Gusdurian

Surat Terbuka Untuk Politisi Banten

Terkhusus untuk para politisi Banten, yang sedang bersiap,menghadapi Pilkada 2017 nanti, sudahi dulu lah debat kusir tentang siapa cal...

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Selasa, 25 September 2012

Inayah Wahid: Gus Dur Mengajarkan Pentingnya Proses




Ketokohan Gus Dur) dan beragam kontroversi yang mengiringinya, memberi arti tersendiri bagi puteri bungsu Gus Dur, Inayah Wulandari Wahid.  Semasa Gus Dur menjadi presiden, Inay, begitu ia disapa, kerap tampil mendampingi Gus Dur. Gaya rambutnya yang saat itu sering dicat dengan beragam warna, diakui Inay kerap menuai teguran dari orang-orang dekat Gus Dur.
Tapi Bapak (Gus Dur,red) tak pernah marah. Beliau selalu mengajarkan kebebasan berkepresi tapi tetap harus bertanggung jawab. Saat itu Bapak tanya kamu siap nanti bakal dikecam, saya bilang siap. Beliau hanya tertawa, kata Inay.
Hal lain yang berkesan dari sang ayah, menurut Inay adalah kesadaran tentang pentingnya proses ketimbang hasil. Hal inilah yang menurut Inay harus diteladani anak-anak muda Indonesia. Bapak mengajarkan perlunya proses. Bahwa prinsip hidup harus dipegang teguh. Meskipun banyak kendala menghadang, ujarnya.
Sebagai puteri kandung termuda, Inay juga terkesan dengan keberanian Gus Dur melawan arus, demi mempertahan idealismenya. Gus Dur, yang semasa hidupnya kerap dihadang berbagai kendala, tapi tetap bersemangat. Anak-anak muda harus meniru hal ini. Bahwa sebuah mimpi sesulit apapun harus diperjuangkan. Jangan karena lingkungan rusak, kita lalu ikut arus. Kita harus berani mempertahankan idealisme, tandasnya.
Sebelum mengakhiri perbincangan, Inay juga mengungkapkan rencananya untuk menekuni dan melestarikan tradisi gamelan jawa. Dalam acara panggung budaya pada peringatan haul Gus Dur, Jumat (27/9) nanti di Taman Ismail Marzuki, ia akan menunjukkan kepiawainnya bermain gamelan.
Ada cerita unik dibalik gamelan itu. Sebelum ia belajar gamelan, kakak ipar Inay, Dzohir Al-farisi (suami dari Yenni wahid, kakak kandung Inay,red) mimpi bertemu Gus Dur. Kata Bapak, mainkan gamelannya biar ibu senang. Mas Dzohir lalu mencari-cari gamelan itu, yang tersimpan di gudang. Lalu Mas Dzohir menawari saya, mau main gamelan? Saya jelas mau. Sebab sehari sebelumnya saya juga berpikir bahwa gamelan perlu dilestarikan, paparnya. mm 



