Gusdurian

Surat Terbuka Untuk Politisi Banten

Terkhusus untuk para politisi Banten, yang sedang bersiap,menghadapi Pilkada 2017 nanti, sudahi dulu lah debat kusir tentang siapa cal...

Jumat, 20 November 2015

Revolusi Mental dan Buah Simalakama

                                                           (gambar:intriknews)

Sudah setahun lebih sejak dilantik jadi Presiden RI, Joko Widodo (Jokowi) sering jadi bulan-bulanan netizen. Tak terhitung berapa banyak bully buat pedagang kayu asal Solo itu. Imbasnya, gak Cuma Jokowi dan lingkaran istana yang jadi bahan peloncoan, para pendukungnya yang dulu habis-habisan berdebat kusir mengampanyekan pentingnya memilih Jokowi pun ikut dibully. Bahkan Februari lalu, perdebatan di sosmed (twitwar) antara @redinparis dengan @panca66 berbuah perkelahian di Senayan yang menghebohkan jagad twitter Indonesia. Om Iwan Fals, Slank dan sejumlah selebtwit juga tak luput dari serangan para hatters Jokowi.
Secara kasatmata, memang sejumlah kebijakan Pemerintahan Jokowi ini ibarat buah simalakama, melahirkan sejumlah blunder yang gak hanya bikin gemas para oposan, tapi juga sempat menggoyahkan simpati dari para pendukungnya. Sebenarnya, sejumlah kebijakan kontroversi pemerintahan Jokowi merupakan cerita lawas yang selalu diulang sejak era presiden-presiden sebelumnya. Kenaikan BBM, gas dan tarif dasar listrik misalnya, itu kan sering terjadi, dan selalu ada jurus buat menangkal keresahan masyarakat akibat kebijakan tersebut. Begitu juga perihal ‘perang’antara KPK-Polri, pemblokiran sejumlah website, ketimpangan hukum yang menimpa nenek asyani, hingga tunjangan mobil dinas buat para pejabat (khususnya legislatif) pernah terjadi di Era SBY.
Ya namanya buah simalakama, memang bikin limbung. Dimakan oposisi ngamuk, gak dimakan koalisi pendukung ngambek. Nah soal simalakama ini. Dari sejumlah media yang saya sisir, konon merupakan nama lain dari buah mahkota dewa. Dulu, racunnya yang mematikan, dianggap kutukan. Tapi belakangan, banyak orang mulai percaya kalau simalakama setelah diproses dengan cara tertentu justru bermanfaat buat kesehatan. Mestinya, orang-orang di lingkaran istana ini belajar dari para sesepuh dunia herbal, bagaimana caranya agar kebijakan beracun itu justru jadi alat buat menyehatkan masyarakat. Tidak malah mengubah tagline revolusi mental yang sophisticated alias canggih itu menjadi bahan olok-olok yang bikin tekanan mental.
Entah kenapa, saya kok melihat jurus ngeles Jokowi beserta jajarannya gak sehebat para pedagang herbal. Komunikasi politiknya kurang keren, sehingga menimbulkan gonjang-ganjing tiada tara di Negara yang dihuni para penikmat gosip ini. Dalam gegeran penggunaan speaker masjid misalnya, Jokowi, Jusuf Kalla dan jajarannya bisa mengutip para ahli therapy stress yang mengandalkan suara lembut ketimbang suara bising.
Soal tarik-ulur pencalonan Komjen Budi Gunawan sebagai Kapolri, juga bisa belajar dari tukang obat yang meyakinkan para calon pasiennya yang berlagak membanding-bandingkan produk setelah dicicipi. Misalnya, pak Jokowi bilang,  “ini strategi  melibatkan masyarakat agar melihat kelemahan institusi hukum kita, yang mudah direduksi jadi  urusan politik.” Atau dalam hal pemblokiran situs ‘radikal’ seharusnya para pejabat Hubungan Masyarakat di Badan Nasional Penanggulangan Teroris dan Kementerian Komunikasi, bias berdalih dengan adagium “lebih baik mencegah daripada mengobati.”
Dalam kasus Peraturan Presiden tunjangan kredit mobil pejabat, Pak Presiden juga kan sebetulnya bisa ngadem-ngademin masyarakat dengan mengatakan kalau tunjangan itu memang diatur dalam Undang-Undang tentang Pejabat Negara, kalau masyarakat menghendaki, mari kita gemakan revolusi mental dengan menuntut semua pejabat hidup sederhana. Wah, kalau itu yang disampaikan mungkin hujatan-hujatan gak penting yang mengganggu kinerja pemerintah bisa dieliminir. –eh tapi gak tau juga ding, karena kan namanya hatter’s juga punya jurus tersendiri buat ngebully siapapun-
Terakhir, mungkin kalimat ini bisa jadi pengobat galau masyarakat yang belum melihat dampak positif dari pemerintahan Jokowi-JK yang baru memimpin negeri ini selama enam bulan: 
“Namanya revolusi selalu mengagetkan. Daya kejutnya kadang bikin resah dan sulit diprediksi alur pasca pencapaiannya. Terlebih revolusi mental. ia menghantam kemapanan 'nalar dan rasa' yang kadung nyaman dengan asumsi-asumsi yang dibangun dari arus opini dan informasi distorsif,”

0 komentar:

luvne.com ayeey.com cicicookies.com mbepp.com kumpulanrumusnya.com.com tipscantiknya.com