Gusdurian

Surat Terbuka Untuk Politisi Banten

Terkhusus untuk para politisi Banten, yang sedang bersiap,menghadapi Pilkada 2017 nanti, sudahi dulu lah debat kusir tentang siapa cal...

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Sabtu, 14 September 2013

Mengenal Capres : Djoko Santoso

Setegas Umar, Selembut Abu Bakar

 
Anak sulung dari sepuluh bersaudara, yang lahir dari pasangan Djoko Soejono (Alm) dan Soelani, ini memang dikenal beretos kerja tinggi sejak remaja. Lahir pada 8 September 1952, di tengah keluarga besar dengan penghasilan pas-pasan, membuat Jenderal TNI (Purnawirawan) Djoko Santoso tegar dan sadar diri sejak dini.
Sebagai seorang guru SMA, ayah Djoko terbilang sukses mendidik ke sepuluh anaknya hingga menjadi panutan banyak keluarga di desanya, atau bahkan di negeri ini. Ibunya yang pedagang gerabah juga berhasil menanamkan jiwa kemandirian dan wirausaha bagi anak-anaknya.
Kesuksesan keluarga Djoko Soedjono ini terrekam dalam buku berjudul Banjir kanal Timur Karya Anak Bangsa, yang terbit pada tahun 2010 lalu. Anak kedua Soedjono, Pitoyo Subandrio saat itu berhasil menerapkan konsep penanganan banjir terpadu melalui kanal banjir yang dibangun di sisi Barat dan Timur Jakarta.
Selain membanggakan kedua orang tuanya, dalam buku tersebut, Pitoyo mengungkap kebanggaanya terhadap sang Kakak, Djoko Santoso. Sejak kecil, mereka dididik untuk peka dan peduli terhadap masyarakat sekitar. Sejak kecil juga mereka belajar kemandirian. “Saya dan Mas Djoko memanfaatkan kemalasan orang untuk mengantre di Kantor Pos. Kami beli kartu lebaran di pasar grosir, dan menjualnya lagi di dekat Kantor Pos,” tuturnya. Di luar masa lebaran, mereka juga biasa menjualkan Onde-Onde, yang dibuat oleh Ibu dan adik-adik perempuan mereka.
Laba dari penjualan kecil-kecilan itulah yang mereka gunakan untuk biaya sekolah. Meski mengenal dunia bisnis sejak kecil, keluarga Soedjono tak mau mengabaikan pentingnya pendidikan. Maka sambil berdagang, mereka tak pernah lupa membawa buku pelajaran untuk disimak. Keprihatinan hidup keluarga itu pulalah yang mendorong Djoko Susanto untuk masuk Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (Akabri) yang kini berganti nama menjadi Akademi Militer (Akmil). Selepasn SMA, tahun 1975, Djoko berhasil masuk Akabri, dan mulai mendedikasikan hidupnya untuk Negara.
Perjalanan kariernya di dunia militer mempertegas wataknya dalam kecintaan pada Negara dan Konstitusi. Berbagai jabatan gemilang pun ia raih. Namun itu semua tak serta-merta membuat Djoko lupa daratan. Hal itu menurut Pitoyo tak terlepas dari nilai akhlakul karimah yang ditanamkan oleh ayah mereka. “Setiap 17 Agustus, Ayah selalu membeli kapur untuk mengecat dinding dan pagar rumah. Ayah juga menyuruh saya dan mas Djoko untuk mengecatkan dinding rumah Mbah Harso, tetangga kami yang sudah lanjut usia dan tak punya anak,” tutur Pitoyo mencontohkan nilai kemasyarakatan yang ditanamkan ayah mereka.
Cermin Reformasi TNI
Di sela pengabdiannya di dunia militer, Djoko Santoso juga sempat mengenyam pembelajaran politik di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Tahun 1992- 1995, Djoko ditugaskan menjadi Anggota DPR RI dari Fraksi ABRI. Saat itu Rezim Orde Baru memang member kuota khusus bagi kalangan militer, untuk memiliki perwakilan di DPR.
Untuk mematangkan visi politiknya, Djoko pun menyempatkan diri kuliah di Jurusan Sospol Fisip yang dilanjutkan di Magister jurusan Manajemen. Selepas berkarier di DPR, Djoko Santoso kembali ke barak dan bertugas di bidang Intelijen ketentaraan, hingga menjadi Wakil Asisten Sosial Politik Kepala Staf Territorial TNI pada tahun 1998.
Pergantian Rezim dari Orde Baru ke Pemerintahan Reformasi turut merubah posisi militer di tengah konstalasi politik kenegaraan di Republik ini. Militer yang sebelumnya dikenal angker dituntut juga mereformasi diri. Dan karakter Djoko Santoso yang memang luwes dan humanis itu kemudian dinilai sebagai cerminan reformasi TNI.
Pengalaman di lingkungan militer, di wilayah politik, dunia intelijen dan terjun di lapangan yang penuh konflik membuat nalar strategis Djoko semakin yahud. Ia pun kian matang di semua lini. Sebagai tentara ia punya sikap tegas, namun sebagai intelijen yang mengerti betul soal strategi dan pendidikan, Djoko terbilang luwes, mampu menempatkan diri dan menghargai kemanusiaan.
Citra diri Djoko tersebut bukanlah hal yang direkayasa, tetapi memang betul-betul terpateri dalam diri Alumni Akademi Militer 1975 itu, dalam sepanjang kiprahnya di dunia militer maupun di dunia sosial politik. Sebagai tentara Djoko pernah menjabat posisi puncak sebagai Panglima TNI pada 28 Desember 2007 hingga 28 september 2010.
Dalam lingkaran sosial keagamaan dan kependidikan, Ayah dua anak ini pernah menjabat Ketua Umum Persatuan Bulutangkis Indonesia (PBSI), Pandu Petani Indonesia (PATANI) hingga Wakil Ketua Dewan Penasihat Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI). Selain itu banyak organisasi dan lembaga sosial yang dipimpinnya sebagai ajang pengabdian. 
