Gusdurian

Surat Terbuka Untuk Politisi Banten

Terkhusus untuk para politisi Banten, yang sedang bersiap,menghadapi Pilkada 2017 nanti, sudahi dulu lah debat kusir tentang siapa cal...

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Sabtu, 25 Juli 2009

Doktrin Teror dalam Pengajian




Kenyataan bahwa beberapa tertuduh terorisme (dalam bentuk pemboman), di negeri ini adalah alumni salahsatu pesantren, cukup menggelisahkan kalangan yang pernah atau tengah bersentuhan dengan pesantren.
Munculnya stigma negatif terhadap pesantren sempat menghebohkan negeri ini. Apalagi ketika stigma tersebut keluar dari seorang tokoh nasional yang saaat itu tengah memimpin bangsa yang acrut-marut ini (masih ingat pernyataan JK tentang Terorisme pesantren?)
Aku sempat berpikir sama tentang adanya doktrin yang kerap ditafsirkan sebagai keindahan bersikap keras dalam beragama, di pesantren tertentu. Keindahan spiritual.
Itu kuamini keberadaanya, ketika aku bertemu dengan salahsatu atau beberapa alumnus pesantren yang dikenal ‘keras’, dan berbincang dengan mereka.
Alumnus pesantren tersebut begitu yakin akan kebenaran subyektif yang hanya dimilikinya dan kelompoknya saja.
Aku juga sempat merasakan itu, keyakinan akan kebenaran subyektif. Beruntung aku tumbuh di lingkungan yang prulal, dan pengajar di pesantrenku pun mengajarkan pentingnya ahlakul karimah, meski kadang ia bergumam tentang pentingnya kesetiaan terhadapnya atau kelompoknya saja. Tapi ia tak sekalipun mengajarkan kami untuk bertindak merugikan orang lain.
Prasangka ku terhadap adanya kesalahan doktrin pada jamaah pengajian atau kelompok tertentu, bertambah kental ketika aku bertemu teman-teman aktivis yang bergabung dengan kesatuan mahasiswa tertentu. Sebagian dari mereka begitu dogmatis, eksklusif, dan –bagiku- kerap picik dalam memahami sebuah dalil, doktrin, ataupun paham dan ajaran.
Aku tak ingin menyalahkan mereka, ataupun kelompok mereka, apalagi menyalahkan keyakinan. Tetapi prilaku dan berbagai kata yang mereka utarakan kerap membuatku sulit menyingkirkan prasangka, bahwa ada kesalahan fakir atau pemahaman dalam diri mereka atau kelompok mereka.
Saya melihat adanya penerapan kurikulum dan rujukan kitab atau bacaan yang tidak pas di pesantren atau kelompok pengajian tertentu.
Pesantren atau sebuah kelompok kajian kerap menjadi wilayah khusus yang sakral, dan sang pengajar atau peimpinan lembaga pengajian atau pesantren itu punya kekuasaan dalam menentukan kurikulum apa yang diterapkan, dan kitab apa yang dijadikan rujukan. Sebab tak ada kurikulum baku dan wajib bagi pesantren atau kelompok pengajian di negeri ini.
Semisal pengajaran dan pengajian beberapa kitab hadist yang ditulis (hadist tentang keutamaan beribadah) bagi para pemuda-pemudi, akan berefek pada kegemaran pengaji untuk senantiasa beramal sesuai hadist. Tapi di sisi lain, ketika sang pengamal hadist yang masih muda itu baru mengenal agama ketika beranjak dewasa, dia akan mudah terjebak pada anggapan bahwa kesalehan hanya milik para pengamal saja.
-kalau saya boleh berpendapat-, hadist tentang amaliyah baiknya diajarkan bagi anak-anak, atau mereka yang sudah sepuh, sebab anak-anak yang diajarkan tentang kerajinan beramal yang dilakukan Rasul dan sahabatnya, akan berefek pada motivasi dan pembelajaran hidup yang baik bagi mereka. Dan ketika beranjak dewasa, rujukan terbaik yang layak dikaji menurut saya adalah kitab tentang ahlak dan kesalehan hati (bukan tasawauf amali), fiqih, tata bahas dan sastra, juga
Selain itu, doktrin tentang kesucian sebuah ajaran dan kebanaran tunggal juga saya pikir tak tepat diajarkan kepada pemuda, jiwa toleransi mereka akan hilang setelah menghayati betul ajaran tersebut.
Saya sepakat dengan Ketua Umum PBNU K.H. Hasyim Muzadi yang meminta polisi menindak tegas jaringan teroris di negeri ini.
Hasyim mengakui bahwa mereka adalah oknum kriminil, dan harus ditindak tegas, apapun latar belakangnya.
Tetapi ketika ditanya tentang potensi pesantren mengajarkan doktrin kekerasan beragama, Hasyim yang saat itu saya temui seusai ceramah di Masjid Raudlatul Jannah PCI, Senin malam (21/7), membantah anggapan sebagian kalangan bahwa pesantren kerap memberi doktrin kekerasan dalam beragama. “mereka mungkin memang alumni Ngruki, tetapi pelaku kriminal bisa dari mana saja, bahkan dari universitas ternama seperti UI juga bisa saja ada oknum pelaku kriminal. Jadi mereka hanya oknum, tidak adil jika digeneralisir bahwa alumni pesantren adalah teroris,” tandasnya.
Hasyim juga menjelaskan bahwa dalam agama apapun tidak diajarkan tindakan kekerasan terhadap sesama manusia. “mereka beragama Islam, karena kebetulan mereka tinggal dan beraksi di Indonesia yang mayoritas muslim, tetapi Islam tidak pernah mengajarkan itu. Ini sama dengan kejadian di Ayodhiya, yang meski pun pelakunya beragama Hindu, tetapi tak bisa diartikan bahwa Hindu mengajarkan terorisme, begitu pula terorisme yang terjadi di Eropa oleh oknum kristen, tak bisa dimaknai ajaran kristen mendoktrinkan kekersan. Seabab tak ada agama yang mengajarkan paham terorisme,” ulas Hasyim tegas.
Dalam ceramahnya, Hasyim juga meminta warga Cilegon untuk tidak terjebak pada ritual simbolik belaka dalam beribadah, agar terhindar dari sikap eksklusif dalam bermasyarakat. “Jangan terjebak simbol, seperti misalnya ada ungkapan bahwa pohon cemara itu milik orang kristen karena sering jadi simbol natal, sehingga orang islam tak boleh menanamnya. Ini lucu. Sebab semua tumbuhan di alam ini milik Allah, tak ada larangan menanamnya, pengamalan keagamaaan itu tak hanya simbol, tapi pengahayatan” katanya.

Senin, 01 Juni 2009

Facebook, Kesetaraan Gender Hingga Delegitimasi Fatwa






Polemik tentang Hasil Bathsul Masa’il XI Forum Pondok Pesantren Putri se-jawa Timur yang mengharamkan penggunaan Facebook secara berlebihan, mendapat reaksi yang ‘wah’ dan beragam dari para pengguna facebook (Facebooker) dan masyarakat umum.

Para Facebooker sampai membuat forum tersendiri bertajuk “Facebook Haram’ beranggotakan 134 Facebooker, ada juga gropu anti fatwa haram facebook yang anggotanya mencapai lima ribuan. Jumlah group facebook bertajuk fatwa tersebut juga tak kurang dari dua puluh jumlahnya. Para penulis juga banyak tergelitik mengomentari hasil bathsul masa’il para santri putri se jawa itu.

Ada banyak hal yang bisa dilirik dari kelahiran fatwa facebook dan reaksi terhadapnya.

Pertama adanya pergeseran budaya masyarakat muslim yang –setidaknya bagi saya- menggembirakan dari reaksi terhadap fatwa tersebut. menggembirakan karena kini masyarakat –muslim- Indonesia mengakui keberadaan para Ulama perempuan. Kesetaraan gender di bidang ilmu keislaman sedang terjadi dengan atau tanpa disadari oleh masyarakat muslim Indonesia yang biasanya reaktif terhadap wacana-wacana barat.

Dari Polemik tersebut juga terlihat bagaimana tingkat kemampuan membaca dan kemampuan tekhnologi masyarakat di negeri ini. setidaknya, dari lima ribu facebooker (belum dijumlah dengan anggota puluhan grup facebook yang mengangkat tajuk sama) yang menolak fatwa haram tersebut, menunjukkan banyaknya pecinta fanatis facebook. Mereka para pengguna aktif, yang berarti tidak buta tekhnologi.



Santri Putri pun Kini Berfatwa



Munculnya beragam reaksi terhadap fatwa facebook, secara tidak langsung merupakan pengakuan terhadap eksistensi fatwa santri putri se-Jawa Timur. Ini sebuah kemajuan –bagi saya-. Bahwa santri putri pun bisa mengeluarkan pendapat hukumnya, dan itu diakui masyarakat, terlepas dari banyaknya cibiran terhadap ekspose fatwa tersebut (sebab Fatwa Majelis Ulama pun kerap dicibir di negeri ini).

