Gusdurian

Surat Terbuka Untuk Politisi Banten

Terkhusus untuk para politisi Banten, yang sedang bersiap,menghadapi Pilkada 2017 nanti, sudahi dulu lah debat kusir tentang siapa cal...

Kamis, 11 Oktober 2012

Kontroversi Sejarah PKI

 Kontroversi sejarah pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI) pada 30 September 1965, yang dikenal dengan istilah G/30 S PKI, atau Gerakan Satu Oktober (Gestok), semakin menyeruak dengan banyaknya versi sejarah tentang peristiwa kelam tersebut.
Nahdlatul Ulama (NU) sebagai salah satu elemen bangsa yang turut menjadi korban keganasan PKI saat itu, tak mau tinggal diam dengan banyaknya versi sejarah tersebut. Terlebih, menurut Wakil Ketua Umum PBNU, K.H As’ad Sa’id Ali, belakangan ini muncul sejumlah literature yang mendiskreditkan warga NU yang turut serta dalam penumpasan PKI.  
“NU sekarang sedang menghadapi fitnah. Warga NU dianggap sebagai pelaku kejahatan. Padahal kita adalah korban. Saat itu kita melakukan pembelaan diri dari serangan PKI, kata As’ad saat membuka kegiatan tahlilan untuk para kiai dan santri yang menjadi korban serangkaian pemberontakan PKI, di Kantor PBNU, Jalan Kramat Raya, Senin (1/10).
As’ad juga mengingatkan kepada semua pihak, agar memahami sejarah secara utuh. Tidak sepotong-sepotong. Sebab pemahaman sejarah yang hanya dengan membaca potongan fragmen akan melahirkan pemahaman menyimpang. Bahkan bisa memutar balikkan fakta sebuah peristiwa. Hal itulah yang kini sedang terjadi di tengah bangsa ini, dalam memahami pemberontakan PKI.
 “Dalam pandangan sejarah kontemporer,  PKI hanya dianggap  membuat manuver politik pada peristiwa 1965. Itu pun tak sepenuhnya diakui. Peristiwa itu diputarbalikkan faktanya, bahwa seolah peristiwa berdarah itu adalah manuver TNI Angkatan Darat,” Tandasnya.
Padahal, lanjut As’ad, PKI melakukan pemberontakan secara sporadis dan sistematis sejak tahun 1926, kemudian dilanjutkan pemberontakan Madiun pada tahun 1948, dan berlanjut lagi pada tahun 1965. “Semua peristiwa itu adalah kesatuan sejarah yang saling terkait. Para pelakunya saling berhubungan. Tujuan utamanya adalah bagaimana mengkomuniskan Indonesia, dengan mengorbankan para Ulama dan aparat negara,” ujarnya.
Dalam rangkaian peristiwa itu, kata As’ad, banyak kiai dibunuh, pesantren, madrasah dan masjid dibakar.   Ia menguraikan, misalnya pada pemberontakan di Madiun 1948, ratusan kiai, pemimpin tarekat dan santri dibantai secara keji. Lalu pada sebuah pertemuan di Surabaya, tahun 1965, ratusan kader Gerakan Pemuda Ansor diracun. “Anehnya kini  fakta sejarah itu diputar balikkan. PKI yang selama ini melakukan kekejaman, diubah menjadi korban kekejaman aparat. Lalu mereka melakukan berbagai manuver melalui Amnesti Internasional dan Mahkamah Internasional, termasuk Komnas HAM. Kita harus meluruskan sejarah. Komnas HAM juga jangan pura-pura tak tahu dengan semua peristiwa ini,” tandasnya.
PBNU, kata As’ad juga mengajak seluruh warga negara Indonesia wapada dan tak mudah pecaya pada berbagai propaganda yang bertujuan mengadu domba anak bangsa. “Kalau diperlukan, Mari kita islah, saling memberi maaf. Demi membangun Indonesia yang utuh, tanpa diskriminasi, NU bersedia memaafkan PKI. Hal ini juga sudah dirintis oleh K.H Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang saat menjabat presiden, beliau telah memulihkan hak-hak sosial mereka,” ujarnya.
Hal senada diungkap K.H Syaifudin Anshori, salah satu saksi sejarah keganasan PKI di Jakarta. Ia mengungkapkan, ada sejumlah pihak yang kini berupaya memutar balikkan sejarah. “Sekarang banyak sejarah yang dibentuk. Para penulis sejarah itu bukan menelusuri sejarah, tapi membentuk opini sejarah baru. Jika mau jujur, ada sebuah buku karangan sejarawan asing yang menyebutkan bahwa korban kekejaman PKI itu mencapai jutaan orang. Penulis itu dulu lama tinggal di Jakarta, dan menyaksikan langsung peristiwa tersebut,” ujarnya. 

0 komentar:

luvne.com ayeey.com cicicookies.com mbepp.com kumpulanrumusnya.com.com tipscantiknya.com