Bahkan ketika menjabat sebagai Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KASAD), tahun 2005 lalu,  Djoko  mendirikan  Patriot Leadership Development Centre (PLDC). Lembaga itu, kata Djoko merupakan sebuah pusat pengembangan calon pemimpin pada tingkat nasional yang memiliki keunggulan dan diapresiasi secara internasional. “Peserta didik PLDC ini berasal dari berbagai komunitas. Baik sipil maupun militer. Ini sebagai wadah komunitas belajar lintas disiplin ilmu yang mampu mengembangkan kompetensi kepemimpinan, baik secara perorangan maupun organisasi. Visi PLDC adalah pusat pengembangan calon pemimpin di tingkat nasional yang memiliki keunggulan dan diapresiasi secara internasional,” paparnya.
Dalam berbagai kesempatan, Djoko memang sering mengungkapkan keprihatinannya terhadap bangsa dan generasi muda Indonesia. Ia berharap, PLDC bisa melahirkan para kader pemimpin berwawasan kebangsaan di berbagai sektor kehidupan. “Sehingga di masa depan mereka akan dapat ikut meningkatkan keunggulan kompetitif bangsa Indonesia di dunia internasional,” tandasnya.
Kini, PLDC yang diserahkan pengelolaannya kepada Yayasan kartika Eka Paksi, milik TNI AD, rutin menggelar kaderisasi yang melibatkan para pemuda potensial dari beragam organisasi.
 Humanis dan Bersih KKN
Humanisme suami dari Angky Retno Yudianti ini memang tertanam sejak dini. Riwayat hidup sang Jenderal yang penuh keprihatinan, membuatnya peka terhadap pentingnya membela hak dan keadilan masyarakat. Dalam rekam jejaknya sebagai ADC PANGDAM I/Bukit Barisan (1978), hingga Panglima TNI (2007), Djoko dikenal piawai menyelesaikan konflik antara sesama masyarakat sipil, maupun antara sipil-militer dengan pendekatan yang arif dan berkeadilan.
Saat ia ditugaskan menjadi Panglima Komando Operasi Pemulihan Konflik di Maluku (2002-2003) misalnya, ia berhasil meredam perang berbau SARA, dengan pendekatan tradisi masyarakat setempat. Pun ketika terjadi perebutan tanah antara warga dengan TNI, yang notabene berada di wilayah kekuasaanya, Djoko tak menggunakan kekuatan militernya untuk menundukkan masyarakat sipil. Bahkan, setelah terbukti bahwa tanah itu memang tanah warga, ia rela membayar ganti rugi bagi warga setempat.
Sejumlah masyarakat yang pernah berjumpa atau bahkan bersinggungan dengannya pun mengakui tingginya empati Djoko Santoso terhadap nasib rakyat di sekitarnya. Seorang Mahasiswa Phd di Universitas Charles Sturt Australia, yang pernah berjumpa Djoko Santoso di sebuah Rumah Sakit, pada tahun 2003 lalu, mengungkapkan kedermawanan Sang Jenderal yang secara spontan membantu seorang ibu yang kesulitan biaya Rumah Sakit.
“Baru kali ini dalam hidup saya melihat seorang jenderal menangis! Saya bisa melihat air mata beliau yang keluar secara spontan dan tidak dibuat-buat karena di tempat itu hanya ada saya dan beliau. Mana Ibu itu? Itu pak di sana. Tanpa babibu dan basa basi dikeluarkannya uang  dari dompetnya dan dikasih ke Ibu itu. Ibu... Ini ada sedikit uang untuk membantu biaya operasi anak Ibu... Terus Pak Djokonya turun tangga,” papar sang Mahasiswa dalam blognya, http://arifrohmansocialworker.blogspot.com.
Kesahajaan Djoko dan sikap Humanisnya itu juga diceritakan banyak tokoh lain, seperti DR HM Attamimy, Mantan Ketua Satgas Amar Na’ruf Nahi Munkar Muslimin Maluku, dan Uskup Amboina, Mgr.P.C Mandagi, hingga Mantan Menteri Sosial Bachtiar Chamsyah. Attamimy yang kini menjabat Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Maluku bahkan sempat menuliskan buku khusus tentang kepiawaian Djoko Santoso dalam mendamaikan konflik SARA di Ambon (2001-2003). Buku berjudul Merajut Harmoni di Bumi Raja-Raja, yang ditulisnya tahun 2004 lalu itu mengulas keteladanan Djoko Santoso yang dinilainya telah mencetak sejarah di negeri ini, dengan meletakkan dasar-dasar perdamaian di Maluku dan Maluku Utara.
Selaku Panglima Perang, ketegasan Djokowi juga tak diragukan. Seperti Umar Bin Khattab, Ia bahkan tak segan menghukum anak buahnya yang terbukti turut serta dalam mengobarkan konflik berdarah di Ambon. Ia juga rela naik gunung bersama stafnya, untuk mencarikan sumber air bagi masyarakat yang kekeringan. Belas kasihnya yang selembut Sahabat Nabi Abu Bakar Siddiq itu kemudian, membuat masyarakat terhenyak dan merasa sedih ketika Djoko meninggalkan Maluku untuk mengemban Panglima Kodam Jaya (Pangdam Jaya). Keteladanan Sang Jenderal ini pula yang menginspirasi Hikmat Israr, seorang Kolonel yang sempat turut serta mendampingi Djoko Santoso di Maluku, untuk menulis sebuah buku berjudul Meninggalkan Ambon dengan Kepala Tegak.
Sejumlah pengamat militer dan aktivis Hak Asasi Manusia (HAM) pun mengakui, bahwa sepanjang kariernya sebagai Panglima Komando di berbagai daerah Konflik, hingga karier puncaknya di Militer sebagai Panglima TNI, Djoko Santoso dinilai bersih dari isu pelanggaran HAM. Teristimewa lagi, Djoko juga lekang dari persoalan Korupsi Kolusi dan Nepotisme (KKN).