Dalam hal ini, Nabil Haroen berhasil mensejajarkan para santri putri di Jawa timur dengan sebagian Ulama di Indonesia. Setidaknya Forum Bathsul Masail santri Putri itu tersejajarkan dengan Forum Ulama Islam Indonesia (FUII) atau mungkin dengan Majelis Ulama Indonesia yang selama ini rajin berfatwa.

Kedua, cibiran dan berbagai reaksi lainnya terhadap fatwa tersebut juga mengukuhkan delegitimasi fatwa yang telah terjadi sejak awal tahun 2000 lalu. kini fatwa tidak lagi menjadi sakral.

Fatwa –dalam Islam- sebagai hasil ijtihad dari seorang yang dianggap ahli hukum Islam, kini ditempatkan kembali pada tempatnya semula, tak lebih dari wacana atas sebuah fenomena yang terjadi.

Fatwa memang seharusnya ditempatkan sebagai wacana atau pendapat ahli yang boleh dirujuk untuk bertindak, boleh juga ditinggalkan. Semacam resep atau anjuran dokter yang tidak mengikat secara hukum terhadap pasien. Pasien mempunyai kebebasan mutlak untuk mengikuti atau meninggalkan resep dan ajuran dokter yang ia percaya, bergantung pada kekuatan dan kemampuan pasien untuk taat terhadap resep dan anjuran dokternya. Sebab bisa jadi analisa, resep, saran dan anjuran seorang dokter bisa jadi berbeda dengan dokter lainnya.

Begitu pun Fatwa, Kini masyarakat muslim cenderung tak lagi mau mengikatkan diri secara saklek pada sebuah fatwa saja. Sebab ada Ulama lain yang berpendapat berbeda.



Fatwa Hak Milik Siapa?



Tetapi yang kemudian perlu disampaikan kepada masyarakat muslim secara utuh adalah apa dan bagai mana fatwa dibuat serta siapa saja yang berhak mengeluarkannya. Seperti resep dokter, yang juga tak sembarang orang boleh menuliskannya.

Jika dokter harus mengikuti dan lulus pendidikan di fakultas kedokteran, maka apakah para pemberi fatwa Islam (Ulama?) harus juga mengikuti dan lulus dari pendidikan Islam? Lantas lembaga pendidikan Islam mana yang berhak menyematkan gelar Ulama? Pesantren kah, Sekolah Tinggi/Institut Agama Islam kah?

Sebab saat ini banyak figur yang tiba-tiba muncul di tengah masyarakat dengan membaca berbagai dalil keislaman, kemudian dengan mudah mengaku diri sebagi ustadz atau ulama. Apa bedanya figur semacam ini dengan seorang yang gemar membaca artikel kedokteran, dan mengutip pendapat para dokter?

Sejumlah pertanyaan tersebut layaknya dijawab oleh mereka yang betul-betul ulama. Yang memang mumpuni dalam ilmu keislaman, dan bijaksana dalam berpendapat. Pertanyaan tersebut tidak penulis tujukan kepada mereka yang mengaku diri Ulama, yang hanya bermodal hafalan dalil tanpa mengerti makna, nilai serta hakikat sebuah Ayat Tuhan.



* Penulis adalah pengaji dan mahasiswa di Umbruch Cercle IAIN Banten, pengurus Lakpesdam NU Kota Serang.

Jumat, 01 Mei 2009

Janji Pemerintah Buat Pengusaha Kecil


Antisipasi Krisis Global, Pasar Dalam Negeri Diperkuat

CILEGON - Imbas krisis global yang masih dirasakan industri dan manufaktur di dalam negeri, membuat pemerintah mengeluarkan beragam kebijakan untuk mengamankan perekonomian. “Langkah pengamanan ini harus dilakukan, di antaranya kebijakan fiskal dengan stimulus ekonomi sebesar 70 persen, pengetatan bea cukai, pengetatan ekspor impor, serta pengembangan pasar dalam negeri dengan upaya peningkatan daya beli masyarakat,” ungkap Sekretaris Jenderal Departemen Perindustrian Indonesia Agus Cahayana kepada Baraya Post, usai membuka seminar nasional industrial services 2009, Jurusan Tehnik Industri Untirta, di Pusat Pendidikan dan Pelatihan (Pusdiklat) PT Krakatau Steel, Rabu (29/4).
Kendala terbesar dalam pengembangan pasar dalam negeri menurut Agus adalah maraknya produk luar yang masuk secara ilegal ke Indonesia. Disamping itu, kampanye penggunaan produk dalam negeri yang telah gencar dilakukan pemerintah kurang mendapat respon dari masyarakat, yang disebabkan oleh menurunnya daya beli. “Padahal sudah ada undang-undang 59/2009 yang mengatur tentang sirkulasi produk luar negeri hanya boleh masuk melalui lima pelabuhan tertentu, yakni Belawan, Tanjung Priok, Tanjung Emas, Tanjung Perak, dan Makasar, tetapi produk ilegal masih banyak yang masuk, hal ini sedang diatasi secara komprehensif,” tandasnya.
“Pasar dalam negeri harus dimaksimalkan. Tetapi tidak berarti menutup pasar impor, dan kami juga tidak bisa melindungi industri nasional sepenuhnya, sebab persaingan industri harus berlangsung secara fair,” tambahnya.
Sementara dalam key note speech Fahmi Idris, Menteri Perindustrian yang disampaikan Agus, terungkap bahwa dari pembangunan dan perkembangan industri di Indonesia yang dicermati pemerintah selama 30 tahun terakhir, pihaknya telah menetapkan sasaran pembangunan industri dalam negeri adalah di bidang manufaktur. Dengan target pertumbuhan rata-rata 8,56 persen per tahun, penyerapan tenaga kerja sebanyak 500 ribu pekerja per tahun, kondusivitas iklim usaha bagi indutri yang sudah ada, maupun investasi baru dalam bentuk tersedianya layanan umum yang baik dan bersih dari KKN.
Pangsa sektor industri manufaktur tersebut, menurut Fahmi ditingkatkan di pasar domestik, baik bahan baku maupun produk akhir, sebagai cerminan daya saing sektor ini dalam menghadapai produk impor. Fahmi dalam materi tulisannya juga menekankan pen tingnya peningkatan volume ekspor produk manufaktur dan penyebaran sektor industri manufaktur ke luar Pulau Jawa.
Karenanya dalam lima tahun ke depan, pemerintah tengah memprioritaskan penguatan pada sepuluh klaster industri, yakni makanan dan minuman, pengolahan hasil laut, terkstil dan produk tekstil, alas kaki, kelapa sawit, barang kayu (termasuk rotan dan bambu), barang dan karet, pulpen dan kertas, mesin listrik, dan petrokimia.
Kristanto Santosa, pembicara seminar yang mewakili Bisnis Inovation Center (BIC) mengajukan pemetaan ulang dalam konsep persaingan industri. Santosa menekankan persaingan sehat dengan penerapan inovasi dan kerjasama antar industri. “Inovasi dalam sebuah produk adalah gabungan antara ide baru, kelayakan, pelayanan yang baik, serta daya praktis yang berkaitan dengan kebutuhan pelanggan,” jelas Santosa.
Ia mencontohokan pentingnya inovasi dalam dua komoditas yang banyak tersedia di negeri ini, yakni kopi dan asam. “Misalnya harga kopi mentah Rp 2.500 per kilogram, ketika kopi biji dikemas menjadi Rp 6 ribu. Bahkan ketika kopi itu diolah lagi dengan inovasi baru di Starbak Cafe bisa melonjak menjadi Rp 60 ribu,” kata Santoso lagi.
Dalam seminar yang diikuti oleh 106 perwakilan dari berbagai universitas di Indonesia itu, juga dihadirkan pembicara dari Toyota Astra Motor (TAM) Indonesia, I Made Dana M Tangkas, yang juga Ketua Umum Ikatan Sarjana Teknik Industri Indonesia (ISTMI). Ia memaparkan strategi bisnis Group Toyota, dalam menghadapi krisis global. ”Ekonomi Indonesia terkena dampak serius dari krisis global, ada penurunan pertumbuhan ekonomi tahunan dari 3,2 persen di tahun lalu, menjadi satu persen pada tahun ini, tetapi investasi kuartal pertama tahun 2009 masih tumbuh positif mengingat tingginya pertunbuhan impor barang pada kuartal sebelumnya,” jelas Made.
Ketua Jurusan Teknik Industri Untirta Asep Ridwan mengungkap hasil akan dijadikan rekomendasi untuk dijadikan rujukan dalam penanganan lanjutan atas krisis global yang tengah melanda. “Kami telah menyeleksi 106 makalah, dan menghasilkan 89 makalah dari para akademisi dan praktisi teknik industri se Indonesia, yang akan dipresentasikan, dan hasilnya sudah di pesan oleh kementrian untuk dijadikan rujukan dalam melakukan langkah penanganan krisis,” kata Asep.
Humas PT Krakatau Steel Humaedi Sukses melihat adanya perubahan paradigma konsumen. “Konsumen yang semakin kritis, menuntut pelayanan yang maksimal disertai dengan kualitas produk yang steril serta memberi kenyamanan dalam sisi spiritual, misalnya, jika dalam produk makanan, ada sertifikasi halal bagi konsumen muslim,” kata Humaedi. (mg-malik)

