Gusdurian

Surat Terbuka Untuk Politisi Banten

Terkhusus untuk para politisi Banten, yang sedang bersiap,menghadapi Pilkada 2017 nanti, sudahi dulu lah debat kusir tentang siapa cal...

Senin, 01 Juni 2009

Facebook, Kesetaraan Gender Hingga Delegitimasi Fatwa






Polemik tentang Hasil Bathsul Masa’il XI Forum Pondok Pesantren Putri se-jawa Timur yang mengharamkan penggunaan Facebook secara berlebihan, mendapat reaksi yang ‘wah’ dan beragam dari para pengguna facebook (Facebooker) dan masyarakat umum.

Para Facebooker sampai membuat forum tersendiri bertajuk “Facebook Haram’ beranggotakan 134 Facebooker, ada juga gropu anti fatwa haram facebook yang anggotanya mencapai lima ribuan. Jumlah group facebook bertajuk fatwa tersebut juga tak kurang dari dua puluh jumlahnya. Para penulis juga banyak tergelitik mengomentari hasil bathsul masa’il para santri putri se jawa itu.

Ada banyak hal yang bisa dilirik dari kelahiran fatwa facebook dan reaksi terhadapnya.

Pertama adanya pergeseran budaya masyarakat muslim yang –setidaknya bagi saya- menggembirakan dari reaksi terhadap fatwa tersebut. menggembirakan karena kini masyarakat –muslim- Indonesia mengakui keberadaan para Ulama perempuan. Kesetaraan gender di bidang ilmu keislaman sedang terjadi dengan atau tanpa disadari oleh masyarakat muslim Indonesia yang biasanya reaktif terhadap wacana-wacana barat.

Dari Polemik tersebut juga terlihat bagaimana tingkat kemampuan membaca dan kemampuan tekhnologi masyarakat di negeri ini. setidaknya, dari lima ribu facebooker (belum dijumlah dengan anggota puluhan grup facebook yang mengangkat tajuk sama) yang menolak fatwa haram tersebut, menunjukkan banyaknya pecinta fanatis facebook. Mereka para pengguna aktif, yang berarti tidak buta tekhnologi.



Santri Putri pun Kini Berfatwa



Munculnya beragam reaksi terhadap fatwa facebook, secara tidak langsung merupakan pengakuan terhadap eksistensi fatwa santri putri se-Jawa Timur. Ini sebuah kemajuan –bagi saya-. Bahwa santri putri pun bisa mengeluarkan pendapat hukumnya, dan itu diakui masyarakat, terlepas dari banyaknya cibiran terhadap ekspose fatwa tersebut (sebab Fatwa Majelis Ulama pun kerap dicibir di negeri ini).

Dalam hal ini, Nabil Haroen berhasil mensejajarkan para santri putri di Jawa timur dengan sebagian Ulama di Indonesia. Setidaknya Forum Bathsul Masail santri Putri itu tersejajarkan dengan Forum Ulama Islam Indonesia (FUII) atau mungkin dengan Majelis Ulama Indonesia yang selama ini rajin berfatwa.

Kedua, cibiran dan berbagai reaksi lainnya terhadap fatwa tersebut juga mengukuhkan delegitimasi fatwa yang telah terjadi sejak awal tahun 2000 lalu. kini fatwa tidak lagi menjadi sakral.

Fatwa –dalam Islam- sebagai hasil ijtihad dari seorang yang dianggap ahli hukum Islam, kini ditempatkan kembali pada tempatnya semula, tak lebih dari wacana atas sebuah fenomena yang terjadi.

Fatwa memang seharusnya ditempatkan sebagai wacana atau pendapat ahli yang boleh dirujuk untuk bertindak, boleh juga ditinggalkan. Semacam resep atau anjuran dokter yang tidak mengikat secara hukum terhadap pasien. Pasien mempunyai kebebasan mutlak untuk mengikuti atau meninggalkan resep dan ajuran dokter yang ia percaya, bergantung pada kekuatan dan kemampuan pasien untuk taat terhadap resep dan anjuran dokternya. Sebab bisa jadi analisa, resep, saran dan anjuran seorang dokter bisa jadi berbeda dengan dokter lainnya.

Begitu pun Fatwa, Kini masyarakat muslim cenderung tak lagi mau mengikatkan diri secara saklek pada sebuah fatwa saja. Sebab ada Ulama lain yang berpendapat berbeda.



Fatwa Hak Milik Siapa?



Tetapi yang kemudian perlu disampaikan kepada masyarakat muslim secara utuh adalah apa dan bagai mana fatwa dibuat serta siapa saja yang berhak mengeluarkannya. Seperti resep dokter, yang juga tak sembarang orang boleh menuliskannya.

Jika dokter harus mengikuti dan lulus pendidikan di fakultas kedokteran, maka apakah para pemberi fatwa Islam (Ulama?) harus juga mengikuti dan lulus dari pendidikan Islam? Lantas lembaga pendidikan Islam mana yang berhak menyematkan gelar Ulama? Pesantren kah, Sekolah Tinggi/Institut Agama Islam kah?

Sebab saat ini banyak figur yang tiba-tiba muncul di tengah masyarakat dengan membaca berbagai dalil keislaman, kemudian dengan mudah mengaku diri sebagi ustadz atau ulama. Apa bedanya figur semacam ini dengan seorang yang gemar membaca artikel kedokteran, dan mengutip pendapat para dokter?

Sejumlah pertanyaan tersebut layaknya dijawab oleh mereka yang betul-betul ulama. Yang memang mumpuni dalam ilmu keislaman, dan bijaksana dalam berpendapat. Pertanyaan tersebut tidak penulis tujukan kepada mereka yang mengaku diri Ulama, yang hanya bermodal hafalan dalil tanpa mengerti makna, nilai serta hakikat sebuah Ayat Tuhan.



* Penulis adalah pengaji dan mahasiswa di Umbruch Cercle IAIN Banten, pengurus Lakpesdam NU Kota Serang.

0 komentar:

luvne.com ayeey.com cicicookies.com mbepp.com kumpulanrumusnya.com.com tipscantiknya.com