Gusdurian

Surat Terbuka Untuk Politisi Banten

Terkhusus untuk para politisi Banten, yang sedang bersiap,menghadapi Pilkada 2017 nanti, sudahi dulu lah debat kusir tentang siapa cal...

Sabtu, 06 Februari 2016

Surat Terbuka Untuk Politisi Banten



Terkhusus untuk para politisi Banten, yang sedang bersiap,menghadapi Pilkada 2017 nanti, sudahi dulu lah debat kusir tentang siapa calon pemimpin yang layak. Ketimbang adu jargon, tebar spanduk dan adu kuat polling, lebih baik tunjukkan keberpihakan kalian pada rakyat dengan membantu upaya mereka menghalau para pemodal yang ingin mengeksploitasi tanah Banten tanpa prinsip keadilan. Usah saling tuding soal siapa berwenang. Sebab para kandidat yang hendak bertarung di Pilkada Banten nanti, punya kuasa di eksekutif, legislatif maupun di tengah kultur kejawaraan yang masih kental di Banten.

Petani Pandeglang menggugat PT Mayora Tbk yang dinilai telah sebabkan kekeringan di Cadasari, Pandeglang, Banten. (bantenfoto.com)

Menyimak ceramah mukaddimah dalam klip ini, teringat perjuangan sahabat di Rembang, Karawang dan Pandeglang. Korporasi yang membawa setumpuk janji kesejahteraan, yang kemudian malah (terkesan) melahirkan keringat darah buruh, mengeringkan lahan petani.
Perlu analisis mendalam terkait manfaat dan mafsadat dari kehadiran para pemodal yang (kadang) tak beradab dan regulasi ekonomi lokal, nasional maupun internasional, yang semakin terlihat biadab.
Di Rembang, para petani dinilai jumud karena menolak kehadiran pabrik semen, yang notabene adalah milik negara. Di Karawang, para petani berhadapan dengan aparat yang membekingi PT. Agung Podomoro Group dan (mantan) Bupati setempat yang kini masuk penjara.
Di Pandeglang, warga dan santri, kembali harus berjuang melawan Pemda dan perusahaan terbuka Mayora, setelah sebelumnya berdarah-darah menolak kehadiran perusahaan multinasional Danone. Di Brantas, ribuan warga harus rela menjadi korban perusahaan milik politisi sakti di negeri ini. Di Papua, Lampung dan Kalimantan, konflik agraria dipicu oleh kerakusan perusahaan asing.
Rakyat menanti keberpihakan para aktivis '98, dan partai-partai istana yang selama ini kerap berteriak, menampilkan diri sebagai pembela rakyat. Para penguasa lokal produk Pilkada serentak juga mestinya punya itikad baik untuk berbenah bersama. Revisi UU Agraria, UU Pengelolaan SDA, UU Perekonomian Nasional dan puluhan RUU terkait lain yang sedang masuk dalam Prolegnas, haruslah selaras dengan semangat kerakyatan yang dikampanyekan.
Terkhusus untuk para politisi Banten, yang sedang bersiap,menghadapi Pilkada 2017 nanti, sudahi dulu lah debat kusir tentang siapa calon pemimpin yang layak. Rano Karno dan pendukungnya, Andika Hazrumi dan loyalisnya, Wahidin Halim dan pengusungnya, Taufik Nuriman dan sponsornya, Dimyati Natakusuma dan pengikutnya, atau sesiapa yang tengah mempersiapkan diri untuk (kembali) berkuasa di Banten, mestinya memanfaatkan momentum ini.
Ketimbang adu jargon, tebar spanduk dan adu kuat polling, lebih baik tunjukkan keberpihakan kalian pada rakyat dengan membantu upaya mereka menghalau para pemodal yang ingin mengeksploitasi tanah Banten tanpa prinsip keadilan. Usah saling tuding soal siapa berwenang. Sebab para kandidat yang hendak bertarung di Pilkada Banten nanti, punya kuasa di eksekutif, legislatif maupun di tengah kultur kejawaraan yang masih kental di Banten.
Lirik lagu Ilalang Zaman berikut ini mungkin bisa jadi pengetuk Nurani kalian.
ILALANG ZAMAN
Judul : "Jangan Diam Papua" 
Ciptaan : Yab Sarpote (Ilalang Zaman)

Mace, hari ini
penindasan rantai kaki tangan kami
pace hari ini,
kerakusan perkosa bumi kami

Rendah sudah kini
harga diri
sabar tak berarti lagi

Reff:
Oh Papua
Sungaiku diubah darah
tanahku dibakar api
air mata tak lagi menggugah nurani
Oooh... Bangkit lah

Oh Papua
Darahku tak harus merah,
Tulangku tak mesti putih,
Jangan tanya arti kemerdekaan diri
Oooh... Lawan lah

Jangan diam, dia hancurkan
Jangan diam, dia hancurkan Papuaku

Kaka, esok hari
kuingin senyum tawa datang lagi
kaka, esok hari bintang kejora sambut mentari pagi ini

Rendah sudah kini harga diri
diam sama saja mati...



0 komentar:

luvne.com ayeey.com cicicookies.com mbepp.com kumpulanrumusnya.com.com tipscantiknya.com