Gusdurian

Surat Terbuka Untuk Politisi Banten

Terkhusus untuk para politisi Banten, yang sedang bersiap,menghadapi Pilkada 2017 nanti, sudahi dulu lah debat kusir tentang siapa cal...

Jumat, 05 Agustus 2016

Lagi-Lagi ToA

Ini ke sekian kalinya saya menyimak keluhan tentang ToA. Dulu saya sering bertanya, apakah iman ini menghilang atau hati ini terlampau keras, ketika gema ToA terdengar bising dan bikin jengah?
Pernah juga minder, apa yang salah dengan rasa dan pendengaran saya? Kok bisa suara yang datang dari rumah ibadah; musholla, majelis atau bahkan masjid, terasa tak nyaman.
Tapi resah itu sirna, ketika mendengar lantunan merdu nan fasih dari ToA di kampung Bapak, di Cirebon. Menurut paman, di musholla kampung itu, memang ditradisikan, pelantun adzan harus terlatih. Volume ToA pun diatur sedemikian rupa, sehingga tidak bikin pekak telinga.
Alhamdulillah, rupanya imanku masih utuh! Lantas yang bikin jengah itu apa?
Ternyata benar kata Gus Roy Murtadho, volume ToA yang disetting tanpa mengindahkan kenyamanan pendengar, ditambah lantunan adzan, solawat atau ayat suci yang dibaca sembarangan dan mengabaikan kaidah tajwid lah yang bikin hati mangkel mendengarnya.
Sekali waktu, saya berbincang dengan seorang kawan yang non muslim. Tentang metode dakwah dengan lagu rohani dan tradisi beragama yang bising. Saat itu, kami sepakat, tradisi pembacaan ayat suci atau lagu rohani (kadang) berimbas pada karier seseorang yang (terkean) religius untuk jadi biduan.
Sebut saja Mel Shandy, Nanag Qosim, Maria Ulfah, Gita KDI yang bermula dari Qori-Qori-ah lantas menjadi biduan terkenal di jalur Pop, Rock atau Kasidah. Ada juga Melly Goeslaw, Celline Dion sampai Katty Perry yang memulai bakat sebagai penyanyi gereja.
Sohib sekampus atau seprofesi saya, seperti Rizal Fauzi, Yuliawati Saripudin dan lainnya juga kerap mengungkapkan kerisihannya membaca keluhan seputar ToA. Sahabat Che Kopites, atasnama Lembaga PMII, bahkan pernah mengajukan petisi kepada Majelis Ulama Indonesia terkait pengaturan ToA masjid dan kemudian direspon oleh Dewan Fatwa MUI serta Dewan Masjid Indonesia, dengan himbauan agar pengurus masjid mengatur suara ToA-nya senyaman mungkin di pendengaran warga.
Ironisnya, protes terhadap ToA kerap ditafsirkan sebagai perlawanan terhadap tradisi beragama. Kemudian muncul dalih seputar mayoritas-minoritas. Hai, saya dan kawan-kawan lain yang senada, juga muslim. Mengimani betapa sakralnya Adzan, Solawat dan lantunan Al-Qur'an. Tapi menag harus tepo seliro, mengaji rasa. Jika tak paham soal tajwid, makharijul huruf, ya gak usah mengatasnamakan ritual buat bermain-main dengan ToA. ‪#‎eh‬

0 komentar:

luvne.com ayeey.com cicicookies.com mbepp.com kumpulanrumusnya.com.com tipscantiknya.com