Tak Menyerah Meski terpinggirkan


Tak Menyerah Meski Terpinggirkan

... Bersyukur Aku merasakan bisa berjalan sendiri// Walau hanya dalam mimpi//mimpi indah sekali//... (Mimpi)
...Sejak lahir aku belum bisa berjalan//tidak pernah pula duduk di bangku sekolah//. Tapi Aku bisa membaca, menulis// walau dengan jempol kakiku// berkat mama merawatku,mengajariku//.. (Rasa Syukuruku)

Cilegon- Dua Penggalan puisi itu karya Corri Novika warga Jalan Melati F12/10 BBS 2 Ciwedus, Cilegon. Gadis dua puluh dua tahun yang mengalami penyumbatan otak sejak usia empat bulan. Tangannya kaku, dan kakinya mengalami kelumpuhan, ia pun sulit berkata-kata, karena penyakitnya tak kunjung sembuh meski Kedua Orang tua Vika, Joko Waskito dan Nining Yuningsih telah mengobatinya di berbagai rumah sakit, dan tampat pengobatan alternatif. Meski begitu, Vika punya semangat kuat untuk jadi penulis. “Aku ingin seperti Asma Nadia, yang pandai menulis, aku juga ingin seperti mama yang aktif di berbagai organisasi. Aku bangga sama mama yang ngajarin aku mebaca dan mengaji,” Ungkap Vika dengan terbata.
karena tidak sekolah, vika sempat merasa minder dan diasingkan, tapi berkat dorongan orang tua dan tiga adiknya, Vika bahkan ingin memberi motivasi kepada anak-anak yang senasib dengannya. Vika yang gemar menulis cerita sehari-hari dan menulis bait-bait puisi itu bertekad untuk mandiri dan menggali potensinya.
“Ia tak bisa memegang pensil, tapi mampu mengetik dengan jempol kakinya. Ia menuliskan puisinya sejak memiliki HP yang dibelinya dari uang tabungannya tahun 2007 lalu, dan tahun lalu kami belikan laptop untuk memudahkannya dalam berkarya,” Tutur Nining, Ibu Vika.
Nining tidak menitipkan Vika di Sekolah Luar Biasa (SLB), karena menurutnya SLB di Cilegon belum fasilitasnya belum lengkap, dan tak mampu memenuhi kebutuhan anaknya. “Kami pernah membawanya Ke Yayasan Pecinta Anak Cacat (YPAC) Solo, tapi Vika hanya kuat selama enam bulan, dan selalu ingin pulang, padahal di sana kami beri dia pendamping khusus, ternyata Vika tak betah. Akhirnya saya mendidiknya di rumah. Sebenarnya Vika telah diajari membaca sejak usia delapan tahun,” jelas Nining lagi. Dalam pengamatan nining, di balik keterbatasannya, vika memiliki daya tangkap yang luar bisa.
Minimnya Fasilitas dan perhatian khusus bagi siswa SLB di Kota Cilegon, juga dikeluhkan oleh Kepala SLB Al-Khairiyah Citangkil Taufiq, yang melihat kebijakan pemerintah untuk siswa SLB masih kurang. “Dalam UN Misalnya, Kebijakan untuk Anak Normal dan anak SLB ko disamakan, waktunya, dan proses ujiannya. Mestinya ada kebijakan khusus tentang UN bagi siswa luar biasa, Dalam UN pelajaran bahasa inggris misalnya, uji listening yang menggunakan kaset, menyulitkan mereka yang tunarungu,” Ujar TAufiq.
Penanganan anak berkebutuhan khusus menurut psikolog Anak Rumah Sakit Krakatau Medika (RSKM) Rd. Danianti, K.P.,Mpsi, memang berbeda dengan anak normal biasa. “Tak semua anak berkebutuhan khusus itu berotak lemah, banyak diantara mereka yang punya otak diasat rata-rata. Mereka hanya perlu perhatian, pendampingan, dan beberapa fasilitas khusus,” Kata Dani.
Senada dengan Dani, Hifdullah, Seorang Guru SLB AL Kautsar Cibeber juga mengungkap perlunya perhatian khusus terhadap anak-anak abnormal. “Masing-masing mereka pasti punya minat, dan bakat yang perlu dioptimalkan, sehingga kemampuan bisa menjadi bekal hidup untuk mandiri, dan tidak tergantung pada orang lain, SLB dengan segala fasilitas yang ada, berupaya membina, dan mendidik mereka, tapi walimurid, keluarga dan lingkungan juga harus mendukung terciptanya optimalisasi bakat mereka,” ujarnya.
Sayangnya, pihak Pemerintah Kota Cilegon belum mau meberikan perhatian itu kepada mereka. dalam Musyawarah rencana pengembangan (Musrembang) Kota Cilegon Kamis (23/4) Lalu, Pemkot belum menganggarkan dana khusus untuk pembinaan anak-anak berkebutuhan Khusus. “Untuk SLB, penanganannya masih oleh pihak provinsi, Pemkot cilegon hanya membantu. Kalau ada keluhan semacam itu disampaikan ke pemprov, dana khusus untuk mereka juga belum ada karena dalam musrembang bantuan itu tidak terungkap untuk 2010,” Papar Kepala Bidang Beasiswa dan Peningkatan Mutu Pendidikan dan Tenaga Kependidikan (PMPTK) Kota Cilegon Ismatullah. Bahkan menurut pengakuan Ismat, sampai saat ini belum ada data yang pasti tent ang jumlah anak berkebutuhan khusus di Kota Cilegon, dan jumlah siswa SLB di Kota Cilegon. (Malik)

Tak Menyerah Meski terpinggirkan



Tak Menyerah Meski Terpinggirkan

... Bersyukur Aku merasakan bisa berjalan sendiri// Walau hanya dalam mimpi//mimpi indah sekali//... (Mimpi)
...Sejak lahir aku belum bisa berjalan//tidak pernah pula duduk di bangku sekolah//. Tapi Aku bisa membaca, menulis// walau dengan jempol kakiku// berkat mama merawatku,mengajariku//.. (Rasa Syukuruku)

Cilegon- Dua Penggalan puisi itu karya Corri Novika warga Jalan Melati F12/10 BBS 2 Ciwedus, Cilegon. Gadis dua puluh dua tahun yang mengalami penyumbatan otak sejak usia empat bulan. Tangannya kaku, dan kakinya mengalami kelumpuhan, ia pun sulit berkata-kata, karena penyakitnya tak kunjung sembuh meski Kedua Orang tua Vika, Joko Waskito dan Nining Yuningsih telah mengobatinya di berbagai rumah sakit, dan tampat pengobatan alternatif. Meski begitu, Vika punya semangat kuat untuk jadi penulis. “Aku ingin seperti Asma Nadia, yang pandai menulis, aku juga ingin seperti mama yang aktif di berbagai organisasi. Aku bangga sama mama yang ngajarin aku mebaca dan mengaji,” Ungkap Vika dengan terbata.
karena tidak sekolah, vika sempat merasa minder dan diasingkan, tapi berkat dorongan orang tua dan tiga adiknya, Vika bahkan ingin memberi motivasi kepada anak-anak yang senasib dengannya. Vika yang gemar menulis cerita sehari-hari dan menulis bait-bait puisi itu bertekad untuk mandiri dan menggali potensinya.
“Ia tak bisa memegang pensil, tapi mampu mengetik dengan jempol kakinya. Ia menuliskan puisinya sejak memiliki HP yang dibelinya dari uang tabungannya tahun 2007 lalu, dan tahun lalu kami belikan laptop untuk memudahkannya dalam berkarya,” Tutur Nining, Ibu Vika.
Nining tidak menitipkan Vika di Sekolah Luar Biasa (SLB), karena menurutnya SLB di Cilegon belum fasilitasnya belum lengkap, dan tak mampu memenuhi kebutuhan anaknya. “Kami pernah membawanya Ke Yayasan Pecinta Anak Cacat (YPAC) Solo, tapi Vika hanya kuat selama enam bulan, dan selalu ingin pulang, padahal di sana kami beri dia pendamping khusus, ternyata Vika tak betah. Akhirnya saya mendidiknya di rumah. Sebenarnya Vika telah diajari membaca sejak usia delapan tahun,” jelas Nining lagi. Dalam pengamatan nining, di balik keterbatasannya, vika memiliki daya tangkap yang luar bisa.
Minimnya Fasilitas dan perhatian khusus bagi siswa SLB di Kota Cilegon, juga dikeluhkan oleh Kepala SLB Al-Khairiyah Citangkil Taufiq, yang melihat kebijakan pemerintah untuk siswa SLB masih kurang. “Dalam UN Misalnya, Kebijakan untuk Anak Normal dan anak SLB ko disamakan, waktunya, dan proses ujiannya. Mestinya ada kebijakan khusus tentang UN bagi siswa luar biasa, Dalam UN pelajaran bahasa inggris misalnya, uji listening yang menggunakan kaset, menyulitkan mereka yang tunarungu,” Ujar TAufiq.
Penanganan anak berkebutuhan khusus menurut psikolog Anak Rumah Sakit Krakatau Medika (RSKM) Rd. Danianti, K.P.,Mpsi, memang berbeda dengan anak normal biasa. “Tak semua anak berkebutuhan khusus itu berotak lemah, banyak diantara mereka yang punya otak diasat rata-rata. Mereka hanya perlu perhatian, pendampingan, dan beberapa fasilitas khusus,” Kata Dani.
Senada dengan Dani, Hifdullah, Seorang Guru SLB AL Kautsar Cibeber juga mengungkap perlunya perhatian khusus terhadap anak-anak abnormal. “Masing-masing mereka pasti punya minat, dan bakat yang perlu dioptimalkan, sehingga kemampuan bisa menjadi bekal hidup untuk mandiri, dan tidak tergantung pada orang lain, SLB dengan segala fasilitas yang ada, berupaya membina, dan mendidik mereka, tapi walimurid, keluarga dan lingkungan juga harus mendukung terciptanya optimalisasi bakat mereka,” ujarnya.
Sayangnya, pihak Pemerintah Kota Cilegon belum mau meberikan perhatian itu kepada mereka. dalam Musyawarah rencana pengembangan (Musrembang) Kota Cilegon Kamis (23/4) Lalu, Pemkot belum menganggarkan dana khusus untuk pembinaan anak-anak berkebutuhan Khusus. “Untuk SLB, penanganannya masih oleh pihak provinsi, Pemkot cilegon hanya membantu. Kalau ada keluhan semacam itu disampaikan ke pemprov, dana khusus untuk mereka juga belum ada karena dalam musrembang bantuan itu tidak terungkap untuk 2010,” Papar Kepala Bidang Beasiswa dan Peningkatan Mutu Pendidikan dan Tenaga Kependidikan (PMPTK) Kota Cilegon Ismatullah. Bahkan menurut pengakuan Ismat, sampai saat ini belum ada data yang pasti tent ang jumlah anak berkebutuhan khusus di Kota Cilegon, dan jumlah siswa SLB di Kota Cilegon. (Malik)