Komitmen Terhadap Reformasi TNI

Komitmennya terhadap Reformasi TNI juga ditunjukkan ketika ia menjabat sebagai KASAD dan Panglima TNI. Ia memastikan netralitas TNI dalam Pemilu tahun 2009, menegaskan sikap anti KKN nya dengan melarang keluarganya bergelut di dunia bisnis di lingkungan TNI. Ia juga  menelurkan konsep Trisula, sebagai pengganti Dwitunggal ABRI, yang menitik beratkan peran TNI sebagai penjaga pertahanan NKRI yang bertumpu pada kepentingan rakyat.
Trisula TNI itu seolah ingin menegaskan komitmen TNI sebagai kekuatan pertahanan Negara, kekuatan moral Negara dan kekuatan kultural bangsa Indonesia. Tiga mata tombak Trisula secara harfiah juga menunjukkan kesatuan seluruh angkatan TNI, yakni Angkatan Laut, Angkatan Udara dan Angkatan Darat, yang menyatu dalam tangkai. “Tangkai Trisula ini bermakna dukungan rakyat. Artinya, tanpa dukungan Rakyat Indonesia, tiga mata tombak ini tak berarti apa-apa. Trisula ini harus dimiliki oleh seluruh anggota TNI,” ujarnya.

Mengenal Capres : Gita Wirjawan



Anak Ningrat, Pekerja Keras

Lahir pada 21 September 1965  di tengah keluarga Diplomat dan mafhum perihal pendidikan, membuat Gita Irawan Wirjawan dan keempat saudaranya tumbuh sebagai pribadi yang cakap dalam menghadapi dinamika global. Dari sejumlah cerita tertulis tentang Menteri Perdagangan Kabinet Indonesia Bersatu II yang kini digadang sebagai Calon Presiden itu, tergambar integritasnya sebagai professional muda di bidang keuangan.
Meski lahir di tengah keluarga ningrat dan kaya raya, namun Gita tumbuh sebagai pekerja keras sejak usia remaja. Putera bungsu dari pasangan  Wirjawan Djojosoegito dan Paula Warokka itu mengaku pernah menggeluti beragam pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan hidup dan perkuliahannya  di Universitas Texas Amerika, dan  Sekolah Musik Berkley.
“Pekerjaan apapun saya tekuni. Dari bermain piano di Club, membersihkan tinja di restoran, menjadi pemandu wisata, pelayan di kafetaria. Di musim panas saya malahan bekerja sampai 50 jam seminggu,” tuturnya dalam sebuah acara talkshow di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Ciputat, Tangerang Selatan, beberapa waktu lalu.
Meski keempat kakaknya pun terbilang sukses di bidang bisnis professional, namun Gita dididik untuk mandiri sejak remaja. Gita juga mengaku bersyukur dengan berbagai kesulitan hidup yang pernah dirasakannya semasa kuliah.  "Kesulitan hiduplah yang membentuk karakter saya,” ungkapnya seraya bercerita bahwa ketika kuliah, ia tinggal di India, sementara orang tuanya di Bangladesh.
“Beasiswa saya waktu itu tidak penuh. Sedangkan orang tua hanya membekali saya US$3000. Uang kuliah mencapai US$20.000, belum lagi biaya hidup. Jadi saya harus bekerja sambil kuliah," paparnya.
Sejumlah orang yang pernah mengenal masa kecil Gita, seperti Wakil Gubernur Jawa Barat, Dede Yusuf Macan Effendi mengakui keistimewaan sahabat kecilnya itu terlihat sejak mereka belajar di SD Boedi Waloejo yang terletak di Jl. Cisanggiri 3, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. “Iya sama. Tapi Beliau dari dulu sudah hebat,” kata Dede  menjawab pertanyaan tentang kebersamaan mereka di masa SD.

Hobi Ngejaz dan Ziarah

Banyak pihak juga mengakui keluarga Gita sebagai keluarga santri, ningrat dan terdidik. Kakek Gita, Raden Ngabehi Hadji Minhadjurrahman Djojosoegito adalah Ketua Muhammadiyah Cabang Purwokerto, yang kemudian mendirikan Gerakan Ahmadiyah Indonesia aliran Lahore, pada Desember 1928. Menariknya, Djojosoegito juga merupakan sepupu dari pendiri organisasi Nahdlatul Ulama (NU), K.H Hasyim Asy’ari.
Tak heran, jika kemudian Ny. Lili Wahid, adik dari Presiden ke empat RI, K.H Abdurrahman Wahid, mengungkapkan jika Gita masih punya hubungan kekerabatan dengannya.  
“Pak Gita punya hubungan dengan klan Mbah Hasyim Asy’ari dari Mbah Hasyim Putri. Saya pernah menyampaikan masalah kekerabatan tersebut, dan saya mengatakan kepada beliau jangan sampai meninggalkan akar garis keturunan,” kata Lili, seraya mengungkapkan bahwa keluarga Djojosoegito adalah keluarga santri yang banyak melahirkan tokoh-tokoh intelektual. Pesan adik Gus Dur itu pun ia ikuti dengan rajin berkunjung ke Kampus Islam, Pesantren dan mengajak istri dan anak-anaknya untuk rajin berziarah ke makam orang tuanya.
Selain berziarah, Lulusan sekolah musik Berklee, Boston, AS, ini juga  sangat mencintai musik jazz. Ia mempromotori album Tompi, Bali Lounge dan Dewi Lestari lewat perusahaan berlabel Omega Pacific Production yang didirikannya. Gita juga  biasa manggung di kafe dan menulis lagu serta merilis album Inner Beauty milik kelompok bandnya sendiri. Pada 2005, ia bermain bersama pentolan grup jazz Fourplay, Bob James, ketika menggelar pentas di Jakarta. Namun, kini aktivitasnya di musik banyak berkurang. “Dulu saya main berbagai macam alat musik, biola, gitar, bas, saksofon. Sekarang, saya bermain piano paling lama setengah jam saja dalam seminggu,” ujar suami Yasmin Stamboel, cucu pahlawan nasional Otto Iskandar Dinata, ini.
Di bidang olahraga, ia mengaku hobi bermain basket, renang, bulutangkis dan golf. Tak heran jika kemudian ia ngotot memajukan olahraga Indonesia melalui Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI).  Kini, ia juga mendirikan sekolah Golf di bawah perusahaan Ancor yang juga rutin memberikan beasiswa bagi anak-anak Indonesia berprestasi.
Tentang golf, ia menekuni hobinya itu sejak berusia 10 tahun.  Sejumlah turnamen golf regional di Bangladesh dan India tempat ayahnya ditunjuk sebagai wakil Pemerintah Indonesia di Badan Kesehatan Dunia (WHO), pernah ia juarai.
Sebagai putera dari Dokter perwakilan Indonesia di WHO, Gita juga banyak mendapat pengalaman penting dengan mengikuti perpindahan tugas ayahnya di berbagai Negara. Hal itu membuatnya tumbuh dengan pandangan globalisasi sejak usia belasan tahun.
“Saya di Indonesia sampai kelas dua SMP. Kemudian ikut orang tua. Tahun 1978 saya tinggal di Bangladesh kemudian di India. Saya bisa melihat bagaimana Bangladesh dan India, tertinggal dari negara kita. Ini sangat banyak memberi perspektif bagi saya untuk melihat hal-hal baik di negeri ini,” tutur Gita.

