Gusdurian

Surat Terbuka Untuk Politisi Banten

Terkhusus untuk para politisi Banten, yang sedang bersiap,menghadapi Pilkada 2017 nanti, sudahi dulu lah debat kusir tentang siapa cal...

Minggu, 18 Januari 2009

menjalani proses



Besok adalah hari ke 19 aku magang di sebuah media lokal yang bernaung dialam sebuah group media yang sedang meraja di Nusantara. Awalnya aku senang dengan tantangan yang diberikan, 3 berita setiap hari. Apalagi aku diplot untuk meliput berita info bisnis, besar harapku untuk trurt mengawal tumbuhnya ekonomi kerakyatan di Banten.
Sampai kemudian, datang sebuah petuah, “Cari berita bisnis yang berprospek pada peningkatan iklan” begitu kata seorang seniorku. Hmm, bekerja di media lokal yang baru tumbuh, membuat wartawan harus bisa menempatkan diri sebagai public relation, aku mencari berita plus tugas tambahan, mencari iklan!
Sebab aku butuh pekerjaan itu, maka tak banyak protes ku dendangkan. Aku tahu posisiku, Wartawan Magang. Dan wartawan magang di media professional, tentu berbeda dengan wartawan magang di pers kampus. Setiap hari kususuri kota serang, mencari berita untuk halaman bisnis. Kompensasi iklan tak begitu kugubris. Aku pilih meliput info bisnis kecil, dengan harapan, semoga liputanku bisa menumbuhkan gairah para pengusaha kecil lokal. Semua liputanku bersifat ‘ecek-ecek’. Aku tak meliput mall, dan usaha-usaha agen kapitalis lain. Meski hanya wartawan info bisnis, aku ingin berteguh pada visi idealku semasa di pers kampus. Aku meliput pedagang penganan tradisional, aku meliput pedagang t-shirt, dan pakaian produk lokal, atau yang dikenal dengan clothing dan distro. Satu harapanku, semoga usaha mikro yang jelas menjual barang ‘nyata’ di serang bergeliat. Semoga krisis keuangan di Amerika tak begitu melemahkan urat ekonomi rakyat kecil.
Sempat kubandingkan pola manajemen rdaksional di media tempatku bekerja saat ini, dengan manajemen kerdaksian yang sempat kuterapkan di Pers Kampus, bersama para sahabat yang satu visi. Kami berkeinginan memberi manfaat pada para pembaca. Kami ingin tumbuhkan wacana kritis di tengah kampus kami yang feodal. Visi itu hamper terlaksanan rasanya. Sampai kemudian kami tingkatkan visi menjadi media alternative mahasiswa, dan pelajar. Saying, baru 3 bulan, kami berjuang, dating berbagai bala bencana yang melemahkan semangat para crew. Bahkan aku dan beberapa pimpinan divisi saat itu, kemudian ikut melempem. Visi itu kandas.
Sekarang, aku bergabung di sebuah media profesional tingkat lokal. Prinsip yang kupegang selama tiga tahun di pers kampus, hampir tergerus oleh beragam alasan. Idealisme, rasionallisme yang ku junjung selama menjadi wartawan kampus, hampir pudar. Dan aku merasa beberapa kemampuan menulisku melemah. Sebab aku dikejar deadline, aku mesti hasilkan 3 sampai 6 berita dalam sehari. Aku tak lagi ketat dalam kualitas tulisan.Sering aku didingatkan tentang komposisi tulisan, ”betapa bodohnya aku?”.
Aku juga dirundung problem baru, menyiapkan ongkos liputan, dan ongkos ke kantor setiap hari. Banyak yang bilang, dengan diplot di info bsinsi, aku punya banyak peluang untuk menjadi kaya. Ha.ha, ya aku berharap kaya berkat doa para pedagang kecil yang senang ketika warungnya kuliput.
Aku ingin tetap berteguh pada kode etik jurnalistik, dan visi sosialis, yang pernah diajarkan para guruku terdahulu.. dan seharusnya, perusahaan pers ketat menginisiasi wartawannya untuk tidak menjadi wartawan bodrek. Untuk itu, mereka harus siap memberi fasilitas, dan mencukupi kebutuhan wartawannya. Agar wartawan bisa memproteksi diiri dari godaan uang tips yang terkutuk, tapi menggiurkan, he
Aku juga ingin tetap menuliskan refleksi kritis atas berbagai realita yang menghampiri. Semoga aku benar-benar jadi penulis hebat. Ha,ha



0 komentar:

luvne.com ayeey.com cicicookies.com mbepp.com kumpulanrumusnya.com.com tipscantiknya.com