Gusdurian

Surat Terbuka Untuk Politisi Banten

Terkhusus untuk para politisi Banten, yang sedang bersiap,menghadapi Pilkada 2017 nanti, sudahi dulu lah debat kusir tentang siapa cal...

Kamis, 30 Oktober 2008

Dagang -in- Kecap Obama

Majalah Gatra bulan ini memprediksi Obama akan menang mutlak dalam pemilu Amerika Serikat (AS), November ini. Laporan itu disampaikn wartawannya langsung dari negeri paman Sam. Media-media lain di AS juga sama, meramalkan kemenangan Obama, sebab ia dianggap tokoh transformasional. Demam Obama dimanfaatkan juga oleh partai-partai di Indonsia, saatnya tokoh muda memimpin! Begitu jargon yang diusung. Konon, Obamaisme memang merasuk ke hampir seluruh dunia.


Tapi di negeri ini, Obamaisme tak lebih dari tradisi ‘jualan kecap’. Para tokoh yang mengaku masih muda, ramai mempromosikan diri, tanpa diminta. Beberapa partai juga memanfaatkan gejala obamaisme untuk merangkul kaum muda, dengan mengiklankan tokoh muda yang dimilikinya.

Bagiku mereka tak lebih baik dari para salesman. Ramai-ramai berpromosi diri, padahal kualitas dirinya dipertanyakan. Ada yang pamer kekayaan, ada juga yang pamer ilmu dan idealisme, padahal hamper semua kalangan intelektual tahu, dia yang pamer kekayaan, menjadi pimpinan partai karena uang. Hampir semua juga tahu, dia yang pamer ilmu dan idealisme, ternyata adalah actor penjualan asset Negara kepada komprador asing. Dan semua juga tahu, tokoh yang diklaim muda dan layak memimpin oleh sebuah partai, bahkan tak mampu berbuat apa-apa ketika dia memimpin parlemen. Hanya berita pernikahannya saja yang sempat membuat heboh, lainnya? Tak lebih dari dagang kecap!


Obama, memang menginspirasi kaum muda. Termasuk mengisnpirasi segenap kaum muda yang tak pandai berkaca diri, dengan tiba-tiba mengklaim diri layak menjadi pemimpin, padahal track reccordnya, seperi kaset kusut yang diputar dengan tape yang berusia satu abad.


Banyak orang Indonesia pandai mengambil momentum. Untuk kepentingan diri dan kelompoknya. Hal yang wajar, dan baik, ketika kepentingan itu ditransformasikan dengan kerja keras dan semangat membara. Tapi yang kurang ajar, momentum itu dicuri untuk kepentingan diri, dan kelompok, atas nama Bangsa Indonesia.


Maka, jangan heran bila nanti para pedagang kecap itu yang jadi, asset Negara mungkin akan habis dijual, dan atau, para pejabat yang akan dating, lebih pandai lagi berteater, dengan pameran senyum kharismatik, dan elegant, hasil kursus kepribadian. Para pejabat itu nantinya akan lebih banyak menghadiri undangan dari beragam kalangan dan organisasi, termasuk undangan nonton bareng, tanpa mampu menyelesaikan problem serius bangsa ini. Mereka berlomba meniru gaya Obama, tapi tak mampu meniru kharisma, kecerdasan, idealisme, semangat, dan track record Obama yang fenomenal.

0 komentar:

luvne.com ayeey.com cicicookies.com mbepp.com kumpulanrumusnya.com.com tipscantiknya.com