Gusdurian

Surat Terbuka Untuk Politisi Banten

Terkhusus untuk para politisi Banten, yang sedang bersiap,menghadapi Pilkada 2017 nanti, sudahi dulu lah debat kusir tentang siapa cal...

Kamis, 22 Januari 2009

Kenapa Harus Proyek?


Apa hal lucu yang pernah lu alamin ketika aktif di SiGMA? Begitu kira-kira tema tulisan pesanan yang disebut-sebut sebagai proyek Yuwi, litbang SiGMA, yang super woman. Hmm, Aku malah merasa lucu dengan kata proyek. Sebab kata mujarab ini sering dibayangkan punya nilai lebih, berupa pendapatan, atau penghasilan. Kata proyek ini pernah digugat oleh salahsatu seniorku sewaktu aku menyampaikan format, atau draft bertajuk proyek proposal pelatihan jurnalistik & broadcasting se-banten. Kenapa harus proyek? Kata seniorku. Gugup, dan gelagap tiba-tiba menghinggap dalam diriku.
Kenapa gugup? Karena aku–sejak awal pembuatan proposal tersebut, dan sebelum bertemu senior yang kemudian kuketahui bernama Ahmad Arby Syahrostani itu- kurang suka dengan kata proyek. Kesanku kala itu, kata proyek selalu bernuansa bagi-bagi keuntungan materil, bagi-bagi duit. Padahal PJB, buatku (waktu itu) tak lebih dari event sosial untuk merekrut kader SiGMA. Ya, event sosial! Karena PJB menurutku tak menghasilkan untung materil bagi diri maupun keluarga SIGMA. Panitia PJB yang semuanya adalah kru SiGMA lebih sering nombok, ketimbang mendapat penghasilan. Meski kalau dipikir lebih lanjut, sebenarnya ada keuntungan bagi panitia PJB. Satu, kebanggaan sebagai panitia, dua, bisa jalan-jalan gratis, dan terakhir bisa mengumpulkan sertifikat. Tapi, bagi crew yang sudah berkali menjadi panitia PJB sepertiku –waktu itu-, keuntungan tersbut tidak lagi berarti (bukan bermaksud sombong, terlibat di kepanitiaan bautaku yang waktu itu menginjak semester enam, bukan lagi hal asing. Sertifikat sudah banyak, jalan-jalan? Karena tiap PJB, tujuan wisatanya adalah kantor redaksi Tempo, maka aku hampir bosan). Dan yang terpenting, waktu itu aku riskan dengan kata proyek, sebab kata tersbut rentan KORUPSI. Maka mendengar gugatan tersbut, aku jadi gugup. Dan kemudian aku terggelagap.
Mengapa tergelagap? Sebab sebagai bagian dari panitia, aku harus bertanggung jawab mempertahankan konsep yang telah disepakati bersama. Meski pada dasarnya, konsep tersebut tidak kukehendaki. Maka aku tergelagap mencari apologi atas gugatan Bang Aas, begitu kami biasa menyapanya. “Karena ini sebuah event besar bagi SiGMA” kalau tidak salah, begitulah jawabku waktu itu. “Ya, kenapa proposalnya dinamakan proyek?” aku jadi tambah keki waktu itu.
Nah, saat ini, aku tergelitik dengan istilah proyek Yuwi, atas tulisan ang ditujukan untuk mengenang kelucuan di SIGMA ini.
Kenapa harus Proyek Yuwi? Hmm, mungkin karena pengumpulan tulisan yang sebenarnya harus lucu ini diusulkan oleh Yuwi. Padahal, sejak beberapa tahun lalu, ketika aku menjabat Pimred, dan Pinum, aku sempat bicarakan keinginan mengumpulkan tulisan crew SiGMA tentang SIGMA dan kiprahnya. Waktu itu aku ingin kami, para crew memberi kado ulang tahun SIGMA ke-17. ya waktu itu, tepat di Januari 2007 (kalau tak salah) mestinya tulisan persembahan untuk kado ulang tahun ISGMA itu selesai. Ide tersbut pernah dibicarakan dengan pembina SIGMA, yang biasa kami panggil, Pak Sobri, dengan seorang senior bernama Sobari, dan seorang teman, yang kemudian hengkang, bertitel Fetty. Bahkan (kalau tak salah lagi) Toink, dan Yuwi juga pernah kudendangkan ide ini. Tapi waktu itu, memang tak terpikir olehku membuat tulisan lucu. Yang terbersit saat itu, mengenang SiGMA, dan masa-masa di SIGMA, baik pahit, maupun getirnya. Opps, kenapa pahit dan getir? Sebab menurutku, yang dikenal melankolis dan serius ini, masa-masa di SIGMA adalah masa pancaroba, bak kawah candradimuka. Pahit melulu, kadang-kadang getir. Padahal kalau mau jujur, banyak juga hal yang manis di SiGMA. Termasuk yuwi manisa, yang punya proyek tulisan ini.
Tapi kenapa harus proyek? Dan mengapa harus tulisan lucu? Seingatku selama di SIGMA, belum ada yang mampu menulis lucu atau humor secerdas pengarang abunawas di SiGMA. “Di sinilah lucunya” kata Toink. Dia juga mengusulkan kalau jadi dibukukan, kumpulan tulisan ini berjudul 100 persen ngakak! Sebab kumpulan tulisan ini lucu karena tak lucu, begitu katanya. Tidak lucu bukan? Syukurlah, saya memang tak berniat jadi pelawak. Dan –konon- Saya lebih berbakat jadi esais, dan penulis lepas sekaliber Gunawan Muhammad, atau Kuntowijoyo. Amiin…(mmaaf kalau isinya agak narsis, semoga tidak najis. hee)





0 komentar:

luvne.com ayeey.com cicicookies.com mbepp.com kumpulanrumusnya.com.com tipscantiknya.com