Gusdurian

Surat Terbuka Untuk Politisi Banten

Terkhusus untuk para politisi Banten, yang sedang bersiap,menghadapi Pilkada 2017 nanti, sudahi dulu lah debat kusir tentang siapa cal...

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Sabtu, 13 Desember 2008

Mahasiswa, -seharusnya- tak sekedar membaca


leh : A. Malik Mughni*

”Kamu suka baca?”
“Ya saya suka baca, baca SMS, baca diktat ketika ujian berlangsung, baca makalah ketika ada tugas presentasi, baca leaflet ketika ikut demo, dan baca pamphlet yang bertebaran di kantin kampus!”
Dialog imajiner itu mungkin mencerminkan sebagian realitas Mahasiswa saat ini. Membaca bagi Mahasiswa tentu bukan hal yang sulit dilakukan, sebab selain telah tuntas mengikuti program wajib belajar yang dicanangkan pemerintah Indonesia sejak era Orde Baru, predikat Mahasiswa sebagai _ubsta intelektual, juga berkonsekwensi pada pembangunan sikap terpelajar, diantaranya dengan kebiasaan membaca.
Meski terlalu sederhana, asumsi tersebut setidaknya dapat mewakili kesimpulan umum, bahwa membaca telah mengkultur, atau bahkan menjadi semacam social heritage (warisan sosial) di kalangan Mahasiswa. Jika merujuk pada definisi membaca ala Jack.C. Richard, John Plat, dan Heidi Plat, bahwa membaca adalah melihat teks untuk memahami isinya, maka minat baca Mahasiswa sudah tidak perlu dipertanyakan lagi, dengan kata lain peradaban Mahasiswa –secara umum- telah cukup tinggi, dan mencerminkan kebudayaan modern..
Tapi jika proses membaca mensyaratkan repsesifitas, dan penalaran kritis ala Habermas, apakah membaca SMS, dan membaca pamphlet, dapat meninggikan peradaban? Apalagi jika melihat realitas dilapangan, tentang tradisi tawuran dan budaya kekerasan yang menjalar di kalangan Mahasiswa, tentang immoralitas dan hedonisme yang juga mewabah di lingkungan kampus, tentang aksi-aksi anarkhis dengan tuntutan yang kurang _ubstantive dalam beberapa demonstrasi oknum Mahasiswa, adakah cermin tingginya peradaban di sana? Bukankah paradigma kritis –yang identik dengan Mahasiswa- mewajibkan analisa mendalam, cermat, dan dialektis dalam menentukan sikap, dan keputusan?
Ternyata membaca versi Mahasiswa dan membaca versi umum, amatlah berbeda, Mahasiswa, seharusnya dapat berinteraksi dengan bacaan, tidak hanya menggali informasi, dan mudah terpengaruh oleh bacaan. Jika masyarakat umum percaya begitu saja pada gossip, dan berita media, maka Mahasiswa sudah seharusnya menganalisa wacana media, dan menafsirnya. Sebab di Kampus –semestinya- diajarkan tehnik berfikir, dan metoda penafsiran teks yang beragam,sebagai bekal dalam membaca.
Tapi, lagi- lagi kenyataan di lapangan berbeda teori ideal yang ada. Mahasiswa justru diklaim sebagai salah satu komponen masyarakat yang mudah terprovokasi, mahasiswa juga mudah terpengaruh doktrin negatif. Simak saja bermacam berita tawuran, demo anarkhis, sikap immoral, hingga fundamentalisme dan gerakan garis keras yang banyak bermunculan di Kampus-kampus.
Siapa yang bertanggung jawab atas kondisi ini? Apakah Mahasiswa –dalam hal ini- menjadi subyek, sehingga bertanggung jawab atas pilihannya masing-masing, ataukah menjadi obyek yang diperalat dan menjadi korban atas sebuah sistem tertentu? Saya cenderung melihat mahasiswa dalam problem ini, sebagai obyek penderita, yang dikorbankan oleh sistem. Ya setidaknya inilah yang saya rasakan di kampus kami (IAIN ”SMH” Banten).