Nusron Wahid: Gus Dur Personifikasi Kumbakarna






Peringatan haul seribu hari K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) akan terasa istimewa. Menggandeng Bank Indonesia, Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor)  akan menggelar serangkaian kegiatan untuk mengenang tokoh pluralisme itu. Diantaranya gelar budaya di Taman Ismail Marzuki (TIM) dan wayangan semalam suntuk di kediaman Gus Dur Ciganjur.
Ketua Umum PP GP Ansor Nusron Wahid menjelaskan, rangkaian kegiatan kebudayaan berupa pementasan wayang kulit, Solawatan dan Tahlil Akbar itu dihelat untuk mengenang perjuangan dan ajaran-ajaran Gus Dur yang harus diteladani anak-anak muda.
“Wayang kulit itu akan digelar di kediaman Gus Dur, di Jalan warung Sila 10, Ciganjur, pada Rabu (26/9) malam. Wayang kulit itu akan dibeber oleh dalang Ki Enthus Susmono, dengan lakon Kumbakarno Gugur,” kata Nusron, saat berbincang soal Gus Dur.
Kata Nusron, lakon Kumbakarno sengaja dipilih, lantaran menurut Nusron, sosok Gus Dur merupakan  personifikasi Arya Kumbakarna, seorang patih Kerajaan Alengka, dalam serial wayang Rama Shinta.
“Kita ingin meneladani semangat yang dibangun Gus Dur. Semangat patriotisme, multikulturalisme, dan idealisme beliau dalam menebar kedamaian di negeri ini,” tandas Nusron.
Dalam cerita pewayangan, Kumbakarna menjadi salah satu tokoh sentral dalam peperangan antara Ramayana melawan Rahwana, karya Resi Walmiki dari India. Kumbakarna diceritakan sebagai tokoh yang idealis, dan hidup asketik, di tengah gelimangan harta benda. Kumbakarna kerap menjadi simbol kesaktian, kegagahan, kejujuran dan keberanian. Selama hidupnya, Kumbakarna mencontohkan hidup sederhana, dan teguh terhadap prinsip, meskipun ia hidup di tengah lingkungan yang penuh angkara murka, ketidak adilan, bergelimnagan korupsi dan kesewenanga-wenangan rezim berwatak Rahwana.  
“Gus Dur adalah sosok yang memegang teguh prinsip. Beliau sangat idealis. Hari ini kita merindukan sosok macam Gus Dur. Lakon Kumbakarna digelar agar anak-anak muda Indonesia bisa melihat Gus Dur secara utuh,” ujarnya.
Kumbakarna juga dikisahkan berwatak kritis, dan berani. Ia sering menasihati dan mengkritisi Rahwana, yang lalim. Kumbakarna tak gentar melawan kekejaman Raja Sejumlah sifat positif Kumbakarna itu, menurut Nusron ada dalam diri Gus Dur. Bahkan, menurut mantan Ketua Umum Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB PMII) itu, saat ini sulit mencari sosok sefenomenal Gus Dur. Jasa Gus Dur buat bangsa ini juga sangat besar. Sehingga mampu mencegah perpecahan bangsa ini pasca reformasi.
“Gus Dur adalah konsolidator ulung. Semangat silaturahminya perlu dilestarikan. Beliau menjembatani kiai dari pesantren ke pesantren. Maka dalam kesempatan ini, kami juga mengingatkan kembali kepada anak-muda, terutama anak muda NU di GP Ansor, supaya punya semangat konsolidasi,” tandasnya.
Selain menghelat pementasan wayang, GP Ansor menurut Nusron juga akan manghelat Tahlil dan Solawat Akbar yang dipimpin oleh K.H Mustofa Bisri (Gus Mus), Prof. K.H Qurais Sihab dan Habib Syekh  Abdul Qadir Assegaf. Peringatan seribu hari wafatnya Gus Dur itu juga akan dilakukan oleh para pengagum Gus Dur, dengan menghelat doa lintas iman dan pawai budaya di TIM pada Jumat (28/9). Panggung Budaya di TIM itu, kata Nusron akan diisi oleh sejumlah parade kesenian oleh  penampilan Glenn Fredly, Jaya Suprana, Kang Sobari, Zawawi Imron, Arswendo Atmowiloto, Inayyah Wahid, Agus Nuramal PMTOH, Paduan suara GKI, Marawis, Candra Malik, KH.Husein Muhammad, Imam Malik, Dibyo Primus.
"Tahlilan digelar pada Kamis (27/9) malam,  dipimpin Habib Syekh Abdul Qodir Assegaf dari Solo. Untuk pengisi tausiah KH Musthofa Bisri, KH Quraish Shihab,” paparnya. mm