Mimpi Gita Tentang Masa Depan Indonesia
Dalam berbagai kesempatan, termasuk di lini massa twitternya, Gita sering berkampanye tentang pentingnya rasa bangga terhadap bangsa sendiri. Gita berpendapat, bahwa Indonesia pada sepuluh hingga dua puluh tahun ke depan akan mencapai kejayaan. Sebab, kata dia,  PDB Indonesia jauh lebih besar daripada Malaysia, Singapura, dan bahkan Arab Saudi. “Kita lebih besar dari apa yang selama ini kita bayangkan. Tidak ada alasan bagi Indonesia untuk tidak bisa mencapai 10 besar ekonomi dunia dan memiliki pertumbuhan ekonomi lebih tinggi dari Amerika dalam 20 tahun ke depan,” paparnya.
Prediksi itu bukanlah ramalan mistik atau bualan kosong dari seorang yang berniat mencalonkan diri sebagai Presiden RI pada 2014 mendatang itu. Gita meyakini potensi kejayaan Indonesia berdasarkan pengalaman belajar dan perjalanan bisnisnya selama puluhan tahun.
Pendidikan Sarjananya ditempuh di University of Texas Amerika Serikat dan lanjut kuliah S-2 di Baylor University, pada 1989 di jurusan Administrasi Bisnis. Seolah tak puas kuliah di Texas, ia kemudian menempuh lagi pendidikan S-1 nya di Kennedy School of Government, Harvard University, Amerika Serikat, dan lulus tahun 1992. Selepas S-1, ia berkarier sebagai seorang bankir di Citibank. Di luar pekerjaan resminya itu, Ia juga menekuni karier sebagai musisi. Kecintaannya kepada musik membawanya manggung dari kafe ke kafe.
Tahun 1997, ia memutuskan berhenti dari kegiatan bermusiknya dan melanjutkan pendidikan paska sarjana di Jurusan Administrasi Publik Universitas Harvard. Lulus dari Harvard, pada tahun 2000, ia kemudian  bekerja di Goldman Sachs Singapura hingga tahun 2004. Goldman Sachs adalah sebuah bank yang didirikan oleh Marcus Goldman. Pada tahun 2005 ia pindah bekerja ke ST Telekomunikasi, Singapura. Di perusahaan tersebut, ia bekerja selama kurang lebih satu tahun sebelum akhirnya berlabuh sebagai  Direktur Utama JP Morgan Indonesia, pada tahun 2006.
Dari sejumlah pengalaman itu, terutama sejak ia menjabat sebagai pemimpin puncak di JP Morgan Indonesia, yang bergerak di bidang financial, analisis ekonomi Gita semakin terasah. Gita mengaku, ketika ia masih menjabat sebagai Presdir JP Morgan Indonesia, Ia telah mengingatkan Pemerintah RI, Ekonom dan Pengusaha di Indonesia, tentang gelagat krisis ekonomi Amerika, yang dampaknya akan meluas ke seluruh dunia.
Ia menyarankan sejumlah langkah antisipasi krisis. Namun tak ada pihak yang menggubrisnya saat itu. Karenanya, kemudian ia mulai mempersiapkan dana untuk membeli saham-saham perusahaan yang diperkirakan akan jatuh terimbas krisis global. Tahun 2008, dengan persiapan yang sangat matang, ia keluar dari JP Morgan pada tahun 2008 dan mendirikan perusahaan investasi Ancora Capital.  
Ancora Capital telah berhasil menghimpun dana investasi (private equity fund) dari para investor asal Timur Tengah, Malaysia, dan Brunei yang mencapai 300 juta dollar AS. Private equity fund yang dibentuk Ancora Capital ini merupakan private equity fund pertama yang didirikan dan memenuhi ketentuan syariah (sharia-compliant private equity fund).
Beberapa bulan setelah mendirikan Ancora, prediksinya tentang krisis keuangan Amerika terbukti.  Dengan modal yang telah ia persiapkan ini mengambil alih sebagian saham PT Apexindo Pratama Duta Tbk, PT Bumi Resources Tbk, PT Multi Nitrat Kimia, perusahaan properti di Jakarta, dan sebuah perusahaan properti di Bali.
Politik Pasal Modal dan Revilatisasi Pasar Rakyat
Kesuksesannya sebagai Pialang saham, memikat Presiden Susilo Bambang Yuhoyono, untuk mengajaknya bergabung di Kabinet Indonesia Bersatu jilid II sebagai Kepala Badan Koordinasi dan Penanaman Modal (BKPM), pada 11 November 2009. Tahun 2010, Gita mulai berkampanye tentang pentingnya membuka peluang  lebih lebar bagi  investor asing.
Melalui artikelnya tentang Nasionalisme Ekonomi di sebuah harian nasional, Gita membalik logika para ekonom Indonesia yang anti investor asing.  “Semangat nasionalisme ekonomi ini perlu diterapkan serta disikapi secara bijak dan pada porsinya. Penerapan nasionalisme ekonomi yang kurang tepat justru bisa menghambat pertumbuhan ekonomi, dan pada akhirnya tidak sejalan dengan upaya membawa kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia,” papar Gita dalam artikelnya yang kemudian menuai polemik nasional pada tahun 2010 lalu.
