Gusdurian

Surat Terbuka Untuk Politisi Banten

Terkhusus untuk para politisi Banten, yang sedang bersiap,menghadapi Pilkada 2017 nanti, sudahi dulu lah debat kusir tentang siapa cal...

Sabtu, 11 Desember 2010

Cirahab Semoga Lestari


Membaca perjuangan warga Padarincang, Kabupaten Serang, Propinsi Banten, membuat hatiku berdesir. Di sana, warga bersatu menolak kekuatan asing yang hendak menguasai mata air yang bisa jadi merupakan warisan budaya warga padarincang.Upaya warga menolak keberadaan pabrik Aqua di sana patut dicontoh. Mereka lebih patut mendapat apreasiasi daripada partai atau sekelompok politisi yang berkoar anti neolib, anti globalisasi ekonomi, tapi nyatanya menerima sumbangan dari donatur asing, untuk mengubah kebudayaan asli Indonesia.

Cerita tentang penolakan warga Padarincang terhadap keberadaan pabrik air mineral sebenarnya telah berlangsung lawas, sejak Danone melakukan survei di daerah tersebut, pada beberapa tahun lalu.

Penolakan warga yang berlangsung warga itu ternyata tak direspon oleh pemerintah Kabupaten Serang, yang pada Januari lalu malah menandatangani MOU pembangunan pabrik Aqua di daerah Padarincang. Inilah kedzoliman yang dilakukan pemerintah terhadap warganya sendiri. mereka mengutamakan investor daripada kebutuhan warganya.

Pemkab Serang menutup mata akan dampak yang bisa ditimbulkan dari keberadaan pabrik air mineral di kawasan penyuplai air di Kabupaten Serang itu. Bahwa eksploitasi sumberdaya alam itu akan berdampak pada kekeringan di Padarincang, bahkan di Kabupaten Serang.

Jika memang Pemkab berkehendak meningkatkan taraf ekonomi warga, sebenarnya ada alternatif lain yang bisa dilakukan. Misalnya dengan menjadikan daerah padarincang sebagai daerah wisata air, dan mendukung warganya untuk mengadakan program kemandirian ekonomi, melalui aset warisan tersebut.

Sikap pemerintah yang menutup mata terhadap aspirasi rakyatnya itu berujung pada kemarahan warga Padarincang, pada sepekan terakhir (6-10 Desember 2010). Sebagian orang menilai kemarahan warga yang membakar gudang pabrik Aqua adalah tindakan kontra produktif. Padahal jika ditelisik dari muasal kemarahan tersebut, maka luapan amarah warga itu dapat dimaklumi. Bahkab patut didukung.

Jika kita berkaca pada beberapa daerah lain, yang juga dieksploitasi aset airnya, seperti di daerah Curug dan Cidahu, Sukabumi, maka kita bisa memahami kekhawatiran warga Padarincang akan kelestarian aset warisan leluhurnya itu.

Satu hal yang membuat saya kagum terhadap perlawanan warga Padarincang adalah kebersatuan mereka. Sudah menjadi rahasia umum, apabila pemerintah atau kelompok asing datang dengan maksud merebut aset masyarakat, yang pertama dilakukan biasanya adalah merayu tokoh masyarakat tertentu, dan kemudian memecah belah warga. politik pecah belah ala Belanda itu masih kerap dilakukan pemerintah kita. Sebagai contoh, adalah pembangunan Tol di Pesantren Babakan Ciwaringin, yang memunculkan friksi di lingkungan dalam warga pesantren tersebut. Saya bersyukur hal itu tak terjadi di Padarincang. Artinya seluruh warga sadar akan aset warisan yang patut dipertahankannya.

Sekedar gambaran, Padarincang adalah dataran tinggi di Kabupaten Serang, yang cukup elok dipandang mata. Di sana terdapat sumber mata air yang begitu jernih. Di sana juga terdapat beberapa pemandian umum masyarakat yang dibuat alami, tanpa merusak sumber mata air yang berlimpah itu, diantaranya yang kerap kami kunjungi adalah kawasan Cirahab.

Semoga sekelumit peristiwa heroik di Padarincang bisa menydarkan pemerintah setempat untuk tidak bertindak semena-mena. Sebab rakyat kini sudah berani berhadapan dengan golok atau senjata api sekalipun. Perlawanan warga Padarincang bisa jadi api perjuangan warga Banten untuk tak lagi tunduk pada keserakahan para jawara. Maka sudah saatnya aktifis dan masyarakat Banten bersatu melawan kebodohan para pemimpinnya.

0 komentar:

luvne.com ayeey.com cicicookies.com mbepp.com kumpulanrumusnya.com.com tipscantiknya.com