Gusdurian

Surat Terbuka Untuk Politisi Banten

Terkhusus untuk para politisi Banten, yang sedang bersiap,menghadapi Pilkada 2017 nanti, sudahi dulu lah debat kusir tentang siapa cal...

Selasa, 17 Februari 2009

Pesantren Buat Mama






Sulit bagiku untuk mengingat kapan perkenalanku dengan dunia Pesantren bermula. Sebab sejak kecil, aku diakrabkan dengan sarung, peci hitam, pondok, kitab kuning, dan Kiai, aku dikenalkan pada mereka oleh Ayahku. Aku bangga kepada Ayah, juga Ibuku. Jika aku mengenal Islam, dan hal-ihwalnya dari Ummi (Ibu), maka dunia pesantren, dan tokoh-tokoh Islam, kukenal lewat Mama (Ayah). Bahkan namaku, menurut Ayah disandarkan pada nama seorang Kiai besar dari Cirebon, Kiai Haji Abdul Malik, pengasuh Pesantren As-Shalah, Kaliwadas Cirebon, “Beliau salahsatu tokoh Masyumi, yang teguh pendirian,” begitu kata Mama, dulu. Mama sering bercerita tentang Kiai Malik (belakangan, beliau jadi guruku, aku sempat mengaji di pesantren As-Shalah, selama 6 bulan) Mama juga pernah bercerita tentang seorang tokoh bernama Haji Abdul Malik Karim Amrullah, yang dikenal dengan nama HAMKA, Tokoh tasawwuf modern, Muhammadiyyah.
Aku salut pada pola pendidikan kedua oarngtuaku. Sejak kecil Ummi telaten membimbingku untuk belajar membaca, membaca Al-Qur’an, dan membaca Koran. Di usia tiga tahun aku telah disunat, dan di usia empat tahun aku digembleng untuk menghafal Juz’amma, menghafal nama, dan silsilah Nabi, nama malikat, hingga nama surga, dan neraka. Menginjak usia lima tahun, aku dititipkan di Pesantren Kiai Malik, aku ingat betul bagaimana Mama meninggalkanku di Mushalla Pesantren, dengan berpura-pura tidur di sana, Aku ikut tertidur di sampingnya. Dan ketika terbangun, Mama telah pergi. Aku menangis kala itu, tersedu, hingga seorang senior membawaku kepada Kiai Malik, aku diberi Air, dan terdiam. Tapi efek Air itu tak abadi, sekian minggu kemudian, aku menjadi seorang pemberontak cilik. Bermain Yuyu (kepiting kecil), membakranya bersama teman-teman, dan ‘menguasai arena bermain taman kanak-kanak di komplek Pesantren. Aku, dan Gank ku tak pernah mau diganggu teman-teman lain, artinya selama kami ada di sana, yang lain haram dibagi.
Uniknya, gangku tak Cuma anak lelaki, beberap anak perempuan juga tergabung di sana. Kami semua sebaya, usia empat, sampai tujuh tahun. Dan Aku dianggap yang terbadung, sebab ketika senior menggiring kami untuk mandi, makan, atau mengaji, Akulah yang paling sering menolak, bahkan seorang putra Kiai –yang entah namanya siapa- pun tak sanggup memaksaku makan, dan mandi.
Pernah ketika perayaan Idul Adha, aku menumpahkan seporsi nasi rangsum, yang didapat dari mengatri, Aku merasa mual saat itu, dan memuntahkannya. Yang paling sering mengomel, saat itu adalah Ibu Nyai (Istri Kiai), dalam sewotnya, beliau sering berkata “Aran sih pada karo Kiai, tapi kelakuane, ampuun, badunge!” (Nama sih sama dengan Kiai, tapi ko kelakuannya badung sekali), yah beberapa tragedy di Pesantren kala itu, masih melekat di otakku. Termasuk ketika aku berkelahi dengan teman seangkatan, yang kupergoki mencuri, kabur dari Pesantren, dan dikejar para Senior, hingga ketika Aku tenggelam dalam kubangan, karena terjatuh dari perahu rakit tempat kami bermain.
