Gusdurian

Surat Terbuka Untuk Politisi Banten

Terkhusus untuk para politisi Banten, yang sedang bersiap,menghadapi Pilkada 2017 nanti, sudahi dulu lah debat kusir tentang siapa cal...

Sabtu, 17 Januari 2009

Menyesali pilihan



hidup ini seperti permaian lotere. kita bebas memilih, dan kemudian menyesali pilihan kita. Dihadapkan pada berbagai pilihan, sering membuatku panas-dingin. apalagi ketika sadar, telah memilih yang bukan terbaik. memimilih itu membingungkan. tapi hidup adalah pilihan, dan memaksa kita untuk memilih. yang repot adalah merelakan pilihan kita, dan menjalani konsekwensi dari pilihan kita. meski kita memilih apa yang diobsesikan, tapi ternyata tetap tak memuaskan.

Ketika pertama masuk kuliah, aku terobsesi untuk mengikuti dan menjuarai lomba menulis dan kepenulisan. sayang obsesi itu kini tinggal kenangan. ya sampai detik ini, ketika berbagai obsesi lain berkelabatan, obsesi itu belum tercapai juga. sampai sekarang ini, ketika usia perkuliahanku hampir mencapai titik akhir, impian untuk menjuarai lomba menulis tingkat lokal, maupun nasional, tak pernah kesampaian. hm.. pernah sekali aku menjuarai lomba resensi buku, tapi hanya sekali, di tingkat kampus, dengan peserta empat orang.
ha.ha.

Berkali kesempatan mengikuti lomba menghampiri. berkali pula hambatan datang, dan membuat obsesiku tak tercapai.Dua tahun lalu, ketika aku berekeinginan kuat mengikuti Anual conference yang rutin diadakan Diktis Depag, aku tersibukkan oleh advokasi kebijakan kampus, dan liputan khusus untuk demo IAIN Banten 2006. tahun lalu,ketika Ahmad wahib Award digelar, aku menyiapkan lagi tulisan, tapi kemudian gagal lagi, karena aku harus menyiapkan proposal dan format monitoring PKBM yang akan digarap sebuah LSm yang dipimpin salahsatu seniorku. kemarin, ketika aku hendak ikuti lomba menulis esai politik islam yang digelar sebuah partai, juga tak sempat kuikuti, sebab aku memilih magang di sebuah media lokal. dan barusan, aku menyesal gak bisa ikut lomba menulis esai urban sufism, karena aku terlambat mengetahui agendanya. padahal hampir tiap hari aku di warnet.



Mengapa aku tak rela pada pilihanku sendiri? Mengapa penyesalan selalu datang seusai memilih? Mengapa aku bersedih hadapi konsekwensi dari pilihanku?
Karena pilihan yang kulakukan tak lebih dari keterpaksaan. Aku dipaksa kondisi, Aku dipaksa kenyataan. dan Aku dipaksa oleh keterbatasan. Maka ke depan, tak hendak lagi aku memilih, jika itu tak perlu. tapi sepertinya sulit menghindari pemilihan.

pernah aku memilih untuk dipilih, dan kemudian pilihan itu kusesali lagi. pernah aku memilih seseorang untuk kepentinganku, lagi-lagi tak seperti yang dibayangkan, repotnya memilih, maka aku tak hendak lagi memilih. Sebab aku bukan orang terpilih, yang layak tuk dipilih, saat ini, aku tak ingin lagi ikut pemilihan..





0 komentar:

luvne.com ayeey.com cicicookies.com mbepp.com kumpulanrumusnya.com.com tipscantiknya.com