Pengakuan 'Musuh' Gus Dur

Ada yang menarik dalam diskusi buku Sang Zahid; Mengarungi Sufisme Gus Dur, sore tadi di Wahid Institute. Seorang kiai yang menjabat Ketua Umum Lajnah Tanfidziyah Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII) dan pembina Pertahanan Ideologi Syarikat Islam (Perisai) K.H Muhammad E Irmansyah mengaku sempat salah memahami Gus Dur.
“Saya Muhammad Hermansyah, ketua syarekat Islam. Saya ingin membuat pengakuan dosa. Saya pernah membenci Gus Dur. Saya kenal dengan keluarga Gus Dur, tapi terus terang saya ada tabir dengan Gus Dur karena ajaran pluralisme beliau,” ungkapnya.
Ia mengaku pernah mendiskreditkan Gus Dur dalam sejumlah ceramahnya. Sebagai pengamal syariah, ia pernah tak sepaham dengan konsep pluralisme Gus Dur. Tapi setelah memahami lebih lanjut, bertahun kemudian, ia mengaku terkesan dengan sikap dan ajaran Gus Dur. “Saya merasa berdosa. Ternyata pluralisme yang diajarkan Gus Dur tak bertentangan dengan syariat Islam. Bahkan itulah ajaran nabi yang mengajarkan pentingnya kasih sayang bagi sesama. Ternyata yang tak sepaham dengan Gus Dur, itu karena belum mencapai pada maqamnya saja,” katanya seraya mengutip beberapa hadist, dan ayat al-Quran yang mendukung konsep pluralisme Gus Dur.
Ia mengaku semakin terkesan kepada Gus Dur, ketika ia menemui Gus Dur saat menjabat sebagai Presiden. Sikap sederhana Gus Dur masih melekat dalam ingatannya hingga sekarang. Karenanya kemudian ia kini berguru tasawwuf kepada K.H Lukman Hakim, yang notabene merupakan murid Gus Dur. “Saya pernah beberapa kali bertemu presiden, tapi belum pernah bertemu presiden di kamar tidurnya. Saya merasa kecil sekali, ketika Gus Dur dengan santai menerima saya di kamar tidurnya. Betapa beliau telah menghilangkan sekat duniawi,” tandasnya.

Mengulas Sufisme Gus Dur




Dari Asketisme, Hingga Pengakuan Dosa dari Seorang yang Memusuhinya

Perdebatan tentang sufisme K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), tak hanya terjadi di kalangan muslim. Sejumlah kalangan non muslim juga ternyata kerap berdebat tentang sikap hidup Gus Dur yang asketik, egaliter, menebar kasih terhadap sesama dan kemungkinan surga menerima beliau.

Abdul Malik Mughni (Tan Malika)