Tak Menyerah Meski terpinggirkan

... Bersyukur Aku merasakan bisa berjalan sendiri// Walau hanya dalam mimpi//mimpi indah sekali//... (Mimpi)
...Sejak lahir aku belum bisa berjalan//tidak pernah pula duduk di bangku sekolah//. Tapi Aku bisa membaca, menulis// walau dengan jempol kakiku// berkat mama merawatku,mengajariku//.. (Rasa Syukuruku)

Cilegon- Dua Penggalan puisi itu karya Corri Novika warga Jalan Melati F12/10 BBS 2 Ciwedus, Cilegon. Gadis dua puluh dua tahun yang mengalami penyumbatan otak sejak usia empat bulan. Tangannya kaku, dan kakinya mengalami kelumpuhan, ia pun sulit berkata-kata, karena penyakitnya tak kunjung sembuh meski Kedua Orang tua Vika, Joko Waskito dan Nining Yuningsih telah mengobatinya di berbagai rumah sakit, dan tampat pengobatan alternatif. Meski begitu, Vika punya semangat kuat untuk jadi penulis. “Aku ingin seperti Asma Nadia, yang pandai menulis, aku juga ingin seperti mama yang aktif di berbagai organisasi. Aku bangga sama mama yang ngajarin aku mebaca dan mengaji,” Ungkap Vika dengan terbata.
karena tidak sekolah, vika sempat merasa minder dan diasingkan, tapi berkat dorongan orang tua dan tiga adiknya, Vika bahkan ingin memberi motivasi kepada anak-anak yang senasib dengannya. Vika yang gemar menulis cerita sehari-hari dan menulis bait-bait puisi itu bertekad untuk mandiri dan menggali potensinya.
“Ia tak bisa memegang pensil, tapi mampu mengetik dengan jempol kakinya. Ia menuliskan puisinya sejak memiliki HP yang dibelinya dari uang tabungannya tahun 2007 lalu, dan tahun lalu kami belikan laptop untuk memudahkannya dalam berkarya,” Tutur Nining, Ibu Vika.
Nining tidak menitipkan Vika di Sekolah Luar Biasa (SLB), karena menurutnya SLB di Cilegon belum fasilitasnya belum lengkap, dan tak mampu memenuhi kebutuhan anaknya. “Kami pernah membawanya Ke Yayasan Pecinta Anak Cacat (YPAC) Solo, tapi Vika hanya kuat selama enam bulan, dan selalu ingin pulang, padahal di sana kami beri dia pendamping khusus, ternyata Vika tak betah. Akhirnya saya mendidiknya di rumah. Sebenarnya Vika telah diajari membaca sejak usia delapan tahun,” jelas Nining lagi. Dalam pengamatan nining, di balik keterbatasannya, vika memiliki daya tangkap yang luar bisa.
Minimnya Fasilitas dan perhatian khusus bagi siswa SLB di Kota Cilegon, juga dikeluhkan oleh Kepala SLB Al-Khairiyah Citangkil Taufiq, yang melihat kebijakan pemerintah untuk siswa SLB masih kurang. “Dalam UN Misalnya, Kebijakan untuk Anak Normal dan anak SLB ko disamakan, waktunya, dan proses ujiannya. Mestinya ada kebijakan khusus tentang UN bagi siswa luar biasa, Dalam UN pelajaran bahasa inggris misalnya, uji listening yang menggunakan kaset, menyulitkan mereka yang tunarungu,” Ujar TAufiq.
Penanganan anak berkebutuhan khusus menurut psikolog Anak Rumah Sakit Krakatau Medika (RSKM) Rd. Danianti, K.P.,Mpsi, memang berbeda dengan anak normal biasa. “Tak semua anak berkebutuhan khusus itu berotak lemah, banyak diantara mereka yang punya otak diasat rata-rata. Mereka hanya perlu perhatian, pendampingan, dan beberapa fasilitas khusus,” Kata Dani.
Senada dengan Dani, Hifdullah, Seorang Guru SLB AL Kautsar Cibeber juga mengungkap perlunya perhatian khusus terhadap anak-anak abnormal. “Masing-masing mereka pasti punya minat, dan bakat yang perlu dioptimalkan, sehingga kemampuan bisa menjadi bekal hidup untuk mandiri, dan tidak tergantung pada orang lain, SLB dengan segala fasilitas yang ada, berupaya membina, dan mendidik mereka, tapi walimurid, keluarga dan lingkungan juga harus mendukung terciptanya optimalisasi bakat mereka,” ujarnya.Sayangnya, pihak Pemerintah Kota Cilegon belum mau meberikan perhatian itu kepada mereka. dalam Musyawarah rencana pengembangan (Musrembang) Kota Cilegon Kamis (23/4) Lalu, Pemkot belum menganggarkan dana khusus untuk pembinaan anak-anak berkebutuhan Khusus. “Untuk SLB, penanganannya masih oleh pihak provinsi, Pemkot cilegon hanya membantu. Kalau ada keluhan semacam itu disampaikan ke pemprov, dana khusus untuk mereka juga belum ada karena dalam musrembang bantuan itu tidak terungkap untuk 2010,” Papar Kepala Bidang Beasiswa dan Peningkatan Mutu Pendidikan dan Tenaga Kependidikan (PMPTK) Kota Cilegon Ismatullah. Bahkan menurut pengakuan Ismat, sampai saat ini belum ada data yang pasti tent ang jumlah anak berkebutuhan khusus di Kota Cilegon, dan jumlah siswa SLB di Kota Cilegon. (Malik)

