Gusdurian

Surat Terbuka Untuk Politisi Banten

Terkhusus untuk para politisi Banten, yang sedang bersiap,menghadapi Pilkada 2017 nanti, sudahi dulu lah debat kusir tentang siapa cal...

Jumat, 20 November 2015

Menanti Dawuh Sunan Giri soal PSSI




Cublak-cublak suweng, suwenge teng gelenter,
mambu ketundhung gudel,
 pak empo lera-lere,
sopo ngguyu ndhelikake
 Sir-sir pong dele kopong,
Sir-sir pong dele kopong,
sir-sir pong dele kopong.

Lagu dolanan yang pernah dinyanyikan ulang oleh Susan dan Kak Ria Enes juga Joshua itu sungguh laik untuk disimak oleh para seleb media yang sedang berseteru saat ini. Wabilkhusus oleh Daeng La Nyalla Mahmud Mattalitti, sosok yang (dalam buku biografinya) mendaku diri meraih berkah dari Prabu Satmata atau Sultan Abdul Fakih (1442 M), berkat tirakatnya di Masjid Giri Kedaton. Lagu pengantar permainan petak umpet itu juga cocok buat Cak Imam Nahrawi, Menteri Pemuda Olahraga yang dengan nekat melucuti  kewibawaan dan kelihaian La Nyalla di dunia persepakbolaan nasional. 
Hmm, sebelum dilanjutkan, saya perlu klarifikasi bahwa tulisan ini bukan bermaksud memistifikasi konflik Perserikatan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) dengan Kementerian Pemuda dan Olahraga loh.  Ini sekedar upaya mengurai benang kusut di benak saya soal kisruh dan politisasi olahraga yang ceritanya panjang bak selendang Ajisaka.
    Kita mafhum, persepakbolaan nasional di Indonesia tak pernah sepi dari konflik dan polemik. Bahkan menurut catatan sejarah, muasal berdirinya juga diwarnai gejolak antara Ketua Umum PSSI pertama (1934-1938), Ir. Soeratin Sosrosoegondo dengan  R.M Soeratman Erwin, Ketua Harian PSIM Mataram Yogyakarta. Menurut Maladi, mantan kiper PSIM di masa konflik tersebut, yang kemudian menjadi Menteri Olahraga (1959-1962), PSSI pimpinan Soeratin kala itu membentuk tim sepakbola Persima Mataram atau PSIM tandingan. Sedangkan Soeratman membentuk PORSI, akronim dari Persatuan Olahraga Seluruh Indonesia.
Jurus yang sama rupanya diadopsi Daeng Nyalla dan Nurdin Halid yang mengkloning Persebaya dan Arema Malang, demi mengukuhkan kepemimpinan di PSSI. Sedangkan Cak Imam mencoba memainkan jurus Soeratman dengan membentuk tim transisi buat menegaskan pembekuan PSSI. Tapi sebetulnya, strategi Soeratman membuat PSSI tandingan pernah juga dimainkan Daeng Nyalla dengan merajut KPSI sebagai perlawanan PSSI pimpinan Johar Arifin (2012). Tampaknya, sejarah selalu berulang, seperti kisah kekalahan Aria Kamandanu yang tak pernah bosan ditiru oleh para pecundang eh pejuang cinta. 
Dalam konteks ini, kicauan Farhat Abbas ga Law “ Kalo sepakbola kita diurus baik-baik, lurus-lurus seperti ngurus pesantren, sepakbola kita gak maju-maju, gak menang-menang, gak kalah-kalah. Dan gak ada pengurusnya,” menjadi semacam ta’kid atau dalil penguat, tentang pentingnya konspirasi dan kegilaan dalam mengurus PSSI. Sebab kalau diasuh dengan akal sehat dan tradisi kesantunan pesantren, keuntungan bisnis dan intrik sepak bola kurang seksi buat dipertaruhkan.
            Sebagai orang dalam (baca; tim pengacara) PSSI kubu Nurdin Halid, Farhat mesti tahu seluk-beluk permainan di PSSI. Tapi sayangnya, dia kurang paham bagaimana tradisi sepak bola di dunia pesantren. Kalau saja mantan (calon?) suami mojang seksi Regina itu pernah nonton sepak bola api atau sepak bola durian yang sering dimainkan para santri, mungkin dia bakal ikut jejak Ahmad Dhani buat blusukan nemui kiai-kiai, sambil minta doa buat menaklukkan Al atau Deddy Corbuzer tanpa harus menantang adu jotos di Ring Tinju.
            Kembali ke lagu Cublak Suweng, Daeng Nyalla yang (konon) pernah lama tinggal di komplek Makam Sunan Giri hingga ‘diberkahi’ dengan memeroleh pengikut setia ratusan atau bahkan ribuan preman yang mendukungnya  hingga mengantarnya ke pucuk pimpinan Organisasi Pemuda Pancasila dan berbagai organisasi lain di Jawa Timur. Berkah dari Sunan Giri itu (masih menurut buku biografi pria keturunan Bugis ini) juga membuatnya sempat menjadi paranormal.
            Sebagai ‘murid’ Sunan Giri, mestinya Daeng Nyalla menguasai lagu dolanan gurunya itu, sakmaknane!  Berikut ini kutipan lagu dan artinya :
Cublak-cublak suweng, suwenge teng gelenter: Anting anting berharga berserakan
mambu ketundhung gudel:
baunya tercium oleh anak kerbau
pak empo lera-lere: pak ompong mencari-cari                                           
        sopo ngguyu ndhelikake: siapa yang tertawa berarti dia yang menyembunyikan,                                                                                                       Sir-sir pong dele kopong: Nuraninya bak kedelai kosong

Sebagian filsuf jawa memaknai lagu itu bahwa barang berharga yang membahagiakan hanya bisa dicari dengan nurani yang suci. Bukan dengan nafsu dan keserakahan.  Tapi dilihat dari rekam jejak Daeng Nyalla, belum muncul kesan bahwa alumni Universitas Brawijaya itu mengikuti jejak sang Wali Agung. Malah muncul desas-desus kalau pengusaha hebat ini menghalalkan segala cara dan ahli dalam menggulingkan kawannya. Baik di organisasi Kamar Dagang Industri (KADIN) Jawa Timur, Pemuda Pancasila (PP) hingga di PSSI.
Mbokya sadar lah Daeng, urip iki mung mampir ngombe, jangan sampai Raden Paku murka lalu mengilhami KPK dan pak Buwas buat ngusut sejumlah kasusnya yang lama mengendap.
Cak Imam juga mesti sadar lan waspodo. Sebagai murid Gus Dur yang masih punya trah keturunan Sunan Giri, sakjane ya jangan sampai mengulang sejarah pahit, bahwa Presiden K.H Abdurrahman Wahid dikudeta karena terlampau keukeuh dengan prinsip-prinsip yang bikin darah para tukang intrik berpadu menggulingkan sosok yang mengganggu kepentingan mereka.


0 komentar:

luvne.com ayeey.com cicicookies.com mbepp.com kumpulanrumusnya.com.com tipscantiknya.com