Masaku tak lama di pesantren Anak-anak As-Shalah, hanya berkisar empat bulan, sampai satu semesteran, aku sakit, dan dipulangkan. Di Ash-shalah, kala itu, aku ditemani kakakku, dia bertugas menjagaku, dan tugasnya dilakukan dengan tuntas. Hmm. Mama, berharap aku menjadi Kiai cilik, kala itu. Aku sering diperkenalkan dengan para kiai Cilik yang diundang, atau dikunjugi ke rumahnya. Salahsatunya bernama Ehan. Sayang,aku tak betah di Pesantren, malah kakaku, yang kemudian betah di sana, dari kelas empat hingga lulus Esde. Padahal, awalnya Dia bertugas mengawalku, tapi Dia yang kemudian menuntaskan mimpi Mama.
Mama, dan Ummi tak patah semangat, ketika Aku tak betah tinggal di pesantren, maka aku digembleng di rumah, aku mengaji pada tiga Kakak ku yang tinggal di rumah. tiga kakakku yang lain masih di Pesantren, dan yang satu kuliah di IAIN. Kakak berlangganan Koran Republika, dan tak pernah absen memberiku suplemen halaman Beranda (halaman khusus anak-anak). Aku juga dilanggani Majalah anak shaleh. Menjelang tidur, ummi mendongengi berbagai cerita keislaman, dari heroisme Ali Bin Abi Thalib, sampai cerita si bangsat Dajjal. Maka sejak itu aku mengidolakan Ali. Mama juga sering mengajakku menonton filem Haidar Ali, dan berita perang Irak, bersama para tetangga yang kal itu belum memiliki TV. Maka idolaku bertambah, Saddam Hussein. Sampai beberapa tahun lalu, ketika aku di semester awal perkuliahan, seorang bapak, yang pernah bertetangga denganku, bertemu, dia bertanya, “Bagaimana kabar Saddam?” aku terbahak, mengingat kekonyolan masa kecilku, sang Bapak, yang –kalu tak salah- bernama Mudzakkir itu, sering menggodaku, bahwa Saddam Hussein akan kalah melawan George Bush, dan Aku akan dengan semangat menolaknya.
Sekali waktu, aku pernah tak fasih membaca huruf Syin pada salah satu Ayat Al-Quran, dan Kakaku yang bernama Abdillah, mencubit kakiku dengan keras. Aku menangis. Dia kesal, setelah berkali mengingatkanku, akupun menangis. Maka Mama memangilku ke kamarnya, baru kali itu aku mengaji langsung pada beliau, di kamarnya. Bisanya aku mengaji pada Umi, dan kakak-kakaku, dan aku akan selalu mengang kejadian itu. Beliau ajarkan kau mebaca Syin, dan Shod yang mudah, dengan menambah Y, pada S pertama, dan bersiul, pada S kedua. Aku duduk di kelas satu esde, kala itu.
Mereka ajarkan displin dengan keteladanan. Ba’da shubuh, kami mengaji bersama, pulang sekolah, aku bermain sepuas hati, tapi waktu Shalat, aku selalu dikontrol. Mama tak pernah bosan mengingatkanku untuk Adzan, di Mushalla. Menjelang maghrib, Aku sudah harus di rumah, shalat berjama’ah, dan mengaji bersama ba’da Maghrib, rumahku ketika itu selalu dipenuhi anak-anak usia Esde. Setelah Isya, aku harus mengerjakan pe-er, atau membaca buku, buku apapun itu. Di sini Umi, dan Kakaku, yang berperan. Sampai pukul delapan, kami baru boleh menonton TV. Filem Si Doel, Knight Rider, Mac Giver, dan Airwolf, adalah judul-judul filem malam yang masih kuingat. Adalagi, Lampu Aladdin, yang dipernakan Rano Karno. Pukul Sembilan, Filem sering dipotong berita TVRI, dan pada jam tersebut, beberapa bapak tetanggaku, sering berkumpul di rumah. Oh,ya, TV tua itu, adalah hadiah Sunatanku, di usia tiga tahun.
Hingga kelas tiga esde, tradisi itu berlangsung, kelas empat aku mulai kenal dengan teman-teman yang agak berjauhan, dari rumahku. Sesekali, usai jam wajib belajar yang selalu berakhir pada pukul delapan, aku kelayapan, bermain dengan anak-anak lain. Aku mengenal bisokop sekitar kelas lima (ha.ha, jadul banget, ya?), seratus meter dari rumahku baru berdiri bioskop baru, “Johar Studio”. Kami menonton diam-diam. Sebab kalau ketahuan orangtua, tentu habislah kami.

