Gusdurian

Surat Terbuka Untuk Politisi Banten

Terkhusus untuk para politisi Banten, yang sedang bersiap,menghadapi Pilkada 2017 nanti, sudahi dulu lah debat kusir tentang siapa cal...

Senin, 24 Januari 2011

Negara Bebas Pungli *

Negara Bebas Pungli *

Setiap hari libur, Kawasan Wisata Waduk Walahar Karawang selalu ramai dikunjungi warga. Bendungan besar peninggalan Belanda yang dibangun di pada masa Jenderal Daendles itu memang menawarkan pemandangan eksotis. Dan di setiap keramaian di negeri ini, kita akan melihat puluhan bahkan ratusan pedagang berjejer menjajakan barang dagangannya. Kita juga akan dengan mudah melihat pengemis, preman, dan petugas perangkat pemerintahan desa, maupun kabupaten melakukan pungutan liar. Para pengunjung yang memarkirkan kendaraan, atau sekedar nongkrong di bantaran irigasi, dan para pedagang yang menjaring sedikit keuntungan di sana sudah mafhum dengan berbagai pungutan yang ada.

Jika anda hendak ikut berdagang di sana, maka siapkan infak sedikitnya Rp 50.000. Untuk membayar retribusi Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Rp 1000; untuk Pemberdayaan Pemuda Desa sebesar Rp 2000; untuk kebersihan Rp 1000; uang Keamanan Rp 1000; untuk sewa tempat pada penduduk setempat Rp 10.000; untuk sewa bale Rp 10.000; juga untuk parkir Rp 2000. Belum lagi untuk para pengemis dan pengamen yang setiap sepuluh menit sekali, akan menghampiri anda secara bergantian. Jadi kalau durasi berdagang anda di tempat itu adalah delapan jam, maka sediakan uang receh Rp 500, sebanyak Rp 24.000.
Berbagai pungutan yang tiada henti juga menghantui para pedagang kecil di [pasar Johar. Herannya, pungutan bertajuk retribusi, dan pajak dagang itu, tak jelas kemana rimbanya. Sebab nyatanya dalam proyek renovasi pasar yang sedang berlangsung, pemerintah mengaku tak punya modal, dan meminta pedagang untuk membiayai proyek renovasi yang dikerjakan oleh pihak ke tiga itu, dengan dalih dana investasi dan angsuran pembelian kios baru sebesar 30 persen dari harga kios (harga kios di sini Rp 90 juta, maka setiap pedagang harus membayar dp sebear Rp 30 juta untuk mendapatkan kembali kiosnya).



Pemerintah Korup, Rakyatnya Mengemis

Pemerintah kita memang sangat bijaksana dalam memberi kemerdekaan penuh bagi para preman dalam mencari penghidupan yang layak dengan jalan pintas. Mengemis dan memalak adalah kreatifitas tertinggi di negeri ini. Dan kita pun tahu, birokrasi kita juga tak pernah sepi dari praktik premanisme itu.

Tradisi Pungli yang mengakar membuat struktur ekonomi kita morat-marit. Tak ayal praktik pungli pun dilakukan rakyat kecil, dengan cara mengemis atau memalak. mengemis itu, tak cuma dilakukan para jompo, atau mereka merasa bisa menjual kecacatan fisik. Anak- anak juga kini dengan enjoy melakukannya.
Tak terkecuali dengan Arifin (7) pelajar di salah satu SD negeri di Cikampek Karawang. Bersama Ahmad (50) ayah kandungnya, Arifin sejak setahun lalu, tak lagi menikmati masa bermainnya. Karena setiap hari, ia harus rela meluangkan waktunya untuk menjadi penghibur keliling, dengan menampilkan tari jaipong, bersama ayahnya.