Ia menguraikan, salah satu penerapan semangat nasionalisme ekonomi yang kurang tepat adalah besarnya fokus pada struktur kepemilikan suatu investasi dibandingkan sejauh mana investasi bermanfaat bagi rakyat Indonesia. Ia juga mengkritisi lemahnya profesionalisme Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang kerap mendapat kue proyek nasional, meski secara kualifikasi dan kualitas BUMN saat itu cenderung tak sehat.
“ Nasionalisme ekonomi jadi salah kaprah ketika sebuah entitas nasional maupun milik negara dipaksa terlibat dalam suatu proyek meski kapasitasnya tak memenuhi kualifikasi teknis yang disyaratkan sehingga menghasilkan produk yang kurang optimal,” tandasnya.  
Meski menuai kritik keras dari sejumlah pakar Ekonomi Indonesia, diantaranya Kwik Kian Gie, Gita berkukuh pada tafsirnya tentang nasionalisme ekonomi itu. Sebagai Kepala BKPM, Gita menerapkan sejumlah kebijakan untuk meningkatnya realisasi investasi di Indonesia. Gita berhasil menjadi pemasar andal bagi investor asing untuk menanamkan modalnya di negeri ini.  Ia mengakui, upayanya menarik investor asing ke Indonesia secara sepintas, terkesan mengabaikan kepentingan nasional karena mendahulukan kepentingan penanam modal, terutama penanaman modal asing. “Akan tetapi, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa jika dirancang dengan baik, upaya ini akan membawa arus dana yang dibutuhkan serta manfaat jangka panjang yang besar bagi rakyat,” ujarnya.
Lebih lanjut ia pun membantah jika prinsip dan kebijakannya selama di BKPM merupakan bagian dari upaya liberalisasi ekonomi. “Penyikapan nasionalisme ekonomi yang pada porsinya bukanlah debat mengenai liberalisasi ekonomi versus proteksionisme ekonomi. Penyikapan yang dilakukan adalah bagaimana penerapan nasionalisme ekonomi bisa berfokus pada manfaat ekonomi secara menyeluruh,” tandasnya.
Kata Gita, sebagai Negara berkembang, Indonesia masih memerlukan bantuan keuangan. Karenanya,  investasi asing (foreign investment) masih dinilai sebagai strategi pembangunan nasional paling efektif saat ini. “Meningkatnya investasi asing justru menciptakan lapangan pekerjaan baru, meningkatkan pendapatan pajak, standar hidup, memberikan transfer teknologi dan pengetahuan, serta mendorong perkembangan sektor turunan lainnya harus menjadi beberapa faktor yang diperhitungkan, di atas pertimbangan asal modal maupun struktur kepemilikan modal,” paparnya.
Kontroversi Gita kemudian berlanjut setelah ia didaulat menjabat Menteri Perdagangan menggantikan Mari Elka Pangestu, pada 18 Oktober 2011. Di awal masa jabatannya sebagai Mendag, ia mewajibkan para pegawai di Kementerian Perdagangan untuk menguasai bahasa asing. Ia menargetkan seluruh pegawainya lolos Toefl dengan skor 600. Gita juga mengampanyekan boikot Black Berry karena RIM lebih memilih membangun pabriknya di Malaysia, ketimbang di Indonesia.
Belum reda kontroversi atas dua kebijakannya tersebut, di tahun yang sama Gita mengampanyekan diversifikasi pangan dari beras ke singkong dan umbi-umbian untuk menekan impor beras. Ia pun lalu mengeluarkan kebijakan pembatasan impor holtikultura untuk memproteksi hasil pertanian dalam negeri. Kini, ia juga rajin keliling pasar tradisional,  untuk memastikan efektifnya program revitalisasi pasar rakyat yang telah diterapkan sejak tahun 2009.
Pembelaannya terhadap produk perdagangan, pertanian dan perkebunan lokal juga ditunjukkan dengan sikap tegasnya yang meminta Amerika Serikat untuk mencabut status tak ramah lingkungan terhadap produksi kelapa sawit Indonesia.
Ia meminta Amerika merubah struktur Badan Perlindungan Lingkungan (Environmental Protection Agency/EPA) dan meninjau kembali status produk kelapa sawit Indonesia, menimbulkan ketiadaan penegasan status produk itu.
"Setelah dinyatakan tidak memenuhi standar ramah lingkungan, saya protes dan EPA mengirimkan tim ke Indonesia kemudian mendapatkan laporan yang berbeda, namun hal ini tidak dilanjuti karena terjadi perubahan struktur organisasi setelah itu," kata Gita.
Pihaknya secara tegas menyatakan kepada Menteri Luar Negeri Amerika, Hillary Clinton,  bahwa produk kelapa sawit ini termasuk kategori ramah lingkungan dengan daya reduksi karbon yang sesuai standar, ditambah dengan penerapan teknologi untuk asumsi beberapa tahun mendatang. Ia pun berjanji akan terus mengemukakan isu ini di forum internasional, di antaranya pada pertemuan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) pada Desember 2013. (tanmalika)