Selasa, 17 Februari 2009

Pesantren Buat Mama






Sulit bagiku untuk mengingat kapan perkenalanku dengan dunia Pesantren bermula. Sebab sejak kecil, aku diakrabkan dengan sarung, peci hitam, pondok, kitab kuning, dan Kiai, aku dikenalkan pada mereka oleh Ayahku. Aku bangga kepada Ayah, juga Ibuku. Jika aku mengenal Islam, dan hal-ihwalnya dari Ummi (Ibu), maka dunia pesantren, dan tokoh-tokoh Islam, kukenal lewat Mama (Ayah). Bahkan namaku, menurut Ayah disandarkan pada nama seorang Kiai besar dari Cirebon, Kiai Haji Abdul Malik, pengasuh Pesantren As-Shalah, Kaliwadas Cirebon, “Beliau salahsatu tokoh Masyumi, yang teguh pendirian,” begitu kata Mama, dulu. Mama sering bercerita tentang Kiai Malik (belakangan, beliau jadi guruku, aku sempat mengaji di pesantren As-Shalah, selama 6 bulan) Mama juga pernah bercerita tentang seorang tokoh bernama Haji Abdul Malik Karim Amrullah, yang dikenal dengan nama HAMKA, Tokoh tasawwuf modern, Muhammadiyyah.
Aku salut pada pola pendidikan kedua oarngtuaku. Sejak kecil Ummi telaten membimbingku untuk belajar membaca, membaca Al-Qur’an, dan membaca Koran. Di usia tiga tahun aku telah disunat, dan di usia empat tahun aku digembleng untuk menghafal Juz’amma, menghafal nama, dan silsilah Nabi, nama malikat, hingga nama surga, dan neraka. Menginjak usia lima tahun, aku dititipkan di Pesantren Kiai Malik, aku ingat betul bagaimana Mama meninggalkanku di Mushalla Pesantren, dengan berpura-pura tidur di sana, Aku ikut tertidur di sampingnya. Dan ketika terbangun, Mama telah pergi. Aku menangis kala itu, tersedu, hingga seorang senior membawaku kepada Kiai Malik, aku diberi Air, dan terdiam. Tapi efek Air itu tak abadi, sekian minggu kemudian, aku menjadi seorang pemberontak cilik. Bermain Yuyu (kepiting kecil), membakranya bersama teman-teman, dan ‘menguasai arena bermain taman kanak-kanak di komplek Pesantren. Aku, dan Gank ku tak pernah mau diganggu teman-teman lain, artinya selama kami ada di sana, yang lain haram dibagi.
Uniknya, gangku tak Cuma anak lelaki, beberap anak perempuan juga tergabung di sana. Kami semua sebaya, usia empat, sampai tujuh tahun. Dan Aku dianggap yang terbadung, sebab ketika senior menggiring kami untuk mandi, makan, atau mengaji, Akulah yang paling sering menolak, bahkan seorang putra Kiai –yang entah namanya siapa- pun tak sanggup memaksaku makan, dan mandi.
Pernah ketika perayaan Idul Adha, aku menumpahkan seporsi nasi rangsum, yang didapat dari mengatri, Aku merasa mual saat itu, dan memuntahkannya. Yang paling sering mengomel, saat itu adalah Ibu Nyai (Istri Kiai), dalam sewotnya, beliau sering berkata “Aran sih pada karo Kiai, tapi kelakuane, ampuun, badunge!” (Nama sih sama dengan Kiai, tapi ko kelakuannya badung sekali), yah beberapa tragedy di Pesantren kala itu, masih melekat di otakku. Termasuk ketika aku berkelahi dengan teman seangkatan, yang kupergoki mencuri, kabur dari Pesantren, dan dikejar para Senior, hingga ketika Aku tenggelam dalam kubangan, karena terjatuh dari perahu rakit tempat kami bermain.
Masaku tak lama di pesantren Anak-anak As-Shalah, hanya berkisar empat bulan, sampai satu semesteran, aku sakit, dan dipulangkan. Di Ash-shalah, kala itu, aku ditemani kakakku, dia bertugas menjagaku, dan tugasnya dilakukan dengan tuntas. Hmm. Mama, berharap aku menjadi Kiai cilik, kala itu. Aku sering diperkenalkan dengan para kiai Cilik yang diundang, atau dikunjugi ke rumahnya. Salahsatunya bernama Ehan. Sayang,aku tak betah di Pesantren, malah kakaku, yang kemudian betah di sana, dari kelas empat hingga lulus Esde. Padahal, awalnya Dia bertugas mengawalku, tapi Dia yang kemudian menuntaskan mimpi Mama.
Mama, dan Ummi tak patah semangat, ketika Aku tak betah tinggal di pesantren, maka aku digembleng di rumah, aku mengaji pada tiga Kakak ku yang tinggal di rumah. tiga kakakku yang lain masih di Pesantren, dan yang satu kuliah di IAIN. Kakak berlangganan Koran Republika, dan tak pernah absen memberiku suplemen halaman Beranda (halaman khusus anak-anak). Aku juga dilanggani Majalah anak shaleh. Menjelang tidur, ummi mendongengi berbagai cerita keislaman, dari heroisme Ali Bin Abi Thalib, sampai cerita si bangsat Dajjal. Maka sejak itu aku mengidolakan Ali. Mama juga sering mengajakku menonton filem Haidar Ali, dan berita perang Irak, bersama para tetangga yang kal itu belum memiliki TV. Maka idolaku bertambah, Saddam Hussein. Sampai beberapa tahun lalu, ketika aku di semester awal perkuliahan, seorang bapak, yang pernah bertetangga denganku, bertemu, dia bertanya, “Bagaimana kabar Saddam?” aku terbahak, mengingat kekonyolan masa kecilku, sang Bapak, yang –kalu tak salah- bernama Mudzakkir itu, sering menggodaku, bahwa Saddam Hussein akan kalah melawan George Bush, dan Aku akan dengan semangat menolaknya.
Sekali waktu, aku pernah tak fasih membaca huruf Syin pada salah satu Ayat Al-Quran, dan Kakaku yang bernama Abdillah, mencubit kakiku dengan keras. Aku menangis. Dia kesal, setelah berkali mengingatkanku, akupun menangis. Maka Mama memangilku ke kamarnya, baru kali itu aku mengaji langsung pada beliau, di kamarnya. Bisanya aku mengaji pada Umi, dan kakak-kakaku, dan aku akan selalu mengang kejadian itu. Beliau ajarkan kau mebaca Syin, dan Shod yang mudah, dengan menambah Y, pada S pertama, dan bersiul, pada S kedua. Aku duduk di kelas satu esde, kala itu.
Mereka ajarkan displin dengan keteladanan. Ba’da shubuh, kami mengaji bersama, pulang sekolah, aku bermain sepuas hati, tapi waktu Shalat, aku selalu dikontrol. Mama tak pernah bosan mengingatkanku untuk Adzan, di Mushalla. Menjelang maghrib, Aku sudah harus di rumah, shalat berjama’ah, dan mengaji bersama ba’da Maghrib, rumahku ketika itu selalu dipenuhi anak-anak usia Esde. Setelah Isya, aku harus mengerjakan pe-er, atau membaca buku, buku apapun itu. Di sini Umi, dan Kakaku, yang berperan. Sampai pukul delapan, kami baru boleh menonton TV. Filem Si Doel, Knight Rider, Mac Giver, dan Airwolf, adalah judul-judul filem malam yang masih kuingat. Adalagi, Lampu Aladdin, yang dipernakan Rano Karno. Pukul Sembilan, Filem sering dipotong berita TVRI, dan pada jam tersebut, beberapa bapak tetanggaku, sering berkumpul di rumah. Oh,ya, TV tua itu, adalah hadiah Sunatanku, di usia tiga tahun.
Hingga kelas tiga esde, tradisi itu berlangsung, kelas empat aku mulai kenal dengan teman-teman yang agak berjauhan, dari rumahku. Sesekali, usai jam wajib belajar yang selalu berakhir pada pukul delapan, aku kelayapan, bermain dengan anak-anak lain. Aku mengenal bisokop sekitar kelas lima (ha.ha, jadul banget, ya?), seratus meter dari rumahku baru berdiri bioskop baru, “Johar Studio”. Kami menonton diam-diam. Sebab kalau ketahuan orangtua, tentu habislah kami.