Jaya Suprana, seorang penulis, humorolog sekaligus antropolog yang beragama keristen bercerita tentang perdebatan sejumlah pendeta pasca wafatnya Gus Dur.  Perdebatan sufisme meruncing ketika Gus Dur meninggal. Saya bertanya pada pendeta, bisakah  Gus Dur masuk surga? kata Jaya dalam bedah buku Sang Zahid; Mengarungi Sufisme Gus Dur, karya K.H Hussein Muhammad, di kantor Wahid Isntitute, Selasa (25/9).
Pendeta, kata Jaya, dengan tegas menjawab bahwa Gus Dur pasti masuk neraka, sebab Gus Dur tak mengakui ketuhanan Yesus. Jaya dan sejumlah pendeta lain sebenarnya tahu prasyarat masuk surga dalam agama kristen adalah pengakuan terhadap Yesus. Tetapi Jaya mengaku penasaran. Sebab selama hidupnya, Gus Dur mengamalkan ajaran kasih sayang terhadap sesama. Pengorbanan Gus Dur bagi sesama, menurut  Jaya, sangatlah besar dan layak diganjar surga.
Pendeta tetap ngotot bahwa Gus Dur tak mungkin masuk surga. Maka saya jawab. Baiklah kalau begitu, saya lebih baik masuk neraka menemani Gus Dur, ketimbang masuk surga bersama kalian, tandas Jaya. Pengakuan unik itu spontan membuat para hadirin tertawa, sekaligus terharu.
Dalam kesempatan itu, Jaya juga mengungkap permohonan penyesalannya atas kemunculan Film Innocence of Moslem, yang menurutnya merupakan film tak berkualitas, dan menistakan kesucian Nabi Muhammad.
Sebagai sahabat Gus Dur, Jaya mengaku sangat kehilangan sosok yang selama ini dianggap sebagai guru dan teladan hidupnya. Tapi sebagai humorolog, Jaya berhasil meramu kesedihannya dalam guyonan khas Gusdurian. Saya kehilangan Gus Dur. Sebagai seorang guru, saya sering bertanya pada Gus Dur, apa itu sufi.  Maka ketika Gus Dur wafat, saya bertanya-tanya.  Jangan-jangan Gus Dur wafat karena saya terlalu sering bertanya tentang apa itu sufi. Gus Dur mungkin tak mau kelihatan kesufiannya, kata Jaya seraya mengungkap bahwa sufisme merupakan pemahaman keagamaan yang melampaui agama itu sendiri. Beyond religion.
Dalam bedah buku yang berlangsung selama tiga jam itu, Kiai Hussein, sang penulis buku Sang Zahid, mengungkap sejumlah pengalamannya berdekatan dengan Gus Dur. Bagi Hussein, sikap hidup Gus Dur layak diteladani dan sesuai dengan ajaran Nabi Muhammad, yang menekankan ummatnya untuk bersikap sederhana, dan tak menggantungkan diri pada duniawi. 
Gus Dur menghayati kesederhanaan dan mementingkan pemberian bagi orang lain. Sebagai seorang yang zahid, Gus Dur  tak pernah menceritakan kepada siapapun soal rizki yang sudah dibagikannya untuk mereka yang memerlukannya, kecil maupun besar. Gus Dur, saya yakin, selalu tak ingin membuat orang yang memintanya kecewa atau pulang ke rumahnya dengan wajah duka dan tangan yang tak bawa apa-apa, paparnya.
Sementara, K.H Lukman Hakim, Pemimpin Redaksi Majalah Sufi dalam paparanya mengulas keberanian Gus Dur, dan berbagai wacana yang dilontarkannya merupakan anugerah Allah. Kita Sebagai pengagum beliau, mempelajari wacana beliau, sulit meneladani beliau seutuhnya. Mengenai  derajat wali adalah hak prerogatif Tuhan.
Tapi dalam hal zuhud, Gus Dur berhasil melepaskan diri dari cinta dunia, ujarnya.
Dalam diskusi itu juga seorang kiai yang Menjabat Ketua Umum Lajnah Tanfidziyah Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII) dan pembina Pertahanan Ideologi Syarikat Islam (Perisai) K.H Muhammad E Irmansyah mengaku sempat salah memahami Gus Dur.
Saya Muhammad Hermansyah, ketua syarekat Islam. Saya ingin membuat pengakuan dosa. Saya pernah membenci Gus Dur. Saya kenal dengan keluarga Gus Dur, tapi terus terang saya ada tabir dengan Gus Dur karena ajaran pluralisme beliau, ungkapnya.
Ia mengaku pernah mendiskreditkan Gus Dur dalam sejumlah ceramahnya. Sebagai pengamal syariah, ia pernah tak sepaham dengan konsep pluralisme Gus Dur. Tapi setelah memahami lebih lanjut, bertahun kemudian, ia mengaku terkesan dengan sikap dan ajaran Gus Dur. Saya merasa berdosa. Ternyata pluralisme yang diajarkan Gus Dur tak bertentangan dengan syariat Islam. Bahkan itulah ajaran nabi yang mengajarkan pentingnya kasih sayang bagi sesama. Ternyata yang tak sepaham dengan Gus Dur, itu karena belum mencapai pada maqamnya saja, katanya seraya mengutip beberapa hadist, dan ayat al-Quran yang mendukung konsep pluralisme Gus Dur.
Ia mengaku semakin terkesan kepada Gus Dur, ketika ia menemui Gus Dur saat menjabat sebagai Presiden. Sikap sederhana Gus Dur masih melekat dalam ingatannya hingga sekarang. Karenanya kemudian ia kini berguru tasawwuf kepada K.H Lukman Hakim, yang notabene merupakan murid Gus Dur. Saya pernah beberapa kali bertemu presiden, tapi belum pernah bertemu presiden di kamar tidurnya. Saya merasa kecil sekali, ketika Gus Dur dengan santai menerima saya di kamar tidurnya. Betapa beliau telah menghilangkan sekat duniawi, tandasnya.