Bacaan bermutu, barang mewah bagi Mahasiswa
Mahasiswa dan bacaan mestinya menjadi dua kata yang sulit terpisahkan. Beragam tugas perkuliahan menuntut Mahasiswa untuk mencari refferensi, bila ingin gratis, buku referensi perkuliahan –mestinya- bisa didapat di perpustakaan Kampus. Ya, mencari refferensi, itu tujuan utama para pengunjung perpustakaan, sisanya, suasana pepustakaan kampus kami lebih enak digunakan untuk tempat pertemuan rahasia, pacaran misalnya.
Pacaran di perpustakaan, cerita klasik itu masih bisa disaksikan di Kampus kami. Karena perpustakaan di kampus kami ramai dikunjungi pada waktu tertentu saja. Menjelang masa pengajuan skripsi atau tugas akhir perkuliahan, dan pada masa ujian tengah atau akhir semester. Di luar masa itu perpustakaan kampus kembali senyap, hanya beberapa pasangan mahasiswa yang terlihat di sana. Mungkinkah hal yang sama juga terjadi di Kampus lain? Saya tidak terlalu yakin.
Beberapa kawan yang pernah terbilang rajin berkunjung ke perpustakaan, sering mengeluhkan kejenuhan mereka dengan suasana perpustakaan, buku ‘buluk’ yang tidak terrawat, pendingin ruangan yang tidak berfungsi karena kurangnya daya listrik, hingga kurang lengkap dan beragamnya buku referensi yang bisa dipinjam.
Meski ada ruang referensi –pada waktu tertentu itu, ruangan ini paling sering disesaki pengunjung- yang menyediakan keragaman buku dengan agak lengkap, tapi buku di ruangan tersebut tidak dipinjamkan, dan hanya boleh dicopy di ruangan, dengan harga yang tidak biasa. Hak mahasiswa untuk mendapat fasilitaspendidikan yang bermutu di kampus kami, memang agak dikebiri. Mungkin, hal yang sama terjadi dikampus lain? Saya tidak terlalu yakin.
Minimnya bacaan bemutu, sistem, pendidikan tinggi yang hanya mementingkan angka indeks prestasi, dengan metoda ujian konvensional dan cenderung teks book, secara tak sadar membuat kami menjadi pecontek ulung. Verifikasi tugas karya tulis yang rendah, juga memudahkan kami menjadi plagiator dalam menulis makalah, bahkan –mungkin- skripsi. Perkuliahan yang mensyaratkan kehadiran 70%, dengan proses kegiatan belajar-mengajar yang kurang bermutu dan pola ajar ala yayasan (beberapa Dosen seakan mentasbihkan diri sebagai dewa ajar, yang anti kritik), membuat sebagian kami segan di kelas, dan membungkam. Ditambah fasilitas pendidikan (perpustakaan, misalnya) yang kurang layak, bisa jadi menghasilkan mahasiswa yang kurang bermutu pula.
Nah, jika Pola pendidikan yang berlaku semacam ini, jangan heran jika tridarma perguruan tinggi tidak tercapai sepenuhnya. Bagaimana seorang Mahasiswa akan mendapat dan mengamalkan aspek penelitian, jika sikap kritis dibungkam sejak di kelas, bagaimana pengabdian masyarakat akan menghasilkan perubahan yang signifikan ke arah perbaikan kultur, jika tradisi membaca yang ada, hanya sebatas menggali, dan memindahkan informasi, tanpa verifikasi kelengkapan data, analisa wacana, dan dialektika, untuk selanjutnya ditafsir, dan dipraktikkan ditengah masyarakat, dengan penyesuaian kultur dan sosiologi masyarakat. Ketika sikap jujur dalam berkarya sudah hilang, bagaimana lulusan perguruan tinggi dapat mendidik masyarakat?
Sebagai obyek perguruan tinggi, Mahasiswa berhak mendapat pendidikan yang layak dan bermutu, mahasiswa juga berhak atas fasilitas pendidikan, diantaranya perpustakaan, dengan buku-buku berkualitas, dan pelayanan nyaman, dan ramah dari pengelolanya. Karena mahasiswa tak sekedar membaca, maka beri Mahasiswa bekal praktis untuk membaca, proses dialektis, pembelajaran kritis, serta kecermatan dalam menganalisa teks, mestinya ditradisikan, bermula dari pengajar yang berkualitas, dan bahan bacaan yang berkualitas pula.



• Penulis adalah Mahasiswa Jurusan Jinayah Siyasah,
Fakultas syari’ah IAIN ”SMH” Banten,
Pengaji di Umbruch Cercle,
Saat ini bergabung di LAKPESDAM NU Kota Serang.
Tulisannya dapat dilihat di www.malikmughni.co.cc
(http://a-malikmughni.blogspot.com)




luvne.com ayeey.com cicicookies.com mbepp.com kumpulanrumusnya.com.com tipscantiknya.com