Pluralisme kaum santri

Di kelas empat pula aku mulai bermain dengan kawan yang berlainan keyakinan. Sebelumnya, aku tak bersahabat dengan tetanggaku yang beretnis Tionghoa, aku ogah bersahabat dengan anak-anak Chinesse. Padahal, rumahku dikelilingi rumah, dan toko warga tionghoa. sebabnya doktrin dari salahsatu bibiku, bahwa mereka kafir, dan harus dijauhi.
Aku dan beberapa kawan, sering menjahili anak-anak Chinnese itu. Sampai kemudian orang tua mereka mengadu pada Mama, dan beliau marah besar padaku. Aku dijewer, “kenapa kamu nakal, sama Hendra?” Tanya Ayah, “karena dia China” jawabku. “Memang kalo China, boleh digalakin?” tanyanya, lagi. “mereka kafir!” jawabku lagi. Mama beristighfar, dan memberiku ajaran termulia, bahwa bertemanlah denganh siapapun tanpa pandang Ras, keusukan, dan Agama. “Nabi juga berteman dengan Yahudi, dan keristen, inget Waraqah?” Tanya Ayah dengan bijak. Ya, aku ingat, Umi pernah cerita tentang Waraqah, yang kristen, dan mengakui kenabian Muhammad.
Mama juga bercerita sedikit tentang kemajemukan madinah, yang aku tak mengerti saat itu. Pikirku, saat itu, aku tak mau lagi dijewer, dan dimarahi karena memusuhi Hendra, yang keristen, Dirman, yang Budha, juga Dhani, yang entah beragama apa.
Akhirnya aku bersahabat dengan hendra, dan Dirman, bertukar majalah, dan bermain serta belajar bersama, kadang di teras rumahku, di Mushalla, atau di rumah Dirman, bermain sega. Dirman, yang seusia denganku, faham betul tradisi keluarga kami, ketika Adzan tiba, dia menghentikan permainan, memintaku untuk ke Mushalla, Adzan, dan Shalat. “Katanya mau jadi anak shaleh? Nanti dimarahi Mama, loh!” kalimat tulus itu sering kusalah artikan, bahwa dia ingin menguasai permainan. Sampai kami pernah bicara empat mata, “Lik, Agama kita tuh enggak jauh beda, ya. Kamu pengen jadi Sholeh, kami juga pengen berbudi,” ungkapnya. Aku mengamini uacapan Dirman.
Diantara hal yang membuat ku bangga pada Ayah, adalah sikapnya yang pluralis, padahal aku yakin, beliau tak pernah kenal dengan istilah itu. Ia tak pernah mengenyam bangku sekolah. Ia seorang putra kiai, berhaluan syafi’iyah, dan pengikut organisasi Nahdlatul Ulama (NU), tapi menokohkan seorang kiai yang aktivis masyumi, dan seorang ulama tokoh Muhammadiyah. Mama juga menokohkan presiden Messir Husni Mubarak, tokoh NU Subhan ZE; Cucu Nabi yang menjadi legenda Syi’ah, Hasan, dan Hussein; dan lainnya (nama-nama tersebut dilekatkan pada nama kakakku).
Di antara keluarga besar dari pihak ayah, dan Ibuku, ada dua pamanku yang menjadi tokoh perintis Muhammadiyyah di Karawang, H.M. Syatori, dan Alm. Shofwan Syarif, dulu, mereka sempat terasing ditengah keluarga besar kami, terutama dengan keluarga di Cirebon. Tapi Mereka justru dekat dengan Mama, dan Umi. Di rumah Mang Tori (H.M. Syatori), Aku sering membaca tabloid Suara muhammadiyah, sejak SD, berlanjut pada Tabloid Amanat, dan Tafsir Al-Azhar, Hamka, yang berjilid-jilid, ketika SMP, pustaka kemuahmmadiyahan di sana cukup lengkap, dan aku senang membacanya, berbeda dengan rumahku, Rak pustaka lebih banyak dipenuhi buku-buku tebal berbahasa Arab (kitab kuning), dan buku-buku pelajaran, bekas dipakai ke enam kakak-ku.
Mang Sopan (Alm. Drs. Sofwan Syarif, mantan Ketum Pemuda Muhammadiyah Karawang, dan Jabar) pernah mengajakku melihat kemeriahan muktamar Muhammadiyyah di Senayan, ketika itu aku masih SMP, dan berstatus santri aktif di pesantren Assalafie, Babakan, Ciwaringin, Cirebon. “Lihat, Senayan padat oleh ribuan kader Muhammadiyah se-Indonesia, bahkan yang tua juga rela datang,“ kata Mang sopan, bangga, sambil menunjuk seorang Kakek, berpeci hitam, celana pantaloon, dan batik coklat.
Pulang dari senayan, Aku sempat ingin bergabung dengan Ikatan remaja Muhamadiyyah di karawang. Umi membolehkan, Mama juga tak melarang, tapi pamanku yang lain, juga salahsatu kakakku, yang waktu itu mencegahku, “NU sedang kacau, dan yang berkewajiban membanihnya, ya santri seperti kamu,” begitu doktrin kakakku. Seorang paman di Cirebon mendoktrinku lebih keras, “Jangan ikuti pamanmu yang Muhammadiyyah, nanti banyak musuhnya,” cegah pamanku, ketika itu fanatisme organisasi belum lenyap di sebagian Cirebon.
Ketika Orde baru tumbang, aku juga menyaksikan kearifan yang dicontohkan Mama. Menjelang reformasi, kerusuhan, makar dan razia etnis tionghoa sempat terjadi di Karawang. Seorang lelaki separuh baya, berkulit putih, yang dibalut kemeja putih juga, bermata sipit, dengan kacamata minus, mendatangi rumah kami. Lamat-lamat kudengar dialog Mama, dan pengusaha tionghoa itu. Mereka berdiskusi tentang kacaunya keadaan, sang pengusaha meminta saran, dan perlindungan, ia takut tokonya dijarah, dan rumahnya dihancurkan, Ayahku menyatakan keprihatinannya, akan kondisi yang ada, padahal menurutnya, dulu mereka hidup berdampingan, seperti saudara. Selanjutnya, aku tak terlalu mengerti apa yang mereka bicarakan.