Senin, 17 September 2012

Sisi Lain Munas NU III

Musyawarah Nasional NU tak hanya menjadi ajang silaturahim para ulama pesantren. Munas NU di Pondok Pesantren Kempek yang baru berakhir malam ini juga menjadi ajang pertemuan kaum muda NU. Termasuk para aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Sebagai anak budaya dari NU, PMII, dan jaringan alumninya berkomitmen mengawal gerakan para ulama.
Dalam perjalanan menuju Cirebon bersama Ketua Umum  Pengurus Besar PMII Addin Jauharuddin, Ketua Kaderisasi Nasional PMII, Ketua Penataan Aparatur Organisasi PMII, Luhamul Amani, dan anggota Biro Hukum dan HAM PB PMII, Huda Kalimullah, terjadi perdebatan hangat seputar rencana PBNU untuk mereview UU Pemda, dan prosesi pemilukada yang dinilai merusak tatanan sosial masyarakat.
Dari diskusi sepanjang perjalanan itu, disimpulkan bahwa PB PMII akan melakukan judicial review (uji materi) terhadap UU 18/2008, tentang  Pemda kepada Mahkamah Konstitusi (MK).
Uji materi tersebut menurut Addin,  dilakukan sebagai langkah lanjutan untuk mendukung hasil Musyawarah Nasional Nahdlatul Ulama (Munas NU).
"PMII mendukung hasil munas NU. Terutama sejumlah hal, diantaranya tentang penghentian pemilukada. Kami juga akan mengajukan judicial review UU Pemda," ujar Addin.
Selain merusak tatanan sosial dan psikologi masyarakat, Pemilukada juga merusak kaderisasi di PMII. Menurut Addin, UU Pemda saat ini justru bertentangan dengan nilai -nilai UUD 1945, dan Pancasila. "Sila ke empat pancasila menyebutkan permusyawaratan perwakilan. Maka yang tepat, kita juga kembalikan pemilihan kepala daerah, di tingkat propinsi dab kabupaten," paparnya.
Selain soal pemilukada, PMII menurut Addin juga mendesak pemerintah untuk meminimalisir kebocoran anggaran. Karenanya PMII mendukung hasil Munas NU tentang moratorium pajak, selama belum ada pembenahan dalam tatanan perpajakan. "Pajak harus berkorelasi dengan pembangunan infrastruktur. Pmii mendukung moratorium penghentian pajak," tandasnya.
PMII kata Addin juga akan Menagih janji Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang mengintruksikan jajaran kabinetnya untuk menaati dan melaksanakan hasil Munas NU.Dalam diskusi itu juga tercetus tentang dosa besar amandemen UUD 1945 pada tahun 1999 lalu. 
Bagi saya, ijtihad politik MPR RI yang saat itu dipimpin Amien Rais tak bisa disalahkan. dan secara pribadi saya sepakat jika otonomi daerah diperluas menjadi sistem negara federasi. Apa pasal? Negara kepulauan Indonesia sangat berat untuk diatur secara sentralistik. Sebab hal itu akan mengabaikan lokalitas daerah-daerah.
Tapi ternyata para ulama melihat otonomi daerah dan pemilukada langsung lebih berdampak negatif. Mudhorotnya lebih banyak ketimbang manfaatnya. 