Paparan Primbon, Falak dan Fengshui Tentang Nomor Urut Parpol

.
Angka bagi sebagian orang di negeri ini memiliki pengaruh terhadap nasib. Tak heran jika kemudian banyak para penafsir angka yang laris di negeri ini. Para penafsir angka di Indonesia biasanya merujuk pada Primbon Jawa, Ilmu Falak (Ilmu perhitungan bintang Arab) dan Fengshui (Filosofi angka ala China).
Para ahli Primbon, Falak dan Fengshui itu, diakui atau tidak ternyata berpengaruh pada pandangan para politisi terhadap nomor urut Partai Politik. Hal itu terlihat dari banyaknya politisi berharap mendapatkan nomor tertentu, yang diharapkan bisa mensugesti masyarakat untuk memilih Parpol tempat mereka bernaung. Nomor urut juga diyakini bisa mesugesti para kader Parpol dalam memperjuangkan Parpolnya untuk meraih suara sebanyak-banyaknya dalam Pemilu 2014 mendatang.
Salah satu ahli Primbon Jawa dan Falak Nujum dari Probolinggo, Pujiyanto Gepeng, kepada Kandidat mengungkapkan hal itu, Minggu (27/1) lalu. Mengapa sebagian politisi masih mempercayai ramalan primbon, falak dan fengshui menurut Mas Gepeng, disebabkan oleh kultur masyarakat Jawa yang memang suka menerka sesuatu.
“Sejatinya, Primbon Jawa merupakan perpaduan ilmu astronomi arab yang dikenal dengan ilmu falak, Fengshui China dan India. Tapi bukan di Jawa saja tradisi ramalan angka itu ada. Tradisi ini memang telah ada sejak dulu. Bahkan masyarakat Eropa yang dikenal modern juga ada yang percaya pada mitos angka dan ramalan nasib. Ini mungkin sebuah keniscayaan. Setiap kita selalu penasaran terhadap masa depan, dan ingin menerkanya atau bahkan melihatnya dari sekarang,” ujar Mas Gepeng.
Ia menguraikan, di masyarakat Eropa dikenal ada cenayang, atau peramal nasib. Di masyarakat China juga ada ahli Fengshui, di Arab pun ada ahli nujum. Di Indonesia, mereka dikenal sebagai dukun atau peramal. “Dalam Ilmu psikologi, mereka yang punya ahli semacam itu kemudian diklaim berbakat Indigo. Mereka punya firasat yang tajam, dan punya keahlian menerka nasib,” paparnya.
  Lebih lanjut ia mengungkapkan, dalam tradisi Islam, Ilmu falak sebenarnya digunakan untuk menghitung waktu. Membuat kalender, dan menerka musim yang secara alamiah selalu berganti siklus. “Ilmu falak sebenarnya adalah Ilmu Astronomi. Kata Falak berasal dari bahasa arab yang berarti  jalan atau lintasan atau peredaran. Ilmu Falak ini untuk mempelajari peredaran bintang-bintang, yang bermanfaat untuk membuat kalender dan menerka musim,” ujarnya.
Karenanya, masyarakat Islam punya criteria tersendiri dalam menentukan ibadah tahunan, semacam puasa Ramadhan, perayaan Idul Fitri, dan pelaksanaan ibadah haji. “Tapi sejumlah ulama kemudian ada yang mengaitkan ilmu perhitungan dan perdaran bintang itu, dengan fase kehidupan sebuah mahluk. Bahkan diceritakan, ada Ulama ahli falak, yang sampai mampu menerka kapan waktunya sebuah daun jatuh. Sebenarnya ia menerka dari siklus alamiah,” ujarnya.

Ilmu falak juga kemudian menjadi digandrungi, karena dinilai bermanfaat terutama untuk mengamati musim atau arah angin. “Itu biasanya digunakan oleh masyarakat petani dan nelayan. Pemerintah kita juga kan punya Badan meterologi klimatologi dan geofisika ((BMKG) untuk menerka cuaca,” imbuhnya.
Namun kemudian, kata Gepeng, Ilmu Falak ini kadang digunakan untuk meramal karakter dan nasib seseorang berdasarkan nama, atau perhitungan tanggal lahir. “Astrologi namanya. Atau ilmu nujum. Ada kitabnya tersendiri. Di Jawa dikenal dengan kitab Primbon, atau Muarobat. Sebenarnya kitab itu untuk pengobatan, tapi kadang digunakan untuk meramal,” paparnya.
Lalu benarkah ada pengaruh nomor urut terhadap nasib Parpol dalam Pemilu 2014? Mas Gepeng menilai tak terlalu signifikan. “Jika dari sisi Fengshui atau Primbon Jawa, secara psikologis mungkin aka nada pengaruhnya. Tapi hanya di awal saja. Seiring dengan berjalannya waktu, pengaruh itu akan pudar, kalah oleh kerja keras para Caleg (Calon Legislatif),” tuturnya.
Dari sisi Primbon Jawa, menurut Mas Gepeng, pengaruh terbesar dimiliki oleh nomor urut 9. “Karena angka 9 adalah angka keramat bagi sebagian masyarakat kita. Di Jawa, barang siapa bisa menutupi babahan howo songo (9 lubang) dalam tubuh, maka dia akan sakti. Nah nomor Sembilan ini paling berpeluang,” urainya.
Setelah nomor 9, menurut Mas Gepeng yang punya pengaruh adalah nomor 8. “Karena 8 menunjukkan arah mata angin. Jadi Partai nomor 8 akan merata suaranya,” imbuhnya.
Selanjutnya yang cukup baik pengaruhnya adalah nomor 5.  “Angka ini melambangkan keseimbangan. Dalm Primbon, Angka 5 melambangkan Mars, yang penuh libido, berani dan pantang menyerah,” ujarnya.
  Sayangnya, Mas Gepeng tak mau membuka tafsir angka di luar ketiga nomor urut tersebut. Sebab menurutnya, hal itu tak penting, dan hanya menjadi sugesti belaka.
Senada dengan mas Gepeng, Master Aries Harijanto, dalam blognya mengungkapkan, bahwa angka sejatinya tak ada yang membawa hokky ataupun sial. “Karena masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Dan patut diperhatikan bahwa kita lah yang mendefinisikan angka-angka tersebut dalam sebuah arti, bukannya angka-angka itu muncul dengan sendirinya. Angka-angka tersebut tidak akan ada artinya jika kita  tidak pernah menciptakannya, jadi angka yang tergantung kita bukan kita yang tergantung angka. Demikian juga dengan penghidupan kita, apakah mungkin dengan menggunakan sebuah angka maka penghidupan kita akan berubah?,” paparnya.
Sayangnya, menurut Aries, dilema ini sudah umum tejadi di beberapa lapisan masyarakat kita, sehingga menjadikan Feng Shui sebagai praktek yang semakin kelihatan takhayul saja. “Bukan menjadi seni yang berbau logis lagi!,” tandasnya.
Lebih lanjut ia menguraikan,  Praktek-praktek penggunaan angka yang hokky dalam Feng Shui ini sebenarnya bermula dari para praktisi yang ada di Hong Kong, yang mana setiap angka memiliki sebuah makna tertentu dihubungkan dengan dialek pengucapannya, seperti :
- Angka 3 dihubungkan dengan permulaan yang baru.
- Angka 8 dihubungkan dengan kekayaan.
- Angka 9 dihubungkan dengan kejayaan.
- Angka 10 dihubungkan dengan kesempurnaan.