Pluralisme kaum santri

Di kelas empat pula aku mulai bermain dengan kawan yang berlainan keyakinan. Sebelumnya, aku tak bersahabat dengan tetanggaku yang beretnis Tionghoa, aku ogah bersahabat dengan anak-anak Chinesse. Padahal, rumahku dikelilingi rumah, dan toko warga tionghoa. sebabnya doktrin dari salahsatu bibiku, bahwa mereka kafir, dan harus dijauhi.
Aku dan beberapa kawan, sering menjahili anak-anak Chinnese itu. Sampai kemudian orang tua mereka mengadu pada Mama, dan beliau marah besar padaku. Aku dijewer, “kenapa kamu nakal, sama Hendra?” Tanya Ayah, “karena dia China” jawabku. “Memang kalo China, boleh digalakin?” tanyanya, lagi. “mereka kafir!” jawabku lagi. Mama beristighfar, dan memberiku ajaran termulia, bahwa bertemanlah denganh siapapun tanpa pandang Ras, keusukan, dan Agama. “Nabi juga berteman dengan Yahudi, dan keristen, inget Waraqah?” Tanya Ayah dengan bijak. Ya, aku ingat, Umi pernah cerita tentang Waraqah, yang kristen, dan mengakui kenabian Muhammad.
Mama juga bercerita sedikit tentang kemajemukan madinah, yang aku tak mengerti saat itu. Pikirku, saat itu, aku tak mau lagi dijewer, dan dimarahi karena memusuhi Hendra, yang keristen, Dirman, yang Budha, juga Dhani, yang entah beragama apa.
Akhirnya aku bersahabat dengan hendra, dan Dirman, bertukar majalah, dan bermain serta belajar bersama, kadang di teras rumahku, di Mushalla, atau di rumah Dirman, bermain sega. Dirman, yang seusia denganku, faham betul tradisi keluarga kami, ketika Adzan tiba, dia menghentikan permainan, memintaku untuk ke Mushalla, Adzan, dan Shalat. “Katanya mau jadi anak shaleh? Nanti dimarahi Mama, loh!” kalimat tulus itu sering kusalah artikan, bahwa dia ingin menguasai permainan. Sampai kami pernah bicara empat mata, “Lik, Agama kita tuh enggak jauh beda, ya. Kamu pengen jadi Sholeh, kami juga pengen berbudi,” ungkapnya. Aku mengamini uacapan Dirman.
Diantara hal yang membuat ku bangga pada Ayah, adalah sikapnya yang pluralis, padahal aku yakin, beliau tak pernah kenal dengan istilah itu. Ia tak pernah mengenyam bangku sekolah. Ia seorang putra kiai, berhaluan syafi’iyah, dan pengikut organisasi Nahdlatul Ulama (NU), tapi menokohkan seorang kiai yang aktivis masyumi, dan seorang ulama tokoh Muhammadiyah. Mama juga menokohkan presiden Messir Husni Mubarak, tokoh NU Subhan ZE; Cucu Nabi yang menjadi legenda Syi’ah, Hasan, dan Hussein; dan lainnya (nama-nama tersebut dilekatkan pada nama kakakku).
Di antara keluarga besar dari pihak ayah, dan Ibuku, ada dua pamanku yang menjadi tokoh perintis Muhammadiyyah di Karawang, H.M. Syatori, dan Alm. Shofwan Syarif, dulu, mereka sempat terasing ditengah keluarga besar kami, terutama dengan keluarga di Cirebon. Tapi Mereka justru dekat dengan Mama, dan Umi. Di rumah Mang Tori (H.M. Syatori), Aku sering membaca tabloid Suara muhammadiyah, sejak SD, berlanjut pada Tabloid Amanat, dan Tafsir Al-Azhar, Hamka, yang berjilid-jilid, ketika SMP, pustaka kemuahmmadiyahan di sana cukup lengkap, dan aku senang membacanya, berbeda dengan rumahku, Rak pustaka lebih banyak dipenuhi buku-buku tebal berbahasa Arab (kitab kuning), dan buku-buku pelajaran, bekas dipakai ke enam kakak-ku.
Mang Sopan (Alm. Drs. Sofwan Syarif, mantan Ketum Pemuda Muhammadiyah Karawang, dan Jabar) pernah mengajakku melihat kemeriahan muktamar Muhammadiyyah di Senayan, ketika itu aku masih SMP, dan berstatus santri aktif di pesantren Assalafie, Babakan, Ciwaringin, Cirebon. “Lihat, Senayan padat oleh ribuan kader Muhammadiyah se-Indonesia, bahkan yang tua juga rela datang,“ kata Mang sopan, bangga, sambil menunjuk seorang Kakek, berpeci hitam, celana pantaloon, dan batik coklat.
Pulang dari senayan, Aku sempat ingin bergabung dengan Ikatan remaja Muhamadiyyah di karawang. Umi membolehkan, Mama juga tak melarang, tapi pamanku yang lain, juga salahsatu kakakku, yang waktu itu mencegahku, “NU sedang kacau, dan yang berkewajiban membanihnya, ya santri seperti kamu,” begitu doktrin kakakku. Seorang paman di Cirebon mendoktrinku lebih keras, “Jangan ikuti pamanmu yang Muhammadiyyah, nanti banyak musuhnya,” cegah pamanku, ketika itu fanatisme organisasi belum lenyap di sebagian Cirebon.
Ketika Orde baru tumbang, aku juga menyaksikan kearifan yang dicontohkan Mama. Menjelang reformasi, kerusuhan, makar dan razia etnis tionghoa sempat terjadi di Karawang. Seorang lelaki separuh baya, berkulit putih, yang dibalut kemeja putih juga, bermata sipit, dengan kacamata minus, mendatangi rumah kami. Lamat-lamat kudengar dialog Mama, dan pengusaha tionghoa itu. Mereka berdiskusi tentang kacaunya keadaan, sang pengusaha meminta saran, dan perlindungan, ia takut tokonya dijarah, dan rumahnya dihancurkan, Ayahku menyatakan keprihatinannya, akan kondisi yang ada, padahal menurutnya, dulu mereka hidup berdampingan, seperti saudara. Selanjutnya, aku tak terlalu mengerti apa yang mereka bicarakan.

Setia pada Ulama

“Mama can pernah ngarasaan sakola, bisa maca ge, karena ngintip pelajaran barudak SR, mangka sing bener sakola, sing rajin ngaji, mumpung bisa sakola, bisa mondok,” kalimat itu sering terucap oleh Mama. Konon masa kecilnya habis untuk ngangon domba, dan di sela-sela penggembalaanya, beliau sering mengintip anak-anak priyayi yang sedang belajar di kelas. Mama juga sering bercerita tentang masakecilnya, tidak diberi kesempatan sekolah, dan mondok di Pesantren. Padahal beliau adalah anak seorang Kiai di Keputon, Plumbon, tapi Ayahnya tak memberi kesempatan belajar. Tak heran jika kemudian Mama berkukuh menjamin pendidikan semua anaknya. Aku dan ketujuh saudaraku, mendapat pendidikan minimal hingga bangku SMA, dan semua kami diwajibkan untuk Mondok di Pesantren.
Aku bangga pada Mama dan Umi, sebab selain menjamin pendidikan anak-anaknya. Puluhan saudara, dan kerabat (sepupu, paman, bibi, dan beberapa putra-putri teman dekatn Ayah, dan Ibuku) yang pernah tinggal seatap dengan Mama, dan Ummi, juga mendapat pendidikan yang layak, mereka juga di sekolahkan, hanya saja tidak dipesantrenkan, pendidikan keislaman mereka didapat langsung dari Mama, dan Ummi. Meski tidak mengenyam pendidikan sekolah, dan Pesantren, Mama mampu membaca Koran, dan lancar membaca Al-Qur’an, dan bisa membaca beberapa kitab kecil (Safinah, Tajwid, dan khulasoh/sejarah Nabi, serta tafsir jawa Al-Ibriz, aku sempat mengajinya, dan ditest oleh beliau). Jika membaca hurup latin, dan bahasa Indonesia ia dapat secara didaktik, membaca Al-Qur’an, dan beberapa kitab , dari mengaji kepada Ayahnya (kakaekku) dan beberapa Kiai. Hingga wafat, beliau dikenal setia terahadap para Kiai. Tak heran, jika sewaktu beliau mangkat, puluhan Kiai tua, dan muda, serta ratusan kerabat, dan kawan dekatnya, dari Johar karawang, dan Cirebon, mengiringnya hingga makbaroh (pekuburan keluarga). Bahkan khutbah pelepasan (yang resmi, dengan disaksikan lebih dari 40 jamaah),dan shalat jenazahnya, dilakukan oleh beberapa Kiai, di tiga tempat. Di Majelis Ta’lim Nurul Jannah, di Mushalla Annur, Johar karawang, dan di Mushalla Al-Hidayah, Plumbon, Cirebon. Ketiga tempat itu konon menjadi bukti fisik kesetiaan Mama, dalam membela keyakinannya.
Di Majelis ta’lim Nurul Jannah, disamping rumah kami, beliau dilepas oleh Kiai Asef Saefullah, pengasuh salahsatu pesantren di Karawang. Selang beberapa saat, konon seorang kiai sepuh Karawang, yang biasa dipanggil Ajengan Lili, bertitah, bahwa jenazah Ayahku harus dishalatkan di Mushalla Annur. Konon sempat terjadi pertentangan antara Ajengan Lili, dan Ustadz Maman, titah Ajengan Lili ditentang Ustadz Maman, keduanya tokoh tua di tempat kami, tapi Ajengan Lili punya alas an kuat, bahwa Mushalla Annur, adalah pertama kali beliau berjuang. Apalagi, konon terakhir kali shalat jamaah, beliau di Annur. Aku tak saksikan perdebatan itu, sebab aku baru datang di karawang, pukul 21.30, sementara jenazah telah dishalatkan sejak Ba’da Maghrib.
Ajengan Lili juga sempat memimpin khutbah, dan Shalat jenazah, selanjutnya Khutbah pelepasan juga disampaikan K.H. A.Dlomiri, Ketua MUI Karawang, yang membawa tujuh santrinya untuk mengkhatamkan AL-Qur’an, di samping jenazah. Pukul dua dinihari, jenazah dibawa ke Cirebon, di sana puluhan kerabat kami telah menunggu. Ba’da Subuh, lima mobil rombongan jenazah, dan satu ambulans, tiba di desa Pamijahan, Plumbon, pagi yang senyap pun pecah. Jenazah mama kembali dimasukkan ke dalam Mushalla. Pagi itu, sejak pukul lima, hingga pukul delapan, mushalla Al-Hidayah disesaki para tetamu yang berdatangan, dan memanjatkan shalat jenazah. Shalat jenazah terramai kusaksikan pada pukul tujuh pagi, dipimpin KH. Bahruddin, dari pesantren Palimanan, Kiai Azka Hamam Syairozie, Kiai Yasif Maimun, dari Pesantren Babakan Ciwaringin, dan beberapa kiai, dan ustadz, lain. Kuhitung jama’ah saat itu (perintah dari kakak, untuk memastikan amplop shalawat cukup tidak,) ada seratus dua puluh orang dewasa, dengan lima anak kecil, yang berjama’ah saat itu. Aku lega, ayahku dishalatkan oleh lebih dari empat puluh orang dewasa, dari kalangan pesantren. Semoga bisa menjadi jaminan untuknya, dalam meraih rahmat dan maghfirah Allah di alam sana.
Sepeninggal Mama, beberap orang tua bercerita tentang perjuangan Mama ,dalam membangun, memakmurkan, dan memperthankan Mushalla, dan Majelis Ta'lim. Aku jadi teringat, baha Mama membuat kontrakan, awalnya untuk memakmurkan Mushalla. Beliau juga sering mengingatkanku untuk tak henti belajar, demi dakwah islam, beliau ingin Anak-anaknya mengembangkan Da'wah Islam, mengembangkan Majelis, dan membangun Pesantren. dan sampai kini belum ada yang memenuhi mimpinya itu. tapi ada satu hal yang ku pegang, dari pesannya, "Tong thoma' ngadon hirup tina Ummat, meun jadi Kiai, kudu ngahirupan Ummat," (jangan tamak, menumpang hidup dari Ummat, kalau mau jadi kiai, harus menghidupkan Ummat). Ya Mama prihatin, dengan sikap beberapa Kiai di era sekarang, yang menjual agama, dan Ummatnya. semoga aku bisa wujudkan mimpinya..