Sisi Lain Munas NU II

HIPSI dan Entrepeneurship Pesantren

“Wahai pemuda putra bangsa yang cerdik, cerdas dan para ustadz yang mulia, mengapa tidak kau dirikan saja satu badan ekonomi yang berkoperasi, di mana setiap kota terdapat satu badan usaha yang otonom,” K.H Hasyim Asy’ari, Deklarasi Nahdlatut Tujjar  (Kebangkitan Saudagar) 1918.
---
Selain menampilkan sejumlah lembaga , badan otonom Nahdlatul Ulama dan berbagai karya serta kinerjanya, stand bazar di acara Musyawarah Nasional dan Konferensi Besar  (Munas dan Konbes NU), di Pondok Pesantren Kempek, Cirebon,  juga diisi oleh promosi sejumlah perusahaan.
Dari sejumlah stand itu,  ada sebuah stand menawarkan pisang arania, lele sangkuriang disertai promosi e-commerce tokonu.com. Stand itu mengukuhkan eksistensi Himpunan Pengusaha Santri Indonesia (Hipsi) yang kini bernaung di bawah Rabithah Ma’had Islamiah (RMI) NU.
Hipsi yang pertamakali dibentuk di Surabaya bermula dari keprihatinan sekelompok santri yang kuliah di Institut Tekhnologi Sepuluh Nopember Surabaya (ITS), atas meredupnya semangat kewirausahaan kaum pesantren.
“Padahal,  keberadaan NU tak pernah terlepas dari lembaga Nahdlatut Tujjar (kebangkitan pedagang), Nahdlatul Wathan (kebangkitan tanah air) dan Tashwirul Afkar (gerakan kaum pemikir). Bahkan di awal pergerakannya, hingga tahun 1960-an, kaum santri sebagai basis utama NU,  masih menguasai sektor perdagangan,” papar Mohammad Ghozali, Ketua Umum Hipsi, Minggu (15/9).
Ghozali dan kawan-kawan berpendapat,  semangat kewirausahaan di kalangan pesantren harus kembali dibangkitkan, setelah meredup akibat represi orde baru, dan kapitalisme global. Pesan Kiai Hasyim Asy’ari yang mendorong kaum muda untuk membentuk lembaga ekonomi yang independen, pada tahun 1918 lalu harus diimplementasikan.
Dengan jargon “saatnya santri bersatu membangun negeri,” mereka mencoba meretas kembali semangan wira usaha yang didengungkan para ulama, melalui Hipsi yang dibentuk sejak tahun 2002 lalu, Ghozali dan kawan-kawan telah membina ratusan santri di seratus pesantren, di seantero jawa dan sumatera.
“Visi kami adalah mencetak satu juta santri pengusaha, dan melahirkan pengusaha besar nasional dari pesantren,” tandasnya.
Meski belum diakui secara resmi oleh NU, Hipsi, kata Ghozali telah membulatkan tekad untuk menumbuhkan klaster pengusaha kecil dan menengah yang memiliki nilai tambah, bersinergi dan bermartabat.
“23 ribu pondok pesantren yang tergabung dalam RMI merupakan potensi besar yang bias dikembangkan untuk melahirkan jutaan pengusaha local dari kalangan pesantren,” ujarnya.
Perlunya membina kewirausahaan para santri, menurut Ghozali dilakukan untuk menjawab tantangan dunia global yang kini tak hanya mensyaratkan ijazah dan penguasaan teori keagamaan di tengah kehidupan yang materialistik.
“ Kami telah mengadakan workshop di ratusan pesantren berdasarkan cluster potensi ekonomi yang kita survey. Kami juga mengadakan pelatihan keterampilan web desain untuk mempermudah para pengusaha santri dalam mempromosikan produknya,” papar Ghizali.
Tak hanya itu, pada bulan Juli lalu, Hipsi menghelat entrepreneur camp, untuk menyatukan visi para santri yang terjun di dunia usaha, agar mau membantu sesame dan mempertajam ideology kepesantrenan, serta memperluas jaringan usaha mereka.
“Kami mengedepankan kejujuran, keadilan, profesionalitas, kerja cerdas, serta menjunjung tinggi norma agama, kesusilaan, kesopanan, dan hokum,” ujarnya.
Upaya kaum muda pesantren itu mendapat sambutan dari para kiai pengasuh pesantren di Kempek, Cirebon. Kiai Ahmad Ade Idris, pengasuh Pondok Pesantren Alidrisiyah mengungkapkan, NU perlu generasi muda kreatif, untuk mengimplementasikan sejumla misi social NU.
“yang terpenting dari NU saat ini adalah manajerial, kedisiplinan dan komitmen para pengurusnya. Agar umat tak lagi sekedar dijadikan obyek politis, tetapi dijadikan mitra untuk bangkit bersama,” ujarnya

