sidang, ditarik, dihentakkan, lalu dijambak rambutnya oleh sekelompok orang yang merasa benar sendiri dan berkuasa melakukan apa saja. Ketika Nong Darol Mahmada memprotes kepada polisi yang bertugas betapa para tersangka berkeliaran dengan bebasnya di luar ruang sidang, sementara seharusnya mereka ada dalam kawalan petugas. Ketika Guntur berteriak kepada Ketua Majlis Sidang bahwa dia ditendang kakinya dan dipukul oleh
salah seorang tersangka. Ketika Ibu Musdah Mulia tetap duduk tepekur sementara dengan suara membahana kelompok mayoritas di ruang sidang berteriak-teriak “Yang tidak berdiri berarti bukan muslim†. Maka sebutlah mereka provokator.


Jika provokasi adalah menyuarakan aspirasi damai di tengah ancaman tirani intoleran yang tak terkendali, saya bangga menjadi bagian dari provokator itu.



Ketika ribuan warga Ahmadiyah terancam di kampungnya sendiri, ditutup rumah ibadahnya, diberangus haknya beraktivitas, dicerabutpaksa dari keyakinan yang menuntunnya seumur hidupnya. Ketika jutaan kelompok beragama lokal dan minoritas distempel dengan label “sesat†, tak bisa mencantumkan agama yang diyakininya dalam KTP-nya sendiri, bahkan tak diakui perkawinan dan sistem kepercayaannya. Ketika seluruh yang berbeda disebut “kafir†dan “sesat†, dan karena itu statusnya adalah warga kelas dua. Maka saya malu menjadi bagian dari “mayoritas†itu.



Ternyata provokasi hanya milik kami.



Ketika setiap saksi di persidangan diteriaki “kafir†, “sesat†, “bunuh†, “berangus†. Ketika koor “Allahu akbar†dan kegaduhan selalu mewarnai ruang sidang. Ketika seoang warga NU yang lahir besar sebagai santri, bahkan kyai, dibentak “jangan bawa-bawa NU†, “kyai palsu†. Ketika seorang ulama besar yang mantan presiden diteriaki “gila†dan “bodoh†. Ketika jaksa dan polisi bahkan dibentak-bentak ketika melaksanakan tugas negara yang mereka emban. Maka jika itu kasusebut sebagai jihad, keluarkan saya dari barisan jihadmu.


Ternyata provokasi lebih buruk daripada kekerasan.



Ketika karena alasan telah melakukan provokasi orang menjadi sah untuk dipukul. Ketika anggapan sebagai provokator memposisikan seseorang sebagai “layak dihajar†. Ketika darah yang keluar dari seorang provokator adalah sah dan memang sudah seharusnya, di negara hukum ini. Ketika tongkat pemukul dan kelewang menjadi kata jawab dari sebuah syarat bernama provokasi itu. Maka disebut negara apa sesungguhnya Indonesia?



Betapa inginnya saya menjadi provokator. Betapa inginnya saya diberi keberanian oleh Tuhan seru sekalian alam untuk mengatakan sesuatu yang sudah terumuskan di kepala saya. Betapa inginnya saya mendapatkan energi untuk berkata “tidak†di depan tirani. Betapa inginnya saya menunjukkan bahwa kuasa kekerasan harus dilawan agar tak benar-benar melahirkan Hitler-Hitler baru.



Ah, saya terlalu takut dipukul. Terlalu takut disakiti kedirian saya. Saya memang pengecut, pecundang. Saya hanya mampu berterima kasih kepada para provokator itu.

luvne.com ayeey.com cicicookies.com mbepp.com kumpulanrumusnya.com.com tipscantiknya.com