Geli

Aku ingin terbahak
Lihat segala menggila
Mengunyah tawa
Hingga meregang nyawa

Rabu, 11 Februari 2009

Geli



Aku ingin terbahak
Lihat segala menggila
Mengunyah tawa
Hingga meregang nyawa



Kamis, 22 Januari 2009

Kenapa Harus Proyek?


Apa hal lucu yang pernah lu alamin ketika aktif di SiGMA? Begitu kira-kira tema tulisan pesanan yang disebut-sebut sebagai proyek Yuwi, litbang SiGMA, yang super woman. Hmm, Aku malah merasa lucu dengan kata proyek. Sebab kata mujarab ini sering dibayangkan punya nilai lebih, berupa pendapatan, atau penghasilan. Kata proyek ini pernah digugat oleh salahsatu seniorku sewaktu aku menyampaikan format, atau draft bertajuk proyek proposal pelatihan jurnalistik & broadcasting se-banten. Kenapa harus proyek? Kata seniorku. Gugup, dan gelagap tiba-tiba menghinggap dalam diriku.
Kenapa gugup? Karena aku–sejak awal pembuatan proposal tersebut, dan sebelum bertemu senior yang kemudian kuketahui bernama Ahmad Arby Syahrostani itu- kurang suka dengan kata proyek. Kesanku kala itu, kata proyek selalu bernuansa bagi-bagi keuntungan materil, bagi-bagi duit. Padahal PJB, buatku (waktu itu) tak lebih dari event sosial untuk merekrut kader SiGMA. Ya, event sosial! Karena PJB menurutku tak menghasilkan untung materil bagi diri maupun keluarga SIGMA. Panitia PJB yang semuanya adalah kru SiGMA lebih sering nombok, ketimbang mendapat penghasilan. Meski kalau dipikir lebih lanjut, sebenarnya ada keuntungan bagi panitia PJB. Satu, kebanggaan sebagai panitia, dua, bisa jalan-jalan gratis, dan terakhir bisa mengumpulkan sertifikat. Tapi, bagi crew yang sudah berkali menjadi panitia PJB sepertiku –waktu itu-, keuntungan tersbut tidak lagi berarti (bukan bermaksud sombong, terlibat di kepanitiaan bautaku yang waktu itu menginjak semester enam, bukan lagi hal asing. Sertifikat sudah banyak, jalan-jalan? Karena tiap PJB, tujuan wisatanya adalah kantor redaksi Tempo, maka aku hampir bosan). Dan yang terpenting, waktu itu aku riskan dengan kata proyek, sebab kata tersbut rentan KORUPSI. Maka mendengar gugatan tersbut, aku jadi gugup. Dan kemudian aku terggelagap.
Mengapa tergelagap? Sebab sebagai bagian dari panitia, aku harus bertanggung jawab mempertahankan konsep yang telah disepakati bersama. Meski pada dasarnya, konsep tersebut tidak kukehendaki. Maka aku tergelagap mencari apologi atas gugatan Bang Aas, begitu kami biasa menyapanya. “Karena ini sebuah event besar bagi SiGMA” kalau tidak salah, begitulah jawabku waktu itu. “Ya, kenapa proposalnya dinamakan proyek?” aku jadi tambah keki waktu itu.
Nah, saat ini, aku tergelitik dengan istilah proyek Yuwi, atas tulisan ang ditujukan untuk mengenang kelucuan di SIGMA ini.
Kenapa harus Proyek Yuwi? Hmm, mungkin karena pengumpulan tulisan yang sebenarnya harus lucu ini diusulkan oleh Yuwi. Padahal, sejak beberapa tahun lalu, ketika aku menjabat Pimred, dan Pinum, aku sempat bicarakan keinginan mengumpulkan tulisan crew SiGMA tentang SIGMA dan kiprahnya. Waktu itu aku ingin kami, para crew memberi kado ulang tahun SIGMA ke-17. ya waktu itu, tepat di Januari 2007 (kalau tak salah) mestinya tulisan persembahan untuk kado ulang tahun ISGMA itu selesai. Ide tersbut pernah dibicarakan dengan pembina SIGMA, yang biasa kami panggil, Pak Sobri, dengan seorang senior bernama Sobari, dan seorang teman, yang kemudian hengkang, bertitel Fetty. Bahkan (kalau tak salah lagi) Toink, dan Yuwi juga pernah kudendangkan ide ini. Tapi waktu itu, memang tak terpikir olehku membuat tulisan lucu. Yang terbersit saat itu, mengenang SiGMA, dan masa-masa di SIGMA, baik pahit, maupun getirnya. Opps, kenapa pahit dan getir? Sebab menurutku, yang dikenal melankolis dan serius ini, masa-masa di SIGMA adalah masa pancaroba, bak kawah candradimuka. Pahit melulu, kadang-kadang getir. Padahal kalau mau jujur, banyak juga hal yang manis di SiGMA. Termasuk yuwi manisa, yang punya proyek tulisan ini.
Tapi kenapa harus proyek? Dan mengapa harus tulisan lucu? Seingatku selama di SIGMA, belum ada yang mampu menulis lucu atau humor secerdas pengarang abunawas di SiGMA. “Di sinilah lucunya” kata Toink. Dia juga mengusulkan kalau jadi dibukukan, kumpulan tulisan ini berjudul 100 persen ngakak! Sebab kumpulan tulisan ini lucu karena tak lucu, begitu katanya. Tidak lucu bukan? Syukurlah, saya memang tak berniat jadi pelawak. Dan –konon- Saya lebih berbakat jadi esais, dan penulis lepas sekaliber Gunawan Muhammad, atau Kuntowijoyo. Amiin…(mmaaf kalau isinya agak narsis, semoga tidak najis. hee)





Aku Jumawa! (20/01/09. tepat pukul 1.30 sampai 2 pagi)


Lagi-lagi terlalu banyak godaan untuk tidak terlelap –mungkin- hingga fajar menjelang. Kebiasaan buruk warisan pesantren! Pikirku. Loh, kenapa pesantren yang dipersalahkan? Tanya diriku yang lain. Hmm. Tahun-tahun terakhir di pesantren, aku memang jarang tidur malam, hampir tak pernah malah. Berkhayal, membaca, dan merenung seakan mengkarakter dalam diri ini. Tapi aku sadar ada penurunan kualitas dari tradisi melekan ku. Dulu, aku melek membaca buku bermutu, dari Filsafat Ghazali, sampai hadad Alwi. Dulu aku berdiskusi tentang makna hidup dengan berbagai kalangan. Dari Kiai, sampai tukang batu ali. Yah, pesantrenku sering disinggahi banyak orang, dari berbagai kalangan. Mereka sering menginap beberapa hari, berriyadloh, begitu istilah bagi mereka yang haus ketenangan jiwa, dan berusaha untuk dekat pada Tuhannya, “Melatih diri untuk menjadi insan sholeh” kata kiai. Atmosfer kesalehan nan privat itu mau-tak mau menyentuh, dan merengkuhku. Aku sempat terlena pada keintiman jiwa dengan Sang Gaib. Kondisi tersbut, hanya kudapatkan kurang dari tiga tahun. Selebihnya, aku terjerat pada egosentris. keakuan yang meraja. Merasa peroleh anugerah terindah, berupa kesalehan yang berhias individualisme. Aku menjadi seorang yang egois. Jika kuingat masa-masa itu, aku tertawa, melihat diri yang jenaka.
Keadaan ini bertambah parah, ketika aku merasa mendapat pengetahuan lebih. Aku terjebak kecerdasan semu. Mencoba menafsir apa yang tak mampu kutafsir. Berfikir tentang hal yang tak layak diukir. Berdzikir getir karena getir tak lekas minggir, dari diri yang fakir.
Sampai kemudian aku dipertemukan dengan dialektika kaum cendekia. Segera saja aku merasa bergaya, bertingkah, sok berkelana dengan beragam paradigma yang menurutku –saat itu- mewah. Aku jumawa. Hingga tak sungkan lagi menggugatNya di depan massa. Aku terlena pada pencarian, hingga sulit temukan jalan.
Dan kini aku dibuai hedonisme. Aku merasa jadi seorang yang materialistis. Bergulat dengan kebutuhan hidup. Dihantui obsesi duniawi. Aku hampir tak percaya hal yang ukhrowi. Bahkan ketenangan semu dengan mengingatNya pun tak mampu kuraih. Aku kehilangan rasa khusyuk. Aku kangen rasa itu. Teduhnya jiwa, cerahnya fikiran.