Sisi Lain Munas NU I

Beralihnya Referensi Bahtsul Masail, dari Kitab Kuning, ke Kitab Digital

Ada yang beda dari Bahtsul Masail NU dalam  Musyawarah Nasional dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama (Munas dan Konbes NU) tahun ini. Biasanya dalam setiap bahtsul masail, para kiai membawa setumpuk kitab kuning dan berbungkus-bungkus rokok.
Kali ini, suasana di ruangan bahtsul masail terlihat lebih tertib, layaknya siding anggota parlemen. Meja berjejeran, asap rokok tak terlalu banyak mengepul, dan tak terlihat lagi kitab bertumpuk atau berserakan di area Bahtsul Masail.
Meski begitu, suasana di area munas yang membahas Sembilan hal penting terkait bangsa ini, tetap panas  dengan perdebatan. Para kiai beradu argument dengan dalil-dalil keagamaan yang fasih. Kiai-kiai muda tak segan membantah pernyataan kiai tua. Ratusan dalil dari kitab-kitab klasik tetap bertebaran dari pendapat para kiai. Bahkan hingga waktu rehat tiba, para kiai masih aktif berdebat sambil sesekali memandangi netbooknya.
Dari mana para kiai itu mengutip dalil-dalil kitab klasik dan saling memverifikasi pendapat kiai lainnya? Ternyata, netbook yang berada di hadapan para kiai itu berisi ribuan kitab klasik digital yang telah dipersiapkan panitia Munas.
“Pada saat pra munas, panitia menyediakan ribuan kitab digital, yang dirangkum dalam hardisk. Ribuan kitab itu seberat satu tera (seribu giga,red,)” ungkap anggota Raisy Syuriah PB NU K.H Isomudin membocorkan rahasia kefasihan dalil para kiai.
Ribuan kitab klasik yang disimpan dalam hardisk berkekuatan satu tera itu, menurut Isom dijual oleh panitia senilai Rp 1,8 juta. “Ya ini lebih praktis. Daripada kita mendownload sendiri kan lama,” ujarnya.
Meski praktis, menurut Isom,  membaca kitab kuning jauh lebih nikmat, ketimbang membaca kitab digital. “Kalau di netbook kita gak bias mencoret dan memberi makna. Di kitab kan kita bias mencoret dan membuka lembaran kitab kuning itu, sungguh indah rasanya,” katanya bernostalgia.
Selain itu, kata Isom, isi dari kitab digital itu banyak yang harus diverifikasi ulang. Sebab tak jarang kitab-kitab digital itu ada yang tak lengkap isinya, atau bahkan dirubah isinya. “Mendownload jug harus hati-hati. Sebab banyak situs yang menyediakan kitab digital itu justru malah menyesatkan isinya. Biasanya kelompok wahabi yang tega merubah isi kitab,” ujarnya.
Karenanya, PBNU berencana menyampaikan persoalan ini kepada Raja Arab Saudi dalam pertemuan yang akan dilakukan PBNU dan Kerajaan Arab Saudi, beberapa bulan mendatang. “Kami akan bahas ini. Ini persoalan serius. Banyak kitab para ulama yang dirubah isinya hanya untuk kepentingan memaksakan ideologi. Ini merusak,” katanya.
Menjelang magrib, sidang bahtsul masail ditunda. Sejumlah kiai pun ke luar ruangan. Di luar, mereka bersalaman. “Maaf ya kiai, tadi saya membentak-bentak,” kata seorang kiai dari Jawa Timur.  “Tak apa, saya juga minta maaf, tadi sempat ngotot. Tapi ini biasa dalam peredebatan ilmiah,” kata kiai lainnya.

Dalam Munas kemarin, siding bahtsul masail dibagi menjadi tiga komisi. Komisi A membahas masalah waqi’iyah atau isu-isu kekinian, Komisi B membahas soal Maudu’iyah atau tematik, dan Komisi C membahas Qanuniyah.
Sementara Konbes juga dibagi tiga komisi. Masing-masing membahas Keorganisasian, Evaluasi Program, dan Rekomendasi
luvne.com ayeey.com cicicookies.com mbepp.com kumpulanrumusnya.com.com tipscantiknya.com