Setia pada Ulama

“Mama can pernah ngarasaan sakola, bisa maca ge, karena ngintip pelajaran barudak SR, mangka sing bener sakola, sing rajin ngaji, mumpung bisa sakola, bisa mondok,” kalimat itu sering terucap oleh Mama. Konon masa kecilnya habis untuk ngangon domba, dan di sela-sela penggembalaanya, beliau sering mengintip anak-anak priyayi yang sedang belajar di kelas. Mama juga sering bercerita tentang masakecilnya, tidak diberi kesempatan sekolah, dan mondok di Pesantren. Padahal beliau adalah anak seorang Kiai di Keputon, Plumbon, tapi Ayahnya tak memberi kesempatan belajar. Tak heran jika kemudian Mama berkukuh menjamin pendidikan semua anaknya. Aku dan ketujuh saudaraku, mendapat pendidikan minimal hingga bangku SMA, dan semua kami diwajibkan untuk Mondok di Pesantren.
Aku bangga pada Mama dan Umi, sebab selain menjamin pendidikan anak-anaknya. Puluhan saudara, dan kerabat (sepupu, paman, bibi, dan beberapa putra-putri teman dekatn Ayah, dan Ibuku) yang pernah tinggal seatap dengan Mama, dan Ummi, juga mendapat pendidikan yang layak, mereka juga di sekolahkan, hanya saja tidak dipesantrenkan, pendidikan keislaman mereka didapat langsung dari Mama, dan Ummi. Meski tidak mengenyam pendidikan sekolah, dan Pesantren, Mama mampu membaca Koran, dan lancar membaca Al-Qur’an, dan bisa membaca beberapa kitab kecil (Safinah, Tajwid, dan khulasoh/sejarah Nabi, serta tafsir jawa Al-Ibriz, aku sempat mengajinya, dan ditest oleh beliau). Jika membaca hurup latin, dan bahasa Indonesia ia dapat secara didaktik, membaca Al-Qur’an, dan beberapa kitab , dari mengaji kepada Ayahnya (kakaekku) dan beberapa Kiai. Hingga wafat, beliau dikenal setia terahadap para Kiai. Tak heran, jika sewaktu beliau mangkat, puluhan Kiai tua, dan muda, serta ratusan kerabat, dan kawan dekatnya, dari Johar karawang, dan Cirebon, mengiringnya hingga makbaroh (pekuburan keluarga). Bahkan khutbah pelepasan (yang resmi, dengan disaksikan lebih dari 40 jamaah),dan shalat jenazahnya, dilakukan oleh beberapa Kiai, di tiga tempat. Di Majelis Ta’lim Nurul Jannah, di Mushalla Annur, Johar karawang, dan di Mushalla Al-Hidayah, Plumbon, Cirebon. Ketiga tempat itu konon menjadi bukti fisik kesetiaan Mama, dalam membela keyakinannya.
Di Majelis ta’lim Nurul Jannah, disamping rumah kami, beliau dilepas oleh Kiai Asef Saefullah, pengasuh salahsatu pesantren di Karawang. Selang beberapa saat, konon seorang kiai sepuh Karawang, yang biasa dipanggil Ajengan Lili, bertitah, bahwa jenazah Ayahku harus dishalatkan di Mushalla Annur. Konon sempat terjadi pertentangan antara Ajengan Lili, dan Ustadz Maman, titah Ajengan Lili ditentang Ustadz Maman, keduanya tokoh tua di tempat kami, tapi Ajengan Lili punya alas an kuat, bahwa Mushalla Annur, adalah pertama kali beliau berjuang. Apalagi, konon terakhir kali shalat jamaah, beliau di Annur. Aku tak saksikan perdebatan itu, sebab aku baru datang di karawang, pukul 21.30, sementara jenazah telah dishalatkan sejak Ba’da Maghrib.