Namun dari sisi Fengshui, menurut Aries, ada kepercayaan masyarakat Tionghoa, sebagai berikut :

1. Angka 1 atau disebut Bintang uang, adalah angka yang selalu menguntungkan. 1 juga adalah angka air yang diartikan sebagai uang dalam dunia feng shui. Di bawah bintang terbang ini bisa menguntungkan kalau bergerak ke tenggara. Namun berbahaya kalau bergerak ke selatan bisa mengindikasikan kematian muda kalau terjadi kesalahan pengobatan feng shui.
2. Angka 2 atau disebut Bintang penyakit, adalah angka yang membawa penyakit. Dalam feng shui bintang tebang angka ini akan membawa kemajuan di bidang militer namun juga menciptakan duda atau janda muda dan membawa penyakit yang sangat serius.

3. Angka 3 atau disebut Bintang cekcok, adalah bintang yang membawa perkelahian, cekcok, kecelakaan. Bintang ini adalah bintang yang membawa ketidak harmonisan dalam feng shui bintang terbang.
4. Angka 4 atau disebut Bintang seksi, angka ini adalah angka puitis dan romantis. Memajukan pendidikan, karya tulis. Bintang ini disebut juga dead star tidak terlalu menguntungkan pada periode 8 dan 9 yang akan datang. Dalam feng shui bintang terbang angka 4 menciptakan stress pada mental. Lumayan kalau bergabung dengan white star. Tapi membuat pertumbuhan dalam hubungan percintaan kalau terbang ke barat daya.
5. Angka 5 atau disebut Bintang jahat. Bintang yang tidak menguntungkan setiap orang. Angka yang paling susah dikombinasikan. Membawa pengaruh jahat. Membawa gangguan penyakit. Kemanapun muncul dalam feng shui terbang angka ini selalu diperangi. Bintang ini kalau muncul bersamaan dalam bagan tahunan dan bulanan betul-betul menciptakan kecelakaan fatal.
6. Angka 6 atau disebut Bintang surga. 6 keberuntungan dari langit julukan angka ini. Walaupun termasuk angka yang membawa keberuntungan memudar kalau muncul sendiri, angka ini tetap pavorit bagi praktisi feng shui. Karena 6 berarti juga emas, keberuntungan dan kaya.
7. Angka 7 atau disebut Bintang kekerasan. Ini keberuntungan masa lalu dan kemunculannya pada periode 8 sungguh tidak menyenagkan karena 7 juga berarti kekasaran dan perampokan. Atau keberuntungan masa silam.
8. Angka 8 atau disebut Bintang kekayaan ini adalah salah satu white star yang membawa keberuntungan special kalau angka ini muncul pada periode sekarang ini. Selalu membawa keberuntungan ekstra dimanapun angka ini muncul.
Angka 8 adalah angka periode sekarang ini. Praktisi feng shui bintang terbang mengetahui bahwa angka 8 ini adalah angka yang paling menguntungkan untuk periode 8. Angka 8 adalah angka keberuntungan sekarang dan sampai tahun Februari tahun 2024. Dunia bisnis memakai angka ini sebagai akhiran nomer rekening bank, nomer plat kendaraan, nomer rumah, nomer telepon, dan segala bentuk yang menggunakan nomer. Nomer 8 ini disebut juga white star dari 3 angka white star. Dua angka lainnya adalah angka 1 dan 6. Jadi kombinasi angka 1, 6 dan 8 adalah angka-angka keberuntungan periode ini.
Di rumah membuat kolam air berbentuk angka 8 juga akan sangat menguntungkan. Angka 8 adalah angka yang paling kuat di antara angka yang mewakili unsur tanah. Angka lainnya 2 dan 5. Namun disarankan untuk tidak membuat kombinasi dengan 2 dan 5. Buatlah lukisan, perhiasan dengan menggunakan bentuk angka 8 ini. Angka 8 juga dianggap lambang infinity atau angka yang tak pernah berakhir. Keberuntungan tiada akhir. Gunakan figure 8 ini semaunya karena ini akan memberikan keberuntungan ekstra.
9. Angka 9 atau disebut Bintang ganda, adalah angka yang menunjukkan keberuntungan masa depan. Angka ini selalu menggandakan pasangannya. Baik itu buruk atau bagus. Namun masih Favorit untuk digabungkan dengan white star.

