Gusdurian

Surat Terbuka Untuk Politisi Banten

Terkhusus untuk para politisi Banten, yang sedang bersiap,menghadapi Pilkada 2017 nanti, sudahi dulu lah debat kusir tentang siapa cal...

Kamis, 22 Januari 2009

Aku Jumawa! (20/01/09. tepat pukul 1.30 sampai 2 pagi)


Lagi-lagi terlalu banyak godaan untuk tidak terlelap –mungkin- hingga fajar menjelang. Kebiasaan buruk warisan pesantren! Pikirku. Loh, kenapa pesantren yang dipersalahkan? Tanya diriku yang lain. Hmm. Tahun-tahun terakhir di pesantren, aku memang jarang tidur malam, hampir tak pernah malah. Berkhayal, membaca, dan merenung seakan mengkarakter dalam diri ini. Tapi aku sadar ada penurunan kualitas dari tradisi melekan ku. Dulu, aku melek membaca buku bermutu, dari Filsafat Ghazali, sampai hadad Alwi. Dulu aku berdiskusi tentang makna hidup dengan berbagai kalangan. Dari Kiai, sampai tukang batu ali. Yah, pesantrenku sering disinggahi banyak orang, dari berbagai kalangan. Mereka sering menginap beberapa hari, berriyadloh, begitu istilah bagi mereka yang haus ketenangan jiwa, dan berusaha untuk dekat pada Tuhannya, “Melatih diri untuk menjadi insan sholeh” kata kiai. Atmosfer kesalehan nan privat itu mau-tak mau menyentuh, dan merengkuhku. Aku sempat terlena pada keintiman jiwa dengan Sang Gaib. Kondisi tersbut, hanya kudapatkan kurang dari tiga tahun. Selebihnya, aku terjerat pada egosentris. keakuan yang meraja. Merasa peroleh anugerah terindah, berupa kesalehan yang berhias individualisme. Aku menjadi seorang yang egois. Jika kuingat masa-masa itu, aku tertawa, melihat diri yang jenaka.
Keadaan ini bertambah parah, ketika aku merasa mendapat pengetahuan lebih. Aku terjebak kecerdasan semu. Mencoba menafsir apa yang tak mampu kutafsir. Berfikir tentang hal yang tak layak diukir. Berdzikir getir karena getir tak lekas minggir, dari diri yang fakir.
Sampai kemudian aku dipertemukan dengan dialektika kaum cendekia. Segera saja aku merasa bergaya, bertingkah, sok berkelana dengan beragam paradigma yang menurutku –saat itu- mewah. Aku jumawa. Hingga tak sungkan lagi menggugatNya di depan massa. Aku terlena pada pencarian, hingga sulit temukan jalan.
Dan kini aku dibuai hedonisme. Aku merasa jadi seorang yang materialistis. Bergulat dengan kebutuhan hidup. Dihantui obsesi duniawi. Aku hampir tak percaya hal yang ukhrowi. Bahkan ketenangan semu dengan mengingatNya pun tak mampu kuraih. Aku kehilangan rasa khusyuk. Aku kangen rasa itu. Teduhnya jiwa, cerahnya fikiran.


1 komentar:

Andrie callista mengatakan...

hhmmmmm......

luvne.com ayeey.com cicicookies.com mbepp.com kumpulanrumusnya.com.com tipscantiknya.com