Saat menari, ia terbiasa mendapat lirikan tak sedap dari anak-anak sebayanya. Bak topeng monyet, Arifin ditertawakan setiap ia menyuguhkan tarian sederhana, di tengah keramaian. Dengan dandanan ala sinden, dan make up wajah alakadarnya, tak ada yang menyangka jika Arifin adalah anak lelaki. “Sungguh, ia ini lelaki. Saya sengaja mendandaninya agar menarik. Kami terpaksa melakukan ini, karena saya kesulitan mencari uang,” kata Ahmad (60) ayah Arifin, seraya membuka rok Arifin, dan menunjukkan kelamin anaknya kepada saya.
Saat diwawancara, Ahmad bersama anknya baru usai mengamen di kawasan wisata Waduk Walahar Karawang, Minggu (23/1) lalu. “Walaupun banyak pengunjung, hari ini kami cuma dapat Rp 20.000. gak banyak yang ngasih,” keluh Ahmad, yang mengaku tinggal di Gg Keling, Kampung Cijalu, Cikampek Karawang itu. Karenanya, setelah makan siang di warung setempat, ahmad juga berkeliling ke rumah-rumah penduduk di sekitar kawasan wisata itu.

Ketika ditanya, Ahmad yang mengaku ditnggal istrinya sejak tuuhtahun lalu, tak mengerti tentang pentingnya perlindngan dan pendidikan mental anaknya. “Yang penting kami bisa makan. Saya sudah bingung nyari makan dengan cara apalagi. Saya ini ditinggal istri saya sejak anak ini lahir. Istri saya jadi TKW di Arab, tapi tak pernah ngasih kiriman. Sebelumnya saya dagang asongan di kereta. Tapi untungnya sedikit. Dan anak saya ini tak bisa ditinggal. Maka tahun lalu saya beli tape boks, dan mulai ngamen keliling Karawang,” tutur Ahmad.

Kutanya Arifin, malukah ia menjadi pusat perhatian setiapkali mengamen. Dengan lantang ia mngatakan tidak. “Gak papa ya nak, yang penting kamu bisa jajan,” ujar Ahmad.

Di tengah perbincangan kami, lewat seorang pengamen waria, dan menyapa Arifin, ia kelihatan gemas dan mencubiti pipi Arifin. Aku pun bertanya pada Ahmad, apa ia menginginkan anaknya kelak menjadi pengamen waria? “Ya gak mau lah mas. Ngamen ini juga akan saya hentikan kalau Arifin sudah kelas dua SD. Saya gak mau begini terus,” kata Ahmad.

Pertanyaan serupa kusampaikan pada Arifin, dengan penuh semangat anak kecil itu mengangguk. Spontan Ahmad menolak keinginan sang anak. “Jangan nak. Kamu lelaki, jangan jadi banci,” ujarnya.

Maka kupaparkan tentang pentingnya pendidikan mental anak sejak dini. Jika sekarang anaknya diajarkan menjadi pengamen, maka bukan tak mungkin jika mengamen menjadi profesi favorit sang anak. Dan karena sekarang sang ayah mengajarkan anaknya untuk jadi Waria, maka wajar jika anaknya ingin menjadi Waria jika dewasa kelak.

Ahmad menangis. “Sungguh saya gak ingin anak saya seperti itu. Saya berjanji akan berhenti mengamen semacam ini. Saya akan kembali berdagang,” janjinya, seraya bercerita bahwa anaknya yang pertama kini telah menjadi montir, tetapi karena masih bujangan, sang anak kurang peduli terhadapnya, meski mereka tinggal serumah.

“Ya anak saya yang besar sudah kerja. Memang sebulan sekali dia ngasih duit Rp 100 ribu sampai 200 ribu rupiah. Tapi uang segutu mana cukup buat makan dan beli alat sekolah anak saya. Tapi saya janji gak akan begini lagi,” ujarnya.

Aku pun bertutur tentang pentingnya harga diri. Bahwa di jaman sesulit ini, kita memang perlu banyak bersabar, dan pentingnya harga diri, meskipun miskin. Terlebih ketika ia mengaku sebagai seorang muslim, kuurai perintah nabi tentang tanggung jawab orang tua. Ahmad kembali menangis. “Terimakasih mas, sudah menyadarkan saya. Saya berjanji gak ingin begini lagi.”
Akupun pamit sambil menyelipkan dua lembar uang ribuan di kantong sang anak.


Anak Terlantar dan Proyek Sosial

Masih di kawasan yang sama, aku bertemu dengan seorang pedagang sandal ban. Ia yang memperkenalkan diri sebagai Arifin (45), mengaku punya keprihatinan yang sama. “Tapi kita Cuma bisa memelas mas. Sebab kita sendiri pun belum kokoh. Kita hanya bisa membantu mereka ala kadarnya, tanpa bisa mengentaskan mereka dari jurang kemiskinan. Saya sendiri kini sedang kesulitan membiayai kuliah anak saya,” ujarnya.