Minggu, 07 April 2013

Wisanggeni dan Anas Urbaningrum di Harlah Lesbumi Nu ke 51



Pengurus Pusat Lembaga Seni Budaya Muslim Indonesia Nahdlatul Ulama (Lesbumi NU) menggelar pementasan wayang berjudul Wisanggeni Menggugat di Halaman kantor PBNU, Jalan Kramat Raya, Jakarta, Minggu (7/4). Pementasan wayang yang didalangi ke Enthus Susmono itu digelar dalam rangkaian Ulang Tahun Lesmbumi NU ke 51.
Sejumlah politisi hadir dalam acara yang dimulai dengan pemotongan tumpeng dan doa bersama itu. Antara lain Istri Mendiang Presiden Abdurrahman Wahid, Ny. Shinta Nuriyah, dan Mantan Ketua Umum Demokrat Anas Urbaningrum.  Kehadiran Anas menimbulkan praduga tentang tendensi politik pagelaran tersebut. Terlebih, Dalang Ki Enthus dalam prolognya tentang gelaran Wisanggeni Menggugat mengulas tentang cerita kisruh di ..
“ Sasaran utamanya adalah membunuh kekuatan Pandawa di kuru setro. Wisanggeni berani mengguncang mengkritik keras Betoro Guru beserta sekutunya. Anak muda ini sangat bersahaja dan melalui kekuatannya yang didukung alam semesta, para dewa lari tungggang langgang karena tak sanggup melawan wisanggeni, “ papar Ki Enthus.
Ki Enthus juga mengkritik tentang anomaly politik dan budaya di Indonesia. Tentang nilai budaya dan dasar Negara yang  direduksi hanya menjadi empat pilar oleh MPR RI dan situasi politik yang carut-marut belakangan ini. “Padahal pilar hanya penyangga, Empat Pilar yang sering diseminarkan itu malah membuat bangsa ini kehilangan jatidiri,” tandasnya.
Dan lagi-lagi, ki Enthus pun menyinggung keterpurukan Anas dalam karier politiknya, sehingga Anas pun ditetapkan sebagai tersangka. Dengan gaya kiai, sang dalang menasihati Anas agar bersabar.
"Kang Anas, orang terkena musibah itu akan diangkat derajatnya,” ujarnya.
Kuatnya kesan bahwa kegiatan itu ditujukan untuk member dukungan moril kepada Anas dibantah Ketua Umum Lesbumi, Zastrow el Ngatawi. Mantan Juru Bicara Gus Dur itu berdalih, kehadiran Anas bukanlah sebagai tamu istimewa. Sebab selain Anas, banyak politisi lain yang diundang. “Selain Anas kami juga mengundang Mas Umam (Khotibul Umam Wiranu,red) dari Partai Demokrat, dari Golkar, dari PDIP, PKB, semua kami undang untuk memperingati harlah Lesbumi. Dan kita gak bisa melarang siapapun untuk hadir di sini. Bahkan orang gila pun yang mau hadir, ya silahkan saja,”” ujarnya.
Zastrow juga membantah jika lakon Wisanggeni Menggugat adalah personifikasi dari kasus yang tengah membelit Anas. Menurut dia, gugatan terhadap carut-marutnya kehidupan di negeri ini juga banyak disampaikan kaum muda, dari kalangan Mahasiswa, seniman dan lainnya. “Gugatan itu banyak disampaikan mahasiswa dan akum muda lainnya kok. Kita kan resah melihat keadaan negeri yang kacau ini,” tandasnya.
Lebih lanjut Zastrow mengungkapkan misi Lesbumi di usianya ke 51, sebagai lembaga budaya yang berjuang membenahi kehidupan dan peradaban bangsa. Sebab menurut Zastrow saat ini, budaya Indonesia tengah diserang dari berbagai sisi. “Dari sisi kiri, kita diserang oleh budaya barat yang terlalu bebas dan mereduksi budaya lokal. Dari sisi kanan, kita diserang kalangan fundamentalis, yang bernafsu memformalisasi agama, dan mengeliminir budaya lokal dengan dalih bid’ah dan sebagainya,” tandasnya.
Sementara Wakil Sekretaris Jenderal PB NU Abdul Mun’im Dz mengungkapkan, kelahiran Lesbumi sejak awal memang untuk membenahi budaya dan mempengaruhi kehidupan politik di negeri ini. “Dari awal alhirnya Lesbumi meniru perjuangan Walisongo menjadikan budaya sebagai alat dakwah, sekaligus juga alat politik, untuk mewarnai peradaban bangsa agar lebih luwes dan punya tatanan,” paparnya.
Ia mengungkapkan pengaruh Lesbumi di era 60-an sampai era 70-an yang mampu mewarnai perfilman di Indonesia. Saat itu sejumlah seniman NU, antara lain Asrul Sani, Usmar Ismail dan  yang melahirkan actor, aktris dan film berkualitas. Namun di era Orde Baru, Rezim Soeharto menekan peranan Lesbumi dan berbagai lembaga kebudayaan lain, sehingga kualitas Film di negeri ini menurun paska tahun 70-an. Seperti diketahui, Fim Indonesia paska tahun 70-an, menjadi marak dengan film berbau seks dan hantu. “Dulu banyak aktor lahir dari Lesbumi. Tapi rezim Soeharto kemudian memberi tekanan yang keras, sehingga Lesbumi, bahkan NU pun termarginalkan. Maka kemudian kualitas seni di Indonesia pun menurun,” urainya.

Malikmughni


luvne.com ayeey.com cicicookies.com mbepp.com kumpulanrumusnya.com.com tipscantiknya.com