Ajengan Lili juga sempat memimpin khutbah, dan Shalat jenazah, selanjutnya Khutbah pelepasan juga disampaikan K.H. A.Dlomiri, Ketua MUI Karawang, yang membawa tujuh santrinya untuk mengkhatamkan AL-Qur’an, di samping jenazah. Pukul dua dinihari, jenazah dibawa ke Cirebon, di sana puluhan kerabat kami telah menunggu. Ba’da Subuh, lima mobil rombongan jenazah, dan satu ambulans, tiba di desa Pamijahan, Plumbon, pagi yang senyap pun pecah. Jenazah mama kembali dimasukkan ke dalam Mushalla. Pagi itu, sejak pukul lima, hingga pukul delapan, mushalla Al-Hidayah disesaki para tetamu yang berdatangan, dan memanjatkan shalat jenazah. Shalat jenazah terramai kusaksikan pada pukul tujuh pagi, dipimpin KH. Bahruddin, dari pesantren Palimanan, Kiai Azka Hamam Syairozie, Kiai Yasif Maimun, dari Pesantren Babakan Ciwaringin, dan beberapa kiai, dan ustadz, lain. Kuhitung jama’ah saat itu (perintah dari kakak, untuk memastikan amplop shalawat cukup tidak,) ada seratus dua puluh orang dewasa, dengan lima anak kecil, yang berjama’ah saat itu. Aku lega, ayahku dishalatkan oleh lebih dari empat puluh orang dewasa, dari kalangan pesantren. Semoga bisa menjadi jaminan untuknya, dalam meraih rahmat dan maghfirah Allah di alam sana.
Sepeninggal Mama, beberap orang tua bercerita tentang perjuangan Mama ,dalam membangun, memakmurkan, dan memperthankan Mushalla, dan Majelis Ta'lim. Aku jadi teringat, baha Mama membuat kontrakan, awalnya untuk memakmurkan Mushalla. Beliau juga sering mengingatkanku untuk tak henti belajar, demi dakwah islam, beliau ingin Anak-anaknya mengembangkan Da'wah Islam, mengembangkan Majelis, dan membangun Pesantren. dan sampai kini belum ada yang memenuhi mimpinya itu. tapi ada satu hal yang ku pegang, dari pesannya, "Tong thoma' ngadon hirup tina Ummat, meun jadi Kiai, kudu ngahirupan Ummat," (jangan tamak, menumpang hidup dari Ummat, kalau mau jadi kiai, harus menghidupkan Ummat). Ya Mama prihatin, dengan sikap beberapa Kiai di era sekarang, yang menjual agama, dan Ummatnya. semoga aku bisa wujudkan mimpinya..



3 komentar:

Mbak Maya mengatakan...

It's a nice blog. Salam kenal ya....

Anonim mengatakan...

trims' mbk. lam kenal juga

Anonim mengatakan...

Gmn kbr pengurus as.shalah..klu ga blz k'no hp q.nech no.085711736523.q kngn dngn ponpes as-shala.

luvne.com ayeey.com cicicookies.com mbepp.com kumpulanrumusnya.com.com tipscantiknya.com