Gusdurian

Surat Terbuka Untuk Politisi Banten

Terkhusus untuk para politisi Banten, yang sedang bersiap,menghadapi Pilkada 2017 nanti, sudahi dulu lah debat kusir tentang siapa cal...

Jumat, 01 Mei 2009

Janji Pemerintah Buat Pengusaha Kecil


Antisipasi Krisis Global, Pasar Dalam Negeri Diperkuat

CILEGON - Imbas krisis global yang masih dirasakan industri dan manufaktur di dalam negeri, membuat pemerintah mengeluarkan beragam kebijakan untuk mengamankan perekonomian. “Langkah pengamanan ini harus dilakukan, di antaranya kebijakan fiskal dengan stimulus ekonomi sebesar 70 persen, pengetatan bea cukai, pengetatan ekspor impor, serta pengembangan pasar dalam negeri dengan upaya peningkatan daya beli masyarakat,” ungkap Sekretaris Jenderal Departemen Perindustrian Indonesia Agus Cahayana kepada Baraya Post, usai membuka seminar nasional industrial services 2009, Jurusan Tehnik Industri Untirta, di Pusat Pendidikan dan Pelatihan (Pusdiklat) PT Krakatau Steel, Rabu (29/4).
Kendala terbesar dalam pengembangan pasar dalam negeri menurut Agus adalah maraknya produk luar yang masuk secara ilegal ke Indonesia. Disamping itu, kampanye penggunaan produk dalam negeri yang telah gencar dilakukan pemerintah kurang mendapat respon dari masyarakat, yang disebabkan oleh menurunnya daya beli. “Padahal sudah ada undang-undang 59/2009 yang mengatur tentang sirkulasi produk luar negeri hanya boleh masuk melalui lima pelabuhan tertentu, yakni Belawan, Tanjung Priok, Tanjung Emas, Tanjung Perak, dan Makasar, tetapi produk ilegal masih banyak yang masuk, hal ini sedang diatasi secara komprehensif,” tandasnya.
“Pasar dalam negeri harus dimaksimalkan. Tetapi tidak berarti menutup pasar impor, dan kami juga tidak bisa melindungi industri nasional sepenuhnya, sebab persaingan industri harus berlangsung secara fair,” tambahnya.
Sementara dalam key note speech Fahmi Idris, Menteri Perindustrian yang disampaikan Agus, terungkap bahwa dari pembangunan dan perkembangan industri di Indonesia yang dicermati pemerintah selama 30 tahun terakhir, pihaknya telah menetapkan sasaran pembangunan industri dalam negeri adalah di bidang manufaktur. Dengan target pertumbuhan rata-rata 8,56 persen per tahun, penyerapan tenaga kerja sebanyak 500 ribu pekerja per tahun, kondusivitas iklim usaha bagi indutri yang sudah ada, maupun investasi baru dalam bentuk tersedianya layanan umum yang baik dan bersih dari KKN.
Pangsa sektor industri manufaktur tersebut, menurut Fahmi ditingkatkan di pasar domestik, baik bahan baku maupun produk akhir, sebagai cerminan daya saing sektor ini dalam menghadapai produk impor. Fahmi dalam materi tulisannya juga menekankan pen tingnya peningkatan volume ekspor produk manufaktur dan penyebaran sektor industri manufaktur ke luar Pulau Jawa.
Karenanya dalam lima tahun ke depan, pemerintah tengah memprioritaskan penguatan pada sepuluh klaster industri, yakni makanan dan minuman, pengolahan hasil laut, terkstil dan produk tekstil, alas kaki, kelapa sawit, barang kayu (termasuk rotan dan bambu), barang dan karet, pulpen dan kertas, mesin listrik, dan petrokimia.
Kristanto Santosa, pembicara seminar yang mewakili Bisnis Inovation Center (BIC) mengajukan pemetaan ulang dalam konsep persaingan industri. Santosa menekankan persaingan sehat dengan penerapan inovasi dan kerjasama antar industri. “Inovasi dalam sebuah produk adalah gabungan antara ide baru, kelayakan, pelayanan yang baik, serta daya praktis yang berkaitan dengan kebutuhan pelanggan,” jelas Santosa.
Ia mencontohokan pentingnya inovasi dalam dua komoditas yang banyak tersedia di negeri ini, yakni kopi dan asam. “Misalnya harga kopi mentah Rp 2.500 per kilogram, ketika kopi biji dikemas menjadi Rp 6 ribu. Bahkan ketika kopi itu diolah lagi dengan inovasi baru di Starbak Cafe bisa melonjak menjadi Rp 60 ribu,” kata Santoso lagi.
Dalam seminar yang diikuti oleh 106 perwakilan dari berbagai universitas di Indonesia itu, juga dihadirkan pembicara dari Toyota Astra Motor (TAM) Indonesia, I Made Dana M Tangkas, yang juga Ketua Umum Ikatan Sarjana Teknik Industri Indonesia (ISTMI). Ia memaparkan strategi bisnis Group Toyota, dalam menghadapi krisis global. ”Ekonomi Indonesia terkena dampak serius dari krisis global, ada penurunan pertumbuhan ekonomi tahunan dari 3,2 persen di tahun lalu, menjadi satu persen pada tahun ini, tetapi investasi kuartal pertama tahun 2009 masih tumbuh positif mengingat tingginya pertunbuhan impor barang pada kuartal sebelumnya,” jelas Made.
Ketua Jurusan Teknik Industri Untirta Asep Ridwan mengungkap hasil akan dijadikan rekomendasi untuk dijadikan rujukan dalam penanganan lanjutan atas krisis global yang tengah melanda. “Kami telah menyeleksi 106 makalah, dan menghasilkan 89 makalah dari para akademisi dan praktisi teknik industri se Indonesia, yang akan dipresentasikan, dan hasilnya sudah di pesan oleh kementrian untuk dijadikan rujukan dalam melakukan langkah penanganan krisis,” kata Asep.
Humas PT Krakatau Steel Humaedi Sukses melihat adanya perubahan paradigma konsumen. “Konsumen yang semakin kritis, menuntut pelayanan yang maksimal disertai dengan kualitas produk yang steril serta memberi kenyamanan dalam sisi spiritual, misalnya, jika dalam produk makanan, ada sertifikasi halal bagi konsumen muslim,” kata Humaedi. (mg-malik)

0 komentar:

luvne.com ayeey.com cicicookies.com mbepp.com kumpulanrumusnya.com.com tipscantiknya.com