Rabu, 21 Januari 2009

Lelah itu biasa, Sob!



lelah itu biasa menghampiriku, namanya juga orang hidup, ya mesti merasakan sesuatu. termasuk lelah. sebab lelah itu suatu perasaan juga. serius aku lelah banget. lelah mebolak-balik kata menjadi kalimat. lelah berkelana. "Tapi ini proses yang mesti gw jalanin," batinku saat ini. maka aku tersenyum mengingat cerita tentang rasa lelah. Dan bibirku semakin terkembang mendengar lagu Dewi Lestari bertajuk "malaikat juga tahu"yang dibuka dengan kata, lelah.
besok aku harus bersiap lagi untuk melakukan 'bag packker' bermodalkan selembar surat tugas dari sebuah koran, berkeliling mencari makanan atu pertokoan yang layak diberitakan. tapi aku sempat kecewa, ketika dua hari lalu aku ditegur lewat sms, "cari beritanya jangan pedagang gerobak, ya!" begitu bunyi pesan dari seniorku di koran tersbut. kenapa jangan pedagang gerobak? bukankah yang dicari adalah news values? dan aku sering temukan nilai berita dari para pedagang kecil. aku melihat human interest. dan berdasar pada kaidah jurnalistik yang pernah kupelajari, human interest menjadi salahsatu nilai berita yang layak jual. apa karena mereka tak mampu beriklan, lantas mereka tak layak masuk berita? hmm.. kapitalis benar!
tadi siang aku diberi tugas baru untuk meliput dunia politik di Kota Serang. aku senang dengan tantangan ini. tapi semalam tadi, tepat pukul 23.30, teleponku tiba-tiba berdering, redaktur pelaksana harian tempatku magang, berkata " kamu besok gak usah ke Pemda, dan tetap meliput bisnis, ya. seniormu sakit." lelah lagi, deh.

Minggu, 18 Januari 2009

menjalani proses



Besok adalah hari ke 19 aku magang di sebuah media lokal yang bernaung dialam sebuah group media yang sedang meraja di Nusantara. Awalnya aku senang dengan tantangan yang diberikan, 3 berita setiap hari. Apalagi aku diplot untuk meliput berita info bisnis, besar harapku untuk trurt mengawal tumbuhnya ekonomi kerakyatan di Banten.
Sampai kemudian, datang sebuah petuah, “Cari berita bisnis yang berprospek pada peningkatan iklan” begitu kata seorang seniorku. Hmm, bekerja di media lokal yang baru tumbuh, membuat wartawan harus bisa menempatkan diri sebagai public relation, aku mencari berita plus tugas tambahan, mencari iklan!
Sebab aku butuh pekerjaan itu, maka tak banyak protes ku dendangkan. Aku tahu posisiku, Wartawan Magang. Dan wartawan magang di media professional, tentu berbeda dengan wartawan magang di pers kampus. Setiap hari kususuri kota serang, mencari berita untuk halaman bisnis. Kompensasi iklan tak begitu kugubris. Aku pilih meliput info bisnis kecil, dengan harapan, semoga liputanku bisa menumbuhkan gairah para pengusaha kecil lokal. Semua liputanku bersifat ‘ecek-ecek’. Aku tak meliput mall, dan usaha-usaha agen kapitalis lain. Meski hanya wartawan info bisnis, aku ingin berteguh pada visi idealku semasa di pers kampus. Aku meliput pedagang penganan tradisional, aku meliput pedagang t-shirt, dan pakaian produk lokal, atau yang dikenal dengan clothing dan distro. Satu harapanku, semoga usaha mikro yang jelas menjual barang ‘nyata’ di serang bergeliat. Semoga krisis keuangan di Amerika tak begitu melemahkan urat ekonomi rakyat kecil.
Sempat kubandingkan pola manajemen rdaksional di media tempatku bekerja saat ini, dengan manajemen kerdaksian yang sempat kuterapkan di Pers Kampus, bersama para sahabat yang satu visi. Kami berkeinginan memberi manfaat pada para pembaca. Kami ingin tumbuhkan wacana kritis di tengah kampus kami yang feodal. Visi itu hamper terlaksanan rasanya. Sampai kemudian kami tingkatkan visi menjadi media alternative mahasiswa, dan pelajar. Saying, baru 3 bulan, kami berjuang, dating berbagai bala bencana yang melemahkan semangat para crew. Bahkan aku dan beberapa pimpinan divisi saat itu, kemudian ikut melempem. Visi itu kandas.
Sekarang, aku bergabung di sebuah media profesional tingkat lokal. Prinsip yang kupegang selama tiga tahun di pers kampus, hampir tergerus oleh beragam alasan. Idealisme, rasionallisme yang ku junjung selama menjadi wartawan kampus, hampir pudar. Dan aku merasa beberapa kemampuan menulisku melemah. Sebab aku dikejar deadline, aku mesti hasilkan 3 sampai 6 berita dalam sehari. Aku tak lagi ketat dalam kualitas tulisan.Sering aku didingatkan tentang komposisi tulisan, ”betapa bodohnya aku?”.
Aku juga dirundung problem baru, menyiapkan ongkos liputan, dan ongkos ke kantor setiap hari. Banyak yang bilang, dengan diplot di info bsinsi, aku punya banyak peluang untuk menjadi kaya. Ha.ha, ya aku berharap kaya berkat doa para pedagang kecil yang senang ketika warungnya kuliput.
Aku ingin tetap berteguh pada kode etik jurnalistik, dan visi sosialis, yang pernah diajarkan para guruku terdahulu.. dan seharusnya, perusahaan pers ketat menginisiasi wartawannya untuk tidak menjadi wartawan bodrek. Untuk itu, mereka harus siap memberi fasilitas, dan mencukupi kebutuhan wartawannya. Agar wartawan bisa memproteksi diiri dari godaan uang tips yang terkutuk, tapi menggiurkan, he
Aku juga ingin tetap menuliskan refleksi kritis atas berbagai realita yang menghampiri. Semoga aku benar-benar jadi penulis hebat. Ha,ha



Sabtu, 17 Januari 2009

Menyesali pilihan



hidup ini seperti permaian lotere. kita bebas memilih, dan kemudian menyesali pilihan kita. Dihadapkan pada berbagai pilihan, sering membuatku panas-dingin. apalagi ketika sadar, telah memilih yang bukan terbaik. memimilih itu membingungkan. tapi hidup adalah pilihan, dan memaksa kita untuk memilih. yang repot adalah merelakan pilihan kita, dan menjalani konsekwensi dari pilihan kita. meski kita memilih apa yang diobsesikan, tapi ternyata tetap tak memuaskan.

Ketika pertama masuk kuliah, aku terobsesi untuk mengikuti dan menjuarai lomba menulis dan kepenulisan. sayang obsesi itu kini tinggal kenangan. ya sampai detik ini, ketika berbagai obsesi lain berkelabatan, obsesi itu belum tercapai juga. sampai sekarang ini, ketika usia perkuliahanku hampir mencapai titik akhir, impian untuk menjuarai lomba menulis tingkat lokal, maupun nasional, tak pernah kesampaian. hm.. pernah sekali aku menjuarai lomba resensi buku, tapi hanya sekali, di tingkat kampus, dengan peserta empat orang.
ha.ha.

Berkali kesempatan mengikuti lomba menghampiri. berkali pula hambatan datang, dan membuat obsesiku tak tercapai.Dua tahun lalu, ketika aku berekeinginan kuat mengikuti Anual conference yang rutin diadakan Diktis Depag, aku tersibukkan oleh advokasi kebijakan kampus, dan liputan khusus untuk demo IAIN Banten 2006. tahun lalu,ketika Ahmad wahib Award digelar, aku menyiapkan lagi tulisan, tapi kemudian gagal lagi, karena aku harus menyiapkan proposal dan format monitoring PKBM yang akan digarap sebuah LSm yang dipimpin salahsatu seniorku. kemarin, ketika aku hendak ikuti lomba menulis esai politik islam yang digelar sebuah partai, juga tak sempat kuikuti, sebab aku memilih magang di sebuah media lokal. dan barusan, aku menyesal gak bisa ikut lomba menulis esai urban sufism, karena aku terlambat mengetahui agendanya. padahal hampir tiap hari aku di warnet.



Mengapa aku tak rela pada pilihanku sendiri? Mengapa penyesalan selalu datang seusai memilih? Mengapa aku bersedih hadapi konsekwensi dari pilihanku?
Karena pilihan yang kulakukan tak lebih dari keterpaksaan. Aku dipaksa kondisi, Aku dipaksa kenyataan. dan Aku dipaksa oleh keterbatasan. Maka ke depan, tak hendak lagi aku memilih, jika itu tak perlu. tapi sepertinya sulit menghindari pemilihan.

pernah aku memilih untuk dipilih, dan kemudian pilihan itu kusesali lagi. pernah aku memilih seseorang untuk kepentinganku, lagi-lagi tak seperti yang dibayangkan, repotnya memilih, maka aku tak hendak lagi memilih. Sebab aku bukan orang terpilih, yang layak tuk dipilih, saat ini, aku tak ingin lagi ikut pemilihan..





luvne.com ayeey.com cicicookies.com mbepp.com kumpulanrumusnya.com.com tipscantiknya.com