Aku merasa tertampar dengan ucapannya. Meski ia tak mendengar perbincanganku dengan sang pengamen, tapi ia tahu aku bersikap sok peduli. Kemudian Arifin sang pembuat sandal ban bercerita tentang pengalaman hidupnya dalam berupaya mengasuh anak-anak terlantar. “Dulu saya mengasuh ratusan anak yatim. Tapi panti asuhan itu kini tak berfungsi setelah dikhianatai para pengurusnya. Dan yang berkhianat itu justru mereka yang status sosial dan ekonominya lebih terhormat dari saya. Mereka yang PNS,” paparnya.

Dua kali ia mencoba membangun perdaban lewat panti asuhannya. Tapi selalu dikhianati para oknum pegawai pemerintahan. “Kami pernah mendapat bantuan dari lembaga donor. Tapi kemudian Aparat dari Departemen sosial minta jatah yang tak sedikit. Pernah juga ada donatur yang menyumbang lewat pengurus yang PNS, tapi dana sumbangan itu dikorup. Saya yang kenal dengan para donatur jadi gak enak hati,” keluhnya.

Dan sejak itu, Ia memutuskan untuk menguatkan dirinya terlebih dahulu. “Jika saya sudah benar-benar kokoh, saya berniat kembali mengasuh ana-anak yatim. Saya ingin tebus kesalahan-kesalahan saya yang lalu. Saya memang pernah brengsek, tapi mudah-mudahan Tuhan mendengar taubat saya ini,” harapnya.

Pulang dari Walahar, aku melihat catatan dagangku hari itu. Di siang yang mendung itu, aku menjual 2 handuk dan satu sajadah, semuanya bernilai Rp 65 ribu, dengan keuntungan per potong Rp 5000. Dan setelah dipotong dengan berbagai pungutan yang ada, sore itu aku mengantongi uang sebesar Rp 20.000. Aku tersenyum kecut, sambil berpikir tentang besarnya potensi anak-anak terlantar itu, jika disatukan dalam wadah gerakan.

Aku jadi teringat dengan obrolanku bersama seorang pengurus Gabungan Anak Jalanan (GAJA) dan penggerak sosial di Karawang dan Banten. Mereka terjun mengorganisir anak jalanan dengan tujuan sosial. Tapi kemudian terbentur dengan minimnya perhatian pemerintah. “Maka kami buat tempat-tempat singgah sebagai kantung gerakan anak jalanan. Agar sekali waktu kita bisa berkumpul dan berdiskusi,” ujar Agung, Ketua Gaja Karawang, beberapa waktu lalu.

Saat ditanya tentang target gerakan untuk menghentikan anak-anak dari usaha tak layak di jalanan, Agung mengaku tak punya targetan ke sana. Sebab anak-anak jalanan itu terbiasa hidup bebas, dan telah mengenal nikmatnya hidup di jalanan. Lantas apa fungsi Gaja selain mengorganisir mereka, dan meminta donasi dari para dermawan? Setidaknya bisa buat mengkat tali kekeluargaan dianatra anak jalanan, jawabnya.


Hak Anak yang Terabaikan.

Belum habis waktuku buat memikirkan kegilaan pemerintah ini, aku dikejutkan oleh sapaan Lala (9) salah satu anak tetangga yang mengaji di majelis peninggalan ayah. “A meser gorengan teu,”. Anak yang cukup cerdas saat mengaji itu, meluangkan waktunya buat mengasong gorengan, berkeliling pasar. Dan di pasar yang sama aku juga melihat anak-anak lain, yang di bawa ayah ibunya untuk bekerja. Mencari sampah plastik, dan sejenisnya. Kuharap, kehidupan yang keras ini membuat mereka tumbuh menjadi pribadi yang kuat. Pantang mengemis, meski hidup miskin!

Johar, medio Januari 2011.
• Oleh A. Malik Mughni, Ketua Lakpesdam NU Kota Serang, kini berdagang di pasar Johar, dan bergabung di Perhimpunan Pewarta Warga Indonesia (PPWI).

0 komentar:

luvne.com ayeey.com cicicookies.com mbepp.com kumpulanrumusnya.com.com tipscantiknya.com